
Tiga hari berlalu, sesuai dengan kesepatakan Fahad dengan sang mertua Ibha. Selama itu, Fahad mendiskusikan terlebih dahulu dengan Kinan sang istri. Dirinya tidak mungkin mengambil jalan yang salah, ia selalu diiringi dengan dia dan dukungan darinya.
Beberapa hari yang lalu, Kinan sempat menolak bahkan tidak memperbolehkan suaminya bekerja di perusahaan sang ayah karena rasa takutnya semenjak kedua orang tuanya lebih mengandalkan perusahaan ketimbang memberi kasih sayang. Maka dari itu, Fahad mencoba membujuk Kinan agar mau menerima dan berpikir dua kali.
"Aku tidak mau Mas kerja di sana, aku takut nantinya pas jadwal padat Mas mentingin kerja daripada istri," celetuk Kinan di sela-sela makanannya.
"Kalau aku menolak, gimana dengan perusahaan ayah? Masa tidak boleh ada yang mengurusnya? Kalau soal itu, aku akan membagi waktuku mau itu untukmu ataupun kerja, bagaimana?"
Kinan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan gusar. "Kalau Mas kekeh sama itu dan demi kebaikan ayah, aku izinkan Mas kerja di sana! Asalkan satu syarat."
"Apa itu?" tanya Fahad.
"Ada deh, ayo pergi sekolah," jawab Kinan tersenyum manis membuat Fahad memicingkan mata seolah-olah syarat itu akan membuatnya tak karuan.
"Baiklah," lesu Fahad.
*****
"Hah! Setelah sekian lama akhirnya aku menapaki perusahaan yang ayah bangun!" teriak Kinan dari dalam ruangan yang isinya hanya Fahad dan Ibha. Dua lelaki memandangi wanita kesayangannya dengan tatapan malas, teriakan Kinan adalah sindiran pedas untuk sang ayah. Meskipun begitu, Ibha mengerti maksud ucapan sang anak.
"Seharusnya aku tolak syarat itu, dia belum ganti pakaian sekolah belum lagi dengan makan untuk minum obatnya," keluh Fahad kepada mertua.
"Apa katamu?" kata Kinan sedikit meninggi.
"Tidak, aku bahagia kerjanya ditemani olehmu," jawab Fahad menampilkan sederet gigi bersihnya.
Kinan memutar bola matanya malas. "Memangnya, apa syarat dia?" tanya Ibha mencairkan suasana.
"Dia pengen ikut ke perusahaan untuk menemani kerja aku, Yah. Takut diembat akunya," ledek Fahad.
'Enak aja!' batin Kinan tak peduli, karena pandangannya fokus mengarah ke luar jendela. Dari atas gedung, terlihatlah ribuan benda seperti genteng beraneka ragam belum lagi dengan pemandangan cakrawala yang sebentar lagi memasuki waktu sore.
Iya, sekarang jam menunjukan waktunya pukul 15.03 yang artinya Kinan sudah pulang tiga puluh menit yang lalu dan kini Kinan sedang bersama Fahad untuk menemui sang ayah perihal tawaran yang diberikan oleh sang ayah itu sendiri.
"Sesuai dengan janji, Ayah. Sekarang setelah aku berdiskusi selama tiga hari dan tentunya meminta yang terbaik. Aku akan bekerja di sini asalkan syarat istri aku yakni habis pulang sekolah dia pengen ke sini menemani kerja aku maka aku akan bekerja di sini," jelas Fahad tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau begitu kamu bisa kerja di sini besok untuk menggantikan peran ayah sebagai direktur," sahut Ibha menepuk pundak Fahad.
Fahad tersenyum pasrah. "Aku tidak ingin menjadi pengganti Ayah sebagai atasan, aku hanya ingin bekerja sesuai dengan amanah yang Ayah berikan kepadaku."
"Baiklah, jika itu maumu ayah serahkan semuanya kepadamu," terima Ibha.
"Bagaimana dengan kak Alsaki?" tanya Kinan memecahkan hening setelah puas mendengarkan obrolan dua lelaki kesayangannya.
"Entahlah," jawab Ibha. "Ayah rasa kamu harus menanyakan itu kepada suamimu, sebab ayah bercerita alasan Alsaki belum ingin melanjutkan pekerjaan ayah," sambungnya.
Kinan mendengus dan memalingkan kembali wajahnya. Memang benar, jika menyangkut urusan bisnis Ibha tidak pernah menceritakannya termasuk alasan Alsaki yang memilih mengabdikan diri untuk negeri daripada meneruskan jejak sang ayah.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
Suara ketukan pintu menyadarkan tiga orang di dalam yang sibuk dengan dunianya, Kinan sibuk menatap cakrawala biru sedangkan Ibha sibuk memberi arahan kepada Fahad. Mendengar itu, Ibha menjawabnya dengan teriakan kata masuk dan rupanya yang datang adalah Harsa.
