
Tujuan utamanya adalah rumah telah sampai juga, jiwa seorang introvert akut kembali lagi bergejolak dalam jiwa untuk segera merehatkan badannya. Satu hari saja bukanlah waktu yang lama, dua puluh enpat jam bagaikan dua puluh empat detik karena waktu selalu berputar dengan kecepatannya tiada banding.
Kinan yang sudah mengganti pakaian dan memilih merehatkan badannya dalam pangkuan Fahad yang tengah asyik bermain laptopnya, setelah menuntaskan janjinya yakni mengobati luka berdarah di sudut bibir. Menggalungkan kedua tangannya ke leher Fahad dan menenggelamkan wajahnya kedalam dada bidang Fahad. Hal itu, membuat Fahad merasa heran dengan tingkah Kinan, ia memilih menutup laptop dan menghadapkan wajahnya sehingga dua pandangan saling bertemu.
"Kenapa?" tanya Fahad memecahkan hening.
"Aku ingin bilang, maafkan aku ... enggak tau kenapa aku masih belum puas dengan jawaban kamu yang itu, aku benar-benar merasa bersalah." Kinan mengucapkan perasaan yang ia pendam. Seolah-olah ucapan Fahad itu seperti menusuk untuknya, karena tidak menjaga amanah sebaik mungkin.
Fahad tersenyum. "Aku sudah bilang jangan dipikirkan, jadi buang saja itu."
"Tapi ... aku takut nantinya kamu tidak ridho atas apa yang aku perbuat."
"Soal itu, aku selalu ridha atas apa yang kamu lakukan untukku selama itu membuatku bahagia dan tersenyum di saat kamu selalu menampilkan ketenanganmu juga kebaikanmu, tapi semenjak kamu bersedih aku justru merasa aku gagal menjagamu. Jadi, tolong lupakan itu karena membuatku takut."
Kinan tidak menjawab, pandangannya menunduk tak berani menatap mata sendu Fahad. Ada benarnya apa yang diucapkan oleh Fahad, ucapan dia tak pernah lepas dari yang namanya tanggung jawab bahwa jika dirinya sedih maka Fahad merasakan lebih.
"Oh iya, aku teringat aku memintamu untuk bercerita. Apa yang terjadi dengan bibir berdarahmu hingga pipimu merah?" tanya Fahad mengalihkan bukan maksud menyakiti lebih dalam melainkan agar Kinan mengeluarkan beban yang ia tanggung agar membagikannya.
Kinan kemudian menatap kembali Fahad sehingga tatapan keduanya bertemu dan melempar pandang. "Sebenarnya, aku ingin mengantarkan sarapan tapi ada teman aku menghalanginya, dia menyuruhku untuk membelikan dulu sarapannya jika tidak maka makanan yang aku bawa akan dilahap habis olehnya. Jadi, aku menurut saja. Setelah itu, aku kembali lagi dan aku terkejut makanan itu habis dimakan oleh teman satu kelasku ...."
Kata demi kata terlontar, Kinan menceritakan kejadian itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara marah dan kecewa menjadi satu belum lagi dengan sakit yang tak berdarah pun ia lontarkan kepada Fahad. Dari awal hingga akhir Kinan terus berceloteh, Fahad yang mendengar itu seketika merasakan apa yang dirasa oleh Kinan. Marah, iya bahkan sakit hati pun ia rasakan.
Kinan tidak menyebutkan nama orang yang membuatnya terluka, takut dirinya merusak harapan mereka. Kinan begitu lemah terhadap yang namanya harapan, sebab harapan adalah mimpi yang harus dinyatakan meskipun orang itu seorang pembu*nuh. Karena Kinan tau, bahwa semua manusia memiliki harapan dan harapan itu akan mengubah hidupnya setelah keinginannya terwujud sudah. Walaupun, tidak semua harapan itu baik ada juga buruknya sehingga harus berani menanggung resiko dan hukuman.
"Lalu siapa yang menampar pipimu?" tanya Fahad pasalnya dari cerita itu Kinan tidak menyebutkan namanya, hanya teman dan teman padahal teman dari mananya.
Kinan menunduk seakan tak berani menjawab itu, seolah tau apa yang akan dilakukan oleh Fahad kepada temannya.
