
Setiap orang pasti ingin meluapkan semua emosi yang selama itu ia pendam, entah emosi apa itu. Akan tetapi, kebanyakan orang lebih banyak mengungkapkan emosi kecewanya ketimbang bahagia sehingga kesedihan itu larut dalam kepedihan yang pada akhirnya berujung dendam. Namun, tidak berlaku bagi satu orang mecoba melepaskan semuanya meskipun sakit iya orangnya itu kamu yang lagi baca karya aku. Semoga hari-harimu dipenuhi dengan hati pemaaf dan ridha atas apa yang terjadi.
Fahad berada di posisi emosi yang memuncak, ingin sekali membongkar kejahatan teman Kinan yang selalu membuat Kinan nangis bahkan trauma. Setiap malam, Kinan selalu mengeluarkan air mata dalam mimpinya. Padahal sudah berulang kali membangunkan Kinan untuk sadar, nyatanya tidak.
Suara ketakutan kala itu membuat Fahad merasakan sesak, suara Kinan saat tidur seakan meminta tolong kepada siapapun, ingin sekali Fahad mencoba terjun kedalam mimpi Kinan tapi tak bisa. Menenangkan dengan cara memeluk belum tentu membuat Kinan merasakan kelegaan, batin terkoyak membutuhkan waktu lama untuk sembuh.
Tatapan dingin mengarah pada murid kelas 12 IPS itu, menyoroti semua siswa yang sedang duduk di bangkunya kecuali Kinan. Tatapan tajam bak mata elang tak lepas dari Fahad, rahangnya tampak jelas bahwa Fahad sedang menahan emosi.
Kinan melihat ekspresi itu seakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Fahad suaminya, karena ini pertama kalinya Kinan melihat tingkah Fahad seperti memendam sesuatu. Sebab, dari raut wajah Fahad tertampak jelas rahang kokoh nan tatapan tajam. 'Kenapa dia?'
Senyum sumrik tergambar di raut wajah Fahad, melirik semua murid yang selama ini Fahad pandang sepenuhnya adalah murid teladan. Nyatanya tidak seperti yang dibayangkan, menarik nafas lalu meletakkan kedua tangannya di bangku murid paling depan. "Saya akan membuktikan kejahatan kalian ...."
Semua murid sontak terkejut, saling pandang satu sama lain, saling melempar ekspresi merinding. Perkataan Fahad membuat murid yang ada di dalam tidak mengerti arah pembicaraan Fahad, seorang guru matematika yang kepribadiannya tidak diketahui banyak.
"Maksud, Bapak?" tanya Brayen tak mengerti.
Kkkrrriiinnnggg!
Suara bel istirahat berbunyi, Fahad menyadari suara itu yang menandakan pelajaran telah usai. Akan tetapi, para murid tidak menyadarinya karena kefokusan dengan apa yang dilakukan olehnya. Fahad kemudian menoleh kearah Brayen si ketua kelas andalannya, menaikkan satu alis dan mengigit bibir bawah. Seketika tingkah itu menjadi lucu, Fahad pun tertawa melihat ekspresi para murid. "Hahaha ... kalian kenapa serius gitu dah? Saya cuman berakting saja!"
Para murid seketika heran sekaligus terkejut dengan tingkah Fahad yang tiba-tiba. Ia menanggapi aksi yang menurutnya seperti mengancam, nyatanya hanyalah akting bualan. "Kirain ada apa, Pak!" celetuk salah satu murid.
"Sudah-sudah, pokoknya kerjain di rumah karena bel sudah berbunyi. Silahkan beristirahat," tutur Fahad dengan senyum sedikit misterius.
Para siswa yang mendengar itu seketika terkejut, kata 'bel sudah berbunyi' membuat para siswa melirik jam yang tertera di layar ponsel. Pukul 10.02 pertanda pelajaran itu sudah habis bahkan sudah lewat dua menit yang lalu, tapi tidak menyadari kapan suara bel itu berbunyi.
