
Mendengar teriakan Halimah dari luar kamarnya membuat Haidar tersenyum licik. Mata mereka saling beradu. Kalycha tak tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya itu. Ada ketakutan tersendiri dalam hatinya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh mas–." Kalycha mengalihkan pandangannya melihat kesembarang arah.
"Kok kamu ngomongnya gitu? Emang kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku?" sahut Haidar dengan seringai liciknya. Kalycha yang ditatap tidak mau kalah malah membalas menatap dengan tatapan membunuhnya.
"Yang pastinya itu, pasti pikiran mesum." Kalycha berjalan ketempat tidur dan duduk ditepi tempat tidur yang berukuran king size itu.
"Mesum sama istri sendiri itu ga dosa. Kecuali aku mesumnya sama cewek lain, itu baru dosa." Haidar membuka jas kerjanya dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
"Boleh aja mesum sama cewek lain tapi sebelum itu ceraikan Icha dulu." Ucapan kata cerai kembali lolos dengan mulus dari mulut Kalycha.
Haidar berjalan mendekati Kalycha yang duduk ditepi tempat tidur dan langsung mencomot bibir Kalycha.
"Nih mulut ga bisa dijaga dari tadi ngomongannya cerai mulu. Emang kamu mau, masih muda udah menyandang status janda?" Kesal rasanya mendengar perkataan itu lagi yang keluar dari bibir Kalycha.
"Sekarang status Janda lagi nge-hits mas–." sahut Kalycha asal sambil mengusap bibirnya dengan tangan kirinya yang bekas comotan tangan Haidar.
Haidar mendekati Kalycha dan langsung mencium bibirnya. Kalycha ingin menolak tapi apa daya karena tangannya yang sakit membuatnya sulit untuk menghindari dari ciuman suaminya itu. Lalu Haidar duduk disampingnya. Kalycha menggeser duduknya menghadap kearah Haidar.
"Mas–, Icha belum siap untuk punya anak. Ijinkan Icha lulus dulu ya Mas." pintanya lirih. Haidar juga menyadari hal itu tanpa diminta Kalycha pun dirinya juga sudah tahu akan hal itu. Tidak mungkin dia membiarkan Kalycha hamil diusianya yang masih sangat muda.
"Tadi barusan kamu ga dengar ucapan Ibu?" Haidar sengaja ingin menggoda istrinya itu. Dan benar saja Kalycha langsung melotot menatap tajam pada Haidar tapi Haidar yang ditatap malah senyum-senyum.
"Iya Mas, tapi kan Icha masih sekolah. Kita boleh kan menunda dulu sampe Icha lulus sekolah."
"Tapi kalau aku minta hakku boleh kan?" Haidar memasang senyum terindahnya sambil memainkan alis matanya.
Kalycha terdiam bingung harus menjawab apa. "Icha belum siap Mas." lirihnya pelan.
Ada kekecewaan dihati Haidar mendengar jawaban dari istrinya itu. Namun dirinya juga tidak boleh egois. Apalagi sekarang tangan Kalycha juga sedang sakit.
"Sini aku suapin makannya." Haidar mengambil makanan yang dibawakan Ibunya untuk Kalycha. Mengalihkan pembicaraan mereka yang pastinya akan membuatnya harus kembali mengalah.
"Icha mau ganti baju dulu mas." Kalycha mulai manja dengan suaminya itu.
"Kenapa ga bilang dari tadi?" Haidar kembali meletakkan piringnya dan membantu Kalycha melepaskan penyangga tangannya.
"Icha malu, Mas masih disini." Kalycha malu dan menundukkan kepalanya.
"Lah terus kamu maunya aku kemana?" Haidar masih pura-pura tidak mengerti maksud ucapan Kalycha. Entah sejak kapan dirinya punya hobi baru yaitu menggoda istri SMAnya itu.
__ADS_1
"Mas keluar dulu sana." Kalycha mendorong tubuh suaminya supaya beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya.
"Emang bisa ganti baju sendiri? Tangan kamu kan sakit."
"Iya sih, tapi kan aku malu kalau harus diliatin."
Haidar melihat kebingungan Kalycha. "Udah tahu sakit masih aja gengsi."
"Udah jangan banyak berpikir. Sini biar aku bantu. Kamu itu ngapain juga malu. Aku kan udah lihat semuanya."
Kalycha menepuk bahu suaminya itu. "Iiih, mas curang."
Haidar menangkap lain maksud dari ucapan istrinya itu dan kembali Haidar tersenyum licik.
"Kenapa? Kamu mau liat punyaku juga? Boleh–." Haidar berdiri dan langsung membuka tali pinggangnya.
"Mas–." Kalycha menutup matanya dengan tangan kirinya. Haidar tertawa puas sudah mengerjai istrinya itu.
"Udah sini biar mas gantiin baju kamu." Haidar berjalan kearah lemari yang ada di kamarnya.
"Mau pake baju yang mana?"
Haidar membuka isi koper Kalycha. Kalycha memang sengaja tidak mengeluarkan semua pakaiannya karena mereka akan tinggal dirumah barunya. Akan repot jika harus mengeluarkannya kemudian menyusunnya kembali.
