My Soulmate

My Soulmate
Sarapan Menyedihkan


__ADS_3

Menikmati makanan untuk otak hingga berasap sudah menjadi kebiasaan seorang murid untuk menuntaskan kebodohannya, pembelajaran geografis berjalan begitu tepat sesuai arahan jarum jam. Diskusi hingga berdebat sudah menjadi kebiasaan setiap kali pembelajaran geografis berlangsung sebagai pembuktian sudah sejauh mana penguasaan ilmu pengetahuan tentang geografis itu sendiri.


Kinan yang sudah terbiasa dengan pelajaran geografis, terkadang selalu mendapatkan nilai paling besar perilah diskusi tanpa meminta bantuan. Otaknya berputar sesuai dengan arahan sang guru, bahkan rangkaian kata yang tersusun dalam frasa seketika dilontarkan ibarat seorang puitis mengalirkan jiwa puisinya dengan seksama dan indah.


"Bagus juga pendapatmu," puji Guru geografis.


Kinan menjawab itu dengan senyum manis kemudian kembali lagi menunduk. "Terima kasih."


Setelah diskusi itu berjalan sebagaimana mestinya, lontaran pendapat membuat suasana itu kembali bangun setelah sekian lama mati akibat terlalu serius mempelajarinya di situlah guru geografis yang terkenal dengan sifat kreatif yang tinggi mampu membangkitkan kembali suasana mati menjadi lebih seru. Sampai akhirnya tak terasa bel istirahat pun berbunyi, guru geografis pun pamit tanpa memberikan tugas tambahan baginya berdiskusi sudah membuatnya cukup untuk menambahkan nilai kekreatifan seorang siswa itu sendiri.


Setelah bel telah usai dirinya lebih memilih mengambil nasi yang disiapkan oleh Bi Ijah dan berniat membawanya ke ruangan di mana Fahad berada. Kotak nasi tiga tingkat dengan lauk pauk yang seimbang, tak lupa juga Kinan menggambarkan senyum manisnya karena segrea bertemu dengan Fahad setelah dua jam menghabiskan waktunya untuk belajar pembelajaran pertama.


Teman Kinan yang lmelihat itu seketika menyerit heran, pasalnya Kinan tidak pernah membawa makanan dan sekarang baru nonggol. Siska yang melihat itu menghampiri Kinan dan menghentikan langkah yang tinggal beberapa langkah lagi segera keluar.


"Mau kemana?"


"Mau makan," jawab Kinan singkat.


"Sebentar!" titah Siska menghampiri Kinan. "Beliin dulu gue mie goreng sama teh manis," sambungnya.


"Beli sendiri, aku mau makan dulu," singkat Kinan dingin.


"Oh jadi, loe melawan hah? Kalau begitu sini makanan loe buat gue!" hardik Siska hingga Kinan mundur beberapa langkah akibat ulahnya.


"Kembalikan!" tegas Kinan menampilkan muka dinginnya akibat Siska menarik wadah bekal yang berisi makanan untuk dimakan bersama Fahad, karena keduanya tak sempat sarapan akibat Fahad terlalu betah menghabiskan waktunya bersama.


"Halah, lagian siapa yang enggak mau nurut. Di suruh belikan mie goreng doang masih engga nurut, jadi gue ambil lah punya loe cacing gue kelaparan gara-gara loe nolak suruhan gue," sinis Siska.


"Kalau begitu mana uangnya? Aku akan belikan, asal jangan sentuh satupun makanan itu!" Kinan mencoba menetralkan emosinya, antara marah dan sedih menjadi satu.


"Pake duit loe lah," cibir Siska. "Buru pergi sebelum gue habisin punya loe!"


Kinan segera pergi ke kantin, dengan perasaan bercampur aduk antara marah dan sedih. Teman sekelasnya memang terkenal agak begis jika bersama dirinya, ketika mereka gabut ia tak segan membuat Kinan merasakan penderitaan yang begitu nelangsa. 'Maafkan aku, karena aku kamu jadi seperti ini,' batin Kinan dengan langkah kaki terus berjalan hingga sampai kantin dan memesan yang sesuai dengan permintaan Kinan.


Sekitar dua puluh menit Kinan menghabiskan waktunya, ia yakin bahwa Fahad dan Barakka sedang menunggunya di kantor untuk mengisi perut kosong. Untunglah masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum bel pelajaran berikutnya masuk, kedua tangan Kinan sibuk memegang nampan berisi mie goreng yang dibungkus dan minuman teh manis sesuai dengan pesanan Siska. Ia segera masuk kedalam kelas dan alangkah terkejutnya Kinan saat apa yang sedang terjadi di dalam kelasnya.


Bruk!


"Apa ini?" kaget Kinan sampai pesanan Siska terjatuh hingga tumpah tak tersisa.