"Ibu," kata Kinan.
"Lho, kalian?" heran Harsa dan masuk kedalam menghampiri tiga orang setelah cukup puas bekerja dibagian keuangan.
Melihat dua orang datang tanpa sepengetahuan Harsa, bahkan Harsa belum mengetahui maksud kedatangan keduanya, hal itu membuat Harsa menautkan kedua alisnya. "Ada apa ini?"
"Apa Ibu belum mengetahuinya?" tanya Kinan menatap sang ibu dan mendapatkan gelengan darinya.
"Ada apa ini? Jangan-jangan mau ngasih kejutan, kalian mau beri kabar ibu bahagia yah? Punya cucu misalnya," tebak Harsa.
Kinan menepuk jidat dan menatap lekat Ibha. "Bukan begitu! Mari duduk saja."
Harsa hanya menurut. Kini di sofa kerja Ibha diisi oleh tiga orang tak lupa berbagai macam cemilan dan minuman yang belum lama Ibha pesan sebelum dua anaknya datang untuk menjelaskan perihal tawaran. Ibha sengaja merahasiakan dari Harsa, guna memberikan kejutan dan berharap itu sesuai dengan realita.
"Sebenarnya, mereka ke sini mau nerima tawaran dari ayah," jelas Ibha mengambil cangkir berisi kopi less sugar.
"Tawaran?"
"Gini lho Bu, tiga hari yang lalu mas Fahad ngebahas tawaran ayah untuk menggantikan perannya di perusahaan. Jadi, dia menerimanya," jelas Kinan menatap Harsa.
"Benarkan itu? Kenapa kaliah baru memberitahu ibu sekarang?" Harsa menatap tajam ke arah Ibha, tatapan bagaikan singa betina kelaparan.
"Ayah sengaja menyembunyikannya biar menjadi rahasia. Toh, kita sebentar lagi akan memasuki masa istirahat. Jadi, ayah lebih baik membicarakannya di saat masih bisa bekerja," ujar Ibha tak berdosa.
"Bu, tenang dulu dong, Bu. Ayah sengaja di rahasiain biar jadi kejutan katanya. Tapi, pas aku pikir dua kali itu bukan kejutan tetapi berita yang mendadak diinformasikan," bisik Kinan memprovokasi Harsa dengan sedikit bahan bercanda.
"Ayah tega banget tiba-tiba saja menawarkan itu, padahal aku belum siap jauhan dari mas Fahad. Jadi, menurut aku itu bukan kejutan tapi berita viral yang tiba-tiba muncul di saat waktu yang tidak tepat," bisiknya lagi.
"Nak, kamu jangan bikin ibumu terpancing dong!" jawab Ibha.
"Aassww!" ringis Kinan saat mendapatkan cubitan keras tiba-tiba dari Harsa dan menanggapinya dengan senyum tipis, karena sang ibu sudah ada kemajuan untuk menyayangi dirinya.
Sementara Fahad hanya menggeleng-geleng melihat keluarga sang istri, ada rasa yang berbunga-bunga saat netranya menatap tulus wajah Kinan yang begitu bahagia. "Ku harap kamu cepat lulus dan membangun keluarga kecil," gumamnya.
"Jadi gimana, Bu?" tanya Ibha mencoba kembali lagi fokus.
"Ibu akan mendukung apapun itu keputusannya selama baik dan tidak salah arah. Tapi, ibu binggung dengan kerjamu. Bukannya kamu bekerja mengajar, jika kamu kerja di sini bagaimana dengan mengajarmu?" tanya Harsa menatap Fahad.
"Tentu saja dia akan mengundurkan diri," cibir Kinan menatap Fahad.
Fahad menatap tajam ke arah Kinan membuat sang kancil menundukan pandangannya. "Khusus pelajaran aku di kelas Kinan aku tetap mengajar, Bu."
Kinan memelototkan mata seakan tak percaya, rupanya Fahad masih belum puas mengerjai dirinya yang belum terbiasa dengan matematika meski Kinan sudah membuktikan bahwa dirinya menyukai matematika nyatanya prank.
"Apa itu tidak masalah?" tanya Harsa menaikan satu alisnya dan beralih menatap Kinan.
Fahad mengangguk. "Pokoknya aku akan tetap mengajar meskipun jadwal di perusahaan ayah padat, asalkan aku ngajarnya khusus di kelas Kinan saja. Jadi, aku akan merundingkannya terlebih dahulu dengan paman eh bapak Ibrahim maksudnya."
__ADS_1
"Baiklah, jika itu menurutmu baik ibu akan mendukung apapun keputusanmu. Asalkan kamu bisa menjaga Kinan," tutur Harsa.
"Benar, apapun yang kamu putuskan kedepannya ayah akan mendukungmu selama baik untukmu dan yang lainnya," sahut Ibha sependapat apa yang dilontarkan oleh Harsa.
