
Detik demi detik terus saja berjalan tiada hentinya, setiap menit terus berlalu. Sesuai dengan perjanjian Harsa dan Ibha, dua insan menepati janjinya bahwa sore ini akan menjenguk kembali putri bungsunya. Entah kenapa, momen itu sangat berharga untuknya setelah sekian lama tidak pernah menemani Kinan berjalan melewati berbagai rintangan yang berat.
Ratusan janji terlontar dari bibir mungil Kinan semenjak berusia sekitar delapan sampai empat belas tahun masih tergiang jelas di benak Harsa. Mulai dari perjanjian jika Kinan juara kelas ingin dibelikan sepeda, bermain di pantai, hingga janji istimewa lainnya. Dan ini adalah janji pertama yang ditepati oleh Harsa dan Ibha setelah Kinan melapaskan statusnya menjadi istri dari Fahad Ibadillah.
Sorot mata menatap seorang wanita duduk di kursi roda bersama satu orang lelaki yang memberikan kasih sayang yang tulus, dua insan sibuk bermain ria di antara bunga-bunga yang berjejer rapih di taman rumah sakit. Belasan kupu-kupu mengelilingi bunga untuk mencari serbuk sebagai makanan, dua insan terus tertawa dan berceloteh ria.
Tatapan hangat dan tulus itu seketika mengiris dan menghujam hati Harsa dan Ibha, hatinya merasakan sesak bagaikan terhimpit di antara bebatuan besar. Tanpa disadari oleh Harsa, bulir bening lolos dari pelupuk mata indahnya. Dua insan yang bermain di taman itu tak lain adalah Kinan dan Fahad.
"Aku salah, aku berdosa, aku mengabaikan dia. Semenjak aku menepati janji pertamaku ini, entah kenapa hatiku begitu sakit bagaikan tersayat," lirih Harsa menunduk sembari mendudukan tubuhnya di kursi hitam rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dari keduanya.
Tangannya mengepal kuat, memukul dada bagian kanan dengan keras. Mencoba menerima kesalahan, nyatanya menerima kesalahan itu sangat menguras air mata. Cairan bening itu terus berjatuhan tanpa ampun, dua tangan menutup wajah dengan telapak tangan yang menjadi saksi atas lahirnya wanita hebat seperti Kinan.
Harsa hanya membopong Kinan hingga anak itu berusia dua bulan setelah itu Kinan ditinggal olehnya untuk kerja dan bisnis, sehingga Kinan hanya mendapatkan kasih sayang lewat baby sister dan Alsaki. Telapak tangan itu terus Harsa gunakan untuk mengelus tubuh mungil Kinan waktu itu, setelah itu tangannya sudah berhenti.
"Aku belum pernah melihat Kinan tertawa bahagia bahkan terluka pun tidak pernah, semenjak aku melahirkan dia aku meninggalkannya demi bisnis sampai aku tak pernah memperhatikan tumbuh dan kembangnya. Setiap kali bertemu dan bertatap mata, aku selalu mengabaikan tatapan itu. Sekarang aku baru merasakannya."
"Sudahlah jangan dipikirkan, ayah juga berdosa dan bersalah kepada Kinan. Andai saja waktu itu aku melarangmu untuk berhenti bekerja dan fokus membesarkan anak, maka kita bisa merasakan ekspresi perasaan yang indah dari anak itu," ujar Ibha menepuk pundah Harsa yang bergetar akibat rasa sakit akan momen yang terlupakan.
"Meskipun begitu, tapi rasa kecewa yang dipendam oleh Kinan tidak sebanding dengan rasa kecewaku. Bahkan rasa sakit yang dia pikul pun tidak sebanding dengan rasa sakitku, kenapa aku baru merasakannya sekarang? Kenapa?"
"Aku benci dengan semua waktu yang sudah berlalu, aku telah merampas semuanya. Aku tidak becus menjadi seorang ibu, karena bagiku seorang ibu yang seutuhnya adalah mereka yang mampu membuat anaknya bahagia dan tumbuh di depan matanya. Tapi, Kinan beliau berbeda. Aku tidak tahu perkembangannya, aku tidak tahu, aku binggung dengan semuanya. Meskipun Kinan tidak membenciku, tapi hatiku sangat sakit bahkan sakit."
Harsa terus terisak dalam sandaran Ibha, tubuhnya masih bergetar akibat air mata yang disembunyikan dibalik telapak tangan. Memori paling buruk terus tergiang-giang di benaknya, rasa penyesalan terus menghantui dirinya. Seorang anak akan membenci orang tuanya ketika mereka terus mengabaikan diri mereka, tapi Kinan berbeda. Meskipun kedua orang tuanya selalu mengabaikan, akan tetapi kasih sayang yang dialirkan terus berlangsung.
