
Dua orang lelaki yang merupakan sepasang saudara berdarah duduk santai manis di kursi depan rumah yang terbuat dari rotan beralaskan busa empuk sehingga menambahkan sedikit ketenangan untuk menikmati santai manis di depan rumah dengan suasana alam bertumbuhkan bunga-bunga sehat dan menyegarkan, setelah menghabiskan waktunya bersama dua orang lelaki yang usianya tidak terlalu jauh. Iya, lelaki itu adalah Barakka dan Fahad dua anak kesayangan Hasan dan Maryam yang tampan bahkan sangat populer di sekolahnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Fahad to the point setelah keduanya duduk santai di bangku depan rumah. Iya, depan rumah Fahad dipenuhi beraneka macam bunga di sanalah ada kursi santai menempel di dinding tembok rumah depan Fahad.
Kursi terbuat dari rontan berbantalkan busa yang empuk, sehingga kursi itu sangat cocok untuk dinikmati di waktu luang. Barakka kemudian menatap sang kakak dengan lekat.
"Apa Kakak punya teman wanita lain selain kak Marsha?"
"Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya balik Fahad.
Tenggorokan Barakka seketika terhimpit bahkan tercekik makhluk tak kasat mata. "Jawab saja pertanyaan aku tadi, apakah ada?"
"Tentu saja," jawabnya singkat.
"Siapa?"
"Raisa."
"Yang lain?"
"Tidak ada, soalnya waktu itu aku hanya kenal dengan dua wanita itu gara-gara mereka mendapatkan perundungan. Bahkan, aku tidak ingat dengan teman satu kampus yang perempuannya walaupun aku pernah mengerjakan tugas kelompok bareng dengannya," jelas Fahad.
"Apa Kakak tidak berpikir, kenapa aku menanyakan itu?"
"Justru aku berpikir, kamu kenapa tiba-tiba kepo sama wanita bahkan itu adalah teman kakak sendiri padahal jelaslah kakak tidak tahu banyak namanya saja sudah lupa," kesal Fahad.
"Baguslah. Aku menanyakan itu ada kaitannya dengan kejadian yang menimpa kak Kinan satu minggu yang lalu, dalang dibalik itu adalah wanita yang pernah mengisi kenangan Kakak, wanita itu adalah masa lalu Kakak," terang Barakka menatap intes wajah Fahad yang begitu mirip dengannya hanya saja Barakka memakai behel berwarna transparan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Waktu aku melawan dua preman itu, sebuah benda berdering saat itu aku sedang menggila hingga aku di bawah kendali nafsu amarah. Aku tak segan memukul wajah preman itu, saat itu Rehan menyadarkanku dengan menghentikanku bersamaan dengan itu aku mendengar bunyi dering notifikasi kedalam gawai yang tergeletak. Bunyi itu mengingatkan aku pada sosok wanita masa lalu Kakak."
Fahad memicingkan mata, telinga tajam yang setia mendengat hal baik selalu bikin Fahad penasaran bahkan Fahad tidak pernah diajar untuk memotong pembicaraan jika lawan bicara belum selesai. "Bunyi dering?"
"Iya!" Angguk Barakka cepat. "Seperti ini, di na mi na ti la da ...," jelas Barakka terakhirnya menggunakan nada bersuara.
Mata Fahad terbelak sempurna saat Barakka menjelaskan itu. "Apakah itu ...?"
••••••••••••••••••••
"Iya itu gue puas!" teriak wanita diiringi gelak tawa reyah mengisi ruang sempit yang di dalamnya terdapat tiga orang wanita dan dua orang lelaki. Enam orang itu sibuk menghabiskan waktunya di tempat kotor dan berbau sedikit alkohol.
"Anj*ir, lo masih siang ngajak gue mabuk! Apa lo enggak malu, hah?" ledek Raisa meneguk kembali cairan berwarna kuning yang dituangkan kedalam gelas kecil.
__ADS_1
"Enggak herang sumpah!"
"Heran, Bambang!" teriak Bima kepada temannya yang memiliki kebiasaan salah pengucapan.
"Hahaha ... asal lo tau, seberapapun banyaknya gue minum alkohol. Minuman itu tidak ngaruh ke gue, buktinya gue sedang ngomong!" ledek wanita berambut sebahu sembari mengangkat kakinya ke atas sehingga kaki kirinya menimpuk kaki kanan.
