My Soulmate

My Soulmate
Maaf, Aku Lupa


__ADS_3

H-2


Kalycha turun dari lantai atas dengan wajah yang cemberut. Kenapa tidak? Dirinya kesal dengan kelakuan Haidar yang mencium bibirnya tanpa permisi.


"Kenapa kamu lama sekali turunnya sayang?" tanya Pram. "Terus kenapa mukanya cemberut gitu?" Pram melihat Kalycha yang mendapati mereka dengan wajah yang cemberut.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Pram Daddynya, Kalycha malah menatap tajam pada calon suaminya yang sudah membuatnya kehilangan mood dipagi hari.


"Ada apa dengan Icha? Sebenarnya terjadi dengan mereka diatas tadi?" Nayla melihat pandangan tajam Kalycha saat memandang Haidar. Tatapan yang seolah ingin membunuh Haidar.


"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Nayla.


"Roti aja Bun, pake ceres aja ya Bun." Lalu Kalycha duduk disebelah Haidar.


"Kamu itu udah mau menikah, kenapa ga ambil sarapan sendiri. Tanyakan Haidar juga mau sarapan apa. Mulailah belajar melayani suamimu dengan baik." ucap Pram tapi tidak menatap langsung pada anaknya itu. Melainkan dirinya sibuk membaca koran sambil menikmati kopi buatan Istrinya.


Mendengar ucapan Pram membuat Kalycha tambah kesal.


"Ralat ya Dad, masih CALON, belum SUAMI." ucapnya yang sengaja menekan kata calon dan suami. "Lagian Om Hai, masih bisa ambil sendiri kan. Nanti kalau udah jadi suami beneran, baru Icha belajar jadi istri yang baik sama Bunda." Nayla pun membelalakkan matanya pada Kalycha, seolah menyalahkan sikap Kalycha pagi itu.


"Iihhh, kenapa sih pagi ini semua orang nyebelin." gerutu Kalycha dalam hatinya.


"Tidak apa-apa Dad, Haidar ambil sendiri saja." Haidar mengambil piringnya tapi ketika hendak menyendokkan nasi goreng ke piringnya tiba-tiba Kalycha mengambil sendok dan piring yang ada ditangan Haidar.


"Kakak mau sarapan apa?" Haidar heran, barusan Icha menolaknya tapi sekarang malah mau mengambilkan sarapan untuknya.


"Kenapa sebentar manggil Om, sebentar manggil Kakak. Udah kayak bunglon aja yang berubah warna sesuai dengan warna tempatnya." Batin Haidar.


"Nasi goreng aja." Kalycha pun langsung menyendokkan nasi goreng ke piring Haidar. "Cukup–, cukup Cha. Itu terlalu banyak." Haidar terkejut melihat Kalycha yang menyendokkan nasi goreng begitu banyak ke piringnya.


"Apa dia ini sengaja mau membunuhku?" Batin Haidar.


"Rasain. Emang enak? Ngabisin nasi goreng sepiring penuh?" Batin Kalycha.


Nayla hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Nayla sadar mungkin ada sikap Haidar yang salah yang membuat putrinya itu Badmood di pagi hari.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Seharusnya seminggu menjelang pernikahan kedua mempelai sudah di pingit.


Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya nggak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba. Tradisi ini wajib dilakukan oleh pengantin yang menikah dengan adat Jawa. Karena orangtua Haidar adalah keturunan orang Jawa makanya mereka memilih untuk menggunakan tradisi pernikahan adat Jawa.


Jika menuruti adat, tradisi pingitan ini seharusnya berlangsung selama 1 sampai 2 bulan lamanya, sampai hari pernikahan pengantin. Namun seiring berjalannya waktu, banyak calon pengantin yang nggak bisa melakukan pingit selama waktu tersebut. Jadi pada masa kini, umumnnya pingit dilakukan selama 1-2 minggu sampai hari pernikahannya. Tapi karena Kalycha yang masih sekolah dan persiapan pernikahan mereka juga tidak sampai dua minggu maka pingitan itu hanya akan mereka lakukan sehari sebelum hari pernikahan.