"Kok gue engga denger bel istirahat toh?" bisik Siska pada Gisha dan mendapati bahu acuh pertanda ia juga tidak menyadari demikian.
"Oh iya, Kinan sesuai janji tolong datang ke kantor saya," sambungnya dan segera keluar tak lupakan buku paket yang selalu ia bawa saat pelajarannya berlangsun.
"Baik, Pak," jawab Kinan menunduk.
•••••••••••••••••••••••••••••
Kantor bernuasa serba putih, banyak berkas tersusun sangat rapih bahkan buku pelajaran matematika berjejer di lemari kaca ruangan Fahad. Foto pernikahan dirinya dengan Fahad tersembunyi dari balik kaca lemari penyimpanan. Iya, ruangan Fahad terkenal dengan kerapihan dan kebersihannya.
Kinan mengetuk pintu ruangan Fahad dan mendapati jawaban dari dalam, terbukalah pintu itu menampilkan sosok Fahad tengah merebahkan badan di sofa dengan posisi seakan memendam kepedihan. Menutup wajah tampannya dengan lengan kanan, sedangkan lengan kiri diletakkan di atas perutnya. Ia juga menyadari bahwa Kinan sudah memasuki ruangan miliknya, rasa sesak Fahad belum kunjung mereda kenapa harus Kinan yang mendapatkan ujian sebesar itu.
__ADS_1
"Kenapa, Pak?"
Kinan membuka suara sembari tangannya mengelus rambut sehat Fahad, keningnya menyerit heran saat melihat tingkah Fahad tak seperti biasanya.
"Seharusnya aku bertanya, kamu kenapa Kinan? Kenapa kamu menyembunyikan semuanya? Apa kamu masih menganggap aku sebagai orang lain?"
Fahad kemudian bangkit dari duduknya, memegang pundak Kinan yang begitu hebat menanggung semuanya hingga mengalihkan Kinan supaya duduk di sofa yang tadi. Sementara Fahad menjongkokkan badannya supaya tingginya setara dengan Kinan saat duduk, mengambil tisu basah mengelapkan pada rok Kinan yang kotor akibat kejadian saat upacara. Tingkah itu membuat Kinan menahan tangan Fahad yang memegang tisu basah.
"Aku tidak apa-apa, tolong berhentilah melakukan itu. Lagian, aku bisa mencucinya untuk nanti."
"Kenapa kamu selalu bilang aku baik-baik saja, aku baik-baik saja? Apa kamu tidak ingin membagi beban denganku? Sekarang kamu adalah tanggung jawabku, sakitmu adalah sakitku."
Kinan menggeleng dan tersenyum. "Tidak bukan seperti itu, aku beneran baik-baik saja. Lagian rok ini aku engga melihat kalau di depan ada kaki, jadinya kesandung."
"Aku tau kamu sedang berbohong untuk menyembunyikan semuanya, supaya terlihat baik-baik saja. Padahal kejadian itu aku melihatnya, kamu tidak kesandung melainkan terjatuh akibat ulah salah satu siswa."
Kinan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan berat, kedua tangannya menyentuh wajah bersih Fahad yang sedang memendam kecewa dan kesakitan yang sama seperti yang ia rasakan. Senyum tenang tak pernah lepas dari wajahnya, tapi mata tak bisa bohong bahkan tak bisa diajak bekerja sama.
Buliran air bening menumpuk di kedua bola matanya, perih dan sakit itulah yang dirasa. Tumpahlah air mata kepedihan itu tepat di depan mata, bibirnya bergetar tak sanggup berkata. Jiwa kepedihan melanda seluruh syaraf yang terhubung, betapa malangnya seorang Kinan berbohong dengan semuanya. Bibir Kinan tak mampu bersuara, membiarkan air mata mengatakan semuanya.
