My Soulmate

My Soulmate
Waktu Singkat


__ADS_3

Setelah seluruh tamu hadir menyaksikan ucapan sakral, kini dua insan yang baru saja melepaskan statusnya menjadi pasangan yang seutuhnya duduk di balkon kamar. Balkon kamar Hafsah terlihat begitu menyegarkan, dua bangku berjejer rapih di depan balkon, dengan itu pemandangan cakrawala biru menghipnotis indera penghilatan Alsaki yang terbosesi dengan langit. Di bawah balkom ada gazebo dengan berbagai macam bunga di dalamnya.


"Hafsah," panggil Alsaki setelah selesai mengganti pakaian pengantin dengan pakaian kasual. Ucapan akad yang belum lama dilontarkan semenjak pukul 9 pagi dan berakhir dengan kumandang adzan dzuhur.


Hafsah yang tadinya fokus menatap pemandangan luar jendela, kini tatalannya beralih pada sumber suara yang duduk di sebelahnya. "Iya? Kenapa?"


"Aku ingin bicara serius, besok aku akan berangkat untuk menjalankan kewajibanku di perbatasan selama kurang lebih delapan bulan. Jadi, apa kamu tidak masalah dengan itu? Kalau kamu merasa keberatan, aku akan mengajukan kembali cutiku meski harus mendapatkan skors atas melepaskan tanggung jawabku," jelas Alsaki dengan matanya menatap wajah canti Hafsah.


Hafsah yang mendengar itu, seketika keningnya menyerit heran ditambah lagi dengan perasaan yang terkejut saat mendengar penjelasan itu. "Maaf?"


"Apa kamu terkejut? Jika iya, aku akan berkata itu wajar karena manusia itu bisa saja terkejut. Tapi, percayalah setelah aku pulang dan tugasku usai ayo kita membentuk rumah tangga yang utuh seperti yang kita harapkan."


"Bukan begitu, kita baru saja melangsungkan ucapan akad. Masa kamu harus pergi menjalankan tugas."


"Itu karena, aku memiliki waktu istirahat sekitar lima minggu. Aku pulang ke sini saat perjodohan Fahad dan Kinan, sekarang masa itu sudah habis."


"Lalu bagaimana dengan aku, Kak?"


Alsaki meraih tangan Hafsah dan mengecup punggung tangan Hafsah dan tersenyum. "Aku akan menitipkan kamu kepada ibu Harsa jika kamu tidak keberatan tinggal di sana, kalau kamu keberatan yah sudah tidak apa-apa kamu tetap di sini. Asalkan, kamu harus menjaga kesehatan kamu terutama mental kamu. Soal anak yang kamu kandung, jangan khawatir aku akan memberikan kasih sayang untuknya sebagai seorang ayah. Jadi, aku mohon jangan sakiti dirimu itu sudah membuatku takut dan sakit."


"Sebentar katamu, jangan khawatir dengan anak ini?"


Mata Hafsah berkaca-kaca kala mendengar Alsaki menyebutkan kata anak, entah kenapa perasaan Hafsah begitu sakit, sakit, dan sakit seolah-olah menoreh luka lelaki itu. Pikiran indah tergiang-giang, andai saja takdirnya tidak seperti ini Hafsah ingin memiliki seorang anak yang wajahnya begitu mengemaskan seperti Alsaki.


Alsaki kemudian bangkit dari duduknya, dan menekuk lututnya di lantai sehingga kepalanya setara dengan ketinggian Hafsah saat sedang duduk. Tangan yang selalu Alsaki gunakan untuk hal kebaikan, bahkan telah bersaksi bahwa tangan itu pernah digunakan untuk memukul Avan si breng*sek itu seketika mengelus perut rata Hafsah dan tersenyum. "Aku akan menerima dia sebagai anakku, aku tak peduli dengan semuanya."


Merasakan sentuhan hangat Hafsah tak kuasa membendung tangis air mata, cairan berkumpul di pelupuk mata indahnya seketika terjatuh kala Alsaki terus mengelus perut yang masih rata. Perasaannya tak bisa berbohong, kecewa dengan semuanya Hafsah itu rasakan. Tapi, semenjak Alsaki menerima hati Hafsah begitu sakit bahkan sangat sakit. Dalam dirinya akan berusaha mencoba menerima semua keadaan, tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.


"Aku yakin anak ini akan membawa kebahagiaan untuk kita, jadi Hafsah terimalah dia. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram, semua anak lahir bukan permintaan dirinya melainkan fitrah-Nya. Aku berharap kita berdua membesarkannya dengan penuh kasih sayang," kata Alsaki dengan posisi seperti tadi, mengelus perut Hafsah sesekalinya tersenyum lega.


