
Setiap insan pasti memiliki masa lalu yang berbeda, ada yang punya masa lalu sangat menyedihkan, bahagia, gila, bahkan ada juga yang namanya humoris alias masa lalu itu sangat membanggongkan karena hari itu dipenuhi dengan segala aktivitas yang tak masuk akal. Contohnya sederhana, ketika kamu sudah berdandan rapih dan siap pergi ke kondangan eh kamu tak sengaja menginjak tahi kucing sehingga membuat sendal bersihmu ikut kotor apes deh jadinya, itulah masa lalu humor yang membuatmu akan geli mengingatnya.
Namun, jika masa lalumu penuh dengan kejadian menyedihkan mungkin itu artinya jalan menuju kedewasaan. Di mana masa lalu itu mengajari banyak hal yang harus kamu coba untuk merubahnya, mulai dari perubahan balas dendammu. Misalnya, jika temanmu berbuat buruk kepadamu maka balaslah dengan kebaikanmu agar nanti dia malu, begitu pun dengan orang tuamu jadikanlah perbuatan keduanya untuk pelajaran agar dirimu lebih baik.
Hal itu, Kinan selalu ada diposisi netral di mana dirinya tidak memilih salah satu jalan masa lalu dan membiarkan keduanya menjadi pelajaran. Bercerita kepada Fahad mulai dari pertemuan dengan temannya hingga berujung pembullyan hanya perkara dirinya selalu juara dan masuk sekolah menengah atas melalui jalur beasiswa membuat diri Kinan merasa terpojok bahkan teman-temannya mengabaikan dirinya hanya perkara demikian. Akan tetapi, di satu sisi teman-teman Kinan justru membully lebih parah akibat melakukan tindakan bodoh kepada salah satu temannya.
"Apakah sudah lega, Kinan?"
Semenjak Fahad menyuruh dirinya untuk pulang agar Kinan beristirahat terlebih dahulu, padahal niat Fahad bukan untuk itu melainkan memberi ruang membiarkan Kinan melontarkan segalanya apa yang terletak dalam hatinya, sehingga membuat Kinan bisa merasakan ruang kosong yang di dalamnya penuh dengan tebakan labirin kesesatan dan gelap.
"Kenapa Bapak membahas itu? Tentu saja aku sudah sedikit lega," jawab Kinan dengan mata sembabnya.
Iya, Kinan sedari dari tadi terus bercerita tentang malangnya diri sendiri. Mulai dari rasa sesak yang selama ini ia pendam hingga kebahagiaan apa yang membuat Kinan merasakan aroma kedamaian dari balik kejadian yang menimpanya. Mengutarakan semua emosi kepada Fahad, tentu saja mendengar ceritanya sudah membuat Fahad merasakan beban apa yang Kinan tanggung.
Menci*um pucuk kepala Kinan yang tak terbalut dengan jilbab, rambut hitam lurus beraroma parfum menghipnotis Fahad untuk terus menerus berada di dekatnya. Mendekap tubuh mungil Kinan dan membiarkan Kinan bermain jari jemarinya, pasangan yang belum lama terikat dalam ikatan suci itu semakin hari semakin mesra ketika sedang menghabiskan waktu berduanya.
Cerita itu membuat Fahad ingin sekali rasanya menonjok muka para siswa yang selalu merundung Kinan, meskipun Fahad tau bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan akan melahirkan pembenci dan benar apa yang dikatakan oleh Kinan di sela-sela menceritakan semuanya, bahwa diam adalah senjata tajam yang akan menusuk musuhnya saat waktu sudah tiba.
"Oh iya, btw Pak—."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku sekarang suami mu, panggil aku sesukamu yang enak didengar. Misanya, sayang, hubby, gitu."
Kinan tak menjawab, ia menampilkan muka tanpa dosanya dan kembali menyembunyikan wajah di dada bidang Fahad seperti tadi. "Aku tiba-tiba teringat kepada wanita yang dulu, kalau engga salah Marsha namanya. Jadi, itu siapa kamu, Sayang?"
Mendengar itu, sontak Fahad sedikit kaget. Karena, Kinan tiba-tiba menanyakan wanita itu, Marsha. Fahad seketika tersenyum sembari tangannya mengelus lembut rambut Kinan. "Dia seorang wanita yang dulunya mendapatkan pembullyan karena penampilannya, sehingga aku menolongnya bukan apa melainkan aku kasihan padanya. Jadi, saat itulah setiap kali aku memperhatikannya aku selalu datang untuk menolongnya."
