My Soulmate

My Soulmate
Pindah Rumah


__ADS_3

Matahari perlahan mengikuti arusnya perjalanan, tenggelam membawa jutaan cerita mau itu bahagia, sedih, haru, marah, kecewa, bahkan ada juga kesenangan pun ia bawa untuk ditenggelamkan dalam luapan hikmah setiap langkah yang ditempuh. Langut saat itu mulai memasuki waktu sore dan Barakka telah pulang dari penuntutan ilmu untuk menghilangkan kebodohan.


Tiga koper masing-masing milik Fahad, Kinan, dan Barakka sudah disiapkan bahkan sudah dimasukkan kedalam bagasi mobil milik Fahad. Sebelum tiga orang pergi meninggalkan rumah masa kecilnya, tiga orang itu mengisi hari-hari untuk kepamitannya di ruang keluarga. Melempar cerita indah, sebelum ketiganya meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan keusilan.


Jam dinding terus berdetok, cakrawala biru menampakkan warna jingga dan kuning pertanda bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu malam. Fahad yang menyadari aroma kedamaian seketika membuyarkan keharmonisan keluarga.


"Ummah, Abi, waktunya sebentar lagi memasuki waktu malam."


Mengucapkan kata setelah berceloteh ria, seakan siap melepaskan rindu yang entah sampai kapan bertemu lagi. Karena, Fahad, Kinan, bahkan Barakka memiliki kesibukan masing-masing dalam berbagai macam aktivitas kesehariannya.


Menoleh dan menatap lontaran Fahad, Maryam tersenyum dan berkata, "benar ... waktunya hampir memasuki malam."


Kinan menunduk dan tersenyum sembari menampilkan sederet gigi bersihnya. "Benar."


"Kalau begitu, aku izin pamit, Ummah, Abi," kata Barakka membuka suara setelah menikmati diamnya dengan menghabiskan waktu melihat foto masa kecil yang tertampak menggemaskan dengan pipi gembul.


Maryam kemudian berdiri merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Kinan, Kinan yang melihat itu ikut berdiri masuk kedalam dekapan sang mertua. "Jaga baik-baik dirimu, Nak," ucapnya.


Kinan mengangguk. "Tentu saja, Ummah dan Abi juga harus jaga kesehatan."


Hasan mengelus puncuk kepala Kinan dan tersenyum. "Kami akan menjaga diri sebaik mungkin."


"Kalau begitu, kami izin pamit," sahut Fahad segera keluar diiringi dua orang yang tak lain Kinan dan Barakka lalu diikuti oleh Maryam dan Hasan untuk memperhatikan kendaraan yang siap meninggalkan kediamannya.


Fahad dan Kinan memasuki mobil, sedangkan Barakka memilih mengendarai motor supportnya. Suara mesin mobil diiringi motor telah siap meninggalkan perkarangan rumah kediaman Prambudi, Fahad membuka jendela mobil dan melambaikan tangan dan Barakka menunduk pertanda akan segera pergi.


"Kami pamit, assalamualaikum!" teriak Barakka dan melaju mengikuti mobil Fahad yang sudah keluar dari pintu gerbang.


"Waalaikumsalam!" balas Maryam dengan suara keibuan sedangkan Hasan menggeleng melihat dua kendaraan yang kini mulai menghilang dari pandangannya.


••••••••••••••••••••••••


Di tengah perjalanan hanya hening yang tercipta, suara alunan musik berjudul 'Euphoria' karya Jung Kook - BTS dimainkan seperti suasana hati keduanya. Entah kenapa, muka Kinan masih bersemu merah sedangkan Fahad bersikap biasa padahal jantungnya tak karuan.


'Neoneun nae salm-e dasi tteun haesbich


Eolin sijeol nae kkumdeul-ui jaerim


Moregess-eo i-gamjeong i-mwonji


Hogsi yeogido kkumsog-in geonji


Kkum-eun samag-ui pureun singiru ...'


Lagu itu terus berputar menemani detok jantung keduanya, entah perasaan macam apa yang membuat Fahad tergila pada Kinan sedangkan Kinan merasa nyaman di saat bersamanya. Lantunan musik perlahan mulai menurun seiring berjalan menghabisi jejak jalan kota Jakarta.


"Kinan?" tanya Fahad mencoba memecahkan hening.

__ADS_1


Karena merasa dirinya terpanggil oleh Fahad, Kinan kemudian menoleh dan menjawab, "kenapa?"


