My Soulmate

My Soulmate
Sama-sama Tes


__ADS_3

Sudah seminggu ini Haidar merasa ada perubahan dari sikap Kalycha. Kadang manja banget, kadang cuek dan juteknya minta ampun, kadang tiba-tiba menangis tanpa sebab dan itu semua membuat Haidar bingung.


Seperti sekarang tiba-tiba saja ketika terbangun tengah malam pengen pulang ke rumah Eninnya, katanya pengen mangga yang ada dirumah orangtua mertuanya itu.


"Yang, ga bisa besok aja yah?" Haidar mengucek-ngucek matanya belum sadar sepenuhnya, ia melihat Kalycha duduk bersandar sambil menangis.


"Ay aku mau kerumah Enin sekarang Ay–."


Kalycha menangis sampai sesenggukan, membuat Haidar tidak tega melihatnya. Kemudian melirik jam dinding dikamarnya.


"Tapi ini masih jam 2 pagi loh Yang."


"Cepetan Mas ayo ke rumah Enin mas."


"Besok aja ya Yang, sebelum ngantor aku anter kamu kerumah Enin." bujuk Haidar ia masih sangat ngantuk karena tadi juga lembur dirumah sampai jam 11 malam diruang kerjanya.


"Enggak mau Mas, maunya sekarang."


"Kenapa lagi sih nih bini gue, nangis terus. Kalau ga dituruti pasti ga berhenti nangisnya."


"Ya udah, mas cuci muka dulu. Kamu siap-siap. Ganti bajunya sana."


"Makasih ya Ay–." Kalycha memeluk Haidar manja, lalu menghapus airmatanya dalam sekejap tangisannya berubah menjadi senyum dan tawa.


Haidar berjalan ke kamar mandi lalu mencuci muka supaya lebih segar meskipun masih mengantuk.


"Yang, besok kamu ga kerja?" tanya Haidar ketika mereka sudah berada didalam mobil.


"Kerja mas, tapi shif siang." sahut Kalycha sambil mengedarkan pandangannya kejalanan seperti sedang mencari sesuatu.


"Nanti pulangnya mas jemput terus berangkat kerjanya nanti mas suruh supir yang anter kamu. Pokoknya Kamu jangan nyetir sendiri yah."


Haidar melihat Kalycha karena tidak ada jawaban darinya, sementara yang ditanya sedang sibuk memandang keluar jendela.


"Yang, kamu dengar aku ga sih?" Haidar sedikit kesal karena merasa dicuekin Kalycha.


"Hemm." Kalycha hanya berdehem ia masih sibuk dengan memandangi jalanan yang mereka lalui.


"Mas berhenti–!" Spontan Haidar menginjak pedal Rem mobilnya ketika mendengar Kalycha yang setengah berteriak.


"Apaan sih Yang? Kita bisa celaka loh kalau berhenti tiba-tiba kayak gini?" gerutu Haidar, ia masih menahan dirinya untuk tidak marah.


"Aku mau batagor mas." rengek Kalycha ketika melihat ada tukang Batagor yang masih buka yang mereka lewati.


"Kalycha kamu dengar mas ga sih?" tanpa sadar Haidar membentak Kalycha membuat Kalycha kaget dan terdiam. Airmatanya sudah menetes membasahi pipinya. Haidar mengusap kasar wajahnya, ia tak bermaksud untuk membentak istrinya itu. Ia hanya kesal karena merasa ucapannya diabaikan oleh Kalycha.


"Maafin aku Yang–, aku ga bermaksud membentak kamu." Haidar memegang bahu Kalycha dan mengusapnya pelan. Tapi Kalycha malah menangis seperti anak kecil.


"Mas jahat–." Haidar memeluk Kalycha untuk menenangkan istrinya.


"Maaf sayang, ya udah kamu tunggu disini ya. Jangan turun, biar Mas yang beli batagornya. Udah Yang, jangan nangis lagi." Kalycha hanya menngangguk pelan.


Haidar keluar dari mobilnya dan membeli Batagor yang di inginkan istrinya. Setelah mendapatkan batagornya ia kembali masuk kedalam mobil.


"Yang ini batagornya–." Haidar menggelengkan kepalanya ketika melihat Kalycha sudah tertidur.


