My Soulmate

My Soulmate
Siapa Dia?


__ADS_3

Haikal Pov


Seumur-umur ini baru pertama kalinya aku pingsan dan aku tak tahu apa penyebabnya. Saat melihat wanita itu histeris aku begitu panik. Wajahnya seperti tak asing bagiku. Tapi saat mendengar pria yang bersamanya itu memanggil namanya. Entah kenapa tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing, jantungku berdebar kencang dan hatiku juga sakit. Namanya yang unik dan sepertinya aku sangat familiar dengan nama itu.


Ku putuskan untuk kembali ke kantor karena Jenny terus saja merengek ingin ikut pulang denganku. Entah kenapa wanita itu sangat PD mengatakan pada orang-orang kalau aku ini adalah tunangannya, kalau tidak karena aku sangat menghormati orangtuanya aku pasti akan memarahi dan menuntutnya sebagai pencemaran nama baik.


Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke kantor saja bersama Dimas asistenku.


"Dimas, tolong cari tahu siapa wanita yang histeris di restoran tadi. Suruh orang untuk menyelidiki latar belakangnya. Dan aku butuh data pribadinya secepatnya." Aku memerintahkan Dimas untuk mencari tahu siapa wanita itu. Entah kenapa aku begitu tertarik dan ingin tahu tentang wanita itu.


"Baik Tuan." Dimas pun langsung mengerjakan apa yang aku perintahkan.


Author POV


Haikal Halim Prakasa anak dari Bapak Abas Prakasa pemilik perusahaan PT Prakasa Group, Perusahaan terbesar di kotanya dan Ibunya bernama Yetty Kusuma dan bisa dikatakan kalau orangtuanya masuk deretan 10 orang terkaya di Indonesia. Haikal merantau ke kota Jakarta karena Ayahnya membuka cabang perusahaan di Jakarta dan dirinya diangkat menjadi direktur utama atau Chief Executive Officer di perusahaan itu.


Seminggu Kemudian


Sudah lama Haikal menerima apa yang dimintanya dari Dimas. Sebuah amplop yang berwarna coklat itu sudah tersedia diatas meja kerjanya sejak seminggu yang lalu. Hatinya selalu berdebar saat menyentuh amplop berwarna coklat itu. Baru menyentuhnya saja sudah membuatnya gemetar dan membuat kepalanya sakit.


Kali ini rasa penasarannya begitu kuat, dibukanya amplop itu dan dikeluarkannya beberapa lembar kertas dan juga foto yang ada didalam amplop itu.


Nama : Kalycha Lixui Bramasta


Kelahiran : Jerman, --/--/----


Status Pernikahan : Single


Pekerjaan : dokter umum di Rumah Sakit Medical Internasional


Lulusan dari Universitas Kedokteran Singapura


Saudara : 2 orang.


"Hmmm, nama yang unik dan dia juga masih single. Apa dia anak pemilik Perusahaan Liemasta Group?" tanyanya pada asistennya Dimas yang dari tadi setia berdiri disampingnya. Haikal dapat menebak dari yang tersemat dibelakang namanya. Untuk saat itu dirinya tak merasakan sakit didada atau kepalanya hanya tangannya saja sedikit bergetar.


"Anda benar Tuan, dia putri tunggal dari Tuan Pramudja dan kedua saudaranya itu adalah anak Tuan Pram dari istrinya yang lain karena Ibu kandung dari Nona Kalycha sudah lama meninggal Tuan."


Deg.


"Aahk." Jantung Haikal terasa sakit, ia memegang dadanya dan mencengkramnya dengan kuat. "Siapa dia? Kenapa jantungku terasa sakit saat tau Ibunya sudah meninggal? Kenapa hal ini selalu terjadi saat aku mencari tahu siapa dia sebenarnya?"

__ADS_1


"Anda baik-baik saja Tuan?" Dimas panik saat melihat Haikal kesakitan, ia memegang badan Haikal.


Lalu Dimas mengambil obat dari dalam laci meja kerja Haikal. "Tuan minumlah obat anda dulu." Dimas memberinya obat dan segelas air putih.


Haikal mengambil obat itu dari tangan Dimas lalu meminumnya.


"Bagaimana Tuan apakah jantung anda masih sakit? Apa anda merasa pusing Tuan? Apa sebaiknya kita kerumah sakit saja Tuan?" Serentetan pertanyaan yang dilontarkan Dimas, dia begitu khawatir dengan kesehatan atasannya itu


"Aku sangat tidak tega melihatmu seperti ini, kau berjuang sendiri, entah apa yang sudah kau lalui sampai kau mengalami kecelakaan itu." Batin Dimas.


"Aku sudah lebih baik Dim, kamu tak perlu khawatir begitu." Haikal memaksakan dirinya untuk tersenyum menutupi rasa sakit yang ia rasakan. Haikal tidak ingin membuat asistennya itu khawatir dengannya.


"Tuan, apakah Nona Kalycha ada hubungannya dengan Tuan? Soalnya semenjak wanita itu muncul Tuan jadi sering kesakitan begini."


"Benar juga, Siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya denganku?" Batin Haikal


"Entahlah Dim, aku juga tidak tahu."


"Tuan, kau itu amnesia, apa Tuan mau mencoba hipnoterapi untuk memulihkan ingatan anda Tuan? Kalau Tuan mau, saya akan membawa Tuan betemu dengannya." Dimas mengingat kalau dia memiliki sahabat seorang dokter.


