My Soulmate

My Soulmate
My Soulmate


__ADS_3

Haidar/Haikal POV


Disiang menjelang sore hari itu kepalaku sangat terasa sakit begitu ku dengar sebuah nama yang di ucapkan oleh wanita itu.


Apa lagi saat dia menangis dan berteriak padaku. "SIAPA KAU SEBENARNYA?" pertanyaan itu semakin menyudutkanku. Tapi ku coba untuk tetap tenang hingga akhirnya sakit kepala yang menyerangku tak sanggup lagi ku tahan, sepenggal kenangan-kenangan saat bersamanya muncul dipikiranku.


Saat itu memori-memori dalam ingatanku pulih satu persatu diiringi rasa sakit yang kian menyiksaku. Dia istriku Kalycha, istri kecilku. Jodoh yang Tuhan kirim untukku dari sholat istikharah ku dulu. Sebelum aku melangkah untuk menerimanya jadi istriku.


Dia memberiku obat yang ada dalam tasku karena aku sangat kesakitan pandanganku jadi kabur setelah meminum obat itu. Dan aku sangat terkejut ketika sadar Kalycha membawaku pulang kerumah. Ya kerumahku yang sesungguhnya. Rumah yang kurindukan beberapa tahun ini, Ibu, Ayah dan juga adikku Helsa. Tanpa sepengetahuannya ku lihat pria itu masih mengikuti kami. Aku tahu kalau Mama Yetti sudah menyewa mata-mata untuk mengikutiku kemanapun aku pergi. Itulah sebabnya aku dan Dimas diam-diam menjalani pengobatan hipnoterapi itu. Aku sudah melihatnya mulai saat dari kantor pria itu sudah mengikuti kami bahkan sampai ke hutan itu.


Ku putuskan untuk tetap berpura-pura tidak sadar. Aku tidak ingin Mama Yetti berbuat nekat menyakiti keluargaku.


"Cha, dia benar-benar mirip Haidar Cha." Kudengar dengan jelas suara sahabatku Roy bergetar saat dia melihatku.


Roy pun membopongku masuk kerumah. Dan setelah sampai di dalam rumah, ku dengar suara ambruk dari Ibuku.


"Bu, bangun Bu–." Suara Ayah membangunkan Ibu yang pasti pingsan melihatku. Ayah aku merindukanmu, ingin sekali aku membuka mataku dan memeluk mereka semua.


"Dek ambilkan minyak Kayu putih Dek–." perintah Ayah pada Helsa adikku yang manja.


"Kak Haidar–." jeritan Helsa sangat melukai hatiku. Maafkan Kakak dek– Kakak belum bisa memberitahu kalian yang sebenarnya. Helsa menyentuh pipiku, kurasakan tangannya bergetar. Mungkin tak percaya kalau aku ini benar-benar Kakaknya.


"Kak, kenapa dengan Kak Haidar?" Dia bertanya pada Kalycha istriku ternyata dia sangat patuh tetap memanggil istriku Kakak meskipun usia mereka jauh berbeda. Aku merasa sangat berdosa padanya. Ku tinggalkan dia setelah seminggu pernikahan kami.


"Kak, Kakak tenanglah dulu. Icha ga tahu Kak siapa dia sebenarnya. Namanya Haikal Kak, Yah. Tapi Icha benar-benar ga tahu siapa dia. Sebaiknya kita tenang dulu. Kita tunggu dia sadar. Tadi dia minum obat ini Kak." Hah, dia memberikan beberapa jenis obat yang ku minum tadi kepada adikku. Helsa itu gadis yang pintar, mungkin kini dia sudah menjadi dokter pastilah dia tahu obat apa saja yang sudah ku minum saat ini.


"Kak, ini kan–." Benar tebakanku dia tak meneruskan ucapannya karena dia tahu jenis obat yang ku minum itu.