"Ada-ada aja permintaannya." gumam Haidar pelan lalu melajukan mobilnya menuju rumah Enin Gea.


Haidar sudah sampai didepan rumah orangtua mertuanya itu. Diliriknya jam tangannya sudah menunjukkan pukul 3.15 subuh. Kemudian dilihatnya Kalycha masih tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Gimana caranya masuk kedalam, pasti orang-orang akan bertanya kenapa datangnya subuh-subuh begini, tapi kasian juga kalau Icha harus tidur dimobil sampai menunggu orang bangun." Haidar bermonolog pada dirinya sendiri.


Akhirnya Haidar memutuskan untuk membangunkan Kalycha.


"Yang, Sayang bangun kita udah sampe nih dirumah Enin." Haidar menepuk-nepuk bahu dan pipi Kalycha pelan.


Kalycha menggeliat dan merenggangkan tangannya ke udara. Lalu perlahan membuka matanya.


"Loh kita dimana Mas?" Kalycha merasa heran melihat dirinya berada didalam mobil. Haidar menatap tajam pada Kalycha ia merasa istrinya itu seperti orang yang memiliki kepribadian ganda.


"Sudah jelas-jelas tadi dia yang merengek minta diantar kerumah Eninnya eh, sekarang malah lupa. Sabar Haidar, Sabar–." Haidar mengerutkan keningnya menyabarkan dirinya sendiri.


"Kita di depan rumah Enin Sayang, tadi kan kamu yang minta dianter kesini." Haidar melihat Kalycha yang tampak berpikir dan beberapa detik kemudian barulah ia tersenyum.


"Hehe, Iya ya aku Lupa." Kalycha cengengesan. "Euumm, Eeuummm–." Kalycha menutup mulutnya. Tiba-tiba Ia merasa sangat mual. "Mas bau apa ini?" Belum sempat Haidar menjawab Kalycha sudah lebih dulu keluar dadi mobil dan memuntahkan isi perutnya.


Haidar pun keluar lalu mengusap-usap punggung istrinya dan memijit tengkuknya pelan. Untung di dalam mobilnya ia selalu menyediakan air mineral.


"Kumur dulu Yang–." Haidar memberikan botol air yang diambilnya dari mobil. Kalycha kumur-kumur membersihkan sisa-sisa muntahan yang ada dimulutnya.


"Kamu kenapa sih Yang?" tanya Haidar khawatir.


"Mobil kamu bau banget Ay, Kamu beli apa sih Ay?" tanya Kalycha sambil mengambil tissue dari tangan Haidar.


Haidar berpikir sejenak, "Emang bau apa dimobil? Terus apa yang ku beli?"


"Oh, itu bau batagor yang kamu minta beliin tadi Yang."


"Buang Mas, bau banget."


"Lah tadi kamu yang minta dibelikan loh Yang!"


"Udah kita masuk aja. Nanti biar Mas aja yang makan kalau kamu ga mau."


"Eemm, enggak Mas–, buang tuh ke tempat sampah. Aku ga tahan baunya Mas, kalau Mas makan nanti baunya pasti nempel dibajunya Ayang." ucap Kalycha sambil menutup hidungnya.


"Kalau aja Lo bukan bini gue dah gue pites Lo Cha–." gerutu Haidar yang sudah mulai jengkel dibuat Kalycha.


"Dosa Yang, membuang makanan. Nanti Mas mandi deh kalau sudah selesai makan batagornya. Udah sekarang kita masuk dulu. Ini juga nantinya pasti orang-orang bingung kita datang subuh-subuh begini."


Kalycha berjalan mengikuti Haidar sambil tetap menutup hidungnya.


"Assalamualaikum Enin–." Kalycha mengetuk pintu rumah Eninnya. Sambil sesekali memencet bel rumah itu.


"Assalamualaikum–."


"Waalaikumsalam, siapa?" terdengar sahutan dari dalam.


"Enin ini Icha–."


Pintu pun terbuka dan menatap heran pada pasangan yang datang subuh-subuh begitu.


"Icha, ngapain kamu datang subuh-subuh begini?" tanya Dara heran, karena yang membuka pintu adalah Dara bukan Gea.


