My Soulmate

My Soulmate
Hei Pacar


__ADS_3

Seminggu berlalu, pasangan pengantin baru itu pun sudah kembali rumah mereka, rumah yang dulu pernah Haidar beli untuk mereka tempati setelah menikah. Setelah ingatannya kembali ini pertama kalinya Haidar menginjakkan kakinya dirumah itu lagi.


Rumah yang dulu ditinggalkannya masih dalam keadaan kosong kini sudah terisi penuh dengan perabotan-perabotan kesukaan Kalycha.


Ketika membuka pintu rumahnya hal pertama kali yang dilihatnya adalah sebuah bingkai foto minimalis yang berukuran standar, yang bingkainya berwarna solid sehingga bisa menonjolkan kesan gambar yang menarik di dalamnya.


Sebuah foto pernikahan mereka dulu. Haidar terkesan sampai ingin meneteskan airmatanya. Pernikahan yang dipikirnya akan sulit untuk dijalaninya karena saat itu mereka belum saling mencintai. Tapi kini mereka sudah mengisi dan melengkapi hati mereka masing-masing.


Dan hal serupa juga ditemukannya di kamar tidurnya. Sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang berukuran besarnya hampir selembar tempat tidur mereka. Foto pernikahan yang terlihat saat ia mencium kening Kalycha istrinya ketika selesai mengucapkan ijab qobulnya 5 tahun yang lalu. Entah kenapa dari sekian banyak foto pernikahan mereka, Kalycha memilih foto itu tapi melihatnya membuat hatinya bergetar karena tersentuh.


Dan beberapa foto lainnya dengan bingkai yang berukuran kecil dipajangnya di atas nakas yang berwarna putih berukuran panjang yang diatasnya ditempelkan sebuah cermin dinding manambah suasana ruangan itu semakin nyaman dan indah dipandang mata. Foto-foto pernikahannya yang dulu dan yang membuatnya kagum disana Haidar tidak hanya mendapati foto-foto pernikahannya saja tapi juga beberapa foto dirinya waktu kecil dan foto-foto saat dia masih kuliah dulu.


"Yang, kamu dapat foto-foto aku darimana?" tanya Haidar karena dirinya juga sudah lama tidak melihat foto-foto itu bahkan menyimpannya dimana pun ia lupa.


"Dari Ibu." jawabnya jujur. "Waktu itu Ibu lagi beres-beres kamar Mas Hai. Kebetulan pas aku datang jadi aku sekalian ikut bantu-bantu Ibu. Pas lagi beres-beres aku nemu foto-foto mas Hai dulu jadi aku minta ke Ibu."


"Kalau Icha kangen mas Hai, Icha tinggal liat foto-foto itu. Karena dulu Icha ga punya foto mas Hai." ucapnya lirih.


"Apa dulu kamu juga sudah mencintai aku Cha?" Sebuah pertanyaan yang sangat ingin ditanyakannya tapi Haidar mengurungkannya tidak mau istrinya itu kembali bersedih jika mengingat peristiwa yang membuat banyak orang terluka saat itu.


"Jadi kamu belanja perabotan ini semua pakai uang kamu ya?" Haidar ingin mengalihkan kesedihan istrinya.


"Iya, sekarang mas kan udah kaya. Icha boleh dong minta ganti ruginya?" Kalycha menadahkan tangannya sengaja menggoda suaminya. Haidar merogoh kantong celananya dan mengambil dompetnya lalu memberikannya pada Kalycha.


"Ambil sebanyak yang kamu mau. Disana udah mas siapkan black card untuk kamu atas namamu."


"Mas tidak sekaya yang kamu banyangkan, tapi mas masih sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan kamu." Haidar memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Kalycha.


Kalycha merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan suaminya itu. Bukan kekayaan yang dicarinya dari seorang Haidar tapi cinta, kasih sayang, rasa tanggung jawab dan perhatian yang tulus dari seorang suami kepada istrinya.


"Saranghae yoebo." ucap wanita itu sambil menunjukkan pinger heart nya kepada Haidar.


"Iiih apaan itu?" Haidar geli mendengar Kalycha mengucapkan kata itu untuknya. Tapi bukan ucapan saranghae nya yang membuatnya merasa geli tapi kata Yoebo. "Ga usah ke Korea-koreaan deh, panggi Mas aja aku udah cukup seneng kok."


"Oppa–." panggil Kalycha manja, Haidar hanya mengerutkan keningnya.


"Aku belum Opa-opa Cha, anak aja belum punya udah di panggil Opa."


"Oppa mas, buka Opa." Kalycha membenarkan ejaan bahasa Korea yang salah diucapkan suaminya.


"Apapun itu mas ga suka kamu panggil begitu."


"Atau mau Icha panggil Ahjussi?"


"Apaan lagi tuh Jus?"


"Iiiiih mas kudet nih, masa ga tahu sih panggilan-panggilan untuk orang korea." Kalycha kesal karena suaminya itu tidak tahu panggilan-panggilan mesra yang lagi booming dan tren di kalangan anak muda saat ini.


