My Soulmate

My Soulmate
Keadaan Hafsah


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu semenjak kejadian yang tak terduga pada dirinya, Hafsah lebih banyak mengurung diri di dalam kamar dengan kondisi semakin hari semakin melemah. Setiap bangun dari tidur, Hafsah sering banyak mual dan muntah bahkan merasa sedikit aneh dengan dirinya. Ia berjalan memantulkan dirinya di depan cermin, tidak berani melihat dirinya yang masih menjijikan. Air mata terus turun membasahi pipi, rasa trauma terus saja bergelut dengan jiwa yang dulunya seorang periang dan penyayang kini sifatnya berubah drastis menjadi Hafsah yang tak dikenal.


Hati terus menangis sendu seakan rindu ingin bertemu dengan seorang wanita yang begitu mendukungnya, Kinan adalah satu-satunya teman yang begitu dibanggakan oleh Hafsah. Tapi, logika terus menekan egonya sehingga Hafsah lebih memilih jalan egonya sebab jika bertemu dengan Kinan menyambar dengan pelukan seolah-olah tidak pantas mendapatkan perlakuan itu. Karena dirinua sudah tak suci lagi bahkan penuh dengan dosa.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu dari luar kamar Hafsah, Hafsah segera meneriaki sebagai jawabannya. Dari balik ambang pintu, muncul sosok wanita paruh baya membawa nampan berisi makanan dan minuman susu. Iya wanita itu Fatimah, ibunda Hafsah melirik penuh dengan rasa iba betapa malangnya Hafsah.


"Nak, kamu sudah berhari-hari tidak makan. Mohon, ibu kepadamu sayangi tubuhmu, Nak," lirih Fatimah berjalan menghampiri Hafsah tengah bercermin diri.


Sungguh, penampilan Hafsah penuh dengan luka. Mata sembab masih membekas, pikiran yang kacau, bahkan tubuhnya semakin kurus tidak seperti Hafsah biasa. Senyum bahagia yang selalu terpancar kini sirna sudah semenjak ujian diberikan seperti terhantam batu besar. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Fatimah selain terus menghibur putrinya, meski Hafsah tidak menampilkan senyumnya walau hanya sedikit.


"Nak ...," panggil Fatimah lembut dengan tangannya mengelus rambut Hafsah yang masih berantakan.


"Apakah Allah akan mengampuni dosa Hafsah, Bu? Jika iya, kenapa Allah belum memberikan kebahagiaan untukku? Aku merasa Allah murka terhadap sikapku, kalau Allah murka kenapa tidak ambil saja aku?" tanya Hafsah dengan tatapan kosong.


Setiap detik bahkan malam Hafsah tidak pernah tidur, dirinya sibuk dengan beribadah dan beribadah sampai pagi pun Hafsah terus beribadah, tak peduli lapar ataupun haus. Ketika merasakan itu, Hafsah hanya makan satu sendok makan dan satu tegukan gelas itu pun tidak sampai menghabiskannya dan kembali lagi ke hamparan sejadah yang dibentangkan.


"Kamu kenapa ngomong begitu? Allah itu tidak murka kepada hambanya yang melakukan dosa tanpa sengaja. Mungkin, Allah memberi waktu kebahagiaanmu di waktu yang tepat," kata Fatimah mencona menghibur Hafsah.


Hafsah segera berdiri ingin memeluk sang ibu, menumpahkan semua rasa yang belum sepenuhnya sembuh. Akan tetapi, saat hendak berdiri pendangan Hafsah tiba-tiba kabur dan berubah menjadi hitam dan ...


Bruk!


"Astagfirullah!" panik Fatimah segera menangkap tubuh anaknya yang jatuh pingsan. Ia segera menyentuh kening Hafsah, rupanya anaknya demam bahkan wajahnya tampak pucat seperti mayat.


"Ayaaah! Rizkiii!" teriak Fatimah keoada dua orang yang sedang berada di rumah.


Ayah Fatimah dan Rizki yang tengah menghabiskan waktunya di meja makan sontak terkejut saat mendengar teriakan sang ibunda, ia segera berlari ke kamar Hafsah yang berada di lantai dua. Saat sampai sana, Ayah Hafsah segera menyuruh Rizki untuk membopong tubuh Hafsah agar dibawa ke rumah sakit.


Tidak menunggu waktu yang lama, rumah sakit pun tiba di depan mata. Rizki segera membaringkan tubuh sang adik kedalam brankar yang telah disediakan oleh suster dan membawanya masuk kedalam tempat pemeriksaan. Fatimah mondar mandir di ruangan, sedangkan Rizki menatap kosong dinding rumah sakit.


Selang berapa menit kemudian, wanita dengan seragam dinasnya perpanduan jas berwarna putih keluar setelah memeriksa Hafsah. Ia tersenyum kepada kedua keluarga yang mengantarnya. "Apa ini dengan keluarga pasien atas nama Hafsah?"


"Benar, saya ibunya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?"


"Tenang, anak Ibu saat ini hanya kelelahan. Mengingat beliau sedang hamil dan kandungannya berusia empat minggu," kata Dokter wanita itu ramah.