Siswa yang jumlahnya hanya ada beberapa orang saja seketika menoleh saat mendengar sesuatu seperti kantong plastik jatuh. Siska yang melihat itu seketika tersenyum bahagia melihat kedatangan Kinan diam mematung.


"Wah, Kinan sudah datang! Jangan lupakan terima kasihnya sudah ngasih kita makan!" seru Siska tersenyum bahagia.


"Apa yang kamu lakukan?!" bentak Kinan.


"Ya ampun dia marah lho, gue,'kan sudah bilang sisain makanannya malah dihabisin!" cibir Siska dengan senyum sinis kepada teman-temannya.


"Apa yang kamu lakukan, Siska!" bentak Kinan dengan mata merah berkaca-kaca seakan harapannya untuk makan bersama Fahad dan Barakka telah usai akibat makanannya sudah habis total hanya bersisa tulang dan sayur bekas gigitan yang tak habis.

__ADS_1


"Kenapa loe jadi gitu, Kin? Aku sudah berbuat baik lho, bukannya kalau berbuat baik dapet imbalan baik juga?" sindir Siska.


"Bener toh kata Siska, makasih lho yah Kinan!" teriak Gisha dengan mulut sedikit berisi dan tersenyum.


Dua orang lagi yang tak lain adalah Dara dan Yuni ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan kompak. "Lain kali bawa yang banyak yah!"


"Kamu sudah menjaga amanahmu, sekarang di mana amanahmu, Siska?!" bentak Kinan tersulut emosi bercampur air mata.


"Ko gitu sih, Kin ...," ucap Siska tak berdosa.


"Jangan pura-pura sok baik di depanku. Jadi, sekarang minggir!" protes Kinan mendorong tubuh Siska hingga mengenai bangku meja.


"Assww!" rengek Siska. "Kalau mau minta jalan minimal permisi dulu," lanjutnya tanpa bercermin.


Rasa marah menjadi satu bersamaan dengan rasa kecewa, bagaimana tidak makanan yang dibuat untuk bekal makan dirinya bersama Fahad dan Barakka telah habis, hanya tersisa sayur lalapan bekas gigit dan beberapa butir nasi yabg tak bersih. Menatap dua orang yang menghabisinya dengan tatapan tajam, ia segera menarik wadah misting seperti biasa dengan cara yang kasar dari tangan para malingnya makanan.


"Ko kamu gitu sih, Kinan? Kamu udah baik, malah dibalas dengan muka jutek," sinis Dara lalu berdiri mendekatkan wajahnya ke wajah marah Kinan yang tangannya sibuk membereskan wadah yang berantakan akibat orang itu.


Menghentikan tangan Kinan yang sibuk, Daran mengenggambya dengan sangat keras sehingga Kinan merasakan sakit tapi harus ia tahan rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang tak berdarah. Dara hanya tersenyum sinis, menatap lekat wajah Kinan dan berbisik, "mana balasan sama-sama mu, Kinan?"


Kinan tak mengubris bisikan itu, ia menghempaskan tangan Dara yang masih meremas kuat dengan cara yang kasar. "Aku sudah bilang lepaskan!"


"Sudah berani rupanya, Kinan."


Plak!


Kinan menunduk, tangannya meremas wadah misting yang sudah tersusun rapih. Tidak mengeluarkan satu katapun darinya, sebab hatinya sudah penuh dengan perasaan bercampur aduk, sampai akhirnya Kinan memejamkan mata mencoba berbicara pada diri sendiri seolah-olah semuanya baik-baik saja. Nyatanya, air mata itu tidak ingin membohongi diri Kinan. Tanpa disadari oleh Kinan, cairan itu seketika luluh dan terjatuh dengan perasaan yang berbarengan dengan isak tangis kesakitan. Mencoba mengigit bibir agar tak bersuara, akhirnya terlaksana sudah.


"Apa itu sakit?" tanya Dara dengan nada lembut.


"Dia belum puas katanya, coba tampar dikit lagi. Bukannya, dia pas menghempaskan tanganmu itu lebih sakit yah?" cibir Gisha ikut masuk kedalam pembicaraannya.


"Tidak ah, loe aja! Gue mau beli minum," tolah Dara dan pergi. Akan tetapi, baru beberapa langkah saja Dara membalikkan badan dan menarik kerudung Kinan hingga kerudung yang dipakai oleh kinan tertarik kebelakang bahkan kepala Kinan juka ikut ketarik.


"Maaf sengaja, soalnya belum puas!" cibir Dara dan segera pergi meninggalkan Kinan yang masih berdiri meratapi betapa malangnya diri Kinan.


.


.


.


Kurang lebih delapan jam para siswa menengah atas elit di kota Jakarta akhirnya usai sudah, bel pelajaran terakhir pun berbunyi, puluhan siswa berbondong-bondong keluar dari kelas setelah beradu dengan otak masing-masing hingga mengeluarkan asap kebarakan akibat huruf, angka, hingga penyampaian melekat sempurna di otak para siswa untuk perbekalan kedepannya akhirnya waktu untuk beristirahat total pun tiba.


