My Soulmate

My Soulmate
Cinta Pertama dan Terkahir


__ADS_3

Seminggu berlalu, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pernikahan kedua Haidar-Kalycha, upacara sakral yang mengikat janji nikah di hadapan agama, hukum, dan sosial. Banyaknya adat dan kebudayaan di Indonesia, menjadikan Indonesia memiliki banyak sekali ragam pernikahan adat. Sebenarnya Halimah ingin sekali jika pernikahan putranya itu dilakukan secara adat Sunda. Tapi karena sebelumnya mereka sudah pernah menikah dan Pernikahan adat Sunda termasuk yang memiliki prosesi yang cukup panjang maka Pernikahan kali ini akan sama seperti pernikahan mereka sebelumnya yang dilakukan dengan konsep pernikahan modern.


Sebuah ballroom hotel sudah didekorasi dengan indahnya oleh pihak Wedding Organizer untuk tempat mereka melakukan Ijab qobul. Sebuah konsep pernikahan yang akan dilangsungkan didalam gedung tapi disulap menjadi seperti konsep pernikahan outdoor. Tangan-tangan kreasi dan ide-ide cemerlang pihak WO itu perlu diacungin jempol.


Karena dulu saat pernikahan pertama mereka dilakukan secara diam-diam maka saat ini semua akan dilakukan secara terbuka. Tak tanggung-tanggung tamu undangannya mencapai hampir 3 ribu orang. Kebanyakan tamu undangan dari keluarga Abas dan Pramudja. Tentu saja itu semua keinginan Yetti istri Abas. Dirinya ingin semua orang tahu bahwa putranya akan menikah.


"Bunda, Icha ga mau disuntik Bun–." Kalycha merengek saat seorang petugas rumah sakit yang sengaja diundang oleh Nayla untuk memberikan obat peningkat daya tahan tubuh.


"Iiih Sischa doktel tapi takut suntik." Celoteh si cadel Malvin mengejek kakaknya.


"Suntik sakit tahu–." bela Malven. "Kalau Sischa takut, disini ada Malven yang jagain Sischa biar Malven yang marahin dokternya kalau mereka suntik Sischa." Nayla tersenyum melihat tingkah lucu anak-anaknya itu.


"Sayang dokternya harus suntik Sischa biar nanti Sischa tetap keliatan seger dan ga kecapean." ucapnya pada kedua putranya. "Sayang kamu kan dokter, seharusnya kamu lebih paham loh. Undangan kita ga sedikit sayang nanti kamu kecapean berdiri menyambut tamu yang akan memberi selamat pada kalian. Haidar juga disuntik Neurobion sama seperti kamu." Nayla kembali membujuk Kalycha.


"Tapi Icha takut suntik Bun–." Nayla hanya bisa mengendus mendengar ucapan putrinya.


Diam-diam Kalycha menelpon suaminya itu. "Mas Icha ga mau disuntik–." rengeknya manja.


Semua keluarga mereka sudah menginap di Hotel dimana mereka akan melangsungkan pernikahan mereka.


"Mas udah disuntik loh, ga sakit kok sayang." bujuk Haidar.


"Icha takut mas–."


"Ya udah mas kesana." Haidar menutup telponnya lalu datang ke kamar Kalycha.


"Kamu itu, kenapa harus telpon Haidar. Seharusnya kalian itu ga boleh ketemuan dulu. Kamu gimana sih Cha." Gerutu Nayla kesal. Udah besar masih aja bertingkah seperti anak kecil. Begitulah pikiran Nayla kalau kesal melihat putrinya itu. Kalycha tahu kalau Nayla kesal padanya.


"Bunda maafin Icha Bun–. Icha beneran takut."


"Terserah kamu saja. Kamu yang dokter dan kamu juga yang akan merasakan bagaimana lelahnya nanti." Nayla seperti pasrah pada Kalycha. Saat pernikahannya yang pertama putrinya itu tamu undangan tidak begitu banyak karena hanya di hadiri keluarga saja. Sementara Nayla sudah pernah merasakan bagaimana dulu lelahnya ia saat mendapat kejutan pernikahan yang digelar suaminya dulu.