"Aku sudah pernah mencobanya Dim, tapi tidak berhasil." Haikal terlihat lemas seperti orang yang pasrah dan menyerah.


"Dimas benar, bisa saja gadis itu ada hubungannya denganku. Tapi apa? Apakah dia adikku? Tidak-Tidak tadi Dimas bilang kalau dia putri tunggal Tuan Pram."


"Oke baiklah aku setuju. Tapi Dimas, tolong rahasiakan ini dari kedua orangtuaku. Kau tahukan kalau mama sampai tahu dia akan marah besar." pintanya pada Dimas.


"Anda tenanglah Tuan. Saya akan merahasiakannya."


"Sudah cukup anda hidup sebagai Halim selama lima tahun ini. Sepupu ku itu sudah tenang disana. Aku juga tidak ingin melihat Tante Yetti selalu beranggapan kalau anda itu adalah putranya yang sudah meninggal."


...🔸🔸🔸...


🏘️ Keluarga Bramasta


Suasana mansion keluarga Bramasta itu sudah sangat berbeda kini sudah menjadi ramai sejak kelahiran baby twins dikeluarga mereka.


Malvin Adity Bramasta dan Malven Adly Bramasta adalah putra kembar dari Pram dan Nayla yang saat ini sudah duduk dibangku TK. Sepulang dari sekolah kedua anak kembar itu langsung berlari ke kamar wanita yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Sischa, Sischa–." teriakan Malven memekakan telinga Kalycha yang masih nyaman tidur ditempat tidur berukuran king size miliknya.


Malvin pun naik ketempat tidur Kalycha lalu si anak kembar itu melompat-lompat diatas tempat tidur Kalycha. Membuat tubuh Kalycha terayun-ayun diatas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Sischa bangun–." teriak keduanya bersamaan sambil terus melompat-lompat diatas tempat tidur yang empuk itu.


Tidur Kalycha pun terusik oleh dua makhluk yang membuatnya geram.


"Malviiiin–, Malveeen– bisa ga sih ga usah ganggu Sischa, Sischa masih ngantuk." teriaknya pada kedua adiknya itu.


Kalycha yang baru pulang pagi karena habis jaga shif malam, membuatnya sangat ingin menikmati tidurnya yang semalaman tidak tidur karena banyak pasien.


"Ini udah siang Sischa bukan waktunya lagi bobok, Malvin mau main sama Sischa–." rengek adiknya itu yang masih saja melompat-lompat ditempat tidurnya.


"Malven juga–." sambung kembarannya.


Kalycha bangun lalu duduk bersandar ditempat tidurnya, menarik kedua tangan adiknya itu dan membawanya ke dalam pangkuannya.


"Sischa masih ngantuk sayang, nanti sore aja yah, kita jalan-jalan ke Mall main Timez*ne. Okey?" Kalycha mengeluarkan jari kelingking dan ibu jarinya. Malvin langsung menautkan jari kelingkingnya dan Malven menautkan Ibu jarinya pada ibu jari Kalycha. Begitulah cara Kalycha untuk membujuk kedua pangeran yang telah banyak membantunya melupakan kesedihannya setelah kematian suaminya.


"Oke Sischa–." jawab keduanya lalu mencium pipi Kalycha bersamaan. Malvin mencium pipi kanannya sedangkan Malven mencium pipi kirinya.


"Sekarang Malvin sama Malven turun ya, Sischa mau bobok dulu." Kedua kurcaci itu pun menurut dan turun dari ranjang Kalycha.


"Bundaa–." keduanya berlari kepelukan Nayla saat melihat Nayla memasuki kamar Kakaknya itu. Nayla menunduk dan merentangkan kedua tangannya membalas pelukan kedua pangerannya itu.


"Jagoan Bunda, ngapain dikamar Sischa?" tanya Nayla setelah mensejajarkan dirinya dengan kedua putranya itu.


"Mau main sama Sischa tapi Sischa bilang masih ngantuk Bun." sahut Malven.


"Sayang kamu masih mau tidur?" Nayla berdiri dan duduk ditepi tempat tidur.


"Iya Bun, capek banget. Tadi malam banyak pasien Bun." ucapnya sambil membaringkan tubuhnya kembali. Nayla mengusap lembut rambut Kalycha menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik putrinya itu.


"Tapi ada Roy dibawah sayang katanya sudah janji mau ketemu sama kamu."


"Kak Roy?" Kalycha berpikir sejenak, kenapa Roy memintanya untuk bertemu dan mengingat-ingat janji apa yang telah dibuatnya dengan mantan asisten suaminya itu. "Hah, Kak Roy ya Bun. Oke Bun bilang sama Kak Roy tunggu sebentar ya Bun, Icha mandi dulu." Kalycha langsung berlari masuk ke kamar mandi setelah mengingat apa keperluannya dengan Roy.


"Jangan lari-lari Kak, kamu udah kayak anak kecil aja." Nayla menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya itu.


"Sayang ayo keluar dari kamar Sischa." Nayla mengajak kedua putranya keluar dari kamar Kalycha.


Yaaa... Nanggung Thor 😔


Sabar hari ini Author akan double Up kalau banyak yang Like dan kirim Kembang 😍

__ADS_1


__ADS_2