"Ya gak tahu lah, mas ini orang asli Indonesia, suku Sunda. Kalau kamu panggil Aa ya Mas terima. Ini kok dipanggil jus. Emang aku buah apa?"


"Kalau gitu Icha panggil Kakang pie?"


"Sak karepmu." ucapnya lalu berbaring ditempat tidur.


"Kakang, onjo nesu-nesu toh." Kalycha menggoda Haidar yang kesal padanya dengan menusuk-nusuk pinggang Haidar dengan jari telunjuknya.


"Apaan sih Cha, geli tahu."


"Cha-Cha, Cha-Cha, biasanya panggil Sayang kalau ga Yang. Ini di panggil Cha-Cha mulu dari tadi."


"Kakang marah ya sama Icha?"


"Kalycha geli." Haidar menghidar karena Istrinya itu terus saja menusuk-nusuk pinggangnya.


"Kakang–." Entah kenapa Kalycha tidak suka jika suaminya itu memanggilnya dengan namanya, dia lebih suka dipanggil Sayang atau Yang.

__ADS_1


"Wes toh, ojo nesu-nesu."


Kalycha menyalakan musik dari ponselnya lalu dia mulai menari-nari gaya-gaya erotis. Haidar langsung duduk terperangah melihat betapa seksinya istrinya itu dengan tarian-tarian eksotisnya.


"Sayang kamu belajar dari mana nari-nari begituan?" Haidar sudah duduk ditepi tempat tidurnya sambil terus melihat istrinya itu menari dengan begitu menggoda sehingga berhasil membuat si Juni On lagi.


Bukan menjawab pertanyaan suaminya, Kalycha malah berjalan mendekati suaminya sambil menari tepat didepannya.


"Sayang udah ahk, Mas geli liatnya." Haidar menautkan kedua alisnya mengalihkan pandangannya sesaat lalu melihatnya lagi.


"Geli apa nafsu?" Kalycha masih saja terus menggoda suaminya.


"Geli Cha–." Haidar langsung memeluk Kalycha dan menariknya ke dalam kepangkauannya supaya istrinya itu berhenti menari. Jujur ia memang suka melihat keseksian istrinya tapi melihat tariannya yang begitu eksotis membuatnya merasa geli dan hampir jijik karena yang ada dalam bayangannya ia seperti melihat wanita-wanita liar yang bekerja di clup malam.


Kalycha tertawa karena berhasil menggoda suaminya itu, ia dapat merasakan betapa kerasnya si Juni dibawah sana, sangat terasa karena si Juni tepat berada diatas bokongnya.


"Lepas Mas, Icha mau turun."


"Enggak akan. Kamu harus tanggung jawab Cha."


"Tanggung jawab apa?"


"Jangan pura-pura ga tahu dong Sayang. Kamu udah buat si Juni bangun nih." Haidar sambil menggoyang-goyangkan kakinya agar Kalycha bisa merasakan betapa kokohnya si Juni dibawah sana.


"Icha capek mas. Icha mau tidur." Kalycha sengaja membuat alasan menolak keinginan suaminya, padahal sebenarnya ia juga menginginkan hal panas itu di ulang kembali.


Seakan tak ada bosan-bosannya Haidar ingin mengulang perhelatan mereka kembali merasakan kenikmatan yang tiada taranya yang tak dapat di ukirkan dengan kata-kata hanya bisa dirasakan dan dinikmati.


💕


💕


💕


💕


💕


Sudah tiga hari ini dokter Handoko sangat baik padanya. Awalnya Helsa bingung saat tiba-tiba ia mendapat pemberitahuan dari dokter Bagus bahwa dirinya sudah diperbolehkan masuk kembali ke tim operasi dokter Handoko.


"Kenapa belakangan ini gue perhatiin dokter bandot itu baik banget sama lo Sa?" tanya Wandi saat melihat dokter Handoko baru saja membelikan beberapa makanan untuk Kalycha dan tim operasinya. Begitulah panggilan mereka untuk dokter Handoko. Hanya Wandi dan dirinyalah yang membuat panggilan khusus tersebut.


"Bukan ke gue tapi ke semua tim." elak Helsa, karena sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama.


"Terus gimana ceritanya tiba- dia mau menerima permintaan maaf lo?"


"Entahlah gue juga bingung." jawabnya sambil menikmati makan siangnya.


"Lo hati-hati Sa, kalau dapet apa-apa dari dia langkahi dulu tiga kali, siapa tahu ada peletnya. Biar mental, jadi ga kena ke elo."


"Huuuu, pikiran lo masih aja kolot. Percaya lagi sama hal-hal mitos kayak gitu?"


"Berjaga-jaga kan ga salah Sa. Bukannya slogan kesehatan lebih baik mencegah daripada mengobati?"


"Benar juga apa yang dikatakan Wandi. Tapi masa iya sih, bandot tua itu mau melet gue?"