Petugas yang di undang Nayla itu bukan berasal dari rumah sakit tempat Kalycha bekerja kalau saja dari sana pastilah Kalycha sangat malu dan imagenya sebagai dokter cantik yang cool pasti akan hilang.


Ponsel Kalycha berdering, telpon masuk dari suaminya. "Sayang, mas ga bisa kesana. Ibu melarang mas untuk kesana. Kamu sekarang dengerin mas aja ya. Suruh perawatnya siapin alat-alatnya." Kalycha menganggukkan kepalanya tentu saja Haidar tidak dapat melihatnya.


"Suster sini suntik saya." ujarnya. Lalu perawat yang sudah menunggunya dari tadi mendekatinya bersama dengan seorang dokter yang akan menyuntiknya.


"Pelan-pelan ya dokter–." suara Malven terdengar memerintah.


Dokter cantik itu tersenyum melihat tingkah lucunya anak itu.


"Sayang kamu dengerin mas aja." Perawat itu mulai memasang terniquit untuk mengikat lengan Kalycha. "Kamu pejamkan matamu bayangin aja malam pertama kita nanti." Haidar sengaja membuat istrinya itu relaks dan itu berhasil, suntikkan obat dilengannya sudah masuk sempurna melalui venanya.


"Iiih apaan sih mas." Kalycha tersenyum geli mengingat betapa mesumnya suaminya itu sementara Haidar tertawa dikamar yang berbeda.


"Sudah dok–." ucap dokter yang menyuntik Kalycha itu. Dirinya baru tahu kalau Kalycha itu juga seorang dokter.


"Terimakasih ya dok–." ucap Kalycha ramah.


"Sama-sama dok–." balasnya. "Kalau begitu kami permisi dulu Nyonya." ucapnya pada Nayla setengah menundukkan kepalanya.


"Sama-sama dok, maaf ya sudah ngerepotin." Nayla mengantar kedua petugas rumah sakit itu keluar dari kamar Kalycha.


Seorang MUA dan dua asistennya sedang mempersiapkan alat-alat mereka untuk merias wajah Kalycha.


"Mas udah ya, Icha mau di makeup dulu." Kalycha menutup telponnya setelah mendapat jawaban "Iya" dari Haidar.


💖


💖


💖


💖


💖


Acara Ijab qobul yang mendebarkan itu pun berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan yang turut menyaksikan acara sakral itu sangat bahagia. Ucapan Sah dari para saksi yang ditunggu-tunggu Haidar udah selesai. Acara sesi foto keluarga pun sudah selesai.


Acara puncak resepsi pun tiba dimana tamu undangan yang hadir semakin memadati gedung itu. Seribu undangan pertama sudah hadir saat acara Ijab Qobul dan sisanya mereka memilih hadir dipuncak resepsi ini.


"Selamat ya Cha–. Bang." ucap Adit yang saat itu datang bersama Dara.


"Terimakasih." ucap kedua pasutri baru stok lama itu.


"Aku pengen denger kamu nyanyi buat aku Dit." pinta Kalycha pada Adit.


"Ngapain sih istri aku ini minta cowok itu nyanyi buat dia? Kenapa ga minta aku aja yang nyanyi." Gerutu Haidar dalam hatinya, ia terlihat kesal dan memasang senyum yang terpaksa.


Helsa menyadari itu lalu berbisik ditelinga Kalycha. "Kak, siap-siap aja kena hukum Kak Haidar nanti malam."


"Hah? Kenapa? Emang aku salah apa?" Kalycha tidak paham kenapa tiba-tiba Helsa berbisik seperti itu kepadanya.


"Kakak ga liat apa? Muka Kak Haidar jutek gitu waktu kakak minta cowok itu nyanyi buat Kakak." bisik Helsa lagi.


"Hah? Emangnya salah ya? Aku kan cuma minta Adit nyanyi. Salahnya dimana?"