"Iya Kak, Icha yakin kalau dia Mas Hai dan dia amnesia Kak. Sebenarnya obat-obat itu semua sudah bisa menjawab rasa penasaran kita kak. Karena obat itu semua untuk otak Kak." Dia juga wanita yang pintar, ternyata lima tahun meninggalkannya, dia bisa meraih mimpinya sendiri. Cita-citanya ingin menjadi dokter seperti Helsa adikku.


"Haidar–." Ibu, dia memanggilku dengan suara yang bergetar. Aku merindukanmu Bu, sungguh aku ingin membuka mataku dan memeluk wanita itu. Aku ingin tahu apakah Ayah masih cemburu jika aku memeluk Ibu sekarang.


"Bu, Ibu tenang dulu ya Bu. Kita tunggu sampai dia sadar Bu. Kita belum bisa memastikan kalau dia Mas Haidar Bu." Lagi-lagi istriku itu yang ku dengar menenangkan Ibuku.


"Sejak kapan kamu tahu nak? Sejak kapan kamu tahu kalau Haidar masih hidup? Dan kenapa kamu ga kasih tahu Ibu Cha?" Tapi apa yang kudengar Ibu malah menyalahkan istriku karena sudah menyembunyikan kebenarannya darinya. "Tidak Bu– Icha ga salah, Haidar yang salah Bu–." ingin sekali ku katakan itu pada Ibuku.


"Bu, Ibu tenang dulu. Icha pasti punya alasan sendiri Bu–." Akhirnya Ayahlah yang menenangkan Ibu.


"Maafkan Icha Bu–." suaranya bergetar lalu menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dia tahu. Ternyata dia sangat yakin kalau aku adalah suaminya.


Kudengar langkah kaki beberapa orang memasuki rumah.


"BAWA DIA!!!" inilah yang ku takutkan Mama Yetti benar-benar datang untuk menjemputku. Aku sendiri sangat terkejut dengan kedatangan Mama Yetti. Entah kapan Mama sudah berada di Jakarta.


Dan entah apa yang terjadi selanjutnya didalam rumah itu setelah beberapa pria membawaku keluar dari rumahku.

__ADS_1


Lumayan lama juga aku menunggu didalam mobil sampai akhirnya Mama datang dan membawaku pulang.


Aku masih berpura-pura tidak sadar sampai mereka membawaku ke kamarku.


"Halim maafkan Mama–." dia menangis sambil mengusap wajahku.


"Apakah dokter Nince belum datang?" Mama membentak salah satu Bodyguardnya.


"Masih diperjalanan Nyonya. Sudah dekat, mungkin lima menit lagi sampai." bodyguard itupun ketakutan mendengar bentakan Mama.


"Cepat suruh ART itu masakkan bubur untuk Halim." perintahnya lagi kepada bodyguard itu.


Mama Yetti beranjak dari tempat duduknya lalu ku dengar dia menelpon Papa dan meminta Papa untuk segera datang ke Jakarta.


Bagus pikirku, mungkin aku bisa terlepas dari jerat kepalsuan ini dengan pertolongan Papa. Karena seingatku perjanjian kami hanya sebatas sampai Mama Yetti sembuh. Dan sekarang aku sudah mendapatkan ingatanku kembali tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk menahanku.


Ku buka mataku perlahan dan Mama melihatku sadar dan segera menghampiriku.


"Halim kamu sudah bangun nak?" Mama Yetti kembali mendekati ku dan memelukku. "Kamu kenapa sampai bisa pingsan begitu?" Mama tampak sangat khawatir padaku.


"Aku baik-baik saja Ma–, Mama ga usah khawatir begitu."


"Bagaimana mungkin Mama ga khawatir, kamu pingsan begitu lama."


Tak berselang lama dokter Nince datang ditemani seorang Bodyguard menghentikan perdebatanku dengan Mama.