"Terima kasih," ucap Fahad sementara Kinan hanya menyunggingkan senyum tipisnya sebagai bentuk bahwa dirinya mendukung Fahad dan menyembunyikan senyumannya itu.
"Oh iya, ibu ingin mengatakan sesuatu."
"Katakanlah," jawab Kinan mendengar sang ibu seperti sedang serius tidak seperti biasa.
"Jika suatu saat nanti, ibu dan ayah tidak bisa menjaga Kinan dan memberikan kasih sayang. Tolong jaga dia sebagaimana kamu menjaga kedua orang tuamu dan sayangilah dia, meski usianya bisa dibilang mulai masuk ke fase awal dewasa di mata ibu dan ayah, Kinan hanyalah seorang anak kecil yang membutuhkan kasih sayang." Pandangan Harsa menatap lekat dua orang yang duduk saling berdampingan.
Kinan dan Fahad saling melempar pandang dan menautkan kedua alisnya. "Memang Ibu dan Ayah mau kemana?" Kompaknya.
"Satu hal lagi, jika Kinan putriku melakukan kesalahan tolong tegur dia dan nasihati dia jangan sakiti dia. Jika dalam rumah tangga yang kalian bangun dan mendapatkan ujian meski hanya sebesar biji dzarrah, maka selesaikanlah dengan kepala dingin dan hargailah apapun itu pendapatnya selama baik." Ibha bukan menjawab pertanyaan itu justru mengalihkan pembicaraan dan melanjutkan perkataan Harsa seolah-olah menerima laporan dari pikiran yang dikirim oleh Harsa.
"Ibu dan Ayah kenapa sih, ditanya malah jawab apa," celetuk Kinan.
Harsa dan Ibha saling melempar pandang dan tersenyum.ke arah putri semata wayangnya. "Mau ... istirahatkan badan!" jawab Harsa.
"Benar! Mau istirahatkan badan, lagian perusahaan ayah sudah diserahkan kepada Fahad dan mungkin Alsaki akan berubah pikiran, ayah yakin dia akan berubah pikiran agar dia bisa mengurus perusahaan ayah yang bercabang di negara jiran," ledek Ibha.
Kinan memanyunkan bibirnya dan menatap dua orang tua itu seperti terhimpit bahkan perasaannya begitu sakit seolah-olah akan terjadi sesuatu. 'Tidak! Ibu dan Ayah kan sehat,' batinnya menggelengkan kepala mencoba membuang perasaan aneh.
Sementara Fahad yang mendengar itu hanya menunduk. "Aku harap Alsaki bisa membantuku," keluh Fahad.
"Belum dicoba saja udah mengeluh," ledek Ibha kemudian mendapatkan tawaan dari dua orang yang dicintainya.
"Dia memang begitu, Yah," cibir Kinan menyenggol pinggul Fahad.
••••••••••••••••••••
"Astagfirullahaladzim!" teriak seorang wanita tua berusia sekitar lima puluh tahunan melihat tubuh wanita tak sadarkan diri.
"Ada apa, Mak?" tanya lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahunan yang menemani sang ibu mencari kayu bakar di hutan seketika terkejut melihat tubuh wanita tergeletak di tanah di mana tubuh itu penuh kotoran tanah dan serbuk-serbuk daun kering.
"Cepat tolong dia, Zaid," titah wanita itu bernama Saidah.
"Baik, Mak," terima Zaid lelaki yang dimaksud oleh wanita tadi.
Zaid segera memeriksa terlebih dahulu wanita itu sembari membenarkan posisinya menjadi terlentang, wajah indah bak keturunan Korea-Arab tidak mengurangi keindahan wajah itu. Zaid seketika terkesan melihat kecantikan wanita itu, tapi buru-buru dia hilangkan dan memeriksa denyut nadi lewat pergelangan tangan.
"Dia normal, Mak. Mari kita bawa saja ke rumah untuk diobati," jelas Zaid.
Saidah mengangguk dan menuruti putra semata wayangnya, ia membopong kayu yang dibawa sedangkan Zaid membopong tubuh wanita itu ala bridal style. Tak butuh waktu yang lama, tempat yang merupakan rumah Zaid sampai juga ia segera menurunkan wanita itu dan membaringkannya di kasur milik Saidah dan Saidah dengan sigapnya mulai.memeriksa, merawat, hingga membersihkan tubuh wanita itu.
Zaid segera membuka tas yang dibawa oleh wanita itu, sebuah benda seperti kartu berbentuk pipih berwarna biru langit dengan foto berlatar belakang merah. "Dania Nurunnisa Prambudi, nama yang indah," gumamnya.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-harimu oenuh dengan bahagia dan kebaikan❤❤🤗
__ADS_1
•••••○○○•••••