
Pasangan pengantin baru itu sedang menikmati honeymoonnya dengan berjalan-jalan di pantai Nihiwatu.
Pantai Nihiwatu Sumba merupakan surga dunia yang sulit disentuh. Ternyata Sumba, Indonesia, sudah terkenal dengan keindahan pantainya sampai ke mancanegara. Tak sia-sia Haidar mencari informasi destinasi tempat honeymoon yang romantis di Internet. Haidar sengaja tidak membawa istrinya itu untuk pergi jauh-jauh keluar negeri, karena dinegaranya sendiri saja ada tempat yang sangat menarik dan indah di pandang mata wisatawan dunia.
Haidar tertarik untuk pergi kesana karena tempat itu memiliki Pantai yang sangat indah, nyaman dan tenang, sehingga siapapun yang berkunjung kesana akan merasakan suasana pantai seperti milik sendiri. Suasanya yang tenang, sepi, nyaman dan indah tempat itu sangat tepat untuk bermanja dengan pasangan.
"Kamu suka tempatnya Yang?" Haidar menemani Kalycha yang sedang bermain dengan ombak laut yang menyapu pasir pantai. Membiarkan kakinya basah terkena terpaan siraman air asin itu.
"Suka banget Mas–, ga tahu kalau di negara kita juga ada tempat yang sebagus ini." ucapnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Syukur deh kalau kamu suka."
"Mas tahu dari mana tempat ini? Apa Mas Hai pernah datang kesini?" tanya Kalycha yang masih terus bermain dengan air.
"Enggak, Mas Googling di internet. Tadinya mas mau ngajak kamu ke bali tapi menurut mas sepertinya sudah banyak orang-orang yang melakukan monen honeymoonnya disana. Makannya mas cari reverensi yang berbeda. Cuma perjalanan kesininya memang cukup jauh."
"Iya sih, tapi rasa capeknya terbayarlah mas kalau liat tempatnya sebagus dan seindah ini."
"Mas senang kalau kamu suka."
"Banget!!!" ucapnya lalu mengecup bibir Haidar, membuat sang empunya bibir terkejut dengan keberanian istrinya itu yang menciumnya ditempat umum. Namun Haidar hanya tersenyum senang karena di villa yang mereka tempati memang sepi dan hanya ada mereka berdua.
"Mas fotoin aku–." teriakan Kalycha membuyarkan lamunan Haidar. Lalu mereka pun mengabadikan setiap momen bahagia mereka, menikmati senja yang mulai menyapa. Sunset sore itu terlihat begitu indah. Warna keemasan yang menghiasi langit sore itu tak luput mereka abadikan.
...💞 💞 💞 💞 💞...
Ditempat lain di sebuah apartemen mewah seorang pria sedang panik karena wanita yang dicintainya tak kunjung sadar. Akhirnya Roy memutuskan untuk manggil dokter Tio Sadewa dokter pribadi keluarga Bramasta sekaligus sahabatnya itu.
"Sebenarnya dia kenapa Tio?" tanya Roy, pria itu sangat panik dan khawatir dengan kondisi Helsa yang belum juga sadar.
"Sepertinya dia hanya kelelahan, perutnya juga kosong." jelas dokter Tio sambil menekan stetoskop diperut Helsa. "Kapan terakhir kali dia makan?"
"Gue ga tahu Yo. Ada apa emangnya? Tadi gue mau nemuin dia, dan ga lama dia pingsan." Roy tidak ingin menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa gadis itu kepada Tio.
"Dia juga stress ini, makanya asam lambungnya naik, ditambah lagi dia belum makan."
"Ya udah, ini udah gue suntikkan obat Ranitidine, mudah-mudahan dia cepat pulih. Dan satu lagi kalau dia udah sadar langsung dikasih makan dan sebaiknya makan makanan yang lunak dulu." jelas Tio lalu memberikan beberapa obat lainnya untuk diminum.
Roy menerima obat dari Tio lalu dokter itu pun permisi untuk kembali kerumah sakit tempat bekerja.
Roy meninggalkan Helsa dikamarnya. Lalu ke dapur memasakkan bubur untuk kekasihnya itu. Tidak jelas hubungan mereka sekarang itu seperti apa, yang penting saat ini bagi Roy adalah kesembuhan gadis itu.
Helsa terbangun dan langsung melihat kesekitarnya. Dirasakan rasa nyeri dan sakit dipergelangan tangannya.