"Terus apa kamu mencintainya?"
"Tentu saja tidak! Pertanyaan kamu bodoh sekali, Sayang!"
Kinan terkekeh. "Habisnya dia sudah berubah, wajahnya cantik, terus putih lagi mana mulus lagi. Berbeda dari dulu sekadang dia bahkan jauh lebih baik dan juga cantik," cakapnya dengan tangannya sibuk memainkan jari jemari Fahad.
Fahad mendengus kesal, bisa-bisanya Kinan berbicara demikian. "Meskipun begitu, bukankah setiap manusia akan berubah seiring berjalannya waktu. Jadi, buat apa aku tergoda dengan penampilan dia? Wajah cantikmu sudah membuatku terpana bahkan kamu adalah wanita yang selama ini aku pendam cintanya."
Kinan kemudian mendongkakan wajahnya sehingga mata keduanya saling bertemu dan melempar pandangan. "Benarkah aku cantik!"
"Tentu saja kamu itu cantik!"
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan memberimu apresiasi karena sudah mengatakan aku cantik." Kinan kemudian menci*um pipi Fahad singkat sebagai janjinya.
Tingkah itu sontak membuat Fahad diam mematung, entah kenapa tingkah Kinan yang baru saja menjadi istrinya begitu didambakan. Ia tersenyum menampilkan sederet gigi rapih dan bersihnya. "Enggak adil kalau singkat!"
"Adil dong!" tegas Kinan tak terima.
"Tidak!" tolak Fahad.
Kinan menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Kalau begitu, ceritakan lagi masa lalumu. Enggak adil kalau aku doang yang cerita!" Ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan itu.
"Kenapa harus kepo kamu, Kinan? Masa lalu itu harusnya sudah berlalu dan jangan dibahas. Tugas kita setelah menikah adalah fokus kediri yang sekarang bukan ke masa lalu."
"Iya aku tau, tapi entah kenapa aku jadi teringat kepada wanita yang hampir ingin melamarmu. Aku mendengar itu dari kak Hafsah, katanya waktu kamu pesantren ada wanita dari anak pengusaha ingin memilikimu, dan kamu menolaknya dengan alasan ada hati yang harus dijaga. Tapi, aku tak terlalu yakin." omel Kinan panjang lebar.
"Apakah Hafsah menceritakannya sampai ke akar-akarnya atau gimana?" tanya Fahad dan mendapatkan gelengan dari Kinan.
"Jadi gini ceritanya, aku itu santri paling populer daripada Alsaki karena aku tampan daripada yang lain ...."
Kinan mendengar kata 'tampan' yang terlontar dari mulut Fahad seketika tak kuat menahan tawanya, hal itu membuat Fahad menghentikan ceritanya dan melirik Kinan heran. "Kenapa?"
"Tidak, tidak! Lanjutkan saja!"
"Kenapa engga lanjut?" Sadar Kinan saatmelihat Fahad terus memperhatikan dirinya.
Fahad kemudian menggeleng cepat dan mengedipkan kedua matanya. "Jadi gini, karena aku paling populer sehingga banyak wanita yang menyukai aku termasuk dia. Sehingga, wanita itu menembak aku dengan cara keluarganya datang untuk melamar. Akan tetapi, aku menolak dengan alasan itu entah kenapa aku begitu mengagumimu, sehingga membuatku hampir menggila karena kebandelanmu bahkan rasa empatimu. Di situlah aku menolak dia."
"Aku bandel katamu?"
"Iya, waktu itu saja kamu populer banget dikalangan lelaki karena kamu cukup bandel sampai Alsaki pusing tujuh keliling melihatnya. Tapi, entah kenapa aku justru menyukainya apa karena aku pernah bertemu denganmu di masa lalu?"
"Ngawur!"
"Hahaha ... pokoknya aku menolak dia gitu deh, sekarang sudah tak penting lagi untuk dibahas. Sekarang aku mencintaimu, Kinan."
Kinan kemudian tersenyum dan menyipitkan mata untuk mencari celah kedustaan dari muka Fahad, tapi yang didalatkan hanyalah ketulusan dari raut wajahnya yang tampak tenang dan enak dipandang. "Terima kasih, Sayang!"
Fahad tak mengubris perkataan Kinan, ia menarik kembali tubuh Kinan untuk ia dekap dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Kinan bersemu merah bak kepiting rebus. Sehingga tingkah itu membuat Kinan menenggelamkan wajahnya untuk disembunyikan rasa salah tingkahnya dan mengangguk cepat.