"Eh, Anty. Maaf nganggu tidurnya. Icha kangen sama Enin." ucapnya seperti tanpa beban lalu Kalycha masuk kedalam dan di ikuti Haidar.


"Siapa Dara yang datang?" tanya Gea yang terbangun saat mendengar bel berbunyi.


"Icha Bu–." jawab Dara singkat.

__ADS_1


"Eh, cucu Enin, tumben datang subuh-subuh begini?" Gea langsung memeluk Kalycha lalu Haidar mencium punggung tangan nenek mertuanya.


"Eeuumm–." Kalycha menutup mulutnya, mualnya datang lagi. Ia menahan agar tidak muntah.


Haidar yang sadar dengan batagor yang masih ditangannya segera ke dapur dan menyimpan batagornya di dapur.


"Kamu kenapa Cha?" Gea tampak khawatir dengan cucunya itu.


"Mual Enin, tuh batagor bau banget."


"Batagor?" ucap Gea dan Dara bersamaan.


"Iya Enin, ga tahu kenapa dia mual nyium bau batagor padahal tadi dia yang minta dibeliin pas dijalan mau kesini." Haidar yang baru datang dari dapur menjelaskan alasan kenapa istrinya itu mual.


Mendengar penjelasan Haidar cucu menantunya, Gea hanya tersenyum.


"Besok kamu periksa ke dokter ya sayang." ucap Gea sambil mengelus lembut rambut Kalycha.


"Ngapain harus ke dokter Enin, Icha kan dokter." sahut Kalycha.


"Kalau begitu Enin tanya, bulan ini kamu udah datang bulan belum?" Mata Kalycha melotot mendengar pertanyaan Gea, begitu juga dengan Haidar yang tak mengerti dengan maksud pertanyaan nenek mertuanya itu.


"Belum Enin, apa–." Kalycha tak meneruskan ucapannya, ia hanya memegang perutnya yang masih rata itu.


"Apa aku hamil?"


"Coba diperiksa untuk memastikannya. Kamu memang dokter, tapi kamu kan ga bisa hanya dengan menebak-nebak saja."


"Maksudnya apa Enin?" tanya Haidar yang masih tidak mengerti dengan pembicaraan wanita yang beda generasi itu.


"Maksud Ibu, ada kemungkinan kalau istrimu itu sedang hamil." sahut Dara ketus.


"Jadi suami ga peka banget." cibir Dara dalam hati.


"Apa? Hamil? Kamu hamil Sayang?" Mata Haidar berkaca-kaca, ia langsung memeluk Kalycha.


"Belum tahu Mas, ini masih dugaan aku sama Enin saja." lirih Kalycha.


"Ya udah besok kita periksa kerumah sakit, atau aku beli alatnya sekarang yah. Katanya kalau cek yang begituan bagusnya pake pipis pagi hari kan?" ucap Haidar tak sabar ingin segera tahu hasilnya. Apakah istrinya itu benar-benar sudah mengandung anaknya.


"Tunggu matahari terbit saja. Lagian kalian juga baru sampe. Untuk tahu pastinya kalian langsung aja cek ke dokter kandungan." usul Gea.


"Iya Mas, nanti aja. Aku juga masih ngantuk banget." Kalycha merasa dirinya masih mengantuk.


"Ya sudah, bawa istrimu istirahat sana." Perintahnya pada Haidar. "Oya, meskipun kita belum tahu hasilnya, tetap harus dijaga ya Cha." pinta Gea.


"Iya Enin." sahut Haidar dan Kalycha bersamaan.


Sesampainya dikamar Haidar langsung menghujani ciumannya diperut Kalycha yang masih rata.


"Mas, ga boleh berlebihan begitu. Nanti kalau ternyata aku belum hamil gimana?" Kalycha merasa terharu dengan perlakuan Haidar padanya tapi ia juga takut kalau nanti Haidar kecewa jika dirinya tidak hamil.


"Makanya mas beli tespennya sekarang apa yah–."


"Tespek mas bukan tespen."


"Whatever lah–, yang penting sama-sama tes. Mas beli sekarang yah!" Haidar beranjak dari tempat tidur bersiap ingin pergi membeli tespek.


"Mas, nanti aja. Icha pengen ngetek maass–."

__ADS_1


Haidar pun menyerah lalu menuruti kemauan Kalycha.


__ADS_2