Dilihatnya tangannya yang sudah terpasang infus tapi dia melihat tempat itu bukan rumah sakit.
"Aku dimana?" Helsa bangun dan duduk bersandar di tempat tidur itu. Ketika matanya sedang memandang ke sekitar kamar itu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan dilihatnya seorang pria sedang memegang nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air putih diatasnya.
"Kamu udah bangun?" tanya Roy lalu meletakkan nampan itu diatas meja.
__ADS_1
"Aku dimana Kak?"
"Diapartemenku."
Helsa memang pernah datang ke apartemen Roy tapi baru kali ini gadis itu masuk kedalam kamar pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Banyak pertanyaan yang ingin Roy tanyakan kepada Helsa tapi ia menahannya karena yang lebih penting baginya saat ini melihat gadis itu sembuh.
"Kamu makan dulu ya–." Roy mengambil mangkuk bubur itu sambil meniup-niupnya pelan.
"Aaa–." Roy mengangkat tangannya ingin menyuapi Helsa.
"Aku ga lapar Kak–." Helsa memalingkan wajahnya menolak suapan dari Roy.
"Kakak ga nanyak kamu lapar atau tidak Sa–. Kakak hanya ingin kamu makan terus minum obat." Roy kembali mengangkat tangannya dan mengarahkan sendok yang berksi bubur ke depan mulut Helsa.
"Aku bisa makan sendiri Kak, letakkan aja dimeja dulu. Nanti Helsa makan."
Roy menarik nafasnya dalam-dalam, menahan rasa kesal karena sedari tadi wanita itu terus saja menolak kebaikannya.
"Kamu kenapa keras kepala begitu sih Sa? Disuruh makan aja susah. Kamu itu senang di infus lama-lama? atau kamu senang berlama-lama dikamar aku?" Roy marah tapi diselipkannya candaan didalam kalimat ucapannya.
"Siapa juga yang minta di infus. Dan aku juga ga sudi lama-lama dikamar Kak Roy" ucap Helsa sambil ingin melepaskan imfusannya. Tapi Roy menahannya.
Tak di ingatnya lagi betapa senangnya ia saat pria itu datang menemuinya. Rasa sakit hati saat melihatnya dicafe waktu itu kembali mengingatkannya. Rasa rindu yang membuatnya hampir gila itu seketika hilang entah kemana.
"Kamu itu keras kepala banget ya Sa. Bisa ga sih kamu itu jadi gadis manis dan penurut." Roy berusaha menahan diri dan egonya untuk tidak marah-marah didepan gadis itu.
"Helsa Isaura Yudistira." Roy menyebut nama lengkap gadis itu, masih mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak meledak. Harus butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi gadis itu. Mendengar namanya disebut dengan lengkap spontan Helsa menghentikan tangannya yang akan membuka selang infus yang ada ditangannya.
"Duduk–." perintah Roy tegas. Dan seperti kerbau yang ditusuk hidungnya Helsa pun kembali duduk ditempat tidurnya. Tak ada lagi senyum diwajah pria itu. Tatapannya sangat serius. Disendoknya kembali bubur itu lalu didekatkannya ke mulut Helsa.
Mau tidak mau gadis itu membuka mulutnya lalu mulai memakan bubur yang dimasak oleh Roy khusus untuknya.
Tak ada yang berani membuka suara hanya dentingan suara sendok dan mangkuk yang terdengar dikamar itu.
Setelah menghabiskan buburnya Roy memberikan obat yang di resepkan Tio kepada Helsa.
"Kamu istirahat saja dulu. Jangan berpikir yang macam-macam atau berpikir untuk pulang. Kalau kamu ada butuh sesuatu aku ada diruangan tengah." ucap Roy lalu keluar dari kamar itu.
Sebenarnya Helsa sangat senang bisa bersama pria itu lagi, tapi rasanya gengsi untuk mengakui perasaannya itu sekarang. Apa lagi beberapa waktu lalu ia melihatnya bersama seorang gadis.
"Kak, kenapa sih Kakak baik banget sama Helsa, kalau begini caranya sulit buat Helsa ngelupain Kakak." Helsa kembali menangis. Dirinya teringat kembali tentang apa yang sudah terjadi padanya siang tadi dirumah sakit tempatnya kerja.