"Aku mengerti perasaanmu, bisakah kamu menyebutkan siapa orang itu?"
"Kalau aku sebutin namanya, kamu mau diapain dia?"
"Yah dikasih pelajaran dong."
"Sayang, tidak semua orang bisa menerima pelajaran yang didapat. Karena, tidak semua orang memiliki mata dan hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Bagi aku, biarkan saja yang penting perasaan sakit aku yang aku pendam sudah lega," gerutu Kinan.
"Yah lagian sudah bikin murid sekaligus istriku yang cantik ini mengalami kekerasan, masa engga boleh kasih pelajaran?!" protes Fahad dengan tangannya masih betah memegang pinggang ramping Kinan dengan manja sedangkan ekspresinya kesal karena Kinan terlalu baik pada temannya.
__ADS_1
"Pokoknya engga boleh, lagian engga lama. Jadi, biarkan seperti ini asalkan kamu menjadi sandaran untukku," ujar Kinan kali ini memegang pipi Fahad gemas.
Mendengar penuturan Kinan, Fahad tidak bisa apa-apa. Padahal dalam hatinya ingin berteriak kenapa istrinya begitu masih baik meski selalu diacuhkan bahkan selalu menjadi korban pembullyan, ingin sekali rasanya Fahad bertukar posisi andai saja Fahad menjadi Kinan maka Fahad sudah melakukan berbagai tonjokan lebih karena dirinya seorang pemegang sabuk hitam karakte.
"Sayang, jangan terlalu baik kepada mereka. Buat apa kamu berbuat baik kepada mereka sedangkan mereka memanfaatkan kebaikanmu bahkan selalu membalas kebaikanmu dengan jutaan peluru ...," lirih Fahad sembari tangan kanannya memegang pipi mulus Kinan dan mengelusnya dengan tulus.
Kinan menarikkan kedua sudut bibirnya sehingga berbentuk layaknya bulan sabit tanpa merasakan sakit di sudut bibir yang merupakan bekas tamparan Dara. Memejamkan mata dan mencium telapak tangan Fahad dengan tangan kanannya yang terus mengelus pipinya, cukup lama Kinan melakukannya dan akhirnya membuka suara, "biarkan orang lain membalas kebaikanku seperti apa. Mau dibalas dengan kejahatan ataupun kebaikan aku tak peduli dengan itu, asalkan Allah meridhoi setiap langkah dan perbuatan yang aku tempuh dan jalankan."
Fahad mendengar itu seketika hatinya tersentuh, seolah-olah Tuhan mengirimkan seorang wanita yang memiliki kepribadian dewasa meski dibaliknya ada jutaan paku yang menghujam bahkan sampai membenci matematika. Nyatanya tidak sesuai yang nyatakan, wajah cantik Kinan yang telah usai berceloteh itu sungguh terlihat damai dan nyaman untuk dipandang meski matanya sedikit bengkak akibat terus menangis karena kesalahannya.
Namun, Fahad tidak boleh langsung marah apalagi kecewa dibalik itu ada alasannya dan Kinan pun menceritakannya. Akhirnya Fahad paham betul, dan memasangkan muka tidak masalah demi menghargai dan menghormati istrinya dari balik ujian yang ia derita. Walaupun pas tadi Fahad sempat lapar dan menunggu Kinan datang, bahkan pernah ingin marah. Untunglah Fahad memiliki penguasaan emosi yang baik dan bijak.
"Kata-katamu membuatku sedikit dewasa, Sayang," ucap Fahad.
"Apa?" heran Kinan.
Fahad tersenyum sembari menampilkan sederet gigi bersihnya yang berjejer rapih. Ia mencium kening, mata, pipi Kinan dengan kasih sayang. "Kamu sangat dewasa."
"Itu karena kamu," kata Kinan dan tersenyum. Entah setan macam apa Kinan dengan beraninya mengalungkan tangannya ke leher kokoh Fahad dan menarik tenguk Fahad untuk mendekat sehingga hidung mancung keduanya menempel satu sama lain, aroma mint dan suara nafas pun terasa.
