My Soulmate

My Soulmate
Kekhawatiran dua keluarga


__ADS_3

Fahad yang baru saja tiba di rumah sakit yang disebutkan oleh Barakka dari balik seberang telefon, dirinya menghabiskan waktu sekitar kurang lebih lima belas menit. Saat sampai ruangan, satu lelaki duduk termerung pikirannya kosong menghadap dinding tembok, dengan pakaian dan tangannya masih berlumur darah. Bahkan lelaki yang tak lain itu adalah Barakka tak menyadari keberadaan dirinya yang tengah berdiri dengan perasaan panik yang luar biasa.


"Bar!" panggil Fahad menepuk kencang bahu Barakka.


"Seharusnya gue habisin si breng*sek itu!" sesak Barakka. Dirinya paham betul tentang perasaan, Kinan di mata Barakka adalah wanita, kakak kelas, bahkan kakak ipar yang penuh dengan empati yang tinggi.


"Apa yang terjadi?!" tanya Fahad meninggikan suara.


"Dia hampir di****** bahkan hampir dibu*nuh, Kak," jawab Barakka lirih dengan tatapannya masih mengarah pada pemandangan yang sama.


"Dia mengeluarkan banyak darah dari lengan hingga perut, belum lagi dengan wajah berbabak belur."


Mendengar sambungan kata Barakka, Fahad seketika tak kuasa menahan beban yang ditanggung olehnya. Baru saja menikmati kebahagiaan bersama Kinan, belum genap dua bulan sudah ada ujian rumah tangga yang sangat tinggi. "Apa yang terjadi? Ceritakanlah!"


Barakka akhirnya membuka suara, menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi pada Kinan. Tenggorokannya terasa sangat sakit saat menjelaskan semuanya, belum lagi dengan luapan emosi yang terus membara seolah-olah dendam amarah belum kunjung mereda.


Fahad yang selalu menjadi pendengar setia, seketika tubuhnya perlahan mundur satu demi satu langkah hingga berakhir bersandar di dinding tembok rumah sakit. Dua keluarga besar yang baru saja tiba lima belas menit setelah Fahad tiba, empat orang itu mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Barakka. Kinan seorang wanita, menantu, bahkan anak yang selalu ceria dan periang kini harus menelan pahitnya kenyataan.


Harsa yang mendengar itu seketika syok, Ibha dengan sigapnya menahan tubuh Harsa seperti kehilangan keseimbangan. Belum lagi dengan ekspresi Maryam, mulutnya ditutup dengan tangan kanan belum lagi dengan bulir menari di pelupuk mata indahnya yang siap turun. Hasan yang mendengar itu tidak kalah terkejutnya, kala mendengarkan cerita Barakka yang terlontar satu demi satu kata.


Pintu ruang pemeriksaan terbuka, menampilkan seorang dengan pakaian khas rumah sakit. Wajahnya ditutup dengan masker berwarna hijau pun dilepaskan talinya. Barakka yang mendengar suara itu seketika bibirnya langsung terdiam, sementara Fahad dan keluarga melirik seorang yang baru saja keluar dari ruang di mana Kinan diperiksa.


"Apa ini dengan keluarga pasien Kinan Abhipraya?" tanya Dokter berusia sekitar tiga puluh tahunan.


"Saya suaminya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Fahad cepat.


"Karena pasien mendapatkan luka yang cukup serius, lengannya sudah kami jahit dan perutnya seperti tertusuk. Untunglah tusukan itu tidak terlalu dalam, dan pasien kehilangan banyak darah. Stok persediaan darah di rumah sakit sudah habis, jadi pasien membutuhkan transfusi darah sebanyak lima kantong," jelas Dokter itu.


"Apa golongan darahnya?" tanya Fahad lagi.


"Golongan darah pasien adalah A, kami membutuhkan transfusi darah sekarang juga. Karena pasien sedang dalam kondisi kritis, jadi saya membutuhkan secepatnya dan paling lambat lima belas menit," jelasnya lagi.

__ADS_1


"Saya memiliki darah golongan A," kata seorang lelaki yang baru saja datang setelah memarkirkan mobil milik Barakka dan membersihkan darah. Siapa lagi kalau bukan Rehan, Rehan tak sengaja mendengarkan pembicaraan dua keluarga besar bahkan tak sengaja mendengarkan pembicaraan Fahad yang mengatakan bahwa Kinan adalah istrinya.