Helsa menepuk jidatnya, sungguh polosnya Kakak iparnya itu padahal ya Icha sudah dewasa. Tapi pengalamannya tentang cinta memang kurang.


"Ga salah sih Kak, tapi apa Kakak ga sadar Kalau Kak Haidar itu orangnya cemburuan. Seharusnya Kakak minta Kak Haidar aja yang nyanyi bareng kakak atau kakak duet bareng Kak Haidar."

__ADS_1


"Enggak ahk, malu tahu Kak?" tolak Kalycha. Tapi dilihatnya raut wajah suaminya itu memang lain tidak seperti sebelumnya.


Kalycha dan Haidar kembali berdiri menyambut beberapa tamu yang mengucapkan selamat pada mereka.


Sementara sesuai permintaan Kalycha, Adit naik ke atas panggung dan ditemani oleh Dara pacar barunya. Awalnya Dara menolak karena malu apalagi Dara belum mengenalkan Adit kepada keluarganya. Hanya Nayla yang mengenal mantan muridnya itu.


"Lagu Rindu khusus buat kamu Kaly–." ucap Adit tanpa meminta pendapat Dara lagu apa yang akan mereka bawakan.


"Brengsek Lo Dit, ternyata Lo masih nyimpen perasaan buat Icha?" Tatapan tajam dari Dara tidak membuat Adit bergeming dan tetap bernyanyi untuk Kalycha.


Adit pun mulai bernyanyi


Bintang malam, katakan padanya


Aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Embun pagi, katakan padanya


Biar 'ku dekap erat waktu dingin membelenggunya


Namun setiap lantunan nada yang dinyanyikannya ia selalu menatap Dara dan menggenggam tangannya. Membuat Dara tersipu malu. Kemudian Dara melanjutkan lirik selanjutnya.


Bintang malam, sampaikan padanya


Aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Embun pagi, katakan padanya


Biar 'ku dekap erat waktu dingin membelenggunya


Tahukah engkau, wahai langit?


Aku ingin bertemu membelai wajahnya


'Kan 'ku pasang hiasan angkasa yang terindah


Hanya untuk dirinya


Lagu rindu ini 'ku ciptakan


Hanya untuk bidadari hatiku tercinta


Walau hanya nada sederhana


Ijinkan 'ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


Dara dan Adit menyanyi merdu, duet teromantis malam itu seolah panggung dan ruangan itu milik mereka berdua.


"Mas–." panggil Kalycha tapi Haidar pura-pura tidak dengar.


"Mas–." panggilnya lagi sambil menyentuh tangan Haidar.


"Hmmm, ada apa sayang?" sahut Haidar dengan senyum yang dipaksakan.


"Mas marah sama Icha?" Kalycha memasang wajahnya yang memelas, seandainya saja makeup-nya tidak tebal pastilah terlihat jelas kalau wajahnya memerah karena merasa bersalah dan ingin menangis.


"Hei, kenapa muka kamu sedih begitu? Nanti tamu undangannya berpikir yang macem-macem loh." Haidar menaikkan dagu kalycha supaya wanita itu menatap matanya.


"Maafin Icha ya mas, tadi Icha cuma minta Adit buat nyanyi buat kita, suara Adit bagus banget mas dan udah lama Icha ga denger dia nyanyi." Dasar Icha yang polos tak sadar dirinya sudah memuji pria lain didepan suaminya sendiri. Haidar terpaksa menahan ego dan sakit hatinya. Takut kalau istrinya itu akan menangis dan membuat tamu-tamu yang hadir berpikiran jelek tentang mereka.


"Iya ga apa-apa. Kamu jangan sedih lagi ya. Liat tuh orang-orang pada liatin kita. Senyum dong ini kan hari bahagia kita sayang." Haidar mengecup kening Kalycha.


Kalycha kembali tersenyum lalu tiba-tiba saja seorang MC memanggil mereka berdua untuk naik ke atas panggung.


Kalycha melihat Helsa berdiri disamping MC itu entah sejak kapan ia berada disana.


"Mari kita sambut pasangan pengantin kita untuk menyumbangkan suara merdunya." teriakan sang MC yang memanggil mereka dan disambut tepuk tangan yang meriah dari tamu undangan.


