
Dibawah Alam Sadar Kalycha
Kalycha melihat ruangan yang serba putih, aroma obat yang begitu menyengat dan menusuk indra penciumannya. Ia berjalan dan seperti mengenali tempat itu. Kalycha tahu kalau saat itu dirinya sedang berada disebuah rumah sakit. Tapi tak ada seorang pun yang ia kenal. Lalu tiba-tiba mata Kalycha tertuju kepada sosok seseorang yang begitu sangat dirinya rindukan.
"Mom–." panggil Kalycha, dirinya melihat Ilona sedang tersenyum memandangi bayi yang sedang tidur didalam sebuah box bayi. Bayi itu sedang berada diruangan khusus bayi dan ia tidak bisa masuk untuk menyentuhnya dan hanya bisa melihatnya dari luar melalui kaca transparan itu. Tapi Ilona tak mendengar Kalycha yang memanggilnya.
"Mommy–, Icha kangen Mom." Kalycha memeluk Ilona dari belakang. Diciumnya aroma tubuh Mommynya yang begitu nyaman dan sangat dirindukannya. Ilona hanya tersenyum saat menolehkan kepalanya melihat Kalycha sebentar, lalu perhatiannya kembali pada bayi yang ada didepannya itu.
"Mom, kenapa Mommy diam saja? Apa Mommy ga kangen sama Icha Mom?" Lagi-lagi Ilona mengacuhkannya. Ilona berjalan keluar dari ruangan itu. Dan Kalycha juga terus berjalan mengikutinya.
Kalycha heran tiba-tiba dia sudah berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia melihat kesekitarnya dan menyadari kalau taman itu dipenuhi dengan bunga-bunga kesukaan Ilona. Dan di ujung taman itu terlihat sebuah bangunan yang mirip dengan bangunan kastil di negeri dongeng.
"Mom, Mommy tinggal disini? Indah sekali Mom–, Icha boleh ya Mom tinggal disini sama Mommy juga. Icha kangen Mom sama Mommy." Kalycha bersandar manja dilengan Ilona tapi Ilona tidak juga menjawab ucapan Kalycha ia hanya membelai lembut rambut Kalycha.
"Mom, Icha suka bau tubuh Mommy." Kini ia sudah berbaring dipangkuan Ilona.
Ilona terus membelai rambut Kalycha, dan tanpa ia sadari ia sudah tertidur lelap di pangkuan Ilona.
Entah berapa lama ia tertidur tiba-tiba ia melihat dirinya sudah kembali berada disebuah rumah sakit. Kalycha melihat kini dirinya memakai pakaian rumah sakit dan tangannya terpasang selang infus di kanan dan kirinya. Tapi ia tak melihat siapa-siapanya disana.
"Kenapa aku berada disini? Aku sakit apa sehingga kedua tanganku harus di infus?" Kalycha bingung ia merasa dirinya tidak sakit. Kalycha melepas semua selang infus yang terpasang ditangannya lalu melepaskan sungkup oksigen dari mulutnya.
Ia kembali berjalan keluar dari kamar itu, dijalaninya setiap lorong rumah sakit tapi tidak ada siapapun yang dikenalnya.
"Sebenarnya aku dirumah sakit mana sih, kenapa ga satupun ada yg ku kenal?" Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya tapi ingin bertanya pada siapa dirinya tidak tahu.
Kalycha terus berjalan dan entah kenapa langkahnya kembali tertuju pada ruangan bayi rumah sakit itu. Dan benar saja ia melihat Ilona sudah berdiri didepan sana, melihat bayi yang berada didalam sana dengan tatapan sedih.
"Bayi siapa itu, kenapa Mommy jadi sering datang kemari dan melihat bayi itu?"
Kalycha berjalan mendekati Ilona.
"Mom–." panggilnya lagi. Ilona hanya tersenyum padanya sebentar saja, lalu seperti sebelumnya perhatiannya kembali kepada bayi itu.
Kalycha mulai mulai cemburu pada bayi itu karena perhatian Ilona sudah beralih pada bayi itu. Ia kesal karena merasa Ilona sudah tak menyanyanginya lagi.
"Mommy, kenapa Mommy lebih perhatian sama bayi itu sekarang? Apa Mommy udah ga sayang Icha lagi Mom?" Kalycha setengah berteriak. Dan karena teriakan Kalycha yang begitu keras sehingga membuat bayi itu menangis kencang.
"Cha, kamu jangan berisik, lihat tuh bayinya jadi nangis." Ilona menatap kesal pada Kalycha. Iya ingin sekali menggendong bayi itu tapi dirinya tidak bisa. Ilona tidak bisa masuk ke dalam karena ia tak melihat satu pun suster yang berjaga disana.