Jleb!


Bagaikan terhantam batu besar bahkan hatinya terkena sasaran tombak yang besar, Fatimah yang mendengar itu seketika syok mendengar penuturan Dokter wanita yang tak lain adalah Raisa. Antara percaya dan tidak percaya Fatimah tidak bisa berkata lagi. "Anakku mengandung?"


Sementara, Ayah Hafsah mendengar itu seketika kakinya remuk bak tak bertulang. Jangankan Fatimah, sang ayah pun sama merasakannya. "Sungguh betapa malangnya nasibmu, Nak. Engkau mengandung anak yang tak berdosa, sungguh ayah tak tahu bagaimana nasib anakmu ...," lirihnya.


Raisa yang melihat Fatimah seketika menyerit heran. "Maaf, kenapa?"

__ADS_1


"Ikuti aku, Raisa," ajak Rizki sembari menarik tangan Raisa. Sedangkan Raisa hanya menurut saja, untunglah yang disentuh bukan kulit melainkan jas dokternya.


Di taman yang jaraknya tidak terlalu jauh, dua insan yang sudah terpisah entah sudah berapa lama semenjak keduanya lulus dari universitas ternama di Kairo, Mesir yang kini kabarnya entah bagaimana. Kini keduanya telah dipertemukan di rumah sakit. Raisa adalah wanita cerdas yang sangat mahir dalam hal operasi adalah sosok yang begitu mengagumi Rizki, begitupun dengan Rizki. Tapi, keduanya memilih diam dan memendam rasa seolah-olah membiarkan waktunya menjawab semuanya.


"Sudah lama," kata Rizki dengan pandangannya gokus melihat aktivitas rumah sakit.


Raisa menoleh dan kembali lagi membuang pandangannya. "Iya."


"Oh iya, sebenarnya ...."


"Kenapa?"


"Sebenarnya Hafsah adalah korban pemer**saan, jadi orang tua aku syok mendengarnya," lirih Rizki terpaska bercerita kepada Raisa.


Raisa yang mendengar itu seketika terkejut, menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Maksudmu?"


"Maaf, aku bukannya mau membongkar aib. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menjekaskannya," kata Rizki yang kini bibirnya mulai bercerita.


Satu demi satu kata menjadi cerita, mulai dari apa, kenapa, mengapa, bagaimana, dan kapan terjadinya musibah yang meninpa Hafsah. Sampai tak kuasa menahan perasaan yang terus bercampur aduk antara sedih, marah, kecewa, dan haru menjadi satu sampai tak terasa air matanya lolos dari mata indahnya. Raisa yang mendengarkan cerita itu somtak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rizki, ia juga merasakan desiran hebat yang seperti dirasakan oleh Rizki.


Raisa kemudian mengelus pundak Rizki seolah-olah tahu beban apa yang dia pikul. "Bersabarlah, aku mengerti perasaanmu."


Rizki mengangguk dan tersenyum kepada Raisa. "Terima kasih, berkatmu aku bisa merasakan sedikit lega."


"Ujian Hafsah begitu hebat untuk dipikul sendirian, Ki. Jika bisa, kamu sebagai kakaknya harus mampu menompangnya bagaimanapun itu. Jadilah, kakak yang baik untuk adikmu, jangan biarkan dia terus berlarut dalam kesedihannya. Karena itu bisa mempengaruhi kehamilannya, ku harap kamu bisa menerima takdir itu dengan lapang," papar Raisa dengan tangannya terus mengelus punggung Rizki.


Raisa tersenyum menanggapi itu, entah kenapa hatinya begitu sakit bahkan sakit. "Oh iya, aku akan memberimu resep untuk Hafsah tolong habiskan dan juga jangan membuat dia stres."


"Baiklah," jawab Rizki dengan kepala menunduk.


Pagi itu kini menjadi saksi atas ucapan dua sejoli setelah terpisah semenjak keduanya lulus dengan predikat cumluade dari Universitas Kairo, Mesir. Kini dua insan terhanyut dalam benak masing-masing, membiarkan detak jantung yang menemani sepinya pembicaraan.


••••••••••••••••••••••••


"Kenapa sih badan gue jadi lemes, padahal lusa gue mau pergi nugas. Apa emang badan gue engga bisa diajak kompromi?" omel Alsaki dengan bibir komat kamit pasalnya sudah beberapa hari dirinya diserang nikmat yang terus berdatangan. Badan meriang hingga hidung tersumbat membuatnya terpaksa harus berobat sebelum berangkat kerja.


"Bagaimana Yah dengan anak kita?" isak wanita paruh baya memeluk suaminya.


"Sungguh betapa malangnya dirimu, nak. Mengandung seorang anak tanpa ikatan halal, meski ayah tau itu bukan salahnya. Tapi, ...," lirih Budi suami sekaligus ayah dari Hafsah memeluk erat Fatimah.


Alsaki yang tak sengaja lewat mendengarkan suara yang tak asing, ia segera mengecek siapa itu. Rupanya itu adalah Fatimah dan Budi, orang tua dari Hafsah. "Ada apa dengan Hafsah?" gumam Alsaki.