"Mas–, Kak Helsa ngapain sih bilang ke MC suruh kita naik ke panggung? Icha malu mas, Icha ga bisa nyanyi."


Haidar menarik tangan Kalycha. "Kamu temenin mas aja."


Kalycha pun ikut dengan Haidar naik keatas panggung untuk menemani suaminya bernyanyi.


Haidar membisikkan lagu yang akan dinyanyikan pada pemain musik.


Tangan Kalycha tak lepas dari genggaman Haidar.


"Lagu ini ku persembahkan untuk istriku tercinta."


Seruan dan tepuk tangan memeriahkan suasana siang itu. Haidar mulai bernyanyi, baru sepenggal kalimat yang dinyanyikannya sudah membuat wanitanya itu tercengang.


Menantimu hingga saat


" Hah, suara Mas Hai bagus banget." Batin Kalycha sambil terus tersenyum menatap suaminya yang bernyanyi.


Cintaku temukan dirimu


Usai sudah sampai disini


Berdiri melabuhkan asmara

__ADS_1


Menikah denganku


Menempatkan cinta


Melintasi perjalanan usia


Menikah denganmu


Menetapkan jiwa


Bertahtakan kesedian cinta


Selamanya


Itulah sepenggal lagu Menikahimu yang dipopulerkan Khanitna. Senyum dibibir Kalycha tak pernah lekang. Hatinya sangat tersentuh oleh nyanyian yang dibawakan suaminya itu.


"Lagi Lagi Lagi–." teriakan para tamu yang mengenal pasangan itu pun berteriak.


"Ayo dokter Icha tunjukan suara emasmu." teriak salah satu perawat yang mengenal Kalycha.


"Icha Icha Icha–." Dara yang memulai lalu diikuti tamu-tamu lainnya menyorakkan nama Kalycha.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa." bisik Haidar. Kalycha berjalan mendekati para pemain musik menyebutkan judul lagu yang akan dinyanyikannya.


Dentingan suara piano mulai terdengar mengiringi lagu yang akan dibawakannya. Riuh tepuk tangan kembali memenuhi ruangan itu.


Sebelumnya tak ada yang mampu


Mengajakku untuk bertahan


Di kala sedih


Sebelumnya kuikat hatiku


Hanya untuk aku seorang


Hati Haidar tersentuh mendengar setiap lirik lagu yang dinyanyikan istrinya itu. Tak menyangka kalau ternyata istrinya itu hanya berpura-pura tidak bisa bernyanyi.


Sekarang kau di sini


Hilang rasanya


Semua bimbang tangis kesepian


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Airmata Kalycha menetes tak kala mengingat betapa sulitnya yang dirasakannya saat-saat kehilangan suaminya dulu.


Akankah sama jadinya


Bila bukan kamu


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku


Hu-uu


Haidar menghapus setiap airmata yang menetes dipipi Kalycha.


Sebelumnya tak mudah bagiku


Tertawa sendiri di kehidupan


Yang kelam ini


Sebelumnya rasanya tak perlu


Membagi kisahku


Saat ada yang mengerti


Tangis Kalycha kembali pecah sampai ia sesenggukan tak sanggup rasanya mengingat bila harus berpisah dengan pria itu. Haidar memeluknya suaranya tak lagi keluar, ia tak dapat menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya.


Lalu Helsa mengambil alih dan menyelesaikan lagu yang dinyanyikan Kalycha untuk suaminya.


Kalycha memilih lagu itu karena Haidarlah cinta pertama dan terakhir baginya. Suara tepuk tangan mengiringi mereka kembali ke pelaminan.


"Jadi bener mas Cinta pertama dan terakhirmu?" goda Haidar saat mereka sudah kembali duduk dipelaminan.


"Iiih Mas Hai apaan sih?"


Hayoo ada ga disini para Readers yang suaminya cinta pertama dan terakhir? 🤔


Kalau Author sih "Yes..." 😍

__ADS_1


Like Like Like.


__ADS_2