My Soulmate

My Soulmate
Ketulusan Kinan


__ADS_3

Memaafkan adalah balas dendam terbaik meskipun sangat sakit, namun semua itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Mencoba memperbaiki hati yang sudah retak, menghidupkan kembali hati yang sudah menjadi batu buktinya ada di dalam dirimu, yakni dari cara balas dendam versimu.


Meskipun Kinan tau, memaafkan kesalahan orang lain yang membuatnya sakit bahkan sangat sakit membuatnya sangat sulit untuk dilupakan. Tapi bagi Kinan, sangat sakit lagi jika menyimpan dendam. Sebab, Kinan tidak ingin sifat dendam itu lahir kepada anaknya nanti yang pada akhirnya hutang orang tua harus terbayar lunas oleh sikap anaknya sendiri.


Kkkrrriiinnnggg!


Suara bel istirahat terakhir berbunyi, para siswa dan guru yang sibuk mengajar di kelasnya seketika mengakhiri aktifitas memberikan ilmu dan mengembangkan ilmu. Kini, satu demi satu siswa mulai berbondong-bondong keluar untuk menjalankan berbagai macam aktifitas biasanya.


Sementara di kantin yang perlahan mulai diisi penuh oleh para siswa, Kinan tengah duduk menikmati es jeruk yang ia pesan seketika dikagetkan oleh Ita, siswa satu kelas dengannya yang memiliki tampang judes tak peduli dengan keadaan sekitar.


"Astagfirullah, biasa kali lah, Ita," celetuk Kinan. "Untung saja gue udah nelen, kalau belum tanggung jawab loe sudah bikin gue kesedak."


"Hehehe ... habisnya loe serius amat," kekeh Ita.


"Hhhmmm ...," dehem Kinan kembali lagi fokus minum es jeruknya. Meskipun Kinan tau, Ita tidak selalu terlibat dalam urusan perundungan kadang-kadang ketika tatapannya bertemu, Kinan selalu mencoba baik-baik saja karena tahu arti tatapan yang diberikan oleh Ita.


"Kin, boleh gue bicara?"


"Kenapa?"


"Sebenarnya gue mau minta maaf selama tiga tahun ini, setiap kali gue lihat loe disakiti oleh orang tak beradab gue merasakan sakit yang teramat perih bahkan ketika gue menatap loe gue merasa kasihan sama loe. Loe itu mampu tapi kenapa loe engga bisa balesin perbuatan mereka, Kin. Jujur banget Kin, gue merasa menyesal setiap kali gue abaiin loe gue merasa seperti seorang pengecut dan pencundang. Pernah ketika, loe disiram oleh mereka gue pengen banget ngebelain loe, gue pengen banget bawain loe ke tempat yang bisa bikin loe tenang. Tapi, gue teringat ucapan mereka kalau gue ikut campur semuanya terancam. Jadi gue mohon, maafin gue Kinan ...," kata Ita sembari menunduk air matanya tak kuasa menahan kepedihan yang teramat mendalam.


"Gue juga mau minta maaf, Kinan," ucap Brayen tiba-tiba.


Ita yang mendengar itu tak peduli, penyesalan kepada Kinan begitu tinggi. Andai saja waktu diputar kembali Ita akan melakukan berbagai macam untuk menyelamatkan Kinan meski ancamannya adalah nyawa. Sedangkan Brayen duduk di sebelah Ita dengan wajah menunduk.


Kinan yang melihat dua sahabatnya, terlebih mendengarkan ucapan tulus Ita membuatnya tak bisa menahan tawanya. "Hei, ayolah! Kenapa kalian minta maaf? Kalian,'kan enggak salah, jadi ayolah maksudnya apa nih? Minta maaf?" kekeh Kinan menggeleng-geleng.


Ita dan Brayen kompak menatap Kinan membuat Kinan kembali lagi diam, setelah beberapa detik tertawa. "Kenapa lagi?"


"Apa loe enggak marah?" tanya Ita.


"Marah sih iya, bahkan kecewa pun iya," jawab Kinan santai membuat dua temannya kembali lagi menunduk. Melihat itu, Kinan menggeleng-geleng dan menahan bibirnya supaya tidak tertawa.


Sementara itu, dari balik kantin memperhatikan tiga orang seketika menyunggingkan senyumannya. "Teruslah bahagia, Kinan, Istriku, Bidadariku," gumam Fahad segera kembali lagi ke kelasnya dan mengurungkan niatnya.


"Tapi, asal kalian tau. Sekecewa apapun gue melihat temen gue yang natap gue seperti kasihan gue tetap tidak peduli dengan suasana itu bahkan gue merasa baik-baik saja makanya setiap kali gue melihat orang memandang gue seperti kasihan, gue harus terlihat baik-baik saja gitu. Jadi, sudahlah enggak usah kalian pikirin, gue enggak apa-apa," jelas Kinan sembari menggambarkan senyum manisnya seolah-olah beban berat yang menghantam seakan tak terasa bahkan ringan untuk ia pikul.