Helsa menangis dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar sampai keluar. Tapi saat itu Roy tidak benar-benar menuju diruang tengah apartemennya. Setelah menyimpan mangkuk dan gelas makan Helsa ia ingin kembali ke kamarnya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
Roy pun meminta anak buahnya untuk menyelidiki apa yang terjadi dirumah sakit tempat gadis itu bekerja.
Tak butuh memakan waktu lama. Roy sudah menerima laporan dari orang suruhannya itu. Dan betapa terkejutnya Roy mendengar laporan dari orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Roy membuka pintu kamarnya dan melihat gadis itu sedang menangis.
"Katakan apa yang sudah dilakukan dokter Handoko padamu?" suara tegas Roy membuat Helsa terperangah apa lagi ketika mendengar kalau pria itu tahu nama dokter yang sudah melecehkannya itu.
"Bagaimana Kak Roy tahu nama dokter Handoko?"
"Katakan Helsa, apa yang sudah dokter Handoko lakukan padamu?" Roy mengulang pertanyaannya dengan nada suara naik satu oktaf.
"Dokter Handoko ga melakukan apa-apa Kak."
"Jangan bohong Helsa Isaura Yudistira?"
"Helsa ga bohong, justru Helsa yang melakukan kesalahan padanya."
"Tapi itu tidak kamu sengaja kan?" Roy sudah mendapatkan informasi yang detail mengenai kejadian yang terjadi pada Helsa saat diruang operasi. Karena orang suruhannya itu langsung bertanya kepada salah satu perawat yang ada didalam kamar operasi itu.
"Tapi tetap saja Helsa yang salah Kak–."
"Lagi pula Kakak tahu dari mana kalau Helsa sedang bermasalah dengan dokter Handoko?"
"Soal Kakak tahu dari mana itu bukan urusan kamu. Yang kakak mau tahu sekarang kenapa kamu sampai menangis histeris seperti itu ditaman tadi?"
"Itu–." Helsa bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Roy.
"Katakan Helsa." Roy seperti hilang kesabarannya, dirinya ingin segera tahu apa yang terjadi dengan Helsa.
Informasi yang didapatnya tentang pribadi dokter Handoko membuatnya tidak percaya kalau gadis yang duduk didepannya itu baik-baik saja.
"Kak, Helsa akan ceritakan tapi tolong jangan sampai Kak Haidar tahu ya kak." Roy pun mengangguk kepalanya. Menyanggupi permintaan gadis itu.
"Sebenarnya itu kesalahan Helsa kak, saat Operasi tadi Helsa ga fokus pas kerjanya. Hampir saja orang yang sedang dioperasinya itu meninggal Kak, karena waktu operasi aku melamun sampai ga sadar kalau pasiennya mengalami penurunan kesadaran dan terkena serangan jantung mendadak. Dan pasien itu dapat diselamatkan._
"Dokter Handoko marah besar dan memintaku dikeluarkan dari tim operasinya. Aku ga masalah, bahkan kalau pun aku dipecat dari rumah sakit itu aku juga ga masalah. Yang menjadi masalahnya adalah dokter Handoko itu orangnya pendendam, Kak–." jelas Helsa.
"Terus apa yang kamu takutkan darinya?"
"Aku ga takut padanya kak, hanay saja saat ini aku sedang mengikuti penelitian beberapa penyakit dan aku melakukannya tidak sendirian. Aku takut jika aku tidak menuruti keinginnannya, teman-teman ku yang lain juga akan mendapatkan imbasnya Kak. Dan sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau dia tidak akan pernah memaafkan orang yang melakukan kesalahan padanya." jelas Helsa.
"Terus apa yang dimintanya darimu?" Roy mulai menelisik inti permasalahan yang sedang dialami gadis itu.
"Aku ga tahu Kak, dia hanya memintaku untuk menemuinya di hotel xxx." sahut Helsa lirih.
"Apa? Kurang ajar sekali dia." Roy mengepalkan tangannya. Seandainya pria itu ada didepannya mungkin pria itu akan habis dihajarnya. "Berani-beraninya dia memintamu untuk menemuinya di hotel?"
"Kak, plis jangan kasih tahu Kak Haidar ya." pintanya lirih
"Kamu temu tenang aja, Kakak ga akan cerita sama Haidar."
"Awas kau Handoko, akan ku buat kau menyesal karena sudah berani melecehkan dan membuat wanitaku menangis." Geram Roy dalam hati.
__ADS_1
"Tapi aku ga yakin akan membuat dia selamat dari karirnya." ucap Roy dengan penuh tekanan.