Semua keluarga menoleh kepada Rehan, bahkan Dokter yang menanggani pun hanya menampilkan ekspresi seriusnya. "Kalau begitu silahkan pergi ke ruangan, suster tolong antarkan dia," titahnya.


Rehan segera ikut langkah wanita berpakaian putih itu, sementara Dokter izin pamit untuk memeriksa keadaan pasian selanjutnya. Setelah tiga orang menjalankan tugasnya masing-masing, keluarga Abhipraya dan Prambudi saling melempar pandang menatap dengan heran satu sama lain. Sementara Fahad hanya diam bergeming, pasalnya ia terkejut dengan kehadiran salah satu siswa yang belum mengetahui status dirinya dengan Kinan.


Sehingga mau tidak mau Fahad harus bersikap biasa saja, toh Barakka bisa mengatasi semuanya. "Ku rasa hubunganku dengan Kinan terdengar hingga telinga dia. Jadi, Barakka tolong urus dia!"


"Jangan khawatir," kata Barakka menarik nafas panjang.


"Aku punya golongan darah yang sama dengan Kinan, maka aku akan pergi ke sama untuk mendonorkan darah," tutur Fahad segera pergi ke ruangan di mana tempat itu adalah tempat untuk donor darah.


"Saya izin pamit, saya ingin donor darah untuk putri saya. Jika tidak bisa, maka saya hanya bisa memasrahkan kepada Allah," sambung Ibha segera pergi menyusul menantu yang tingginya tidak terlalu jauh.


Setelah dua lelaki sudah tidak tampak lagi, para keluarga dilanda ketakutan yang membinggungkan. Dua ketakutan yang terus membuatnya bimbang, karena ada teman Barakka yang mengetahui status dua insan yang belum lama terikat dengan kehalalan meskipun sudah tahu bahwa Ibrahim sekaligus ketua yayasan akan merahasiakan pernikahan dua insan itu tapi keluarga tidak ingin itu dihubungkan dengan pendidikan dan perasaan tentunya mengarah pada Kinan yang tengah berbaring kritis di ranjang rumah sakit.


"Jangan khawatir, beliau adalah orang yang bisa menjaga rahasia. Aku yakin dia bisa menjaganya." Barakka membuka suara setelah tatapannya terus berfokus pada tembok saja usai menceritakan kronologis yang menimpa Kinan.


"Apakah kamu tidak mau mencuci tanganmu dan berganti pakaian?" tanya Hasan ikut bersuara.


"Benar, Nak. Lebih baik kamu cuci tangan itu dan gantilah pakaianmu," kata Harsa ikut andil dalam pembicaraan keluarga Prambudi.


"Kalau begitu, izin aku pergi untuk berganti pakaian dan mencuci tangan." Ia segera bangkit dari kursi ruang tunggu dengan pikiran yang masih kosong. Perbuatan Kinan selalu mengingatkan Barakka kepada wanita yang merupakan kakak kedua, siapa lagi kalau bukan Dania.


'Itu mengingatkanku kepadamu, Kak. Kak Kinan memiliki sikap yang hampir mirip denganmu, jadi bisakah kamu datang untuk melihat dia? Aku yakin, ketika kakak bertemu dengannya kakak akan syok melihat kemiripan. Di mana kamu, Kak?' Jerit Barakka dengan langkah kaki yang terus menerus maju tanpa berhenti dengan hati yang mulai pecah dan tak bercermin.


Lima belas menit kemudian, perawat wanita datang sembari membawa beberapa kantung berisi darah dari tiga orang yang tak lain adalah Rehan, Fahad, dan Ibha. Dua lelaki yang satu mahrom dengan Kinan mendonorkan masing-masing satu kantung darah, sedangkan Rehan hanya satu kantung sebagai bentuk sukarela.


"Maaf, jika saya menganggu semuanya. Maafkan, saya jika saya bersikap lancang dan kurang ajar. Sebagai gantinya atas perbuatan saya, saya akan menjaga masalah ini. Karena Pak Fahad telah memberitahu saya perihal perkataan yang tak sengaja saya dengar," kata Rehan menunduk.


"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih yah," tutur Harsa dan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Saya izin pamit pulang," sambung Rehan.


"Terima kasih, Rehan. Maafkan saya," kata Fahad menepuk bahu Rehan. "Jujur, saya sedikit cemburu karena kamu mendonorkan daeah untuk menolong istri saya," lanjutnya sembari menunjukan wajah cemberut.


