My Soulmate

My Soulmate
Kejadian yang tak terduga


__ADS_3

Setiap detik adalah perjalanan menuju apa yang diarahkan, dalam hitungah detik itu pula ada banyak keunikan dari detik itu sendiri. Ada yang selesai tugas padahal dikerjalan beberapa detik, bahkan ada juga yang membuang waktunya beberapa detik semua itu berkaitan dengan detik itu sendiri. Hitungan detik selalu berubah menjadi menit, bahkan dari menit pun berubah menjadi jam, dari kata jam itu pula bumi berputar mengikuti arus yang ditentukan oleh Allah sang Maha Pencipta untuk berjalan sesuai kodratnya, sehingga dari jam itu berganti menjadi hari demi hari bahkan dari hati itu pula ketika sudah habis angka maka datanglah bulan sebagai tujuan yang akan diraihnya.


Sudah satu bulan pernikahan Kinan dan Fahad berlangsung, kedua insan itu selalu menjadi bagian penyempurna segalanya. Mau itu sedih, senang, bahagi, haru, bahkan ada juga menjadi marah dan kecewa. Kinan tidak pernah berhenti bercerita, membuat Fahad semakin jatuh cinta bahkan tak bisa melepaskan omelan istrinya itu.


"Sayang?" panggil Fahad melirik ke arah Kinan yang sibuk menggerakan jari jemarinya dengan wajah cantiknya itu.


Kinan segera menoleh dan tersenyum setelah usai menyibukkan dirinya untuk bermake up tipis, meskipun begitu di mata Fahad mau Kinan bermake up ataupun tidak wajah itu sangatlah cantik. "Kenapa?"


"Gunting kuku di mana?"


"Coba cari di laci lemari, ada di situ," jawab Kinan kembali lagi membalikkan badan untuk menutup rambutnya dengan hijab.


Fahad segera menyambar mencari gunting kuku, karena kukunya sudah memanjang belum lagi dengan kulit di sisi kuku yang gemas minta ditarik. Mencari gunting dengan teliti sesuai dengan perkataan Kinan, Fahad sangat nihil menemukannya. "Ko enggak ada."


"Masa enggak ada, cari yang bener dong!" heran Kinan segera bangkit menghampiri Fahad yang kebinggungan. Untunglah jam sedang berbaik hati, karena menunjukan pukul 06.10 yang artinya dua puluh menit lagi.


"Enggak ada,'kan?" tanya Fahad.


Kinan tak menjawab pertanyaan konyol Fahad, dirinya sibuk mencari gunting kuku secara teliti. Rupanya gunting kuku berada di sebelah pojok bahkan paling belakang, ia pun mendengus kesal beralih menatap Fahad. "Cari yang bener makanya, ini gunting kukunya diem di paling pojok belakang!"


Fahad kemudian cengir kuda seakan tak berdosa dan menggaruk tenguknya yang tak gatal. "Maaf."


Kinan menggeleng dengan kelakuan Fahad suaminya itu. "Sudahlah, ayo turun kita sarapan."


"Iya," jawab Kinan.


Dua pasangan halal itu segera turun, sesampainya di dapur seketika terkejut melihat satu orang berseragam SMA tengah makan sarapan dengan rakus. Barakka tak peduli dengan kedatangan dua orang itu, dirinya fokus makan seperti orang tidak makan selama bertahun-tahun.


"Kenapa kamu makan di sini, Barakka? Bukannya di situ ada bi Marni?" tanya Fahad.


"Aku malas makan sendiri, jadi aku ingin makan di sini. Tenang saja, bi Marni tidak masak apa-apa soalnya aku sudah bilang padanya kalau aku ingin makan di rumah Abang," jawab Barakka di tengah sarapannya.


Fahad hanya ber-oh ria saja sedangkan Kinan mengangguk kecil. Dua insan itu segera duduk di meja makan mengambil makanan nasi goreng seafood buatan Bi Ijah dan segera melahapnya.


•••••••••••••••••••••


Di tempat penuntutan ilmu, satu persatu murid memasuki perkarangan sekolah dengan sangat cepat. Barakka pergi kesana bersama Kinan menggunakan motor supportnya, karena Kinan sendiri bilang pada Fahad bahwa dirinya ingin bareng dengan Barakka takut nanti dicurigai lagi layaknya kemarin. Karena selalu bersama setiap kali berangkat, jadi wajar para murid yang merupakan penggemar Fahad merasa curiga padanya.