"Tuh kan bayinya nangis terus–. Kamu iiih." Ilona kesal dan pergi meninggalkan Kalycha.
Kalycha baru tahu kalau Mommynya juga bisa marah padanya. Karena selama ini Ilona tidak pernah memarahinya.
__ADS_1
"Mom–, Mommy!!!" seru Kalycha kembali memanggil Ikona tapi Ilona lagi-lagi tak menghiraukannya.
Kalycha berjalan cepat lalu meraih tangan Ilona.
"Mom–, kenapa Mommy marah?" Langkah Ilona pun terhenti karena kini Kalycha berhasil meraih tangannya. Tapi ia hanya diam, wajahnya terlihat sendu dan bersedih.
"Mom, Mommy kenapa menangis?" Kalycha merasa heran mengapa Mommynya menangis dan apakah perkataannya tadi sudah menyinggung perasaan Mommynya?
"Kamu tahu Cha, Mommy sangat kasihan pada bayi itu. Saat ini Ibunya sedang bertaruh nyawa untuk anaknya. Mommy sedih Cha, karena Mommy meninggalkan mu dulu. Dan Mommy ga mau kalau bayi itu bernasib sama seperti kamu Cha." lirih Ilona sambil menggenggam kedua tangan Kalycha.
"Kenapa Mommy berkata seperti itu Mom? Mami hanya meninggalkan Icha sebentar Mom. Sekarang Icha udah disini sama Mommy. Icha seneng bisa ketemu sama Mommy dan Icha ga mau pisah lagi sama Mommy." Kalycha memeluk Ilona begitu erat seperti tidak ingin berpisah lagi dengannya.
"Tapi disini bukan tempat mu Cha?" lirih Ilona.
"Mommy, kenapa sih Mom? Mommy ga sayang lagi ya sama Icha? Kenapa Mommy sangat peduli dengan bayi itu?" Amarah Kalycha kembali berkobar-kobar, ia begitu kesal pada Ilona karena sepertinya Ilona tak ingin kalau dirinya tinggal bersama dengannya.
"Memangnya siapa bayi itu Mom? Apa pentingnya bayi itu dibandingkan dengan Icha Mom?" Tanya Kalycha dengan airmata yang sudah berderai membasahi pipinya.
"Kamu dan bayi itu sama-sama penting buat Mommy. Kalian kebahagiaan Mommy, dia seperti malaikat kecil yang tersenyum pada Mommy, menyejukkan hati Mommy yang kesepian."
"Icha ga akan biarkan Mommy kesepian lagi. Icha akan terus bersama dengan Mommy disini."
"Tempatmu bukan disini Cha, dan kasihan bayi itu bila kamu terus ada disini. Apa kamu mau anak kamu bernasib yang sama sepertimu yang tidak memiliki Ibu?" Ilona kembali menggenggam tangan Kalycha.
"Maksud Mommy apa Mom? Kenapa Mommy bilang anak itu akan bernasib sama seperti Icha?"
"Bayi itu anak kamu Cha, anak yang baru saja kamu lahirkan. Apa kamu tidak ingat itu Cha?" Ilona merasa heran karena Kalycha sama sekali tidak mengenali bayinya.
Deeerrr.
Seperti suara petir yang menggelegar mengisi kesunyian ruang hati Kalycha.
"Maksud Mommy apa?" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit, pikirannya kacau tak dapat mengingat apapun tentangnya.
"Mommy tak perlu mengatakannya berulang-ulang Cha–. Apa kamu ga bisa merasakan kalau bayi itu adalah bayi kamu Cha? Apa kamu tega meninggalkannya tanpa memberi makannya terlebih dulu? Apa kamu rela bila suamimu menikah lagi dengan wanita lain?"
Deg.
"Apa selama ini Mommy ga rela kalau Daddy menikah lagi?" Kalycha baru saja teringat kepada Pram Daddynya. "Apa? Daddy? Kenapa aku baru teringat pada Daddy? Dimana Daddy dan Bunda?" Kalycha sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Lihat pria itu Cha." Tiba-tiba saja Ilona menarik tangan Kalycha dan kini mereka sedang berada di ruang ICU tempat Kalycha dirawat. Kalycha juga merasa heran, tadi dirinya baru saja berada ditaman mengapa sekarang sudah berada disebuah ruangan perawatan. "Dia tak pernah putus asa untuk terus berdoa supaya kamu sadar kembali. Dia pria yang sangat mencintaimu Cha, bahkan dia belum melihat anakmu sama sekali karena dia terus menemanimu."
Airmata Kalycha menetes hatinya terasa sakit, Kalycha belum sadar siapa pria yang dikatakan Ilona yang begitu mencintainya dan ia juga tak ingat siapa Pria yang diceritakan Mommynya itu.
