
Sudah tiga hari berturut-turut Haidar mengantar dan menjemput Kalycha sekolah. Ia sengaja melakukan itu untuk memulai pendekatannya dengan Kalycha.
"Om Hai, nanti ga usah jemput Icha ya." Kalycha memulai pembicaraan karena dari awal menjalankan mobilnya sampai hampir sampai disekolah mereka hanya diam saja.
"Kenapa? Memangnya lo mau kemana?"
Kalycha bingung karena Haidar hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. "Nanti Icha ada tugas kelompok Om, mau ke rumah Lala dulu."
"Bisa baca pikiran apa ya nih Bocah? Apa dia bilang? Lala? Apa Lala si Gadis yang bekerja di Bar itu?" Haidar teringat pada gadis yang bekerja di Bar yang katanya teman Kalycha itu.
"Sama siapa aja?" tanya Haidar datar tanpa melihat kearah Kalycha.
"Lala, Adit dan Dion, Om–." jawabnya singkat sambil menatap kearah Haidar.
"Kok kesannya berpasangan gitu?"
"Pulangnya tetap aku jemput. Nanti serlok aja dimana alamat rumahnya." ucap Haidar datar. Haidar selalu bersikap dingin pada Kalycha dia tidak ingin memanjakan calon istrinya itu.
"Tapi Icha ga tahu pulangnya jam berapa Om."
Sebenarnya Kalycha merasa tak nyaman jika dijemput Haidar. Apalagi kalau nanti dijemputnya di rumah Lala. Kalau disekolah Kalycha masih bisa meminta Haidar untuk menunggunya di luar gerbang sekolah tapi kalau dirumah Lala pasti akan banyak pertanyaan dari teman-temannya itu nanti, jika melihat Haidar yang menjemputnya. Tidak mungkin dia bilang pada teman-temannya kalau Haidar itu adalah supir atau calon suaminya.
"Kamu kabari 30 menit sebelum kamu selesai. Pokoknya tunggu sampai aku datang menjemput." ucapnya masih saja datar.
"Iya–." dengan terpaksa Kalycha pun mengiyakannya.
Mobil Haidar berhenti didepan gerbang sekolah seperti biasa. Kalycha tidak mau teman-temannya melihat Haidar yang mengantarnya bukan pak Anto seperti biasanya.
"Icha sekolah dulu ya Om. Terimakasih udah dianterin."
Kalycha membuka seatbelt-nya lalu Ia melihat Haidar mengulurkan tangannya. "Mau apa dia? Jangan bilang dia nyuruh aku salim tangannya. Kemarin-kemarin ga gini deh perasaan. Kenapa sekarang jadi sok berasa jadi imam gitu."
Kalycha menggerutu dalam hati tapi tangannya tetap meraih tangan Haidar dan mencium punggung tangan calon suaminya itu. Tangan kiri Haidar spontan terangkat ingin mengusap rambut Kalycha tapi langsung diurungkannya.
"Kenapa selama ada Om Hai aku jadi merasa terkekang ya? Segala urusan harus melalui dia. Bahkan keuanganku juga udah dipegang sama dia. Daddy benar-benar menghukumku."
Kalycha melihat mobil Haidar sudah meninggalkannya barulah ia beranjak masuk kedalam sekolah.
Kalycha merasa aneh semua orang menatapnya seolah menghujat dan ingin mengajarnya.
"Ada apa dengan tatapan mereka?" Kenapa sinis sekali melihatku?"
"Lala–." Kalycha memanggil Lala saat Kalycha melihat Lala mendahuluinya. Tapi Lala tetap berjalan seolah tidak menghiraukannya.
"Ada apa dengan mereka? Bahkan Lala juga mengacuhkanku?"
__ADS_1
Sesampainya didalam kelas kembali ia mendapat tatapan sinis dari teman-teman sekelasnya.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa ngeliatin gue sinis begitu?" tanyanya pada Adit yang sudah lebih dulu datang dari padanya.
