
Menjelang pernikahan, katanya bakal ada saja godaan dan cobaan yang melanda pasangan. Bahkan meskipun persiapan pernikahan sudah rampung nyaris seratus persen, restu dari kedua keluarga sudah dikantongi, masih ada saja godaan yang bakal membuat salah satu pihak ragu.
Apalagi pernikahan yang terjadi antara Haidar dengan Kalycha bukanlah pernikahan atas dasar saling mencintai.
H-3
Kalycha masih bersekolah dirinya tidak bisa izin untuk tidak sekolah. Apalagi akibat insiden itu Kalycha sempat tidak masuk sekolah beberapa hari. Sehingga banyak tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakannya.
"Kakak ku Dit–." itu pengakuan yang bisa diucapkan Kalycha pada teman-temannya karena tidak mungkin baginya untuk mengakui Haidar sebagai tunangan atau calon suaminya.
"Oh, Hallo Kak. Saya Aditya temannya Kaly, ini Dion dan Lala." Aditya tetap bersikap ramah meskipun sebenarnya ia merasa aneh melihat tatapan Haidar padanya.
"Kaly? Sepertinya itu panggilan khusus buat Icha." Batin Haidar.
"Dion– / Lala–." ucap Dion dan Lala sambil menyalami Haidar bergantian.
"Haidar–."
Haidar dan Lala pura-pura tidak saling mengenal. Meskipun sebenarnya Lala sangat kesal dan takut pada Haidar tapi ia tidak ingin menunjukkannya.
"Jadi dia Kakak Icha. Pantas saja dirinya sangat peduli sama Icha." Batin Lala
"Ayo kita pulang–." Haidar meraih tangan Kalycha.
"Makasih ya Dit, gue pulang dulu ya." ucap Kalycha sambil tersenyum kepada Adit.
"Oooo, jadi ini bukan rumah Lala. Terus ngapain lagi pake senyum-senyum segala."
"Gue duluan ya Dion, Lala–." Dion dan Lala pun menganggukkan kepalanya.
*
*
*
*
*
Kalycha sudah berada didalam mobil bersama dengan Haidar. Sudah 20 menit dalam perjalanan mereka hanya diam saja.
"Sudah makan?" pertanyaan Haidar memecahkan kebisuan diantara mereka.
"Sudah Om–." jawab Kalycha dengan malas, dirinya sibuk menatap keluar jendela.
"Om? Tadi kamu bilang aku Kakak kamu didepan teman-teman mu kenapa sekarang kamu panggil aku Om?" Haidar melirik kearah Kalycha dirinya sudah mulai membiasakan diri untuk memanggil nama Kalycha atau menyebut aku-kamu yang biasanya Haidar selalu menyebut Kalycha dengan sebutan Nona.
"Terus maunya Om, Icha panggil apa? Kakak? Sayang? Bebeb atau apa?" Kalycha yang dulu dengan senang hati memanggil Haidar Kakak tapi Haidar menolaknya. Sekarang dirinya protes dengan Kalycha yang memanggilnya dengan sebutan Om. Dan itu berhasil membuat Kalycha kesal.
"Terserah kamu mau panggil apa. Tapi pilih yang pantas untuk kamu panggil karena aku adalah calon suami kamu. Bukan Om kamu." Haidar menegaskan kalimat belakangnya.
"Icha udah nyaman manggilnya Om Hai." Kalycha menolak mengubah panggilannya kepada Haidar.
"Terserah kamu deh. Dasar bocah–." Haidar sudah malas untuk berdebat dengan Kalycha.
"Kalau Om tahu aku ini Bocah, kenapa Om mau nikah sama Bocah?" tanyanya ketus.
"Kamu pikir aja sendiri. Kamu pikir aku menikahi kamu itu karna ulah siapa?" Kalycha terdiam. Ia sadar kalau semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri.
"Terus tadi pagi kamu bilang mau belajar dirumah Lala. Tapi nyatanya tadi rumah siapa? Belum jadi istri aja kamu udah berani bohong gimana nanti udah jadi istri."
"Sebelumnya memang kesepakatannya begitu Om, belajarnya mau dirumah Lala tapi ga tahu kenapa Lala menolak belajar dirumahnya. Dan dari kita berempat tadi, rumahnya yang lebih dekat kesekolah itu ya rumah Adit."
__ADS_1
"Terus kenapa ga bilang?"
"Inikan udah dikasih tahu. Kenapa sih ngegas mulu."
"Tadi maksudnya."
"Lupa." Kalycha kesal lalu memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.