Tradisi pingitan sendiri bertujuan untuk memberikan waktu pada calon pengantin untuk mempersiapkan dirinya menuju pernkahan. Saat dipingit, ia dapat beristirahat dan merawat dirinya sendiri dalam menyambut hari bahagianya. Dengan begitu, calon pengantin terlihat lebih sehat dan fresh di hari pernikahannya.


Alasan lainnya agar keduanya dapat saling merasakan rindu sehingga saat pernikahan nanti, keduanya akan semakin bahagia karena lama tak berjumpa. Memupuk rasa percaya diri dan bersabar dan ada juga alasan sebagai untuk menghindari bahaya atau kecelakaan. Karena konon katanya calon pengantin itu darahnya manis. Entah mitos atau fakta tapi itu adalah salah satu alasan mengapa calon pengantin itu harus dipingit.


Tapi bagaimana mereka akan saling merindu? Rasa ketertarikan diantara mereka pun belum tumbuh.


Seperti hari-hari sebelumnya Haidar kembali menjemput Kalycha pulang sekolah. 15 menit sebelum bell berbunyi Haidar sudah menunggu Kalycha di depan gerbang sekolahnya. Seperti permintaan Kalycha agar teman-temannya tidak curiga pada hubungannya dengan Haidar.


Kalycha sudah melihat mobil Haidar yang terparkir diluar gerbang sekolah. Dirinya langsung menghampiri Haidar dan masuk kedalam mobil.


"Om, besok-besok Icha ga usah diantar jemput lagi ya–." ucap Kalycha lalu duduk disebelah Haidar.


"Bahasnya nanti saja." jawab Haidar datar.


"Kenapa dia? Biasanya ga pernah dingin gitu jawabnya."


"Om, kita mau kemana?" Haidar masih diam saja. Karena tak ada jawaban dari Haidar akhirnya Kalycha memilih untuk diam saja. Terserahlah dia mau membawanya kemana. Pikirnya.


"Ternyata begini rasanya dicuekin. Aahhhkkk ga enak binggiiitttt."


Haidar memberhentikan mobilnya di kampus dimana Haidar pernah membawa Kalycha dulu.


"Untuk apa dia datang kemari? Apa dia ingin menemui perempuan itu lagi?" Kalycha membatin.


Dan benar saja, Haidar bertemu dengan wanita itu lagi dan Kalycha melihat Haidar langsung memeluk wanita itu.


"Siapa perempuan itu? Apa dia pacar Om Hai? Apa aku turun saja dan bertanya langsung? Atau aku harus membiarkannya saja? Gila ya, belum juga menikah tapi dia udah terang-terangan selingkuh didepanku."


Tak terasa airmatanya Kalycha menetes, dirinya merasa sudah dihianati oleh calon suaminya sendiri.


"Apa dia sengaja melakukan ini untuk membuatku sakit hati? Kalau dia sudah punya kekasih kenapa dia harus setuju menikah denganku? Tapi apa ini? Kenapa airmata ini menetes tanpa izinku? Buat apa aku menangisinya? Apa airmata ini menetes untuk kemalangan diriku? Apakah airmata ini sengaja menertawakan nasibku yang malang ini?"


Kalycha tidak tahan lagi melihat kemesraan Haidar dan perempuan itu yang masih saja berpelukan. Ia menghapus airmatanya lalu keluar dari mobil.


Kalycha menarik tangan Haidar. Keduanya pun terkejut dan melepaskan pelukannya. "Om, apa-apaan sih Om? Kalau memang Om masih punya kekasih kenapa Om mau menerima Icha jadi calon istri Om?" Kalycha sangat emosi matanya kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


"Hah? Kekasih?" Keduanya terkejut mendengar ucapan Kalycha yang mengira mereka sebagai sepasang kekasih.


"Kenapa mata perempuan itu sembab? Apa dia baru menangis? Apa dia tidak terima Om Hai menikah denganku?"