Haidar memilih salah satu baju kaos seperti yang dikatakan Istrinya itu. Tapi Haidar tidak menemukan celana pendek yang pantas untuk Kalycha pakai dirumah.
"Kenapa semua bentuknya hotpants begini? Ga ada yang lain ya?"
Haidar menautkan kedua alisnya. Saat melihat celana pendek yang Kalycha miliki semuanya kurang bahan begitu dan jika Kalycha memakainya tentulah akan memamerkan bagian pahanya yang mulus. Itu yang membuat Haidar tidak rela kalau bagian tubuh mulus istrinya itu menjadi konsumsi publik.
"Aku cuma punya yang begitu. Nikahnya kan mendadak jadi belum sempat beli baju baru."
Kalycha yang memang masih berstatus anak SMA itu mana punya baju-baju seperti yang Haidar mau. Di rumahnya hanya ada Bunda dan Daddynya saja beserta pekerja rumah yang lain dan karena memang kebiasaannya dari kecil sudah memakai pakaian yang seperti itu jadi sudah biasa saja orang rumahnya melihatnya dengan pakaian yang seperti itu.
"Kamu pakai daster ibu aja kalau ga." usul Haidar.
"Ga mau mas, masa aku pake daster Ibu sih. Aku kan belum ibu-ibu."
"Sebentar lagi juga jadi Ibu-ibu. Udah ga usah ngebantah. Sebentar aku pinjam punya Ibu dulu."
Kalycha menatap punggung Haidar yang mendekati pintu lalu keluar dari kamarnya. Dirinya ingin menolak tapi dia juga tidak bisa membantah ucapan suaminya itu. Akan ada baiknya bila dia mulai menjadi istri yang patuh pada suaminya.
__ADS_1
Tak selang beberapa lama Haidar masuk ke kamar dengan dua buah daster di tangannya.
"Nih Ibu kasih dua. Kamu pilihlah mau pakai yang mana?" Haidar meletakkan daster yang ditangannya di sisi Kalycha.
"Bagus juga dasternya. Ga keliatan kayak daster malah kelihatan seperti gamis."
"Ini beneran punya Ibu?"
"Ya enggaklah, itu punya Elsa. Ibu bilang kamu ga boleh pakai baju Ibu. Takut nanti Ayah salah mengira kamu adalah Ibu, istrinya. Soalnya Ayah tuh punya kebiasaan, kalau pulang kerja pasti peluk Ibu dulu. Aku ga rela lah, kalau Ayah salah peluk kamu."
"Haah? dia ga rela? Apa Mas Haidar benar-benar menyukaiku?" Kalycha tersenyum mendengar ucapan suaminya itu
"Oh–, pantesan cantik bajunya. Tapi apa ga apa-apa kalau aku pake baju Kak Elsa? Dia kan belum pulang kuliah Mas. Ga sopan rasanya pakai baju orang tanpa ijin dulu sama yang punya."
"Ga apa-apa, itu juga Ibu yang pilihin. Dan kamu ga usah panggil Elsa Kakak, bagaimanapun dia itu adik iparmu."
"Tapi Mas, Icha ga enak. Beda umurnya sama Icha jauh diatas Icha."
"Terserah kamu deh." Haidar menyerah. "Apa kamu ga mau mandi dulu?"
"Pengennya sih, tapi gimana cara mandinya? Tangan aku sakit begini. Kalau nanti dia maksa mau bantuin mandi gimana?"
"Kalau gitu Icha makan dulu deh mas." Kalycha sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Dirinya masih merasa takut kalau-kalau nanti Haidar memaksanya untuk memandikannya.
"Ya udah duduk sini." Haidar menepuk tepi tempat tidur.
Sebagai seorang suami Haidar sudah berusaha membuat Kalycha bahagia dan merasa nyaman bersamanya. Seperti saat ini dia membantu menyuapi Kalycha makan karena kondisi Kalycha yang memang kesulitan untuk makan.
Begitu selesai makan Haidar bersikeras membantu Kalycha mandi meskipun awalnya Kalycha menolak tapi tetap saja dia memang memerlukan bantuan suaminya untuk melakukan apapun.
"Seleaai. Udah beres."
Seperti seorang Ibu yang menyiapkan semua keperluan anaknya begitulah Haidar memperlakukan Kalycha sat itu. Meskipun dirinya harus menelan berat salivanya berulang-ulang dan menahan gejolak yang membangunkan juniornya itu.
"Makasih ya Mas–."
"Eeiits jangan cuma makasih doang. Nih udah bangun loh." Haidar menunjukkan bagian bawahnya dengan lirikan matanya. Kalycha yang melihatnya pun merasa ngeri, karena baru kali ini dirinya melihat benda yang tersembunyi itu tampak membengkak dan membesar.
"Kamu harus tanggung jawab." Haidar kembali memasang seringai liciknya.
"Aaaa.... ENGGAK MAU."
__ADS_1
Cobaan saat Puasa 🤭
Like dan Coment yach 😍