Fahad yang melihat itu merasakan kepedihan yang mendalam, batin ikut terkoyak melihat air mata kesakitan. Kinan tak bersuara, karena bibirnya ia tahan seakan mencoba baik-baik saja. Mengambil tangan yang masih betah menangkup wajahnya, diciumnya telapak tangan dan mulai mengambil tubuh Kinan agar ia dekap. "Tumpahkanlah rasa sakitmu, berbagilah denganku. Setelah itu, berceritalah agar aku bisa menanggng derita kepedihanmu."
"Keluarkan semuanya," ujar Fahad mengelus pucuk kepala Kinan yang dibalut dengan jilbab, bahkan badannya merasakan basahnya air mata, tapi bodo amatlah.
••••••••••••••••••••••••••••
Sementara itu, Alsaki setelah ditinggal oleh Kinan kesepiannya seketika bergejolak. Entah kenapa, dirinya sangat merindukan sosok Kinan yang begitu menggemaskan menurutnya. Waktu yang dihabiskan oleh Alsaki sangatlah tidak berguna, akhirnya dirinya memutuskan pergi ke suatu tempat.
Rasa bosan sendiri membuat Alsaki memutuskan mencari udara healing untuk menghilangkan penat, tapi entah kenapa perasaannya begitu gundah dan tak karuan. Padahal semua orang pada baik-baik saja, bahkan Kinan srlalu saja mengabari bahwa dirinya masih bernafas. Mencari jaket biasa yang ia pakai dan mengenakannya, tak lupa juga Alsaki membawa dompet takut nanti ingin makan di luar ketika perut mengidam sesuatu.
Mengambil kunci kendaraan pribadi, dan menyalakan mesin. Kediaman Abhipraya sudah tak terlihat lagi, tidak ada kata pamit izin keluar dari rumah karena kedua orang tuanya sedang sibuk menjalani aktivitas luar seperti biasa. Sehingga yang ada di rumah hanyalah dua pembantu dan satu satpam, sehingga menjadi kebiasaan keluar rumah tanpa izin.
Jalan kota Jakarta ia habiskan, banyak kendaraan berlalu lalang. Untunglah kota Jakarta saat ini tidak dilanda dengan kemacetan, sehingga membuat Alsaki merasakan sedikit ketenangan. Akan tetapi, di tengah perjalanan menuju tujuan utamanya mata elang Alsaki menyorot tajam seorang wanita menangis seperti ketakutan, tubuh munggil penuh dengan luka lebam seakan wanita itu korban kekerasan. Ia segera menghentikan mobil yang ia pakai di tempat wanita itu berada.
Alsaki segera keluar dari mobilnya, ia melihat wanita itu menangis menutup wajahnya dengan kedua lututnya. Pakaian wanita itu sedikit terkoyak, sehingga menampilkan tubuh minggil polosnya. Untunglah Alsaki mengenakan jaket kesehariannya, ia segera memberikan jaket itu untuk menutup tubuh wanita dan menyuruhnya untuk berdiri. Akan tetapi, alangkah terkejutnya Alsaki melihat siapa wanita itu. Seorang wanita yang dulunya ia suka, bahkan sampai sekarang pun sama.
"Hafsah?" Alsaki terheran saat dua mata saling beradu, menatap sendu seakan mengusik bait kalbu.
__ADS_1
•••••••••••••••••••••••••••••••••
Lega juga rasanya meluapkan semua emosi, membagikan beban kepada seorang yang telah halal untuknya. Mata sembab Kinan belum kunjung mengering juga, air mata selalu menyuruhnya untuk berhenti nyatanya jiwa memilih meluapkan emosi yang selama ini Kinan pendam. Segukan menyatu dengan isak tangis, Fahad mengambil air minum dan menyodorkannya kepada Kinan. Mencoba menenangkan Kinan, nyatanya hanya merasakan sedikit tidak sampai sembuh seperti hati polos.
"Apa sudah baikan?" tanya Fahad dengan tangannya menangkup wajah bersih Kinan, membersihkan air mata dengan jari jemarinya.