Benar apa yang dikatakan oleh petuah, bahwa melepaskan dan memaafkan masa lalu yang menyakitkan itu sangat sakit bahkan lebih sakit, tapi semua akan dilalui dengan kenikmatan. Toh, dendam yang terbaik adalah membalasnya dengan kebaikan bukan rasa benci.


Hafsah tak bisa menjawab, bibirnya terkunci rapat. Tenggorokannya kering, bahkan suaranya terhimpit hanya sesak menemani rongga dada. Kedua tangannya menangkup wajah tampan Alsaki, bibirnya ia angkatkan seakan mencoba tegar dan menerima semuanya. "Selama kamu masih membimbingku, memberikan cinta yang tulus untukku, aku akan menerima anak ini bahkan aku akan memaafkan masa itu."


"Aku akan selalu ada untukmu." Mencium telapak tangan Hafsah yang masih betah menyentuh pipi, menci*um aroma khas yang menyegarkan seolah-olah Alsaki ingin memperdalam rasa ingin tahunya demi menyembuhkan luka yang terus menerus mengores hati Hafsah.


"Terima kasih sudah menerimaku, terima kasih sudah menyakiniku, terima kasih segalanya yang kamu berikan untukku. Maafkan aku jika sampai sini aku masih banyak kekurangannya, tapi aku akan mencoba menjadi wanita seutuhnya," ucap Hafsah.


Alsaki mengangguk dan tersenyum. Ia mengangkat bahu Hafsah agar wanita yang berstatus sebagai istri berdiri. Mendekap tubuh dan memasukannya kedalam pelukan hangat, membiarkan aliran darah sebagai penghangat dan penghilanh rasa kesakitan. Hafsah yang terkejut akibat reaksi yang dilakukan oleh Alsaki, seketika tubuhnya kembali bergetar, pupil mata seketika kembali lagi membesar, bayangan lelaki seketika mengisi kembali benak pikirannya. Sentuhan kasar lelaki itu membuat Hafsah tak bisa mengendalikan kembali diri, rasa sesak memanjakan organ pernafasan untuk berhenti, bahkan jantungnya seketika memompa lebih cepat daripada biasanya.


Alsaki yang merasakan tubuh Hafsah seperti terkendali oleh trauma, karena merasakan badan Hafsah yang bergetar bahkan suara nafasnya seketika berhenti. "Tidak apa-apa, kendalikan dirimu, Hafsah," bisiknya.


Suara Alsaki seketika menyadarkan Hafsah yang sedang terkendali di bawah suara berat pria yang telah merenggut kesuciannya, seketika Hafsah tak sadarkan diri dalam pelukan Alsaki.

__ADS_1


Alsaki yang merasakan tubuh Hafsah seperti kehilangan keseimbangan hanya bisa menarik nafas panjang, dalam hatinya begitu marah dan menyesal menjadi satu. "Maafkan aku," lirihnya sembari membopong tubuh Hafsah yang masih dalam dekapan akibat kehilangan keseimbangan saat mencoba melawan rasa trauma dan membaringkannya ke ranjang tak lupa Alsaki menutup tubuh mungil Hafsah dengan selimut hingga menutupi perut.


Setelah dibaringkan, Alsaki memandangi wajah cantik Hafsah yang pucat pasi akibat rasa trauma itu. Di genggam tangan yang begitu dingin, Alsaki menggosok-gosokan tangannya supaya hangat sesekali tangannya memegang pipi Hafsah dan mengelusnya dengan jempol. "Aku akan mengantarkanmu kepada teman psikologisku agar kamu bisa melupakan rasa trauma itu. Karena, aku tidak ada bahkan tidak akan menemanimu selama itu jadi aku titipkan kepada ibu Harsa dan Kinan," kata Alsaki berharap ucapannya bisa di dengar oleh Hafsah.


Dddrrrttt!


Suara bunyi ponsel berdering, Alsaki segera mencari ponsel dirinya yang diletakkan di atas bangku rias Hafsah. Ia melihat siapa yang menelepon siang-siang ini, tertera nama di layar nama 'Komandan' membuat Alsaki segera mengangkat tombol berwarna hijau.


"Siap! Selamat siang, Pak?"


".........."


"Siap! Apa? Pemberangkatannya di percepat?"


"........."


"Siap! Baik, Pak!"


"........."


"Siap!"


Tttuuttt!


Karena tidak ada waktu lagi, mau tidak mau Alsaki keluar dari kamar Hafsah dan membiarkan Hafsah beristirahat. Menuruni anak tangga dan bertemu dengan keluarga besar Prambudi yang bersiap untuk pamit. Sehingga Alsaki menyapanya sebagai ungkapan terima kasih. "Lho, sudah mau pulang, Bah Hasan?"