__ADS_1
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Brak!
"Sorry, gue enggak sengaja!" sinis Barakka setelah menabrak wanita yang tak lain adalah Rosa, wanita tadi saat upacara menjatuhkan kakak iparnya yang tak lain adalah Kinan.
Makanan yang dibawa oleh Rosa berisi pop mie dan minuman es teh itu terjatuh akibat ulah Barakka. Rosa seketika menitip sinis wajah Barakka yang merupakan adik kelasnya. "Gue tidak akan memaafkan loe sampai loe menggantinya lebih!"
"Lebih? Padahal harga makanan yang loe beli cuman sepuluh ribu, tapi minta gantiannya lebih," sindir Barakka.
"Loe siapa sih? Mentang-mentang nyebut gue enggak sopan, loe itu adik kelas harusnya lebih menghormati kakak kelas! Dasar tidak punya sopan santun!"
"Aduh, iya sih gue enggak punya sopan santun. Tapi, siapa dulu yang ngajarin gue jadi seperti ini dan gue menirunya? Tentu saja pasti kakak kelas."
Para siswa yang tak sedikit itu mendengar pembicaraan dua orang, Barakka dan Rosa dua orang itu saling melempar sindiran keras hingga seperti kehilangan etika. Siswa melihat itu seketika menjadi berpihak, terlebih lagi teman Rosa juga ikut mendengarkan bantahan keduanya dan ikut masuk untuk melerai keduanya, bahkan teman dekat Barakka juga ikut turun tangan.
"Hei, hentikan! Enggak sopan, Bar!" kata Rehan sembari memegang pundak Barakka supaya lelaki tampan itu berhenti.
Tapi, sayangnya Barakka tak mengubris tatapan elangnya fokus menatap wajah busuk Rosa di mana wajah itu bermake up tebal, dengan polesan bibir sebanyak seratus kali. "Jangan sentuh kak Kinan, jika masih menyentuhnya tunggu pembalasan gue!"
"Hah, apa kata loe? Kinan? Emangnya loe itu siapa Kinan? Pacar? Aduh, cowok sia*lan ini rupanya pacar seorang wanita pela*cur!" ejek Rosa.
Byur!
"Hah! Anj*ir!" kaget Rosa karena Barakka menyeburkan air mineral miliknya ke wajah mulus Rosa dengan sangat kasar dan tentunya air masuk kedalam rongga hidung dan menimbulkan nyeri hebat dibagian kepala, hal itu Rosa merasakan perih.
Dua teman Barakka seketika terkejut lebih, ia segera menghentikan aksi Barakka yang sudah mulai tersulut emosi. "Eh, loe! Jangan kayak gitu, engga aopan ke senior! Mensing loe redain dulu amukan loe!" panik Rulli dan segera menarik Barakka bersama Rehan.
Tapi, tubuh Barakka terkunci dengan sangat keras membuat dua temannya tak bisa menariknya dengan lebih. Barakka menghempaskan tengan temannya dengan kasar dan berdiri tepat dihadapan Rosa dan tersenyum sinis.
Dua teman Rosa seketika diam tak bisa melakukan apa-apa karena keduanya melihat raut wajah Barakka seperti emosinya sudah berada di puncak. "Rosa, mending—."
"Berani sekali loe, loe itu enggak punya sopan santun!" Amuk Rosa dengan wajah memerah.
"Gue lebih menghormati orang yang tinggi adab ketimbang loe yang minim adab! Gue peringatkan lagi, jika loe masih berani menyentuh kak Kinan gue tak segan meremukan tulang tangan loe!" Barakka kemudian pergi meninggalkan Rosa yang masih tersulut dendam amarah, tapi jika dibandingkan dengan dirinya dirinya jauh lebih marah ketimbang Rosa.
"Sia*lan, cari tahu dia!" titah Rosa dan meninggalkan kantin.
__ADS_1
Sementara para siswa yang menyaksikan kejadian itu sampai akhir, saling berbisik-bisik membicarakan apa yang terjadi. Membuat Ningsih sekaligus teman Rosa menatap mereka dengan tatapan tajam. "Jika kalian masih membicarakannya, gue tak segan membunuh kalian!"
Mendengar ancaman dari Ningsih para siswa seketika terdiam dan kembali ketempatnya seperti semula dan melupakan apa yang terjadi seakan tak terjadi apa-apa, karena mereka tahu siapa itu Rosa bahkan kedua temannya pun mereka mengetahuinya.