"Tunggu-tunggu, sepertinya ini salah paham." ucap wanita itu yang tak lain adalah Helsa adik Haidar. Tapi Kalycha tetap tidak ingin mendengar penjelasan dari perempuan itu.


"Om, kalau Om belum bisa putus darinya sebaiknya Om batalkan pernikahan kita. Aku ga mau merusak hubungan orang lain." Kalycha bermaksud untuk meninggalkan mereka. Dirinya berjalan ketepi jalan raya untuk mencari taksi.


"Kamu pulanglah dulu. Biar Kakak yang jelasin ke dia." ucap Haidar pada Helsa adiknya. Helsa pun menganggukkan kepalanya dan menuruti ucapan Kakaknya itu.


"Cha, Icha–." Haidar mengejar Kalycha dan berhasil meraih tangan Kalycha. Dengan cepat Haidar menutup pintu taksi yang berhasil di stop oleh Kalycha saat Kalycha ingin masuk kedalam.


Haidar mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dan memberikannya kepada supir taksi itu. "Maaf ya pak." Supir taksi itu mengerti lalu pergi meninggalkan Kalycha dan Haidar.


"Lepasin tangan Icha Om." Tapi Haidar tidak peduli dengan rengekan Kalycha. Haidar membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Kalycha disana tanpa menutup pintunya kembali. Haidar berdiri didepan Kalycha sambil menaruh tangannya diatas mobilnya.


"Kamu salah paham Cha–." Haidar menarik nafasnya, mengusap wajahnya dengan kasar


"Salah paham apanya Om? Jelas-jelas Om masih berhubungan dengan perempuan itu. Kalau Om ga bisa putus darinya kenapa Om ga batalin aja pernikahan kita." ucap Kalycha setengah berteriak.


Haidar mengernyitkan kedua alisnya. Dalam hatinya dia begitu senang, karena sepertinya Kalycha juga menyukainya. Sejak Haidar mendapat petunjuk bahwa Kalycha adalah jawaban dari Doanya Haidar sudah mulai menerima Kalycha sebagai salah satu tujuan masa depannya. Dirinya akan belajar untuk menerima dan mencintai Kalycha.


"Aku ga bisa memutuskan hubunganku dengannya Cha." Haidar memelaskan ucapannya sengaja ingin menggoda calin Istrinya itu.


"Kalau begitu batalkan pernikahan kita Om. Icha ga mau menikah dengan laki-laki yang masih memiliki hubungan lain dengan wanita lain." tangis Kalycha sudah pecah dirinya merasa sakit hati.


Hati Haidar perih niatnya untuk mengerjai Kalycha lebih lanjut akhirnya diurungkannya. Entah sejak kapan dirinya tidak tahan jika melihat Kalycha menangis. Haidar pun menarik Kalycha kedalam pelukannya. Kalycha berontak, ia memukul lengan dan punggung Haidar. Tapi Haidar tetap memeluknya lalu mencium puncak kepala calon istrinya itu.


"Maaf ya Cha–, Aku benar-benar ga bisa putus hubungan dengannya, karena dia itu adikku satu-satunya."


"Maksudnya?" Kalycha melepaskan pelukan Haidar.


"Kamu itu salah paham. Dia itu adik kandungku. Emang kamu ga tahu?"


"Apa? Jadi dia adiknya Om Hai? Pantes saja wajahnya seperti tak asing. Aduh malunya aku." Kalycha menundukkan kepalanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Gimana Icha tahu, Om Hai kan belum pernah kenalkan aku sama dia. Waktu pas acara lamaran juga Om ga ngenalin dia ke Icha." ucap Kalycha masih dengan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu untuk menatap Haidar langsung.


"Iya, maaf ya. Aku lupa."


Jangan Lupa Like ya 🤗 Kirim bunga juga kalau syuka sama cerita Om Hai 😍


Besok Senin jangan Lupa Vote ya. Tara Tengkyu 🤗

__ADS_1


__ADS_2