"Mana gue tahu." Adit mengangkat bahunya. "Tapi yang gue denger Windy dan teman-temannya sedang diskors bahkan terancam DO." ucap Adit sambil menyalin PR dari temannya.
"Kenapa?" Kalycha semakin penasaran. Dirinya memang kesal pada Windy dan teman-temannya. Andai saja mereka tidak mengajaknya ke Bar waktu itu mungkin saja dia tidak perlu harus menikah dengan Haidar. Bahkan semua cita-citanya sudah pupus.
"Gue ga tahu Kaly–, dan gue juga ga mau tahu. Tapi temen Lo yang itu juga kena imbasnya kayaknya." Aditya menunjuk kearah Lala dengan dagunya.
"Ada apa dengan mereka? Dan ada apa dengan Lala?"
"La, bisa ngomong sebentar?" Kalycha sudah berada di depan meja Lala.
"Sorry gue lagi ngerjain PR, kalau ada yang mau Lo omongin ya omongin disini aja." Lala terlihat tidak senang dengan kedatangan Kalycha.
"Gue denger, Lo terancam DO maksudnya apa La? Emang Lo ngelakuin kesalahan apa?"
"Dasar perempuan munafik. Malah pura-pura ga tahu lagi." umpat Lala dalam hati.
"Bukan urusan Lo." Lala yang muak melihat Kalycha akhirnya keluar dari kelas meninggalkan Kalycha dengan sejuta pertanyaan dihatinya.
"Kenapa Lala jutek gitu? Apa salah gue?"
...🍥🍥🍥...
Dua Hari Sebelumnya
Setelah acara lamaran selesai, Haidar kembali menyelidiki kasus Kalycha. Sehari sebelum acara lamaran dirinya sudah mendapatkan semua bukti yang terjadi pada Kalycha dimalam itu. Seharusnya Haidar tidak perlu menikah dengan Kalycha tapi dirinya juga bertanggung jawab karena telah melihat gadis itu tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ditambah lagi dia adalah jawaban dari doa istikharahnya.
"Roy, apa kau sudah mengumpulkan gadis-gadis itu?" tanya Haidar kepada orang kepercayaannya itu.
"Sudah Tuan."
Roy sudah berhasil membawa Windy, Deby, Desi dan Mimi ke sebuah Hotel yang berada didekat pantai. Roy mengatakan bahwa mereka mendapatkan voucher liburan gratis selama tiga hari. Dan tentu saja gadis-gadis itu langsung percaya dan setuju ikut dengan Roy. Berbeda dengan Lala, Roy tidak berhasil membujuk Lala sehingga Roy terpaksa harus menculiknya.
Roy menempatkan Lala dikamar yang terpisah dari Windy dan teman-temannya. Pesona ketampanan wajah Roy berhasil meluluh lantakkan hati keempat gadis itu.
"Tunjukkan jalannya–." Haidar mengucapkan perintahnya
Roy langsung membawa Haidar menuju hotel tempat Windy dan teman-temannya.
Haidar menunggu kedatangan gadis-gadis itu disalah satu ruang pertemuan di hotel itu. Sementara Roy membawa Windy dan teman-temannya untuk bertemu dengan Haidar. Keempat gadis itu mengikuti Roy tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. Bahkan saat melihat pintu ruangan itu dijaga oleh dua orang pria yang bertubuh tinggi dan besar mereka tidak takut, hanya Mimi yang merasa sedikit aneh.
"Silahkan masuk Nona-nona di dalam akan dijelaskan perjalanan liburan Nona-nona sekalian."
__ADS_1
Keempatnya terlihat sangat antusias. Mereka tersenyum kegirangan. Saat pintu dibuka terlihat lagi dua orang berpostur tubuh yang sama tinggi dan besar berdiri didekat pintu dan dua orang wanita cantik dengan pakaian yang sama dengan ke empat pria itu berjas dan bersetelan serba hitam semua hanya kemeja dalamnya saja yang berwarna putih. Sementara Haidar membalikkan tubuhnya dibalik kursi putar yang ada diruangan itu.
