
Hari demi hari terus berganti, bahkan setiap pergantian waktu terus diiringi dengan putaran sekon, detik, dan menit sampai akhirnya berubah menjadi jam, dari angka jam pula hari itu berganti seiring berjalannya waktu. Fahad semenjak merawat dan menjaga Kinan dirinya rela cuti selama kurang lebih tujuh hari bahkan Kinan pun tidak masuk kelas saat itu, bahkan tidak ada satu pun teman yang menjenguk dirinya semenjak dirawat di rumah sakit.
Akan tetapi, Kinan merasa berbunga-bunga kala membaca notifikasi pesan masuk dari teman yang tak lain adalah Ita dan Brayen dua siswa itu menanyakan keberadaannya dengan panik.
Brayen: [Lo kemana sih sudah hampir seminggu izin terus?]
Kinan: [Heheh, maap. Insya Allah lusa aku masuk ko]
Ita: [Ya ampun, Plend! Jangan bikin wa khawatir!]
Kinan: [Tenang ko, aku cuman izin doang]
Pesan itu terkirim secara terpisah, Kinan menatap Fahad tengah membereskan koper yang berisi pakaian. Bahkan Kinan sudah mengganti pakaiannya, jangan tanya apakah masih terasa sakit atau tidak? Berkat bantuan medis dan obat yang diresepkan perlahan-lahan rasa sakit itu berkurang bahkan kadang-kadang meraskan sakit dibagian perutnya. Tapi, Kinan tidak masalah dengan itu toh sudah satu minggu lukanya perlahan mulai mengering tinggal menunggu waktu untuk melepaskan benang jahit.
Dokter sudah berkata padanya bahwa hari ini boleh pulang, asalkan harus rutin merawat luka yang belum sembilan puluh sembilan persen sembuh dan kering total apalagi bagian perut bekas tusukan benda tajam bernama golok. Karena luka itu hampir melukai salah satu organ reproduksi. Sehingga mau tidak mau Kinan memenuhi persyaratan dokter itu sendiri.
"Akhirnya pulang!" teriak Kinan girang di bangku sofa rumah sakit.
Fahad menggeleng-geleng melihat tingkah sang istri seperti baru saja menemukan permainan kesukaannya. "Iya, kita pulang."
"Apa sudah siap?" tanya Ibha kepada dua insan itu.
"Sudah!" kompaknya.
"Sebelum itu, kalian mau tinggal dulu sama ayah dan ibu atau ke rumah kalian?" tanya Ibha.
"Aku ikut mas Fahad saja," jawab Kinan.
"Sudah jadi istri solehah ceritanya?" goda Harsa.
"Ish Ibu," malu Kinan.
Semua orang seketika tertawa melihat tingkah Kinan seperti kerasukan salah tingkah. Sementara Fahad hanya tersenyum, seolah-olah didikan yang diberikan kepada Kinan terlalu sempurna untuk dijadikan sebagai seorang lelaki sekaligus istri.
"Sudah, sudah. Jadi mau kemana?" tanya Harsa menghentikan suasana melempar tawa.
"Ke rumah sendiri saja lah," jawab Kinan singkat.
.
.
.
Empat orang itu segera keluar dari rumah berbau alkohol setelah Fahad membayar administrasi rumah sakit. Kini mobil yang ditumpangi masing-masing dua orang itu mulai meninggalkan perkarangan rumah menuju tujuan utama yakni kediaman Fahad. Bukan maksud tidak ingin, Kinan ingin menghabiskan masa istirahatnya dengan nyaman tanpa harus merepotkan kedua orang tuanya.
Gara-gara Kinan, kedua orang tuanya memilih meliburkan bahkan menunda dan membatalkan jadwal pertemuan dengan para petinggi perusahaan untuk membahas tentang produk hingga menawarkan kontrak lainnya. Belum lagi dengan tugas menggunung berjejer rapih pastinya di ruang kerja Ibha dan juga Harsa.
Entah berapa belasan menit dua mobil menghabiskan waktu perjalanannya, kini tempat utama Fahad sudah tepat di depan mata. Mobil berjenis toyota fortuner terparkir di depan sana yang tak lain adalah milik Hasan, iya kedua orang tua Fahad menunggu kedatangan keduanya dari rumah untuk mengecek kondisi.