Suasana di dalam mobil kembali hening. Hanya lantunan suara musik dari radio yang menemani perjalanan mereka.
"Loh kita ini dimana Om?" tanya Kalycha saat Haidar menghentikan mobilnya dan membuka seatbelt-nya.
"Kamu ga bisa baca ya?" Haidar memang sudah kesal dari pertama dirinya tahu kalau Icha membohonginya.
"Iya aku tahu ini butik, tapi untuk apa kita kesini?"
"Makan bakso–." ucap Haidar asal. "Ya untuk fitting baju pengantin lah–. Ayo keluar, Bunda sama Ibu udah nunggu didalam."
"Bunda? Ibu? Apa maksudnya Bunda Nayla sama Ibu itu Ibunya Om Hai ya?"
Haidar membuka pintu mobil untuk Kalycha begitupun saat ingin masuk kedalam butik Haidar kembali membukakan pintu untuk Kalycha. Meskipun sederhana tapi itu sudah menunjukkan rasa pedulinya pada calon istrinya itu.
"Kalian sudah datang sayang?" Nayla mendekati Kalycha yang baru saja masuk.
"Iya Bun–." jawab mereka bersamaan lalu mencium punggung tangan Nayla dan Halimah bergantian.
"Udah fasih aja dia nyebut Bunda sama Bunda." Batin Kalycha
"Bu–."
"Tante–."
"Kok Tante sih nak. Panggil saja Ibu sama seperti Haidar memanggil Ibu." protes Halimah karena dirinya mendengar Haidar sudah mulai memanggil calon mertuanya itu dengan sebutan Bunda.
"I-iya Bu. Maaf Icha belum terbiasa."
"Maaf Nyonya apa calon pengantinnya sudah datang?" tanya salah seorang penjaga butik itu.
"Sudah–." jawab Nayla cepat.
"Waah ganteng banget." Penjaga butik itu tersenyum melihat Haidar memuji ketampanan Haidar dalam hatinya.
"Calon pengantin wanitanya belum datang ya Nyonya?"
"Ini calon pengantin wanitanya." Nayla merangkul bahu Kalycha.
"Apa? Gila, dia kan masih SMA. Jadi cowok ini mau nikahin anak SMA? Apa mereka MBA Married by Accident gitu?" Haidar menyadari tatapan aneh dari penjaga butik itu.
"Oh, maaf saya kira tadi adiknya." Penjaga toko itu merasa tidak enak. Sedangkan Kalycha langsung menatap tajam pada Haidar.
Wajar saja penjaga toko itu kaget karena saat itu Kalycha memang masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Dia lagi ikut casting audisi jadi anak SMA tadi, jadi belum sempat ganti baju karena langsung diminta datang kesini sama Ibu." Haidar terpaksa berbohong pada penjaga toko itu untuk menutupi kesalahannya.
Nayla dan Halimah pun baru menyadari kalau Kalycha belum mengganti seragam sekolahnya.
"Maaf aku lupa nyuruh kamu ganti baju dulu tadi." Haidar berbisik ditelinga Kalycha.
"Mari saya bantu untuk mencoba gaun pengantinnya." ucap penjaga Toko itu.
"Ya udah kalian langsung masuk aja yah, fitting bajunya." Nayla menggandeng Kalycha untuk masuk ke dalam ruang ganti.
"Bun, Bunda udah pilihin gaunnya?" Kalycha menatap takjub pada gaun pengantin yang terpajang di manekin itu.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kamu ga suka ya?" tanya Nayla.
"Ini cantik banget Bunda, Bunda tau aja seleraku seperti apa."
"Tapi bukan Bunda yang pilihin sayang."
"Terus siapa? Ibu?" Kalycha menatap Nayla penasaran
"Bukan tapi calon suami kamu yang pilih."
"Apa?" Kalycha terkejut. "Ga nyangka bagus juga seleranya. Kirain tahunya cuma berkutat dengan laptop dan pekerjaannya saja."
"Mari Nona biar saya bantu." ucap salah satu pelayan butik itu. Kemudian Nayla menunggunya diluar bersama dengan Halimah calon besannya.
Tak lama kemudian Haidar keluar dari ruang ganti. Halimah begitu kagum melihat ketampanan wajah anaknya itu. Tak terasa airmatanya menetes. Haidar melihat Halimah yang menangis langsung memeluknya.
"Ibu kenapa menangis?" Haidar menghapus airmatanya Ibunya itu.
"Perasaan Ibu, baru kemarin Ibu nimang kamu di pangkuan Ibu Nak, sekarang kamu dewasa bahkan udah mau menikah. Nanti kamu akan ninggalin Ibu dan ga sayang lagi Ibu." Halimah terus saja menangis sudah seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi Ibunya shoping ke Mall.