Dengan berani yang penuh percaya diri, Kinan mencium bibir Fahad. Sontak Fahad terkejut bukan main saat mengetahui itu, karena sudah mengetahui aksi Kinan, Fahad segera membalas ciuman itu untuk merasakan yang lebih. Lama kelamaan ciu*man itu menjadi lum*atan bahkan lidah keduanya tidak mau kalah, setiap rongga Fahad selalu memainkannya bahkan Kinan mengimbangi perlakuan itu.
"Aku tidak sabar, jadi aku akan memohon supaya besok adalah hari kelulusanmu."
"Aaaasssww! Sayang, itu sakit!" ringis Fahad kesakitan saat merasakan sakit di bagian pinggangnya akibat Kinan mencubitnya terlalu keras.
"Siapa suruh?" protes Kinan dan kembali lagi memeluk Fahad baginya itu sudah nyaman. Sedangkan Fahad menggeleng dengan tingkah murid sekaligus istrinya, ia pun membalas pelukan itu lebih erat.
••••••••••••••••••••••••••••••
"Anj*ir! Kenapa pake bersambung segala itu film?" frustasi Rulli si cowok cool pencinta drakor romantis yang katanua biar bisa mengetahui bagaimana menjalin hubungan cinta yanh seutuhnya.
Pletak!
"Sakit woi!" rengek Rulli.
"Loe itu cewek apa cowok sih, demen banget film begituan! Mana cemilan loe habisin sampe sepuluh kantong sedangkan gue dan Barakka belum menyentuhnya!" sewot Rehan mendumel panjang lebar saat dirinya sudah kesal dengan tingkah Rulli yang enggak pernah lepas dari yang namanya drakor.
__ADS_1
Barakka tak mengubris kebodohan dua sahabatnya itu, karena sudah tau keduanya pasti melakukan itu.
"Terus masalah gitu buat loe?" cibir Rulli menatap tajam.
"Astaga ini bocah minta disumpal tuh mulut!" kesal Rehan.
"Hentikan, ini rumah gue bukan tempat boxing! Kalau mau boxinh sana keluar dari rumah gue, lagian yang dapatnya bukan main apalagi duit malahan sampah iya!" Barakka melantangkan suaranya seperti tentara mengeraskan batalyonnya.
Mendengar suara lantang itu seketika keduanya langsung diam layaknya seorang anak menuruti oerintah ibundanya. "Maafkan kami, suhu paling panas dan tampan se eSeMA," kompak Rulli dan Rehan sembari duduk layaknya seorang bangsawan dan memberikan hormat kepada Barakka.
"Sial*an, gue nyesel berteman dengan orang gi*la," umpat Barakka dan membuang nafasnya kasar.
"Eh?" dehem Rulli.
"Apa lagi?" tanya Barakka.
"Apa kamu mau jadi istriku?" halu Rulli akibat kecanduan drakor karena dirinya jomblo, padahal wajahnya begitu pas harusnya sudah dapat ini malah apes tidak ada.
Bugh!
Pukul Barakka tepat di muka tampan Rulli tanpa dosa. "Apaan sih, loe!"
"Aassswww!" ringis Rulli. "Gue cuman bercanda, udah maen tonjok aja."
Barakka tak mau ambil pusing, lagian dua temannya memang terkenal dengan kebobrokannya. Meskipun begitu, dua temannya memiliki empati dan kecerdasan yang sama-sama sebanding dengannya. Akhirnya, Barakka memilik menyeret keduanya menggunakan sapu injuk dan menyeretnya seperti sedang menyeret sapu berisi debu.
"Sono pergi!" usir Barakka setelah keduanya diseret keluar akibat ulah Rulli bucin terhadap drakor keakutan sampai mabuk dan tak sadar.
"Gara-gara loe main drama sampe kebucinan, gini jadinya kita diusir!" protes Rehan.
"Gue cuman bercanda lagian buat merakterikn nanti nembak si Nisya," lirih Rulli.
"Ogah, gue enggak peduli!" muak Rehan.
•••••~~~•••••
Terima kasih yang sudah membaca, saya sebagai author mengucapkan terima kasih yang tulus. Kalian hanya membaca saja dan tidak memberi apa-apa, bagi saya sebagai Author merasa dihargai meski lewat membaca.
__ADS_1
Semoga hari-hari kita penuh dengan kebahagiaan❤❤