
Dikediaman keluarga Handoyo yang biasanya hening dan tentram bila si bungsu tidak ada dirumah. Tapi saat ini tampak berbeda dan tidak seperti biasanya. Gadis yang biasanya selalu ceria dan selalu bisa membuat ramai suasana rumah kini sedang uring-uringan kepada Ibunya. Pulang-pulang gadis itu langsung marah-marah.
"Bu, lain kali ga usah ya pake acara jodoh-jodohin Dara segala. Dara udah gede Bu, Dara juga bisa cari jodoh Dara sendiri."
Gadis itu adalah Dara adik bungsu Nayla, gadis yang sedang di jodohkan dengan salah satu putra sahabatnya Gea yang baru pulang dari Australia.
"Emang kenapa? Si cowoknya ga kasep?" tanya Gea santai sambil menyerahkan secangkir kopi untuk suaminya.
"Bukan masalah tampang Bu, tapi Dara ga suka kalau di jodoh-jodohin begini. Kayak jaman Siti Nurbaya aja deh Ibu. Apalagi cowok itu masih dibawah umur Dara. Dara ga suka Bu–" protes Dara tetap tidak mau terima yang namanya perjodohan.
"Kalian seumuran kok–." Gea sangat tahu keinginan putrinya itu. Dara paling tidak suka dengan laki-laki yang dibawah usianya. Untuk yang seumuran dia juga sulit untuk menerimanya.
"Tetep aja Dara ga suka."
"Ibu ga ada niat buat Jodohin kalian. Kebetulan pas arisan kemarin teman Ibu, Bu Yanti bilang anaknya baru pulang dari Australia dan anaknya itu juga belum ada pacar. Terus dia tanya ke Ibu apa kamu udah punya pacar atau belum. Ya Ibu jawab aja kalau kamu belum punya pacar. Kan memang kamunya belum punya pacar."
"Terus kenapa Ibu pake bohong segala, nyuruh aku ke mall nemuin Ibu?" Dara masih saja emosi bila mengingat pertemuannya tadi dengan pria anak teman Ibunya itu.
"Hehe, kalau itu ibu minta maaf ya neng–." Gea cengengesan.
Flashback ON
Dara yang baru saja pulang kerja langsung mendapat telpon dari Gea Ibunya dan menyuruhnya untuk menemuinya disalah satu mall terbesar di kota itu.
Padahal saat itu ia sudah ada janji makan malam bersama dengan Aditya dan dengan terpaksa Dara harus dibatalkan janjinya dengan Adit.
Ketika sudah sampai di mall ia menelpon Ibunya tapi tak juga diangkat oleh Gea. Ia masuk ke salah satu restoran yang ada di mall itu. Menanyakan ke seorang pelayan meja yang sudah dibooking atas nama ibunya.
Dan ketika sampai dimeja itu ia melihat ada seorang pria sudah duduk disana. Dara terbengong kenapa meja yang dipesan ibunya sudah diduduki orang lain.
Dara mendekati meja itu dan mencoba menelpon Ibunya tapi tak diangkat juga.
"Adara Fredelia Handoyo?" tanya Pria itu saat melihat Dara sibuk dengan ponselnya. Dara melihat kearah pria itu, ia merasa heran kenapa pria itu bisa tahu namanya.
"Ia saya Adara, kamu siapa? Dan mengapa kamu duduk disini? Bukannya meja ini Ibu saya yang sudah booking?" tanya Dara ketus.
"Sepertinya kamu salah Nona, ini meja Ibu saya yang booking." jawab pria itu tak kalah ketusnya. Pria itu melihat raut wajah tidak percaya dari Dara. Lalu pria itu menjentikkan jarinya memanggil salah satu pelayan.
"Meja no 12 ini di booking atas nama siapa?" tanya pria itu to the poin.
"Sebentar Tuan, saya tanyakan ke bagian kasir dulu." ucap pelayan itu lalu meninggalkan Dara dan juga pria itu.
Pelayan itu menanyakan kepada petugas kasir yang juga merangkap sebagai pesan order via telpon. Dan tak berselang lama pelayan itu kembali menghampiri kedua orang yang sedang saling memandang tak suka satu sama lainnya. Jika dimata mereka mengandung sinar laser maka dapat dipastikan Restoran itu akan hancur seketika.
"Maaf Tuan, Nona sudah menunggu lama. Meja 12 dibooking atas nama Nyonya Yanti dan juga Nyonya Gea."
"Apa?" keduanya tampak terkejut.