"Bu, ga ada yang bisa menggantikan kasih sayang dan cinta Ibu ke Haidar. Cinta Haidar ke Ibu juga ga akan pernah berubah Bu. Cuma setelah menikah Haidar mempunyai kewajiban lain, yaitu menjadi Imam di keluarga kecil Haidar. Bertanggung jawab untuk istri dan anak-anak Haidar nanti. Ibu tetap Ibu yang terbaik untuk Haidar Bu." Haidar kembali memeluk Halimah.
"Udah dong Bu jangan menangis lagi. Ga malu apa dilihatin mewek terus sama calon besannya." Haidar melonggarkan pelukannya dan menghapus kembali airmata Haidar.
"Maaf ya Bun, Ibu memang suka begini orangnya. Terlalu sensitif, sentuh sikit langsung aktif. Hehe."
"Kamu apa-apa sih nak, buat malu Ibu aja." Halimah menepuk bahu Haidar pelan.
"Iya ga apa-apa. Semua orangtua juga begitu. Apalagi saat melepaskan anak perempuannya untuk dibawa oleh suaminya. Itu sangat berat bagi semua orangtua didunia ini. Saya juga begitu waktu menikah dengan mas Pram dulu. Orangtua saya juga awalnya berat untuk melepaskan saya. Apalagi yang menikahi saya itu seorang duda dan sudah punya anak gadis. Untuk mendapatkan restu diawal saja susah sampai akhirnya Abah dan Mamah setuju karena melihat ketulusan dari Mas Pram." Nayla mengulang kembali memorinya dulu. Awalnya memang orangtua Nayla tidak setuju dengan hubungan Nayla dan Pram tapi karena melihat keseriusan Pram yang benar-benar mencintai putri mereka akhirnya mereka setuju.
Kalycha mendengar semua ucapan Ibu dan anak itu serta perjalanan kisah Bundanya dibalik tirai ruang ganti itu. Airmatanya menetes mengingat betapa kasarnya dirinya dulu kepada Nayla. Ia begitu menyesali sikap kasarnya yang dulu pada Nayla.
"Apa Daddy juga begitu? Apa Daddy juga akan sedih ketika harus melepaskanku nanti? Mommy Icha kangen Mommy." Kalycha menghapus airmatanya dan menganggukkan kepalanya meminta penjaga butik itu untuk membuka tirainya.
Penjaga butik itu lalu membuka tirai ruang ganti Kalycha dan terlihatlah pemandangan indah. Kalycha begitu cantik bak bidadari.
"Wow cantik sekali calon makmummu Haidar. Nanti pas MP aku boleh ngintip yah–." Suara si Angel.
"Ngapain Lo ngintip? Ntar nafsu loh. Kalau lo nafsu mau dilampiasin kesiapa? Hayooo?" Suara si Devil.
"Kalian ga boleh ngintip, kalau kalian pengen, kalian lakuin aja berdua." Batin Haidar.
"HAIDAR KAMI ITU GA BISA JADI SATU." Bentak keduanya.
"Angel dan Devil kompak nih yee–." Haidar kembali berhayal berkomunikasi dengan dua makhluk tak nyata itu.
"Nak cantik ya calon istrimu." ucap Halimah sambil menepuk pelan bahu Haidar.
"Iya Bu, jadi pengen nyicip." ucap Haidar setengah sadar.
Nayla tersenyum mendengar ucapan Haidar sementara Kalycha membulatkan matanya menatap tajam pada calon Imamnya itu.
"Apa pengen nyicip? Om itu dah ngelakuinnya lebih dari nyicip tau." Gerutu Batin Kalycha.
"Haidar kamu itu ngomong apa sih?" Kali ini Halimah menepuk bahu anaknya itu lebih keras dari sebelumnya sehingga membuat Haidar sadar dari hayalannya tentang MPnya nanti bersama Kalycha.
"Auww, sakit Bu–, Emang Haidar ngomong apa Bu?" Haidar menghapus bahunya yang dipukul Halimah. Haidar tampak bingung kenapa Halimah memukulnya.
"Kamu barusan bilang–."
"Gimana Om, cocok ga?" Kalycha memotong ucapan calon Ibu mertuanya itu sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"APA? OM?" Halimah kaget mendengar panggilan Kalycha kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Kok panggil Om sih nak sama calon suami sendiri?" Halimah mendekati Kalycha.
Jumat Berkah bagi Author bunga dong 🤗