"Supir baru dok?" tanyaku pura-pura tidak tahu kalau pria yang berdiri di pintu itu adalah bodyguard yang Mama Yetti suruh untuk menjaga ku.


"Siapa? Dia?" tanya dokter Nince sambil menunjuk kearah bodyguard itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Itu mah bodyguard yang Tante Yetti suruh untuk jagain kamu."


"Menjagaku? Untuk apa Ma?" aku melihat Mama Yetti dan Mama tampak gusar. Ia tahu kalau aku tidak suka dikekang.


"Mereka mama suruh menjagamu hanya sampai kamu sembuh."


"Tapi aku ga apa-apa Ma, cukup Dimas yang menjagaku. dokter Nince juga selalu memantau kesehatanku. Mama jangan terlalu khawatir berlebihan gini dong, ga baik buat kesehatan Mama." Aku mendekatinya dan memeluk wanita yang sudah begitu menyanyangiku lima tahun belakangan ini.


Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi aku juga tidak ingin meninggalkan keluarga ku.


"Tante, ga usah khawatir Haikal baik-baik saja ga ada hal serius yang harus dikhawatirkan dengan kesehatannya. Oya Tante kapan datang?" Nince adalah Kakak Dimas, makanya dia sudah akrab denganku. Dan dia juga salah satu orang yang menentang tindakan Mama yang menahanku sebagai Halim.


"Tadi siang." sahut Mama singkat.


"Ya sudah kalau gitu kita keluar saja Tante, biarkan Haikal istirahat." Nince membawa Mama keluar dari kamarku.

__ADS_1


Setelah mereka keluar dari kamarku, aku merasa sangat bosan. Ku raih HPku dan berselancar di media sosial mencari berita-berita terbaru sekarang.


Jari jempolku berhenti berselancar saat kutemukan postingan dari wanita yang ku rindukan itu.


Andai dirimu hadir di sini – Aku akan kembali padamu Cha


Rumah ini tak kan terasa sepi – Kita akan mengisinya kembali


Mengapa Tuhan memberiku cobaan yang seberat ini? – Supaya kita kuat dan sabar menjalaninya.


Suara nyanyianmu masih jelas ku dengar dari kamar tidur kita – Aku akan bernyanyi kembali hanya untukmu


Andai kau ada di sini – Aku akan datang


Aku takkan kesepian – Takkan ku biarkan lagi kau kesepian


Aku merawat luka ku yang tak ku tahu kapan akan sembuh – Kita akan merawatnya bersama karena aku juga terluka


Kau usik hatiku dengan kelembutan dan perhatianmu – Kaulah ratu di hatiku


Lalu kau buat aku jatuh cinta padamu – Terimakasih telah mencintaiku, aku juga mencintaimu


Tapi kau tak lagi di sini bersamaku – Bersabarlah sayang kita pasti akan bersama lagi


Saat hasrat cinta kian menggelora – Aku juga begitu


Saat rindu kian membara – Aku juga merindukanmu


Saat jiwa terendus luka – Aku akan menyembuhkan lukamu karena kau Belahan Jiwaku


Sang waktu telah memanggilmu – Takdir yang sedang mempermainkan kita bukan waktu


Sementara Aku masih sendiri disini


Walau perih tapi tetap ku coba bertahan – Aku juga sama


"Apa kau juga merindukanku disana?" – Sangat, Aku sangat merindukanmu


"Mengapa hanya seminggu?" – Sekarang aku datang untuk kembali bersamamu selamanya. "Because You are My Soulmate."


Haidar menangis setiap membaca kalimat yang Kalycha tuliskan di media sosialnya. Ingin rasanya dia berlari menemui wanita itu dan memeluknya.


Gaes yang mau liat Visual Haidar dan Kalycha silahkan cek di IG ya 🤗


Jangan Lupa Like dan Coment 😍

__ADS_1


Follow IG Icha juga ya 🤗 she_vent.ig


Tengkyu Very Muuuaaahh 😍


__ADS_2