"Sial, apa-apa sih Mami? Liat aja Mam, perempuan ini akan aku buat kapok biar nanti ngadu ke ibunya terus Ibunya akan ngadu ke Mami terus marah-marah ke Mami dan Mami akan menyesal udah buat acara kencan buta seperti ini Mam."
"Hahaha–." pria itu malah tertawa membuat Dara semakin kesal.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Apa aku harus menangis? Begitu?" tanya Pria itu dengan seringai liciknya. Sementara Dara hanya mengendus kesal.
"Sepertinya ini memang rencana ibu kita untuk mempertemukan kita." sahut Pria itu dengan santai tapi terdengar sengak ditelinga Dara.
"Apa?"
__ADS_1
"Sudahlah Nona jangan pura-pura kaget begitu, bilang saja Nona juga suka dengan rencana perjodohan ini kan?" tanya Pria itu dengan tatapan tak suka.
"Apa? Perjodohan?" Lagi-lagi Dara kaget dibuatnya.
"Kenapa kamu selalu terkejut begitu Nona?" Pria itu menautkan kedua alisnya. "Oh ya, Perkenalkan saya Fransiskus Zaid Fabian." ucap Pria itu sambil mengulurkan tangannya.
Pria itu adalah Frans sahabat Kalycha yang baru pulang dari Australia.
"Lo udah tahu nama gue kan? Ya udah silahkan duduk." ucap gadis itu ketus tanpa menyambut uluran tangan Frans. Dari tadi ia merasa kalau pria yang duduk dihadapannya itu sedang merendahkannya.
"Gadis yang menarik."
Frans menyatukan tangannya sendiri lalu duduk dibangku yang berhadapan dengan Dara.
"Mau pesan apa?" tanya Frans mencoba bersikap baik pada gadis itu.
"Gue kuras aja kali yah isi kantong nih cowok." Batin Dara dengan seringai liciknya.
Tanpa menunggu lama Dara langsung memesan semua makanan yang ingin ia makan, kebetulan sekali dirinya juga sangat lapar.
"Lo ga pesen makan?" tanya Dara pada Frans karena hanya memesan kopi saja.
"Gue masih kenyang, sebelum kesini gue udah makan." Dara hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Setelah menunggu sekitar 15 menit pesanan makanannya pun datang. Dara pun menyantap semua makanan yang dipesannya tanpa bersisa. Ia sengaja membuat pria itu ilfeel padanya dengan melihat cara makannya yang banyak. Padahal perutnya sudah sangat penuh.
"Mau dianter pulang atau pulang sendiri?" tanya Frans tanpa basa basi.
"Ga usah gue bisa pulang sendiri."
"Oh, oke kalau gitu gue duluan yah." ucapnya sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkannya diatas meja.
"Gue rasa itu cukup untuk membayar secangkir kopi yang gue minum." ucapnya sambil tersenyum licik. "Apa lo pikir gue yang akan bayar semua makanan yang lo pesen?" Frans mendekatkan wajahnya ke wajah Dara. "Jangan mimpi. Lo yang makan, jadi Lo juga yang harus bayar. Bay." bisik Frans sambil menepuk bahu Dara lalu pergi begitu saja meninggalkan Dara yang begitu kesal.
"Dasar cowok brengseeeek–!!!!" Dara mengepalkan kedua tangannya, wajahnya merah padam menahan amarahnya. Dan mau tidak mau akhirnya dia yang membayar semua makanan yang sudah ia makan itu.
Flashback Off
Dara masih sangat kesal mengingat betapa brengsek nya pria itu dimatanya. Bagaimana mungkin dia disuruh membayar makanannya sendiri.
"Dasar cowok ga bermodal. Cowok brengsek, Cowok kere...bla.bla.bla–." Dara terus saja merutuki pria itu.
"Ibu kan bisa aja bilang kalau Dara udah punya pacar kan Bu–."
"Ibu ga mau dosa Daraa, ngebohongin orang itu dosa loh. Lagi pula kamu kan tahu sendiri kalau Bu Yanti itu sangat suka sama kamu. Dia pengen kamu jadi menantunya."
"Ogah Bu–."
Dara sangat kesal pada Ibunya itu tapi ia juga tak mungkin menyalahkan Ibunya.
"Lain kali Ibu ga usah jodoh-jodohin Dara lagi Bu. Plisss–." ucap Dara sambil menangkupkan kedua tangannya didepan Ibunya itu.
Gea pun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga berharap banyak dengan pertemuan antara putrinya dengan anak sahabatnya itu.