Iya, Alsaki seorang lelaki sekaligus kakak Kinan yang lebih beruntung memiliki kasih sayang langsung dari orang tuanya. Sehingga apa yang ditanam itulah yang dituai.
"Sayang, lihatlah keduanya," kata Ibha lembut.
"Untuk apa aku melihat keduanya? Sementara rasa penyesalan masih menghantui diriku?"
"Lihatlah mereka, sekali ini saja," ulang Ibha.
Pada akhirnya, Harsa menatap dengan mata sedikit sembab akibat air mata. Tampaklah dua insan terus tertawa bahagia, bahkan keduanya saling melempar pandang, bercanda sehingga gambaran dua insan yang belum lama terikat dalam ikatan halal telah menemukan kebahagiaan berkat perjodohan yang tak salah jalan.
Perasaan Harsa begitu bercampur aduk antara senang, haru, bahagia, dan menyesal menjadi satu. Perasaan itu terkumpul dan sulit ditemukan jawabannya. Senyum Harsa seketika terbit seiring matanya menatap lekat wajah ekspresi bahagia sang empu, Kinan begitu cantik dan mempesona bahkan wajahnya hampir sembilan puluh delapan persen sangat mirip dengannya. Bulu mata lentik, hidung sedikit mancung membuat wajah Kinan begitu sempurna untuk dipandang.
'Entah kenapa melihatmu seperti itu, hati ibu masih teriris? Apa belum cukup Tuhan menguji ibu? Makanya ibu belum menerima semua penyesalan ibu?' batin Harsa.
"Beliau adalah Kinan, anak kita yang begitu cantik. Senyumnya sangat mirip denganmu, aku yakin beliau adalah wanita hebat. Kenapa tidak? Aku saja sebagai seorang ayah tak becus dianggap ayah olehnya, tapi Tuhan Maha Adil ia menunjukan keadilannya lewat putri kita. Ku harap, Tuhan memaafkan kesalahan dan dosa kita yang terlalu mengabaikan anak kita di usia yang masih belia," cakap Ibha membuat Harsa menarik kedua sudut bibirnya kala sang netra terus tertuju dan menatap penuh belum lagi dengan pandangan masih diselimuti dengan kabut air mata.
.
.
.
__ADS_1
"Kan, aku sudah bilang!" celetuk Kinan memanyunkan bibirnya beberapa centi meter.
"Iya, iya, maafkan aku," ujar Fahad melemas.
Kinan tak peduli dengan itu, tatapannya terus tertuju pada cakrawala yang perlahan mulai memasuki waktu senja meski warnanya hanya memundar. Iya, senja menampilkan diri bukan hanya untuk dipandang indah melainkan memberikan gambaran melalui warna itu sendiri.
Menit terus berlalu, Fahad menikmati situasi sore bersama dengan Kinan di rumah sakit. Kedua tangannya memegang pundak Kinan, tak lama kemudian Kinan mendongkakan wajahnya dan menatap Fahad yang tengah menikmati senja. Fahad yang menyadari bahwa wajah tampannya sedang dipandangi, seketika menurunkannya sehingga tatapan keduanya saling bertemu.
"Kenapa hem?" tanya Fahad mencoba memecahkan hening.
Kinan menurunkan kembali wajahnya seperti semula, entah kenapa tatapan Fahad yang mengandung ketulusan membuatnya gemas bahkan salting. Ingin sekali rasanya pergi ke planet pluto untuk berteriak, bahwa suaminya begitu tampan bin handsome.
Cup!
Fahad mengecup kepala Kinan yang dibalut dengan jilbab sesekilas, setelah itu berjalan menghampiri Kinan yang nantinya dua daksa saling berhadapan. Senyum manis Fahad terus terukir, sedangkan Kinan membalas senyum itu tidak kalah manis.
"Jangan senyum gitu dong, nanti aku diabetes," goda Fahad.
"Dasar gombal!" sebal Kinan mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah.
"Biarin gombal sama istri sendiri, lagian yang didapat itu pahala," celetuk Fahad mencoel hidung mancung Kinan gemas.
"Ih, jangan maen sama hidung saya dong! Kalau nanti belok gimana?"
"Oh berarti kalau di hidung tidak boleh, terus kalau dibagian lain boleh?" tanya Fahad mengangkat kedua halisnya.
"Bilang aja mau gitu apa susahnya, cuman tiga huruf."
Kinan tidak menjawab itu, bibirnya disembunyikan di dalam seolah-olah tahu apa yang akan dilakukan oleh Fahad itu sendiri. Iya, Fahad semakin hari semakin memanjakan istrinya. Di balik dinginnya Fahad bak kulkas seratus pintu, dalam hatinya begitu hangat jika bersama orang yang dicintainya. Akan tetapi, tidak berlaku apabila menyangkut pelajaran yang dikuasai olehnya.