Kinan mengangguk kecil. "Sedikit."
Fahad mengeluarkan nafas berat, seberat itukah Kinan menanggung semuanya. Bahkan, kedua orang tuanya tidak mengetahui hal demikian dengan alasan takut melukai hati orang tuanya hanya karena penderitaan Kinan. "Sekarang kita pulang saja, aku akan mengurus surat izin pulangnya."
"Tidak!" tolak Kinan halus.
"Kenapa kamu selalu menolak, apa kamu tidak malu gitu. Kalau misalnya ada teman kamu melihat wajah kamu seperti itu, nanti muncul rumor aneh lagi."
"Enggak, lagian mana ada yang peduli sama saya!"
"Kinan, please untuk hari ini saja yah. Kita pulang, kamu butuh istirahat aku tidak sanggup melihat kamu nangis terus menerus bahkan aku sampai merasakan apa yang kamu rasa."
"Pokoknya, saya tidak mau pulang, Pak!"
"Astagfirullah, Kinan." Fahad mengusap wajahnya sedikit kasar, ia teringat betapa malangnya Kinan. Fahad menatap Kinan sehingga dua pandangan saling bertemu. "Ku mohon pulanglah hari ini, besoknya kamu masih bisa sekolah."
Tidak ada jawaban dari Kinan, membiarkan tatapan menyedihkannya menjawab semuanya. Seolah-olah sudah tidak sanggup dengan semuanya, ingin rasanya berteriak mengeluarkan beban dan menceritakan semuanya kepada Fahad tapi tak bisa. Setelah cukup puas memandangi wajah tampan lelaki itu, Kinan menunduk dan mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan pulang."
"Nah, gitu dong. Tunggu yah aku akan mengurus surat itu." Fahad segera berdiri, akan tetapi Kinan menahan tangan Fahad. Fahad pun menyerit heran.
Berdiri dengan tangan mengenggam pergelangan kekar Fahad, menyembunyikan seluruh tubuhnya dengan cara memeluk tubuh kekar Fahad yang kemejanya basah akibat air mata dirinya. Menenggelamkan wajah lelahnya kedalam dada bidang Fahad, hal itu membuat Fahad mengerti bahwa Kinan masih belum puas dengan semuanya, masih ingin bersandar lebih.
Membalas pelukan Kinan, tangan kanannya melilit pinggang ramping sementara tangan kirinya mengelus pucuk kepala yang dibalut dengan jilbab. Menci*um kening Kinan dengan waktu yang lama, sampai bel masuk pun berbunyi dua insan masih betah mendekap satu sama lain. Setelah puas, Fahad menarik dagu Kinan agar tatapannya saling bertemu, tatapan sendu yang membuat Fahad ingin membangunkan Kinan untuk bahagia.
Fahad menci*um kening, dua kelopak mata dan terakhir bibir alami Kinan. Sampai akhirnya, Kinan merasa dirinya sedang dirasuki kecanduan sehingga membuat dua tangan yang tadinya untuk mendekap kini mengalungkan di leher kokoh Fahad, membalas apa yang dilakukan olehnya hingga mengimbangi apa yang dilakukan oleh Fahad.
Cukup lama Fahad melakukan itu, sampai Kinan mendorong sedikit tubuhnya untuk mencari oksigen sesekali menyembunyikan wajah merahnya kedalam dada bidang Fahad. Fahad terkekeh geli melihat tingkah Kinan barusan.
••••••••••••••••••••••••••
Di dalam mobil, Alsaki fokus menyetir mobil tak berani melihat Hafsah dengan mata yang sembab dan tubuh yang bergetar ketakutan. Ingin sekali rasanya mendekap tubuh Hafsah, akan tetapi kesadaran akan ilmu agama membuat Alsaki mencoba mengurungkan semuanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Alsaki mencoba memecahkan hening.
"Aku ... aku ... aku ....," lirih Hafsah tak sanggup melanjutkan perkataannya.