"Sudah sampai, Kak," kata Fahad sembari membuka helmnya, lalu diikuti oleh Kinan turun dari motor supportnya.


"Makasih, Barakka," tutur Kinan.

__ADS_1


"Oh iya, pulangnya bareng yah Kak," tawar Barakka.


"Enggak usah, aku akan pulang bareng abangmu," tolak Kinan segera pergi meninggalkan Barakka setelah mengatakan pamit.


"Woi, siapa yang loe bonceng!" teriak Rehan saat melihat Barakka datang bersama Kinan.


Mendengar suara yang tak asing itu, Fahad memutar bola matanya malas dan segera meninggalkan dua sahabatnya yang terkenal dengan hyperactive.


"Eh, tungguin woi!" teriak Rehan berlari menghampiri Barakka, tapi sayangnya Barakka berlari kencang meninggalkan dirinya seakan ogah bertemu. "Si sia*lan itu!"


••••••••••••••••••••••••••


Detik demi detik terus berlalu menciptakan perjalanan roda kehidupan, Fahad selesai mengajar kini merehatkan badannya di ruang sendiri sembari memikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum geli. Satu bulan membangun bahtera rumah tangga, tidak ada penganggu dalam ikatan suci seakan perjalanan pernikahan akan berlangsung tanpa penghalang. Nyatanya, dibalik keharmonisan keluarga yang dibangun oleh dua insan yang terikat dalam kehalalan harus siap menanggung segala ujian.


Benih cinta tumbuh semenjak Fahad mengenal Kinan untuk pertama kalinya saat perjodohan, saat Fahad mengucapkan akad benih cinta mulai tumbuh dengan sempurna. Meskipun begitu, dirinya sudah mencapai kebucinan akut terhadap istrinya itu. Ilmu yang Fahad amalkan untuk istrinya berhasil membuat Kinan menjadi lebih baik dari sebelumnya, ia juga menyadari bahwa Kinan tidak membenci matematika hanya menyembunyikan saja demi teman satu kelasnya supaya tidak riuh dan kecewa bahkan istrinya rela tidak mendapatkan juara asalkan dirinya mampu mencari ilmu dengan sempurna.


Suara pintu diketuk, Fahad menjawabnya. Saat pintu terbuka, rupanya menampilkan Marsha seorang teman satu angkatan yang dulunya seorang cupu kini menjadi suhu dengan penampilan menor. Fahad melihat itu seketika cuek dan sibuk menguntak antik hpnya dan mencari nama 'My Wife' dan menuliskan sesuatu.


Fahad: [Sayang, apa kamu sibuk?]


My Wife: [Tidak, kenapa?]


Fahad: [Keruanganku sebentar, jangan lupa bawa minumnya tolong yah aku haus.]


Fahad: [Yah enggak lah.]


My Wife : [Oke aku ke sana sekarang (emoticon lari dan tanda cinta putih)]


Fahad tersenyum dan mengirimkan stiker 'Terima kasih' dengan penuh cinta berwarna merah yang melambangkan semangat dan cinta yang murni.


"Hem ...," dehem Marsha setelah puas melihat Fahad sibuk menulis sesuatu di hp dengan ekspresi senyum-senyum.


Fahad tidak menoleh dan tak peduli. "Mau apa?"


"Iya lah, mau ketemu kamu lah. Rindu," jawab Marsha tanpa dosa.


"Kalau begitu keluar!" kata Fahad dengan nada mengusir.


"Tidak!" tolak Marsha sembari berjalan ke arah Fahad dan mendudukan pantatnya di bangku Fahad sehingga keduanya saling berhadapan, bahkan tatapan keduanya bertemu hanya saja Fahad menatapnya dengan dingin.


'Si sia*lan!' batin Fahad mengumpat dan kembali beralih menatap layar ponselnya.

__ADS_1


Marsha kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Fahad dengan menggoda, kedua tangannya memegang bahu Fahad seperti wanita yang ahli dalam pertarungan cinta. Mengelus halus dan tersenyum sinis, meski Fahad tidak meresponnya. Dengan gerakan cepat, Marsha mencium bibir Fahad meembuat Fahad terkejut bukan main.


Bang!


Suara benda jatuh, dua insan yang melihat itu seketika terkejut. Kinan yang melihat adegan itu seketika mundur perlahan-lahan, entah kenapa rasa sesak itu mwmbuatnya sakit bahkan sangat sakit sampai tak terasa air matanya menetes tapi ia hilangkan begitu saja dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata.