...💗💗💗💗...
Keesokan harinya.
Kalycha sudah kembali bekerja seperti biasanya. Awal baru kehidupannya sudah dimulai. Ucapan selamat dari para dokter, perawat dan semua rekan-rekan sejawatnya pun sudah diterimanya. Sampai pegal rasanya tangannya berjabat tangan satu persatu dengan orang yang mengucapkan selamat padanya. Ada juga yang langsung cipika cipiki yang tak dapat dihindari atau pun ditolaknya. Berbagai macam kado pun ia terima dari teman-temannya itu.
__ADS_1
Jam shif pagi sudah selesai, sudah waktunya ia untuk pulang bekerja. Kalycha sedang menunggu jemputan dari suaminya karena tadi pagi saat berangkat bekerja suaminya tidak mengijinkan dia untuk menyetir sendiri.
"Icha–." seseorang memanggilnya tak jauh dari tempat ia duduk menunggu suaminya.
"Frans? Ngapain lo disini?" tanya Kalycha ketika tahu kalau yang memanggilnya adalah Frans.
"Gue datang sengaja buat nemuin Lo Cha–."
"Buat apa? Terus dari mana Lo tahu kalau gue kerja disini?"
"Soal gue tahu darimana lo kerja disini gampang lah. Gue gitu Cha–." ucap Frans sambil membanggakan dirinya. Sebenarnya dia tahu Kalycha bekerja di Rumah Sakit itu dari Sahabatnya Alvin.
"Jangan bilang Lo nemuin gue cuma mau tahu tentang Jenny?" tebak Kalycha.
"Yups Lo bener Cha. Seratus untuk lo Cha. Lo memang temen gue yang ter the best lah pokoknya." Kalycha langsung lemes, males rasanya berurusan dengan Jenny.
"Gue kan udah kasih nomor dia ke elo?" ucapnya sambil melirik kearah suaminya yang berjalan kearah mereka.
"Ya ga mungkin lah Cha gue tanyain tentang Jenny ke laki Lo?" lirih Frans.
"Kenapa ga mungkin?" Kalycha memang malas bila membicarakan tentang Jenny. Soal kesalahan pahaman mereka dulu sangat membekas dihatinya meskipun ia tak pernah menaruh dendam pada sahabatnya itu. Tapi yang membuatnya kesal karena mengaku sebagai tunangan dari suaminya itu. Tak bisa dipungkiri kalau Jenny pun tak bersalah dalam hal itu karena ia juga tidak tahu kalau Haidar adalah suaminya.
"Cowok itu lagi? Haah, buat nambah masalah gue aja sih nih Cowok." batin Haidar.
"Kita pulang Yang–." ajak Haidar ketika sudah sampai didekat Kalycha.
"Ngapain lagi nih laki Icha ngeliat gue kayak mau nelen gue idup-idup aja." Batin Frans yang mendapatkan tatapan tajam dari Haidar.
"Hai Bang–." sapa Frans sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Eh Lo. Mau berobat? Atau ada keluarga yang sakit?" Haidar bersikap sedatar mungkin.
"Hmmm enggak Bang, cuma mau nemuin Icha doang." jawab Frans jujur.
"Apa? Ngapain sih nih orang ngusik kehidupan bini gue terus."
"Ada perlu apa ya?"
"Ah, enggak Bang, cuma mau tahu soal Jenny aja."
"Jenny lagi Jenny lagi. Apa sih hubungan nih anak sama Jenny?"
Haidar mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar name card dari dompetnya lalu memberikannya ke Frans.
"Nih yang lo butuhin. Setelah ini sebaiknya lo ga usah nemuin istri gue lagi." tegas Haidar.
Frans melihat nama dan nomor telepon yang tertera di name card itu. Ternyata kartu nama Jenny, Frans langsung tersenyum senang.
"Thanks ya Bang–." Frans mencium kartu nama yang diberikan Haidar itu sambil melambaikan tangannya pergi meninggalkan Haidar dan Kalycha.
"Ternyata masih disimpen di dompet yah–. Aku update status aah, Judul Story hari ini Cintaku terselip di dompet." sindir Kalycha sambil berjalan ke arah Mobil Haidar.
"Apaan sih Yang–."
"Jangan lupa bawa kado-kadonya." teriak Kalycha sambil menunjukkan setumpuk kado yang di dapat dari teman-temannya.
Netx tomorrow ya gaes 😍
Author hanya butuh Jejakmu 🙏
__ADS_1
Say Hai dong di kolom komentar 🤗