My Soulmate

My Soulmate
Musibah Hafsah


__ADS_3

Tidak ada yang tahu musibah apa yang akan menimpa seseorang, sehingga ketika musibah menimpanya maka kebanyakan dari mereka lebih memilih menganggapnya sebagai ujian ketimbang azab. Alsaki melihat seorang wanita seakan meminta pertolongan setelah menghilangkan bosan. Wanita itu terduduk dengan wajahnya ditutup menggunakan kedua lututnya, pakaiannya terkoyak hanya beberapa bagian yang menutupi seluruh tubuhnya. Rambut tampak berantakan dengan tubuh bergetar hebat, jarang ada kendaraan melewati jalan itu.


Wanita itu terduduk di halte bus yang sudah berkarat, tidak ada satupun pengguna kendaraan melihat wanita itu. Hal itu membuat Alsaki menghentikannya, tubuh mungil dengan penuh luka seperti kekerasan. Belum lagi dengan pakaian yang ia kenakan seperti gamis indah. Ia segera keluar dari mobil untuk menghampiri wanita itu, ketika wanita itu sudah ada di depan mata tidak ada tanda-tanda penolehan darinya seolah-olah wanita itu sedang dilanda ketakutan.


Untunglah Alsaki mengenakan jaket seperti biasa, dilepaskannya itu dan diberikan kepada wanita untuk menutupi seluruh tubuh yang terbuka dan menyuruhnya untuk berdiri. Alangkah terkejutnya Alsaki saat tahu siapa wanita itu, seorang wanita yang dulunya ia suka hingga sekarang.


"Hafsah?" Kaget Alsaki.


Iya wanita itu bernama Hafsah Prambudi, seorang wanita yang terkenal di pesantren karena kepintarannya terhadap ilmu agama bahkan beliau seorang penghafal Qur'an yang disegani. Seorang wanita dengan kehebatan yang teramat luar biasa, bahkan akhlak keindahannya selalu menghipnotis para santri perempuan sehingga banyak yang menirunya.


Tatapan takut Hafsah seketika bertemu dengan lelaki yang begitu dia kagumi, Alsaki nama indah dari bahasa sanskerta sesuai dengan keindahan akhlaknya. Bibir Hafsah bergetar hebat dengan tatapan ketakutan, mata sembab dan tubuh perih akibat luka membuat Hafsah tak sanggup membayangkan apa yang terjadi bahkan menatap Alsaki pun sama.


"Tolong aku ...," lirih Hafsah.


Alsaki yang melihat itu seketika dengan cepatnya mengalihkan pandangan dan segera membawa Hafsah masuk kedalam mobil dan menempatkan duduknya bersebelahan dengannya. "Naiklah mobilku, aku akan mengantarmu ke rumahmu."


Hafsah mengangguk lemah, sebab tubuhnya sudah tidak ada lagi tenaga untuk ia lakukan. Semua tenaganya telah dikuras, sampai Hafsah tak berdaya. Tubuh lemah berbalutkan jaket hangat dari Alsaki, aroma maskulin menghipnotis indera penciuman Hafsah yang teringat kejadian buruk.


"Tenang saja, kamu bersamaku sekarang." Alsaki mencoba menenangkan Hafsah, ua segera melajukan mobilnya.


Di dalam mobil hanya hening yang tercipta, Hafsah menunduk dengan tatapan ketakutan dan menyedihkan. Sedangkan Alsaki sibuk menyetir, alunan musik religi menciptakan ketenangan. Sesekali Alsaki melirik Hafsah dengan tatapan menyedihkan, ingin sekali mendekap wanita itu. Akan tetapi, kesadaran Alsaki terhadap ilmu agama membuatnya tersadar.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Alsaki memecahkan hening.


"Aku ....."


Malam sunyi dengan pantulan sinar rembulan malam, malam itu terasa sepi dan hening. Kendaraan yang berlalu lalang mulai merehatkan mesin yang selama ini mereka gunakan untuk melakukan aktivitasnya. Kala itu, seorang wanita dengan jilbab panjang telah keluar dari masjid usai melaksanakan shalat malam sebelum pulang kerumahnya. Waktu malam menunjukan pukul 22.03, aura mencekam menemani perjalanan wanita dengan jilbab panjangnya yang tak lain adalah Hafsah.