"Dia memang memiliki kebiasaan mabuk semenjak dia patah hati dari si Fahad, makanya dia terjun ke jalan sesat yang benar-benar meresahkan," ujar Tami.
"Heh, sok bijak banget lo! Lihat diri lo, lo lebih buruk!" sindir Raisa.
"Meskipun gue lebih buruk daripada dia, gue masih sadar diri kapan gue minum alkohol itu!" celetuk Tami tak terima.
Wanita itu hanya tersenyum sinis mendengar penuturan itu, ia lebih memilih membuka benda pipih ada banyak pesan masuk berasal dari sang papa hingga belasan telefon tak diangkat. Wanita itu tidak ingin diganggu, sehingga ia memilih mendiamkan suara getaran yang selalu berdering.
"Non?" panggil Danis asisten sekaligus sekretaris wanita itu memasuki ruangan yang di tempati sang nyonya, setelah mendapatkan perintah dari papanya wanita itu.
"Woi! Lo dipanggil!" teriak Bima sembari menguncangkan bahu wanita itu dengan kencang.
"Iya gue tau! Gue pulang duluan, kalian jangan bayar sudah gue urus soalnya." Ia berdiri meninggalkan ruangan yang mulai berbau alkohol padahal jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukan angka 16.30 sore di mana waktu itu sebentar lagi memasuki waktu malam. "Ayo, pulang! Nis," sambungnya.
"Baik, Non," terima Danis.
•••••••••••••••••••••••
Kini, lajang itu memilih menyandarkan kepalanya di pinggir sofa empuk dengan televisi masih menyala. Pikirannya masih tergiang-giang dengan nama wanita itu, wanita yang merupakan masa lalu Fahad bukan berarti dia mantan hanua saja wanita itu terobsesi dengan cinta. Jika Fahad menolak maka dia akan menggila, itulah yang membuat Barakka gemas dengan yang namanya obsesi.
Meski usianya tidak terpaut jauh dengan Kinan, pemikiran Barakka begitu luas bahkan memiliki pemikiran dewasa yang matang. Seharusnya, Barakka satu kelas dengan Kinan barulah disebut gentleman tapi kali ini dia bukan gentleman melainkan iron man jadi-jadian.
Barakka sendiri memiliki teman namanya Rehan, usia Rehan sangat mirip dengan Kinan yakni berusia sama-sama 17 tahun sedangkan Barakka berusia 16 tahun itu karena Rehan telat masuk ke SD sehingga tak sengan Barakka selalu membully dengan mengatakan telat masuk SD, akan tetapi dibalik itu Barakka begitu percaya pada Rehan.
"Bisa gila gue kalau mikir wanita itu," gerutu Barakka segera beranjak dari tempat dudukny dan mematikan televisi menggunakan tombol remote berwarna merah dan pergi ke kamar biasa untuk merehatkan badan.
Sementara di kamar utama, dua insan belum pergi ke alam mimpi keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing bahkan kejadian beberapa menit pun masih teringat jelas di benaknya. Tapi, demi membuang rasa canggung keduanya memilih kejadian itu seolah-olah tidak terjadi.
"Kinan?" panggil Fahad memecahkan hening setelah suasana itu diserahkan ke suasana malam.
Kinan yang tadinya sibuk meremas selimut kini tatapannya beralih pada Fahad, sehingga netra keduanya saling bertemu dan melempar pandang setelah itu kembali lagi ke bentuk semula.
"Apa kamu tidak ingin menikmati malam ini? Udara malam ini lumayan sejuk dan sedikit tenang."
Ah, malam ini ... memang terasa sangat mendamaikan, Kinan sengaja membuka sedikit jendela kamar balkon untuk menikmati pemandangan kota Jakarta. Bahkan pohon yang berdiri tegak di samping rumah itu menari-nari mengikuti arah angin, Kinan kemudian menatap jendela yang sedikit ditutup gorden itu seketika beralih kembali menatap Fahad.
"Aku ingin menikmatinya," tutur Kinan.
__ADS_1
"Baiklah, ayo ke luar kamar kita ke balkon menikmati malam itu," ajak Fahad bangkit dari kasur diikuti oleh Kinan, setelah itu Fahad membuka pintu balkon seketika suasana hening dan damai menghipnotis jiwa keduanya untuk terbang dan menikmati heningnya suasana malam.