Fahad melihat tingkah itu seketika gemas, ia mencubit dua pipi Kinan yang tidak terlalu tirus bahkan tembem dengan gemas sampai Kinan meringis kesakitan. Tapi, Fahad tak peduli karena habis itu Fahad mencium kedua pipi Kinan sebagai pengganti kejahilannya.
"Sayang?" panggil Kinan.
"Kenapa?" tanya Fahad.
"Aku mau itu." Tunjuk Kinan.
Fahad seketika menoleh mengikuti jari telunjuk Kinan yang mengarah pada gerobak bertuliskan 'Rujak Buah' yang letaknya tidak terlalu jauh dari area rumah sakit, tukang rujak itu bersebelahan dengan tukang bubur di sebelah tukang bubur ada tukang makanan sehat lainnya yang sering dijadikan tempat untuk istirahat para tenaga medis. Melihat itu, kening Fahad saling bertemu dan kembali lagi menatap Kinan seperti keileran.
"Kamu mau rujak? Tiba-tiba? Padahal aku belum pernah melakukan apapun?" heran Fahad pasalnya kelakuan Kinan menginginkan rujak buah seperti orang sedang ngidam.
Kinan memukul lengan Fahad dan cemberut. "Sayang pikir aku hamil? Tidak lah, aku ingin rujak buah. Sudah lama aku tidak makan itu."
Fahad tersenyum cengir kuda dan menggaruk tengguknya yang tak gatal. "Baikah aku akan beli itu sebentar, kamu tunggu di sini yah."
__ADS_1
"Iya, sekalian buah mangga muda yah! Sepertinya enak kalau mangga muda hasam dicocol sama bumbu rujak," jelas Kinan dengan cairan mengumpul di mulut seperti membayangkan sesuatu iya asam yang sempurna.
"Baiklah, sebentar yah," terima Fahad segera berdiri dan pergi ke tukang rujak buah membeli itu sesuai dengan permintaan Kinan.
"Nak, suamimu mana?"
"Astagfirullah!" Kaget Kinan setelah melihat dua orang datang yang tak lain adalah Ibha dan Harsa. Dua orang itu sudah memperhatikan apa yang dilakukan oleh anak semata wayangnya yang tampak harmonis, hanya saja Kinan dan Fahad tidak menyadari keberadaan keduanya.
Ibha dan Harsa menghampiri Kinan saat Fahad hendak pergi membeli rujak kesukaan Kinan, sehingga mau tidak mau keduanya menghampiri Kinan supaya anak itu tidak kesepian.
Kinan hanya menyengir kuda. "Mas Fahad sedang beli rujak."
"Oh," jawab Harsa.
Kinan hanya mengangguk gemas. "Oh iya, Ibu dan Ayah kapan datang?"
"Baru saja," jawab Ibha.
Kinan hanya ber-oh ria saja. Tak lama kemudian, Fahad datang membawa plastik berisi rujak sesuai dengan pesanan Kinan. Mangga muda diperbanyak ketimbang buah lain, karena Kinan menginginkan rujak buah mangga muda sesuai dengan apa yang dirasakan dimulutnya.
"Oh, Ayah, Ibu kapan datang kesini?" sapa Fahad sembari menyalimi punggung mertuanya.
"Belum lama, Nak," jawab Ibha.
"Itu apa?" tanya Harsa.
"Itu rujak buah, Kinan katanya pengen rujak buah mangga muda. Jadi aku beli saja, daripada merajuk," jawan Fahad menyerahkan plastik berwarna putih itu yang berisi buah yang telah dipotong dan dikupas.
"Tiba-tiba?" heran Harsa menoleh ke arah Kinan yang tengah tergiur dengan rujak buah mangga muda.
"Entahlah," jawab Fahad mengangkat bahunya acuh.
"Nak? Kamu ngidam?" tanya Harsa menghentikan tangan Kinan yang hendak mengambil mangga muda yang disimpan dan dibungkus menggunakan wadah seperti plastik bening.
"Apaan sih? Enggak lah, cuman kangen aja gitu. Makanya aku pengen rujak," sebal Kinan menatap tajam Harsa.
"Kirain, soalnya kalau kamu hamil gimana dengan sekolahnya?"
"Tenang saja Bu, mas Fahad kuat banget puasanya!" ledek Kinan ke arah Fahad dan mendapatkan tatapan melotot darinya.
Semua orang yang ada di sana seketika tertawa, seolah-olah melupakan momen senja dan cakrawala yang sebentar lagi akan memasuki waktu malam. Dua insan selalu menghabiskan waktunya untuk melihat senja, kini senja yang melihat keharmonisan keluarga itu seolah-olah merestui hubungan yang terikat dalam ikatan sakral yang suci.
•••••○○○•••••
Hai readers setia bin masya Allah! Terima kasih sudah membaca dan memberikan dukungan lewat komentar🤗❤ Sekali lagi, Teeima kasih yah❤
__ADS_1
•••••○○○•••••