"Oh Alsaki," sapa Hasan dan tersenyum. "Babah pulang lebih dulu karena ada kegiatan di yayasan. Oh iya, Hafsah mana?"


"Beliau sedang tidur, katanya lelah," jawab Alsaki sembari menyalimi punggung tangan paruh baya itu.


"Baiklah, kalau begitu salamin untuk Hafsah. Kami semua pamit," sahut Hasan tersenyum.


"Terima kasih atas waktunya," kata Budi.


"Iya, mari semuanya," tutur Hasan.


"Mari semuanya, assalamualaikum," cakap Maryam dan tak lupa dengan senyum manisnya.


"Waalaikumsalam," kompak isi ruang keluarga.


Setelah Hasan sudah keluar dan mobilnya mulai menghilang dari pandangan, Alsaki mendesah menarik nafas panjang dan kembali masuk ke dalam. "Seperti perkataan saya kemarin, kalau saya akan berangkat tugas di perbatasan Kalimantan. Akan tetapi, saya harus berangkan hari ini sekitar pukul 9 malam."


Para keluarga yang mendengar itu seketika menoleh, Kinan menyerit heran dengan perkataan Alsaki. Pasalnya sang kakak akan berangkan besok pagi, sekarang jadwalnya berubah.

__ADS_1


"Karena komandan melaporkan bahwa jadwalnya di percepat," jelas Alsaki lagi.


"Kalau begiti berangkatlah dengan hati-hati dan pulanglah dengan selamat," kata Fatimah.


"Baik, terima kasih. Tapi ada satu hal yang ingin aku bahas perihal Hafsah, sepertinya beliau membutuhkan terapi psikologi untuk mentalnya. Saya tidak ingin melihat dia menderita, jadi saya sudah membuat perjanjian dengan teman saya untuk memberikan terapi yang baik untuk Hafsah, bagaimana?" tanya Alsaki mendudukan oantatnya setelah semua keluarga duduk di bangku keluarga.


"Aku sudah berkata padanya untuk pergi ke terapi, tapi Hafsah selalu menolak dengan alasan semuanya baik-baik saja. Namun, jika itu mau mu aku akan mendukungnya," terima Rizki.


"Terima kasih," ucap Alsaki.


"Kira-kira kapan terapinya?" tanya Fatimah.


"Besok, Hafsah bisa berangkat ke sana dengan siapapun. Jangan khawatir, beliau adalah teman satu angkatan dengan saya dan jadwalnya sudah di tentukan khusus untuk Hafsah," jelas Alsaki melirik Kinan.


"Baiklah," terima Fatimah tak lupa dengan senyumnya.


"Aku akan ikut mengantar terapi Hafsah," tawar Harsa.


"Boleh," kata Alsaki.


"Ayah tidak tahu harus berkata apa kepadamu, Nak. Semoga saja setiap jalan yang kalian berdua lalui ada hikmah dibaliknya, dan ayah percayakan Hafsah padamu." Setelah sekian lama mencerna perkataan Alsaki, Budi akhirnya membuka suara. Hatinya sungguh sakit ketika nama Hafsah selalu terlontar dari mulut yang terus mendoakan, membuat Budi tidak bisa apa-apa lagi selain mempercayakan putri bungsunya kepada Alsaki.


"Jangan khawatir, Ayah. Meskipun saya sibuk dengan tugas saya, saya akan menyuruh Kinan untuk menemani Hafsah termasuk ketika dia mengindam sesuatu," kata Alsaki sembari melirik Kinan dengan tatapan bercanda dan mengejek.


Kinan membelakakan matanya mendengar itu. "Apaan sih, Kak! Engga usah pake itu segala, yang penting aku bisa menghibur dan menemani hari-harinya. Toh, aku seorang siswa jadi bakalan jarang punya waktu yang jelas longgar!" tolak Kinan menampilkan muka sebalnya.


"Kalau begitu, kakak akan minta suamimu agar tidak memberikan pr," kata Alsaki.


"Eh! Enak saja," sinis Fahad. "Tapi, insya Allah aku bakalan menyempatkan waktu kalau Kinan ingin bermain dengan Hafsah, jadi jangan khawatir."


"Nah, gitu dong!" ledek Alsaki.


"Sudah-sudah jangan ribut, yang penting dan fokus utama kita adalah yang terbaik dan manfaatkan waktu semaksimal mungkin," kata Harsa melerai dua anaknya yang hobi meledek.


"Iya, benar!" Salut Kinan dan Rizki bersamaan.


"Hahaha ...." Tawa keluarga.


•••••○○○•••••


Terima kasih yang sudah membaca, terutama yang memberi komentar semangat. Semoga kita semua tetap berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan semoga hari-hari yang di lalui begitu bahagia


•••••○○○•••••

__ADS_1


__ADS_2