Untung saja, malam itu adalah malam senin suasana taman kota Jakarta sedikit ramai sehingga membuat Hafsah sedikit merasakan kelegaan. Tapi, tidak dengan firasat buruk yang menghantui perjalanan pulangnya yang memiliki jarak sekitar kurang lebih lima belas menit. Kendaraan umum masih ada, hanya saja Hafsah teringat dengan uang yang menipis dan hanya ada recehan sekitar dua ratus perak. Sedangkan untuk menelefon adiknya, gawai miliknya mati karena kehabisan baterai. Ingin menetap di masjid sampai subuh, tapi ia sadar bahwa masjid itu tempat ibadah bukan tempat tidur. Hal itu, membuat Hafsah tidak ada pilihan lain selain pulang berjalan kaki.

__ADS_1


Melewati semua perjalanan dengan sepi, hatinya tak lepas dari berdzikir. Lampu jalanan mengiringi perjalanan pulang, bahkan panjangnya jalan menuntun petunjuk Hafsah untuk sampai tujuan.


Sepuluh menit telah berlalu, tidak ada tanda-tanda merehatkan badan Hafsah terus berjalan baginya berpergian jauh sudah menjadi kebiasaan, akan tetapi semua berubah dan berjalan sesuai dengan sekranionya. Dua pemuda dengan tubuh kekar dalam keadaan sedikit sadar, bahkan dua pemuda itu tampak seperti sedang mabuk dan salah satunya seperti sedang menelepon.


"Iya, bos! Saya akan membawa perempuan cantik kepadamu, jadi tunggu saja!" ujar pemuda dari balik sebrang telefon.


"Ada apa toh?" tanya satu pemuda lagi.


Pemuda itu tersenyum sumrigah, saat melihat Hafsah dengan ekspresi ketakutan. "Bos kita butuh wanita, ku rasa wanita itu bisa dijadikan santapan bos kita!"


Hafsah mendengar pembicaraan itu seketika perlahan-lahan mundur dan mundur, wajah dengan ketakutan luar biasa tergambar jelas di raut wajah Hafsah yang memiliki darah blasteran Turki. Kedua tanganya memeras rok gamis dengan sangat erat, ingin kabur tapi langkah pemuda itu cepat menyusul dirinya.


"Maksud kamu gimana? Bukannya di klub banyak wanita, kenapa kamu milih wanita macam dia?" heran pemuda kepada temannya.


"Bos kita bilang, katanya sudah bosan! Makanya bos menyuruh mencari perempuan lain, jadi mending ambil dia saja!"


Pemuda yang mendengar itu tertawa dan melirik Hafsah dengan tatapan menggoda dan mempercepat langkahnya, sehingga kedua pemuda itu saling berhadapan dengan Hafsah yang langkahnya terhenti.


"Aduh, Neng! Kenapa kamu cantik sekali, ikut saya yuk. Ini tidak akan sakit," jawab pemuda yang menelepon dengan santainya mencolek dagu Hafsah.


Hafsah sontak menghempaskan pemuda yang memperlakukan dirinya seperti pele*cehan. "Lepaskan atau aku bunuh kalian berdua!"


Pemuda itu tak menjawab, justru mendekatkan badannya sehingga aroma alkohol tercium di indera penciuman Hafsah yang berbau menyegat. "Lepaskan, breng*sek!" bentak Hafsah saat pemuda mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan banyak bac*ot!" bentak pemuda dengan tato gambar naga di lengan kanannya. Ia menarik paksa Hafsah hingga Hafsah memberontak untuk dilepaskan. Tapi, tenaga pemuda itu terlalu kuat sehingga dimasukannya Hafsah kedalam mobil yang baru saja datang atas suruhan atasannya.


Di dalam mobil itu, Hafsah terus memberontak sampai kerudungnya basah akibat keringat yang membanjiri tubuhnya. Hal itu membuat dua pemuda itu kewalahan menghadapi wanita yang tiada hentinya memberontak.