"Aku lihat buku catatan matematikamu, katanya kamu tidak pernah masuk kelas jika pelajaranku. Tapi, saat aku melihat buku itu kenapa banyak sekali kata-kata dan angka-angka bahkan tanda tangan yang berbeda denganku, jadi apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


Kinan menunduk, perasaan menyesal dan takut menjadi satu. Menyesal karena menggunakan buku rahasia dan takut ketahuan bahwa dirinya membenci matematika padahal tidak."Iya, aku menyembunyikannya."


"Kenapa?"


"Sebenarnya aku tidak membenci matematika, hanya saja aku tidak ingin membuat mereka kesulitan meraih juara jadi aku menyembunyikannya. Tapi, karena kamu mengetahuinya aku merasa menyesal karena menggunakan buku itu."


Fahad manggut-manggut paham. "Lalu?"


"Yah begitulah, intinya aku tidak membenci matematika hanya saja aku ingin menyembunyikan diriku makanya aku melakukan demikian. Belum lagi dengan perkataan aku kemarin, bahwa aku sudah lelah dengan semuanya jika perjuanganku disia-siakan bahkan tak dihargai. Maka dari itu, aku lebih memilih diam-diam saja," celoteh Kinan panjang lebar.


"Terus apa lagi?"


"Intinya gitu aja, kenapa kepo sekali bahkan harus diulang lagi cerita yang sama, Pak?"


"Eh, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi kalau sedang berdua!" protes Fahad tak mau dipanggil Bapak jika dalam bahasa korea ahjussi mungkin tapi entahlah enggak tahu.


"Iya," celetuk Kinan menampilkan muka sebal.


Tujuan yang hendak dicapai akhirnya tampak juga di depan mata, rumah bernuasa abu putih minimalis perpanduan pohob lengkeng dan taman kecil memanjakan mata. Kinan melihat itu seakan tak percaya, meski rumah yang dihadiahkan oleh Fahad terbilang cukup sederhana tapi rumah itu terlihat seperti mewah. Di sebelah rumah Fahad ada rumah Barakka dengan nuasa biru lembut dengan taman yang tertata rapih, di kedua rumah itu masing-masing memiliki pembantu.


"Apa bener toh ini rumahnya?"


Fahad merangkul bahu Kinan dan tersenyum. "Iya, ayo masuk!" ajaknya. "Bar! Tolong ambilin kopernya yah!" Lanjutnya berteriak saat mendengar motor support Barakka baru saja masuk kedalam rumah pribadi dan memarkirkannya.


Barakka mendengar itu hanya mendengus kesal, tapi mau bagaimana lagi Fahad sekaligus kakaknya tak bisa dilawan. "Iya!" serunya.


Dua insan segera memasuki rumah sederhana namun mewah dan elegan, terlihatlah dua orang wanita paruh baya yang merupakan pembantu di rumah milik Fahad. Dua pembantu itu berusia sekitar empat puluh tahunan, beliau bernama Bi Ijah dan Bi Marni. Keduanya menyambut pasangan yang belum lama menikah.


"Selamat datang, Aden," ucap Bi Ijah seperti biasa memanggil Fahad dengan sebutan aden, bukan karena apa melainkan sudah terbiasa berkerja diberbagai rumah orang saja menyebutnya aden.


Fahad tersenyum. "Terima kasih, Bi. Oh iya, perkenalkan ini istri aku, Kinan namanya."


"Hallo, Bi," sapa Kinan ramah.


"Masya Allah, Den ... cantik pisan!" puji Bi Marni.


"Terima kasih," jawab Kinan senyum lagi.


"Oh iya, Kinan beliau adalah pembantu yang bertugas di rumah kita dan Barakka namanya Bi Ijah dan satu lagi Bi Marni," jelas Fahad sembari menunjuk dua pembantu itu dan mendapatkan senyum darinya.


"Baik," cakap Kinan.


Barakka masuk kedalam rumah Fahad sembari membawa dua koper satunya ia akan dimasukan ke rumah pribadinya. "Bang, aku sudah ambil kopernya!"

__ADS_1


"Oke, terima kasih, Bar," kata Fahad.


"Hem ... aku pulang dulu yah, gerah!" pamit Barakka dan meninggalkan rumah Fahad setelah meletakkan kopernya di ruang pertama saat masuk.