"Kinan, loe kenapa? Terbuat dari apa hati loe? Gue ingin loe bales perbuatan gue bagaimanapun itu, Kin! Gue mohon, hukum gue," lirih Ita dengan wajah yang masih menunduk.

__ADS_1


Kinan tersenyum dan mengenggam tangan Ita, sehingga tatapan keduanya bertemu. "Baiklah jika itu mau loe, gue akan menghukum loe."


"Apa itu?" tanya Ita dengan air mata yang terus membanjiri wajah ekotisnya.


"Ubahlah sikap loe, jadilah pribadi yang lebih baik untuk hari ini dan kedepannya. Itu hukuman dari gue buat loe, gampang,'kan?" Kinan kembali lagi tersenyum ke arah Ita hingga matanya menyipit akibat ketulusan hatinya.


'Bahkan gue lihat senyum loe itu, sudah membuatku terintimidasi. Tapi, nasihat loe membuat gue semakin menyadari. Betapa pecundangnya gue. Andai gue tau perasaan loe, mungkin gue sudah berubah total karena kelemah lembutannya hati loe,' batin Ita dengan wajah yang masih dipenuhi dengan penyesalan.


"Terus bagaimana dengan gue? Gue juga punya salah, bahkan waktu loe satu mobil dengan pak Fahad pun gue nyebarin rumor palsu, gue menyesal setelah itu," kata Brayen mengalihkan pandangannga ke lain arah. Jujur hati Brayen begitu menyesan, ia rela menulis jutaan kata maaf sebab Brayen sadar jika sudah membuat hati seorang itu kecewa maka akan sulit untuk mendapatkan maaf darinya.


"Gue sudah bilang, Bray! Gue sudah maafin kalian berdua bahkan yang di kelas pun sama. Tapi, bukan berarti pemaafan aku semuanya seratus persen melainkan lima puluh persen. Kenapa gue bilang gitu? Karena, kalau pengen dapetin maafan aku seratus persen kalian harus bisa merubah sikap kalian menjadi lebih baik lagi," ucap Kinan yang menuh kedamaian dan ketenangan.


Tatapan tulus dari Kinan berhasil membuat Brayen dan Ita terhanyut dalam jiwa tenangnya seorang Kinan. Bibir keduanha bungkam tidak ada yang berbicara, piirannya terhanyut kedalam imajinasi. Suasana itu kembali lagi menciptakan hening, tidak ada yang bersuara hanya bunyi dentingan sendok para siswa yang sedang mengisi perut kosongnya.


"Baiklah, jika itu adalah hukuman dari loe. Gue akan berusaha sebisa gue untuk memaksakan diri gue menjadi lebih baik. Tapi, bisakah kita berteman, Kinan?" tanya Ita memecahkan hening setelah beberapa detik karena pikirannya mencerna setiap perkataan Kinan seakan ada benarnya.


"Benar, Kinan. Gue akan melakukannya, jadi mau tidak kita berteman?" tanya Brayen ikut bicara juga.


Kinan tidak menjawab itu, senyum tergambar jelas di raut wajah blasterannya. Ia melirik seorang dengan pakaian dinas berdiri dari balik tembok, bahkan Kinan menyadari bahwa Fahad tengah memperhatikan dirinya seakan tidak ingin kejadian menyakitkan menimpa dirinya. Sehingga Kinan lebih memilih tidak tahu saja dan dalam hatinya terkekeh geli. 'Kalau mau bersembunyi minimal yang bener dong pak,' batin Kinan dan kembali lagi memandang dua orang yang menyesali perbuatannya.


"Jangankan bertanya seperti itu, gue sudah anggap kalian sebagai teman gue tanpa harus bertanya."


"Besplen?" tanya Kinan menyerit heran.


"Itu lho, bahasa gaul, Kinan. Besplen itu kata Best Friend jadi digaulin Besplen," jawab Brayen.


Kinan terkekeh geli mendengarnya. "Baiklah."


Tiga orang itu saling melempar cerita, tawa Kinan kembali menyinari warna kelabunya. Rasa sakit itu seketika tidak terasa, bahkan tiga orang itu mulai mengakrabkan diri seolah-olah mulai memperbaiki kesalahannya dari detik ini. Tawa ceria mewarnai Kinan setelah hari-harinya dipenuhi dengan senyum kepedihan, kini berkat jalan yang selalu Kinan libatkan Allah supaya jalan itu dipermudah akhirnya terlaksana.


Barakka yang melihat Kinan dari kejauhan hanya tersenyum, pandangannya tak bisa lepas dari Kinan. Karena, ini pertama kalinya Kinan bisa tertawa lepas dan bahagia. 'Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Kak,' batin Barakka dan kembali lagi berbincang dengan beberapa orang yang merupakan temannya.