Kinan keluar dari kamar menggunakan piyama tidur panjang, sedangkan rambutnya dibiarkan bergerak menari akibat hembusan angin malam sedikit sejuk. Menarik bafas dan menghembuskannya, menatap cakrawala gelap hanya gemintang berkelap kelip menemani sang surya agar tidak kesepian.
Fahad menarik kedua sudut bibir membentuk lengkungan, ia memutak balikkan badan untuk mengambil sweater takut sang istri kedinginan meski pakaian yang dikenakan sudah panjang. Akan tetapi, Fahad paham betul bahan itu tidak terlalu tebal sehingga memilih mengambil sweater setelah itu memakaikannya kepada Kinan.
"Kenapa?" herannya saat merasakab tubuhbya sedikit menghangat akibat ulah Fahad memberikan sweater dan menutup bagian atas Kinan.
"Aku takut kamu kedinginan," jawab Fahad santai sembari menepuk pundak Kinan dan menuntunnya agar duduk di kursi balkon kamar.
Kinan merasa dirinya seperti sedang dituntun oleh Fahad merasakan desiran aneh dalam lubuk hatinya, padahal sudah jelas perasaan itu selalu ada bahkan setiap kali mata keduanya bertemu. Perlakuan romantis Fahad membuat Kinan menarik kedua sudut bibirnya, ia tersenyum dan merasa bahagia memiliki lelaki seperti Fahad meski ketika bertemu di sekolah tatapan itu selalu berubah.
"Oh iya, siapa yang bersihkan kamar? Soalnya waktu itu ada banyak darah," tanya Kinan menatap sendu Fahad.
Fahad tidak langsung menjawab, ia malah mendudukan pantatnya di sebelah Kinan sehingga lengan keduanya menempel, setelah itu menatap langit malam. "Siapa lagi kalau bukan aku."
"Tapi, bukannya Mas menemaniku di rumah sakit?"
Mendengar kata 'Mas' yang sebelumnya selalu memanggil dirinya dengan sebutan 'kamu' seketika hati Fahad berbunga-bunga. Meski sudah mendengar itu sewaktu Kinan berceloteh bersama kedua orang tuanya, tapi dirinya ingin mendengar langsung dari bibir Kinan tanpa orang lain.
"Memang, tapi waktu itu semenjak orang tua Kinan menginap di sana aku pulang terlebih dahulu untuk membawa baju ganti. Nah, di situ ada bi Ijah sedang membersihkan darah yang masih segar di situlah aku menghentikan mereka biarkan aku. Makanya aku yang membersihkannya."
"Apa tidak jijik?"
"Untuk apa aku merasa jijik, justru saat aku membersihkan itu hatiku begitu sakit bahkan sakit bagaikan tertusuk jutaan anak panah. Istriku yang tak tahu apa-apa sudah mendapatkan musibah sebesar itu, jadi ketika aku membersihkan darahmu aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa bahwa aku adalah suami yang tak becus."
"Aku mengubur kain yang penuh dengan darah itu karena aku ingin menghormati milikmu, jadi saat itu tanganku bergetar hebat. Aku menyalahkan diri sendiri," lanjut Fahad menunduk.
Tangan Kinan kemudian mengenggam erat tangan kokoh Fahad dan tersenyum, Fahad seketika menatap sendu tatapan tulus Kinan. Senyum ketenangan itu benar-benar membuat Fahad merasakan kesalahan yang teramat dalam.
"Terima kasih, tapi bisakah Mas jangan mengatakan yang membuatku merasa sedih?"
"Apa?"
"Tadi Mas bilang, Mas bukan suami yang becus. Bagiku Mas tetaplah Mas suami aku, jadi jangan salahkan yang yang terjadi yah. Yang sudah berlalu biarkan berlalu, maafkan aku."
"Terima kasih," ucap Fahad menarik tubuh Kinan untuk masuk kedalam dekapannya dan mencium kepala Kinan dengan waktu yang lama.
Kini, malam itu keduanya ia habiskan setiap detik untuk menebar kasih sayang lewat ucapan tulus. Gemintang di langit malam seolah-olah menjadi saksi atas kasih sayang dua insan yang belum lama terikat dalam ikatan halal, seakan memberikan kebahagiaan untuk persiapan badai yang akan merompak pondakan rumah tangan yang mereka bangun.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, semoga kebaikan kalian dibalas oleh Tuhan dengan yang lebih❤❤❤
__ADS_1
•••••○○○•••••