__ADS_1
"Siapa dia Mom?" tanya Kalycha lirih, dirinya seperti mengenal pria itu tapi tak dapat mengingat siapa pria itu.
"Lihatlah siapa wanita yang terbaring disana yang sedang ditangisinya, kamu akan tahu siapa pria itu." Ilona menepikan tirai yang menutupinya wajah wanita yang terbaring disana.
"Ga, enggak mungkin." Kalycha sulit untuk percaya dengan semua cerita yang Ilona katakan karena ia merasa kalau dirinya masih berusia 15 Tahun sama seperti saat Ilona meninggalkannya dulu. Dan bagaimana mungkin ia bisa melihat dirinya yang terbaring tak berdaya disana dengan selang infus yang terpasang ditangan kanan dan kirinya. Sebuah monitor yang terpasang dirinya dan juga sebuah sungkup oksigen yang tak lepas dari mulutnya.
"Ga, itu enggak mungkin. Itu bukan aku Mom, aku masih sekolah Mom bagaimana mungkin aku sudah menikah dan punya anak. Mommy salah Mom, siapa wanita itu Mom?" Kalycha menunjuk dirinya yang terbaring di tempat tidur itu.
"Itu Kamu Cha, dan dia Haidar suami kamu. Dan bayi yang disana adalah anakmu, cucu Mommy."
"Enggak Mom, Icha ga kenal mereka Mom–. Tolong Mommy jangan karang cerita yang bukan-bukan Mom. Kalau Mommy ingin Icha pergi dari sini, baiklah Icha akan pergi!! Tapi tolong Mommy jangan membuat cerita seolah-olah menyalahkan aku karena aku meninggalkan mereka Mom." lirih Kalycha, ia tak menyangka kalau Ilona akan memintanya untuk pergi darinya.
Ia mulai berjalan kearah pintu keluar ruangan itu tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
"Cha, bangun sayang. Mas kangen sama kamu Cha–. Tolong jangan tinggalkan Mas Cha."
Kalycha membalikkan badannya dan melihat kearah Haidar. Hatinya begitu sakit melihat pria itu menangis sambil menggenggam tangannya dan sesekali mencium punggung tangannya.
"Mas Hai–." tiba-tiba saja ia mengucapkan nama pria itu. Sepertinya dia merasa kalau panggilan itu sudah biasa disebutnya. Tapi sayang dia belum mengingat siapa pria itu.
Tak ingin berlama-lama dikamar itu Kalycha pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa hatiku sangat sakit mendengarnya memanggil namaku tadi? Siapa dia sebenarnya? Benarkah dia suamiku? Tapi kenapa aku ga bisa mengingatnya sama sekali?" Entah kenapa langkah Kalycha kembali tertuju kepada ruangan bayi yang biasa ditunggui Ilona Mommynya.
Dilihatnya Bayi yang terbaring di box bayi itu dan Kalycha melihat sebuah nama yang tertulis disana By.Ny. Kalycya yang artinya Bayi Nyonya Kalycha.
"Benarkah dia anakku?"
"Aaaa.... Aaaaaa.... Mommy benarkah dia anakku? Kenapa aku ga bisa mengingatnya Mom? Kenapa Mom? Aku ga mau meninggalkannya Mom, aku ga mau dia bernasib yang sama seperti ku Mom–." Kalycha terus saja menangis sementara Ilona tak lagi disampingnya.
Ia mengalihkan pandangannya mencari Ilona tapi Ilona tak lagi terlihat olehnya. Ia berlari kembali ke kamar tempat pria yang dikatakan Ilona adalah suaminya itu tapi ia juga tak menemukan Ilona disana. Hanya ada Haidar yang masih setia menjaga raga wanita yang mirip dengannya itu.
"Mom–, Mommy dimana? Tolong jangan tinggalkan Icha Mom." Kalycha terus saja berlari mencoba mencari Ilona tapi dirinya tak juga menemukan Ilona.
Kalycha berusaha mencari Ilona ke sebuah taman yang diyakininya sebagai tempat tinggal Mommynya itu. Tapi Kalycha tak lagi menemukan jalan menuju taman itu. Ia terus mencari dan terus mencari tapi tak juga menemukan dimana jalannya.
"Mommy, jangan tinggalkan Icha Mom."
"Cha, Sayang jangan tinggalkan aku dan anak kita Sayang–." suara Haidar kembali terdengar lirih ditelinga Kalycha.
Judul Eps-nya udah kayak judul lagu aja yach 😍
Ku tunggu Jempol dan Lope²nya 🤗 dan juga gift-nya 😄
__ADS_1
Semoga Rindu Kalian terobati 😁