"Kalau begitu, saya urus dulu rumah Aden Barakka yah. Saya permisi," ucap Bi Marni danmendapatkan anggukan dari Fahad.


"Kalau begitu, aku ke kamar dulu, Bi Ijah," cakap Fahad sembari membawa dua koper yang diantarkan oleh Barakka.


Kamar keduanya berada di lantai atas, saat Kinan membuka pintu berwarna coklat tampaklah rumah dengan suasana soft yang memanjakan jiwa introvert untuk betah dalam kamar. Ah, suasana itu membuat Kinan merasakan udara ketenangan. Fahad baru saja tiba dengan kedua tangannya sibuk memegang dua koper yang berisi perlengkapan Kinan, ia melihat Kinan seperti merasakan ketenangan. Di letakkannya koper di sebelah pintu kamar, berjalan menghampiri Kinan yang masih betah memandangi kerapihan kamar yang dipilih oleh Fahad.


"Apa kamu suka?" tanya Fahad memeluk Kinan dari arah belakang, menenggelamkan wajahnya di cekuk leher Kinan yang tertutup dengan jilbab sedangkan kedua tangannya memeluk pinggang ramping Kinan.


Kinan tak menjawab pertanyaan barusan yang dilemparkan oleh Fahad, ia sengaja membiarkan Fahad melakukan sesukanya. Toh, tidak ada salahnya berdua dalam satu rumah karena sudah terikat dalam ikatan halal. Kinan justru membalas pelukan yang diberikan oleh Fahad, mengelus tangan kekar Fahad yang betah memeluk dirinya.


Aroma maskulin Fahad memanjakan hidung Kinan, aroma itu adalah aroma ketenangan sebab setiap parfum memiliki maknanya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, Kinan kemudian mengode Fahad untuk melonggarkan pelukannya sehingga mendapatkan respon sebagaimana layaknya orang peka.


Badan yang tadinya menghadap kebelakang, kini saling berhadapan. Tatapan keduanya bertemu saling melempar pandang dan senyuman, menaikkan tangan yang tadinya betah memegang tangan Fahad kini dialihkan ke leher kokoh Fahad.


Fahad yang melihat tingkah itu seketika menggambarkan senyum berbentuk bulan sabit, ia segera mencium kening Kinan kemudiam dua bola mata terakhir bibir manis Kinan akan tetapi tiba-tiba ...


"Hem ...."


Dua insan yang terlarut dalam memberi kasih sayang seketika terkejut dan Kinan mendorong keras Fahad hingga tersungkur ke lantai dan menampilkan wajah dengan senyum giginya saat tahu siapa yang datang.


"Aaassww!" ringis Fahad.


"Kalau mau bermesra-mesra minimal kunci pintu dulu," celetuk Barakka yang untungnya dua insan tidak meewati batas.


Fahad kemudian menoleh dan menatap tajam Barakka dan tersenyum miring. "Kamu juga minimal ketuk pintu dulu!"


"Aku sudah satu juta kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, jadinya aku nerobos masuk saja karena kesabaran aku sudah teebakar habis," omel Barakka.


Kinan tidak tahan dengan apa yang diperbuatkannya, wajahnya berubah menjadi warna merah bak kepiting rebus dan menunduk. Perbuatan itu sungguh memalukan bagi Kinan karena tercyduk oleh Barakka.


"Kak Kinan kenapa?" tanya Barakka dan mendapatkan gelengan darinya.


"Itu gara-gara kamu, maen nyosor saja!" sindir Fahad.


"Keluar!" tegas Kinan tak tahan dengan diri sendiri yang tengah menanggung rasa malu tingkat dewa.


"Tuh katanya keluaf, Dek!" celetuk Fahad.


"Dua-duanya KELUAR!" tegas Kinan lagi karena wajahnya tak tahan. "Jika belum keluar, maka bersiaplah menerima pukulan dari saya!"


"Eh —."


"KELUAR atau aku bunuh!" tegas Kinan lagi dengan muka kesal yang tak tertolong.

__ADS_1


Dua lelaki itu segera keluar sesuai perintah Kinan, terlebih lagi Fahad terkejut untuk pertama kalinya mendengar nada kesal Kinan bercampur malu. Ia segera keluar sembari menarik Barakka, dan melirik ekspresi Kinan seperti malu yang tak tertolong sehingga membuat Fahad terkekeh dalam diamnya.


__ADS_2