••••••••••••••••••••••


"Aku tidak mau sama dia, Bu! Aku enggak pantas buat dia, Bu!" teriak frustasi Hafsah mengema hingga memenuhi ruangan dan seisinya.


"Nak, dia akan menerima kamu. Ibu yakni Alsaki itu orang baik, dia akan menerima kamu," kata Fatimah mencoba menyakini putri bungsunya.


"Tidak, bagaimanapun aku menolak!" tegas Hafsah dengan cairan bening luluh dari pelupuk mata indahnya. Hatinya terus beraduk antara ingin dan menolak. Alsaki yang begitu dia kagumi selalu Hafsah buang jauh, baginya dia tidak pantas untuknya. Tapi di satu sisi, anak yang malang.

__ADS_1


"Dek, tolong terimalah dia. Kakak yakin, dia akan menerima Adek," ucap Rizki ikut dalam pembicaraannya.


"Tidak, Ka," tolak Hafsah dengan rasa sesak menguar.


Budi hanya memejamkan mata. "Ayah percayakan Alsaki akan menerimamu, beliau sudah berkata pada ayah semenjak di rumah sakit. Bahwa dia tak peduli dengan atas apa yang menimpamu, bahkan dia juga mengetahui kehamilanmu secara tak sengaja karena saat ibu ayah sedang binggung sehingga ayah bercerita dengan ibumu sampai tak menyadari bahwa pembicaraan itu telah terdengar hingga telinga Alsaki."


Iya, Budi menceritakan semuanya dan merasa tersentuh dengan ucapan Alsaki tentang anak yang dikandung oleh Hafsah. Bagi Alsaki, entah anak siapa yang dikandung oleh Hafsah ia akan memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah walaupun bukan darah dagingnya. Sampai tak terasa cairan bening lolos dari mata sayu Budi, saat Alsaki berkata ia akan meminang Hafsah tanpa melibatkan masa lalunya bahkan Alsaki ingin menikahinya bukan karena kasihan melainkan cinta yang datang sebagai hadiah terindah.


Hafsah tertegun mendengar itu, hatinya begitu sesak seolah-olah merasakan benih cinta yang tumbuh. Ia tak kuasa membendung isak tangis air mata. Dirinya jatuh cinta pada Alsaki semenjak pertama kalinya bertemu di pesantren, saat itulah Hafsah tidak pernah berhenti berdoa berharap bisa bersatu dengannya. Tapi, takdir berkata lain Hafsah harus bersatu sesuai dengan jalan ketentuannya. Ia menunduk dengan tatapan kosong yang penuh air mata, meremas kuat gamis belum lagi dengan bibir bergetar menahan jeritnya jiwa.


Fatimah mengerti perasaan putri bungsunya itu, ia mendekap sang anak dengan kasih sayang mengelus lembut puncuk kepala dan menciumnya dengan kasih sayang. Meskipun Fatimah tahu bahwa Hafsah itu sudah dewasa, tapi di mata Fatimah Hafsah adalah gadis kecil yang berharga. "Ibu tau perasaanmu, Nak."


"Aku hanya takut ...," lirih Hafsah.


"Dia sangat baik, Nak. Percayalah," jawab Budi ikut merasakan apa yang dirasa oleh Hafsah, sedangkan Rizki hanya menunduk.


••••••••••••••••••••••••••


Bruk!


Prang!


'Sia*lan, gagal sudah rencana gue! Minumannya tumpah,' batin seorang wanita dengan pakaian berserba hitam persis seperti seorang pegawai yang bekerja di kantin sekolah yayasan.


"Astagfirullah," kata Barakka segera membantu pegawai wanita itu dan membereskan minuman yang jatuh. "Saya tak sengaja, maafkan saya."


Pegawai wanita itu berusia seumuran dengan Barakka, hanya saja dirinya putus sekolah akibat ekonomi keluarga. Ia segera berdiri dan menatap sinis dalam hatinya. "Tidak apa-apa."


"Maafkan saya, Mbak," ucap Barakka.


"Iya tidak apa-apa," kata Tisya dan tersenyum.


Barakka yang sudah selesai membereskan itu, ia segera menyodorkan beberapa uang lembar berwarna merah sebagai penggantinya. Tisya yang terpaksa akhirnya menerima uang gantian Barakka, dan mengucapkan terima kasih dan segera oergi dengan perasaan kesal bercampur aduk. 'Gagal lagi, gagal lagi!' batinnya.


•••••~~~•••••


Terima kasih yang sudah membaca padahal ceritanya belum seasyik atau sekeren yang lain karena saya masih belajar, terutama saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada yang memberi kritik dan saran yang membangun🤗❤


Semogaa hari-harimu penuh dengan kebahagiaan🤗❤

__ADS_1


__ADS_2