Keluarga yang mendengar itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan Fahad barusan, sedangkan Fahad hanya menngaruk tenguknya yang tak gatal. Selang beberapa menit kemudian, Barakka datang lagi setelah meembersihkan diri karena terkena noda darah. Kini Barakka menghampiri keluarga untuk pamit mengantarkan Rehan.


"Aku pamit dulu, Kak, semuanya," kata Barakka segera pergi dan diikuti oleh Rehan yang sudah melontarkan kata-kata yang mengandung doa untuk Kinan.


Setelah dua lelaki pergi meninggalkan dua keluarga, kini tersisa lima orang. Harsa yang perasaannya tak karuan karena jantung dan hatinya masih syok dengan semuanya, seketika mendudukan pantatnya di kursi tunggu. Lalu diikuti oleh yang lainnya yang duduk dengan jarak tidak terlalu jauh.


"Sepertinya aku gagal menjaga Kinan," kata Fahad menunduk.


"Tidak. Jangan salahkan diri, mungkin Allah sedang menguji hambanya dan ini sudah sesuai dengan takdirnya," kata Harsa memejamkan mata untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak.


Fahad tak berani menjawab, wajahnya terus menunduk. Setelah itu kembali lagi menatap seorang yang baru saja keluar dari ruangan sesuai dengan janjinya, yakni memasangkan selang berisi darah yang di donorkan oleh tiga orang itu. Dokter yang selalu betah dengan maskernya seketika dibuka.


"Pasien sudah kembali ke normal, kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap," jelas Dokter itu dan segera pergi bersama satu pendampingnya yang tak lain perawat.


Keluarga yang mendengar itu bernafas lega, meskipun Kinan harus dipasangkan dengan selang infus dam matanya masih terpejam. Setidaknya sudah kembali ke normal, bahkan Dokter itu sudah berkata bahwa Kinan akan segera sadar entah kapan. Bisa jadi besok atau lusa, karena Kinan sudah melewati masa kritis akibat sayatan di lengan yang mengeluarkan banyak darah dan tusukan di perut sebelah kiri.


'Alhamdulillah, terima kasih Ya Rabb,' batin Fahad memejamkan mata dan bernafas lega.


Maryam dan Harsa yang melihat kekhawatiran Fahad pun mengerti perasaan lelaki itu. Maryam kemudian mengelus punggung Fahad yang sebentar lagi akan runtuh membuat Maryam peka dengan perasaan anak semata wayangnya, ia menarik tubuh tinggi dan atletis itu untuk masuk kedalam dekapan. Fahad yang merasakan sentuhan hangat yang tak pernah pundar seketika menyembunyikan wajahnya di bahu Maryam seakan menghilangkan beban dan rasa bersalah akibat telendor menjaga istri. Meskipun keluarga sudah menjelaskan semuanya, Fahad tetaplah Fahad seorang lelaki yang tumbuh dan besar di bawah pengasuhan dua orang tua yang paham agama tinggi, sehingga membuatnya tidak mudah goyah jika menyangkut kesakitan dan penderitaan.


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu. Ini sudah menjadi bagian dari takdir, jadi ayo kita doakan semoga istrimu kembali lagi sehat, ceria, dan periang seperti dulu," bisik Maryam dengan tangannya mengelus pundak Fahad.


Meskipun Fahad sudah berusia dua puluh tahun lebih dan sudah memiliki pemdamping, di mata sang ibu Fahad tetaplah Fahad yang masih membutuhkan sandaran dan kasih sayang seperti anak kecil. Semua orang tua ketika melihat anaknya tumbuh dewasa, di mata mereka seorang anak tetaplah anak meski usianya sudah berkepala dua, tiga, bahkan empat pun sama.


Harsa berjalan menghampiri lelaki yang satu bulan menjadi menantunya ikut merasakan apa yang dirasa oleh menantu tampannya itu. Ia mengelus punggung Fahad, seolah-olah mengeluarkan kasih sayang melalui aliran darah. "Kinan bukanlah wanita lemah, Kinan adalah wanita kuat. Ibu percaya, Kinan akan segera sadar dalam waktu dekat."


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita berdoa semoga Kinan segera sadar," kata Hasan ikut andil dalam pembicaraan dua orang wanita yang berstatus ibu.

__ADS_1


"Benar kata dia, Nak," sahut Ibha.


__ADS_2