Kinan yang sudah lelah dengan semuanya, rasa bersalah, marah, kecewa, sedih menjadi satu. Tatapannya kosong mengarah ke arah tempat parkir berada. Barakka yang berjalan di belakang Kinan seketika menyerit heran, pasalnya Kinan berjalan seperti orang kelelahan karena pelan-pelan terlebih lagi dengan kedua tangannya disembunyikan di tubuh depannya seperti memegang sesuatu, belum lagi dengan jilbab bersih yang tampak sedikit kotor dan basah.


Barakka ingin sekali menghampiri Kinan, tapi semenjak melihat Fahad berjalan ia urungkan. 'Semoga saja tidak terjadi apa-apa,' batin Barakka.


"Woi, balik sekolah kita main yuk di rumah loe?" tawar Rulli.

__ADS_1


"Boleh tuh, sudah lama," terima Rehan langsung setuju.


"Kalian mau maen atau mau minta jatah makan?" cibir Barakka, karena sudah tau niat terselubung dari dua temannya.


Sementara Fahad lebih dulu masuk kedalam mobil, ia melihat Kinan dengan wajah tertunduknya. Maka dari itu, Fahad kembali lagi keluar dan menghampiri Kinan. "Kenapa?"


Kinan menggeleng tanpa menatap Fahad. "Saya mau pulang, Pak."


"Mau saya antar?" tawar Fahad mencoba bersandiwara, pasalnya masih ada murid yang belum sepenuhnya meninggalkan sekolah elit ini.


"Tidak usah, Pak," tolak Kinan dan kembali lagi berjalan menuju tempat aman suoaya tidak ada yang curiga, pasalnya sudah dua kali naik mobil Fahad jika ingin masuk sekolah.


"Baiklah, hati-hati," ucap Fahad dan segera meninggalkan Kinan setelah mendapatkan anggukan dari Kinan.


Setelah bersandiwara, akhirnya keduanya kembali lagi bertemu dalam satu mobil yang sama di tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Fahad merasakan sesuatu yang tidak beres dengan tingkah laku Kinan, ia menatap wajah cantik istrinya itu dan menemukan sesuatu yang menjanggal. "Bibirmu kenapa?"


"Maafkan aku," lirih Kinan.


"Kamu kenapa?"


"Aku gagal menjaga amanah, maafkan aku ...," lirih Kinan.


Fahad kemudian mencoba mencerna kalimat yang terlontar oleh Kinan, seketika dirinya teringat tentang janji tadi pagi bahwa keduanya akan sarapan bersama. Nyatanya Kinan tidak menampakkan batang hidungnya. "Kinan," ucap Fahad sembari mengenggam tangan Kinan.


"Maafkan aku, kamu pasti menunggu. Tapi, aku tidak datang jadi aku—,"


"Tataplah aku, Kinan," potong Fahad.


Kinan menggeleng entah kenapa, rasa takut itu merasuki jiwa Kinan untuk merenungi kesalahannya karena dirinya masih lemah terhadap perbuatan teman satu kelasnya yang selalu membully dan merundung dirinya tanpa mengatakan apa alasannya.


"Tataplah aku, Kinan ...," lirih Fahad dengan suara lembut. Akhirnya, Kinan menatap Fahad lekat dua pandangan saling bertemu dan mencuri pandangan indah yang saling beradu. "Jangan dipikirkan, itu bukan salahmu. Jadi, tolong jangan dipikirkan."


"Tapi ...."


"Kamu tadi bertanya,'kan takut aku menunggu? Tentu saja aku menunggu, tapi aku baik-baik saja, Kinan. Jadi, jangan dipikirkan itu." Fahad mengeratkan gengamannya, kini beralih menyentuh dan mengelus pipi Kinan. Tatapan mata yang menanggung air mata membuat Fahad tak kuasa, ingin segera menghibur.


"Apa kamu kecewa?"


Fahad menggeleng dan tersenyum. "Tidak."


"Lalu?"


"Tidak, aku hanya ingin kamu melupakan yang membuatmu bersedih. Aku mengerti alasanmu, meskipun begitu aku mengerti."


"Tapi ...."


"Lupakan, aku tidak marah maupun kecewa aku tidak aku baik-baik saja, Kinan. Maka dari itu, kamu harus melupakannya."


Kinan kemudian mengangguk lemah dan menunduk. Fahad segera melajukan mobilnya, seakan ingin sampai rumah untuk kembali menjadi tempat bersandar. "Setelah sampai rumah, kamu harus menceritakan semuanya dan aku akan mengobati bibirmu yang berdarah itu."

__ADS_1


__ADS_2