Karena penasaran yang tinggi, akhirnya Alsaki mencoba menyapa dua orang tua itu yang dirundung dengan nelangsa. Berjalan mengayunkan langkah kaki secara perlahan, dengan perasaan yang tak enak seolah-olah ada firasat buruk.


"Aku tidak mau Hafsah memiliki anak tanpa seorang suami."


'Eh, tunggu? Anak? Hafsah?' batin Alsaki semakin penasaran.


"Ayah juga sama, ayah berharap Hafsah bisa menerima keadaan semuanya. Meskipun kita tidak tahu siapa lelaki yang menghamilinya, tapi ayah berharap ada seorang datang untuk memberikan hiburan sekaligus melengkapi kasih sayang yang dibutuhkannya," kata Budi.

__ADS_1


'Sebentar, apa maksudnya? Apa dia hamil?' batin Alsaki lagi dan lagi dengan langkah kaki sengaja dipelankan, tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai menyapa dua orang tua Hafsah. "Assalaumalaikum," sapa Alsaki.


Dua orang itu seketika mendongkak menatap siapa yang datang. "Waalaikumsalam," jawab Fatimah.


"Oh ada, Nak Alsaki? Ada apa kamu kemari?" tanya Budi mencoba mengalihkan topik pembicaraan dan berusaha sebaik-baiknya.


"Aku kemari mau diperiksa, semalaman aku kurang enak badan. Jadi aku terpaksa pergi ke sini, soalnya lusa mau berangkat unuk tugas," jawab Alsaki seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Masya Allah, semoga cepat sembuh, Nak dan juga semoga tugasmu lancar," tutur Fatimah.


"Terima kasih, aamiin," sahut Alsaki. "Oh iya, ada apa kalian kemari Ayah, Ibu?"


"Tidak, kami hanya khawatir pada Hafsah. Beliau pingsan, sampai sekarang belum sadar mungkin kecapekan," jawab Fatimah dan tersenyum.


"Innalillahi, semoga lekas pulih," lirih Alsaki.


"Aamiin, Nak," ujar Budi.


"Oh iya, maaf jika melancang mendengar perkataan aku. Aku tadi enggak sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu tentang Hafsah, apa yah kalau engga salah anak gitu terus butuh seorang ayah, maksudnya Hafsah itu hamil?" tanya Alsaki hati-hati.


Fatimah menunduk tak mampu menjawab, membiarkan Budi suaminya yang mewakili ucapannya. "Benar, Hafsah sedang mengandung saat ini usia kandungannya 4 minggu."


"Apa hamil?!" Suara wanita dengan nada terkejutnya saat mendengar apa yang dibicarakan oleh tuga orang itu. Iya, Hafsah baru saja keluar dari ruangan baringnya dan segera menghampiri tiga orang itu dan bertanya pada sang ibunda, Fatimah, "Bu? Ayah bercanda,'kan?"


"Nak ...," lirih Fatimah memegang kedua bahu Hafsah.


"Tidak, aku tidak ingin mengandung anak sia*lan ini!" bentak Hafsah tersulut emosi hingga wajahnya menjadi merah padam, tak peduli seberapa banyak orang yang melihat dirinya seperti apa.


"Nak, kamu enggak boleh bilang begitu dan ingat ini di rumah sakit. Ayo kita pukang, kita bicarakan baik-baik di rumah," tutur Fatimah lembut sembari mengelus pundak Hafsah yang bergetar akibat syok atas apa yang terjadi.


Alsaki hanya menunduk, rasa sesak saat mengetahui itu membuatnya ingin melamoaiskan semua hasrat membunuhnya. Menelan silivina dengan susah payah seakan kaku untuk berbicara, Hafsah yang selama ini ia dambakan dan kagumi harus menerima kenyataan. "Ayah," panggil Alsaki berhasil menghentikan Budi.


Budi membalikkan badan dan menatap Alsaki lekat. "Maafkan anak saya."


"Tidak Ayah, ini bukan salah siapapun. Tapi, tolong izinkan aku datang kerumah Ayah untuk meminangnya," kata Alsaki dengan suara penuh keyakinan seolah-olah tak peduli apa perbuatan Hafsah, toh dia adalah korban bukan pelaku.


"Tapi, Nak –."


"Ku mohon Ayah, izinkanlah aku datang sore untuk meminangnya. Aku akan jelaskan semuanya kepada Ayah nanti," lirih Alsaki dengan nada penuh ketulusan dan keyakinan akan jalan yang ia tujukan.


"Baiklah, ayah menerimanya. Ayah akan mempersiapkannya untuk sore," terima Budi dan tersenyum kepada Alsaki.


"Terima kasih," ucapnya dan membalas senyum itu juga.


•••••~~~•••••


Terima kasih yang sudah membaca, terima kasih yang sudah memberikan yang terbaik untuk saya sebagai Author dan sudah menjadi penyabar karena ceritanya belum sekeren yang lain😁😁


Selain itu pula, Author mengucapkan dengan tulus dan penuh doa di setiap hembusan nafas. Semoga hari-harimu penuh bahagia, menyenangkan bahkan luar biasa❤❤

__ADS_1


__ADS_2