"Apakah Kakak-kakak ini yang akan menjadi tour guide kami Kak?" Windy melontarkan pertanyaannya saat melihat kedua Bodyguard girl itu tersenyum kearahnya.
"Oh kalau itu silahkan tanya langsung kepada yang mensponsori liburan kalian." Roy menunjuk Haidar dengan cara meliriknya.
"Loh bukannya Kakak bilang kami dapat voucher liburan bukan disponsori?" Deby mulai merasa ada yang tidak beres dengan iming-iming voucher liburan yang dijanjikan Roy kepada mereka.
"Apa kalian benar-benar ingin Liburan?" Haidar membalikkan badannya dan melihat ke empat gadis itu satu persatu.
"Kakak, bukannya kakak laki-laki yang di Bar waktu itu? Yang marah-marah saat melihat Icha mabuk? Dan Kakak juga yang mengancam kami? Tapi kenapa Kakak mengancam kami waktu itu. Mimi takut sampai ga bisa tidur Kak, salah Mimi apa?" Mimi bertanya dengan polosnya dan malam itu Mimi yang tidak tahu apa-apa sangat ketakutan mendengar ancaman Haidar. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
"Sepertinya dia bukan gadis yang jahat. Tapi apa mungkin dia benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilakukan teman-temannya pada Icha?"
"Sebaiknya kita pulang saja." Windy menarik tangan Deby dan Desi namun percuma karena pintu sudah ditutup dan di jaga oleh kedua pria bertubuh besar itu.
"Kalian mau kemana? Apa kalian pikir bisa berhasil lari dari masalah yang sudah kalian perbuat. Apa kalian sadar efek akan perbuatan kalian itu. Kalycha sangat mabuk berat malam itu. Bahkan kalian tega mencekokinya dengan obat per*ngsang. Apa kalian tidak takut diperjara? Hah?" Bentak Haidar, Ia kembali emosi bila mengingat kembali kejadian malam itu. Dimana Kalycha sangat menderita dan harus melewati masa-masa krisisnya.
Windy dan teman-temannya tampak ketakutan. Mereka saling berpandangan kecuali Mimi.
"Obat per*ngsang? Mimi ga ada kasih obat itu sama Icha. Mimi cuma minta Icha cobain koktail aja, tapi itupun Icha menolak awalnya. Tapi ga tahu setelah minum softdrink Icha jadi merasa haus terus mengambil minuman Mimi dan meneguk Wiski setengah botol lebih. Sumpah Kak ga ada obat per*ngsang disana." Mimi menjelaskan kejadian sebenarnya yang terjadi disana dan tentunya hanya yang dia tahu.
"Gadis ini benar-benar sangat polos dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Batin Haidar.
"Bawa dia masuk–." perintah Haidar pada Bodyguard yang berdiri didepan pintu itu. Dan tak lama masuklah seorang Bodyguard bersama seorang gadis lainnya yaitu Lala.
Mata Windy langsung terbelalak melihat Lala diseret masuk oleh Bodyguard itu
"Mati gue, kalau sampai Lala buka mulut habislah kami semua." Batin Windy.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Icha malam itu? Kenapa Lala juga ada disini?" Mimi.
"Kenapa mereka bisa tahu kalau itu adalah obat per*ngsang? Bukannya kata Indra dia udah ngeberesin CCTV disana?" Deby
"Matilah aku, kalau sampai Mama Papa tahu, aku minta uang untuk party tapi malah ngerjain Kalycha yang notabenenya anak rekan bisnis Papa." Desi
"Akan ku pastikan mereka tidak lagi mengganggumu Cha." Batin Haidar.
Segitu dulu yach 😊
Author lelah pen bobok dah malem soalnya 🤭
Biar tambah penasaran, Kira-kira Windy in the gengs diapain ya sama Om Hai 🤔
Jangan Lupa sesajennya ya gaes 😍
__ADS_1