"Bener sih, tapi udah ahk, positive thingking aja." ucap Helsa.


"Apa mungkin Kak Roy mengancam dokter Handoko? Karena waktu itu Kak Roy kayaknya marah banget. Kok aku jadi penasaran gini sih? Apa aku tanya Kak Roy aja? Tapi gengsi banget. Aku kan masih marah sama Kak Roy."


Ketika Helsa sedang asyik dengan pikirannya tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat nama Roy yang memanggil diponselnya.


"Panjang umur nih Kak Roy, baru aja dipikirin udah nelpon aja." Batin Helsa.


"Ada apa Kak?"

__ADS_1


"Kamu udah pulang kerja kan? Kakak tunggu diparkiran sekarang." tanpa menunggu jawaban dari gadis itu Roy langsung mematikan sambungan telponnya karena ia tidak ingin menerima penolakan dari gadis itu.


"Iissh apa-apaan sih nih cowok pake langsung matiin aja." gerutu Helsa sambil mengomel didepan ponselnya.


"Emang siapa yang nelpon?" tanya Wandi penasaran melihat Helsa yang cemberut dan menggerutu.


"Hmmm, temen gue." Malas rasanya menyebut pria itu sebagai pacarnya lagi karena hubungan mereka juga tidak jelas lagi seperti apa sekarang ini. "Sorry gue duluan ya Wan." Helsa berdiri lalu mengambil tasnya. "Makasih traktirannya. Lain kali kalau lo traktir, gue juga mau langkahin makanannya dulu sebelum gue makan." sindir gadis itu lalu tertawa meninggalkan Wandi yang terlihat kesal padanya.


"Sialan lo Sa–." Helsa hanya melambaikan tangannya tanpa melihat kebelakang.


Helsa langsung berjalan menuju parkiran dan terlihat disana sebuah mobil yang sudah dikenalnya dengan jelas siapa pemiliknya.


Tok...tok...tok...


Helsa mengetuk kaca mobil pria itu lalu Roy membuka sedikit kacanya. "Masuk–." perintahnya dengan tatapan yang serius.


"Ada apa lagi sih? Kok bawaannya bete terus setiap lihat dia. Tapi juga seneng karena rasa kangen gue juga terobati."


"Ada apa Kak?" tanya Helsa begitu duduk didalam mobil.


"Kamu bawa mobil?"


"Enggak tadi Ayah pinjem mobil aku buat ke Bandung, katanya mobil Ayah udah ga kuat dibawa perjalanan jauh. Udah tua katanya kayak orangnya." ucap gadis itu sambil memasang sabuk pengamannya.


Roy mulai menjalankan mobilnya.


"Terus kerja tadi naik apa?"


"Iiis pertanyaannya kok seperti ngintrogasi gini sih?"


"Tadi aku minta jemput sama Wandi."


Roy sebenarnya tahu kalau gadis itu tidak membawa mobil karena memang ia menyuruh salah satu orangnya untuk mengawasi Helsa takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada gadis itu. Roy tidak terima kalau Helsa dekat-dekat dengan Wandi makanya dia menyempatkan diri untuk menjemput gadis itu pulang kerja.


"Kamu pacaran sama dia?"


"Enggak."


"Kok dia mau jemput kamu?"


"Ya mau lah dia itu kan sahabat aku."


"Ga ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita kalau ga ada rasa diantaranya."


"Apa-apaan sih dia ini? Datang-datang marah-marah ga jelas."


"Kok Kakak ngomong gitu sih? Udah kayak dukun aja. Aku tuh beneran cuma sahabatan sama Wandi ga lebih."


"Iya, kamunya yang nganggep begitu, kalau tuh cowok apa bisa dipastiin kalau dia cuma nganggep kamu sahabatnya?" Perlu dikasih tahu nih cewek, sepertinya dia memang tidak menyadari kalau Wandi pria yang dianggapnya sebagai sahabatnya itu sebenarnya juga memiliki rasa padanya.


"Kenapa Kakak jadi nyolot gini sih?"


"Bukan nyolot, tapi cuma ngingetin jangan suka kasih harapan ke cowok lain kalau kamu sendiri ga punya rasa sama cowok itu."


"Siapa juga yang ngasih harapan ke dia? Wandi itu tahunya kalau aku pacaran sama Kakak."


Mendengar kata pacaran keluar dari mulut gadis itu membuat Roy tersenyum sementara Helsa langsung menutup mulutnya karena ia merasa telah keceplosan mengucapkan kata pacaran.


"Jadi kita masih pacaran nih?" Roy menggoda wanita yang duduk disampingnya itu.


"Dulu–." jawabnya cepat. "Sekarang ga jelas." Batin Helsa.


"Hei pacar, temani aku nonton yuk–."


Helsa tersenyum ketika Roy memanggilnya Pacar.

__ADS_1


Hei Readers, yang lagi senyum² 😍


B**eri Author Vote yach** 🤗


__ADS_2