Fahad yang melihat itu seketika rasa kecewa, marah, sedih, takut menjadi satu. Ia marah kepada Marsha dan menatapnya dengan tatapan tajam seolah-olah amarahnya memuncak. "Kur*ang aj*ar! Apa yang kau lakukan!" bentaknya segera pergi keluar.


Sedangkan Marsha yang merasa dirinya dibentak tak masalah, ia hanya merasa puas dengan tingkah yang diberikan kepada Fahad. "Aku tahu kamu menyembunyikannya dariku, akan aku rebut kembali agar kau bersamaku!"


Fahad keluar dengan langkah kaki cepat mengikuti jejak gadisnya, ia tau bahwa gadisnya akan pergi ke kelas untuk menenangkan diri. Akan tetapi, apa yang terjadj Kinan justru membalikkan langkahnya menuju taman yang jarang dikunjung oleh para siswa sehingga taman itu tampak sepi dan sunyi namun mendamaikan sebab taman itu memiliki pohon yang rindang.


Kinan duduk di bangku bawah pohon, memejamkan mata seakan melupakan apa yang ia lihatnya. Seorang guru sekaligus suaminya yang menyuruh untuk keruangannya nyatanya mendapatkan tangkap basah. Bagaimanapun, Fahad berciu*man dengan wanita yang tak lain adalah Marsha. Ia melirik sekolas seakan ada seorang yang memperhatikannya, tapi Kinan memilih cuek dan dingin.


"Sayang," panggil Fahad tepat di belakang Kinan.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu," dingin Kinan tanpa menoleh.


"Itu hanya salah paham," jelas Fahad.


"Salah paham? Sudah jelas Bapak melakukan seperti itu di depan aku."


"Sayang, tolong dengarkan aku terlebih dahulu," kata Fahad dengan langkah kakinya menghampiri Kinan dan mendudukannya di sebelah Kinan tanpa menjaga jarak sehingga keduanya duduk berdampingan.


"Percuman juga mendengarkan omong kosong kalau aku melihatnya dengan kedua mataku! Bapak menyuruhku keruangan untuk mengantarkan, nyatanya untuk pamer mesra," kesal Kinan tanpa menoleh. Sebab, hatinya sungguh sakit bahkan sangat sakit.


"Apa Bapak tahu tidak, saat aku melihat itu hatiku sungguh sakit bahkan lebih sakit ...," lirih Kinan melanjutkan pembicaraan.


"Sayang, penglihatan kamu tidak sesuai yang kamu kira. Dia yang main nyosor, sedangkan aku sibuk mengurus pekerjaan aku. Jadi, bukan aku yang melakukannya melainkan dia. Tolong, mengertilah," sahut Fahad mencoba berdamai.


"Omong kosong macam apa itu, kalau Bapak sadar diri harusnya dorong tuh dia bukan malah diem!"


"Aku tidak tahu, Sayang." Fahad mengenggam erat tangan Kinan. "Apa kamu masih ingat cerita aku tentangnya? Jika ingat, aku tidak punya hubungan apapun dengannya."


Kinan tidak menjawab itu, tatapannya sibuk mengarah kedepan menikmati angin dan sejuknya pohon rindang. Menghirup aroma kedamaian yang menghipnotis jiwa introvert Kinan untuk tetap tinggal lebih lama, ia sudah tak peduli dengan Fahad. Mau itu ucapan ataupun yang lain jika ia lohat dengan kedua mata sudah pasti membuat Kinan ingin segera mengeluarkan kekesalan bahkan kemarahannya. Tapi, ia sadar sekarang sedang di sekolah.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di bibir Kinan, sontak Kinan terkejut bukan main saat menyadari Fahad melakukan kecerobohan di sekolahnya. Akan tetapi, saat Fahad memperdalam entah setan datang dari mana sentuhan lembut itu membuat Kinan ingin membalasnya sehingga ciu*man itu mengimbangi keduanya.


Cukup lama melakukan itu, Kinan mendorong keras Fahad hingga tersungkur ke tanah. "Ingat ini di sekolah!" kesal Kinan segera meninggalkan Fahad yang tak peduli kesakitan padahal dirinya salting terlebih lagi wajahnya merah merona bak kepiting rebus.

__ADS_1


•••••~~~•••••


Terima kasih yang sudaah membaca❤ Semoga hari-hari kita penuh bahagia❤☺️


__ADS_2