Jleb!

__ADS_1


Sebuah benda berbentuk mirip seperti suntikan, menusuk leher Hafsah dari balik kerudung. Suntikan bius berhasil membuat Hafsah meringis kesakitan, tapi setelah beberapa detik akhirnya Hafsah tak sadarkan diri. Hal itu, membuat Hafsah tak tahu apa yang terjadi.


Di bawakan dirinya kedalam sebuah apartemen kota Jakarta, Hafsah dibopong oleh pemuda yang membuisnya dan dimasukan kedalam apartemen mewah yang isinya penuh dengan berbagai macam alkohol yang berjejer rapih di atas meja. Pemuda itu tersenyum dan berkata, "aku menemukan wanita seperti yang Bos inginkan."


"Bagus! Baringkan dia di ranjang sana!" titah lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahunan dan melakukan sesuatu secara tak terduga. Hanya cicak yang tahu!


"Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, saat aku terbangun dari pingsan itu ... aku .... aku .... aku ...." Tak sanggup melanjutkan kata, hal itu membuat Hafsah kembali lagi terdiam dalam isak tangis.


Alsaki yang mendengar itu, entah kenapa rasa sesak mengiringi kata demi kata yang dilontarkan oleh Hafsah. "Jika kamu tidak sanggup melanjutkannya, maka biarkan saja air matamu menjadi pembicara atas apa yang terjadi padamu, Hafsah."


•••••••••••••••••••


Sesuai perkataan Fahad, bahwa Kinan akan pulang lebih dulu ketimbang yang lainnya. Kini dua insan sudab berada dikediaman Prambudi yang tengah bersiap akan pindah rumah setelah kedua orang tuanya sudah pulang dari pondok pesantren.


Dalam kamar yang bernuasa damai itu, seketika diisi penuh dengan suara degup jantung yang terus menerus berdetak. Bibir keduanya diam terkunci membiarkan tatapan keduanya menjadi saksi, mata sembab Kinan membuat Fahad merasa kasihan.


"Apakah sudah lega, Kinan?"


"Kenapa Bapak selalu saja membahas itu, tentu saja aku sudah sedikit lega."


Iya, Kinan sedari dari tadi terus bercerita tentang malangnya diri sendiri. Mulai dari rasa sesak yang selama ini ia pendam hingga kebahagiaan apa yang membuat Kinan merasakan aroma kedamaian dari balik kejadian yang menimpanya. Mengutarakan semua emosi kepada Fahad, tentu saja mendengar ceritanya sudah membuat Fahad merasakan beban apa yang Kinan tanggung.


Menci*um pucuk kepala Kinan yang tak terbalut dengan jilbab, rambut hitam lurus beraroma parfum menghipnotis Fahad untuk terus menerus berada di dekatnya. Mendekap tubuh mungil Kinan dan membiarkan Kinan bermain jari jemarinya, pasangan yang belum lama terikat dalam ikatan suci itu semakin hari semakin mesra ketika sedang menghabiskan waktu berduanya.


Cerita itu membuat Fahad ingin sekali rasanya menonjok muka para siswa yang selalu merundung Kinan, meskipun Fahad tau bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan akan melahirkan pembenci dan benar apa yang dikatakan oleh Kinan di sela-sela menceritakan semuanya, bahwa diam adalah senjata tajam yang akan menusuk musuhnya saat waktu sudah tiba.


"Oh iya, btw Pak—."


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku sekarang suami mu, panggil aku sesukamu yang enak didengar. Misanya, sayang, hubby, gitu."

__ADS_1


Kinan tak menjawab, ia menampilkan muka tanpa dosanya dan kembali menyembunyikan wajah di dada bidang Fahad seperti tadi. "Aku tiba-tiba teringat kepada wanita yang dulu, kalau engga salah Marsha namanya. Jadi, itu siapa kamu, Sayang?"


Mendengar itu, sontak Fahad sedikit kaget. Karena, Kinan tiba-tiba menanyakan wanita itu, Marsha. Fahad seketika tersenyum sembari tangannya mengelus lembut rambut Kinan. "Dia ...."


__ADS_2