"Ummah dan babah sepertinya sudah menunggu," kata Fahad sembari melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Satu detik ...
Tidak ada pembicaraan yang terlontar bahkan jawaban atas perkataannya pun tidak ada. Fahad menoleh ke arah Kinan yang duduk di sebelahnya, rupanya sang istri tengah tertidur pulas dengan kondisi wajah menghadap ke arahnya. Senyum manis terukir di wajah Fahad saat netranya menatap tulus wajah Kinan.
"Pantas saja dari tadi hening terus, biasanya cerewet," gumam Fahad melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuh Kinan.
Setelah itu, Fahad keluar lebih dulu karena ia merasa bahwa Kinan tidak berasa terusik dengan penggerakannya. Ia segera membuka pintu mobil berwarna putih itu yang ditempati oleh Kinan dan membopong tubuh munggil Kinan. Ada rasa aneh saat mengangkat tubuh sang istri, Kinan yang dulunya dirasa agak terlalu berat kini rasanya seperti mengangkat kapas mungkin efek dari obat rumah sakit apalagi hampir kehabisan darah.
"Istrimu tidur?" tanya Maryam saat mendengar langkah kaki Fahad memasuki area rumah.
Pintu berwarna coklat itu sengaja tidak ditutup oleh Maryam, sehingga ketika mendengar langkah kaki dan mobil bisa dipastikan bahwa Fahad telah sampai rumah. Ia terkejut saat mendapati Fahad membopong tubuh Kinan yang sedang tertidur begitupun dengan Hasan. Ekspetasi yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan realita, karena mereka akan menyambut sang menantu dengan kasih sayang nyatanya zonk.
"Dia tidur, sepertinya lelah. Ummah dan Babah silahkan nikmati dulu, aku ke atas."
Fahad segera berjalan ke tujuan utamanya yakni kamar yang letaknya di atas, setelah itu Harsa dan Ibha baru saja tiba membawa satu koper milik pasutri itu.
"Oh kalian sudah datang," sapa Harsa menyalimi punggung tangan Maryam dan mencium layaknya geng sosialita.
"Kami baru saja tiba," jawab Maryam.
Bi Marni dan Bi Ijah datang membawa beberapa cemilan dan minuman beraneka rasa. Dua orang pembantu itu duduk di sebelah kursi para dua keluarga, karena teringat akan janji Maryam untuk menceritakan kronologis meski itu sudah berlalu sekitar satu minggu lamanya.
"Oh jadi ini asistennya?" tanya Ibha.
"Benar, Tuan. Nama saya Azijah bisa panggil Bi Ijah di sebelah saya Sumarni panggilannya Bi Marni," jawab Bi Ijah menunduk.
"Aku dengar dari Barakka, Bibi juga sama-sama korban," kata Harsa.
"Karena kesibukan kami untuk fokus masak, tiba-tiba ada yang memukul tengguk saya hingga saya pingsan begitupun dengan Bi Ijah," sambung Bi Marni menunduk.
"Apa ada sesuatu yang menjanggal?" Selidik Ibha.
"Tidak ada, Tuan. Karena waktu itu, saya sadar saya sedang dibantu para warga," jawab Bi Ijah.
"Begitu yah. Kalau begitu terima kasih, silahkan berkerja," cakap Ibha gelisah.
Bi Ijah dan Bi Marni yang dirasa sudah cukup puas untuk memberikan beberapa klarifikasi akhirnya dua wanita paruh baya segera beranjak dari tempat duduknya menuju tujuan utama yakni tempat berperang dengan berbagai macam alat yang berjejer rapih di dapur dan beberapa peralatan lainnya yang tersimpan di gudang untuk dipakai kembali sebagai pengisi aktivitas seorang pembantu.
Namun, apa yang terjadi dua wanita itu setelah memberikn klarifikasi ada perasaan gelisah yang masih bercampur aduk. Bi Ijah yang merasakan itu seketika membuka suara, "hei, Mbok? Bukankah kejadian yang menimpa kita dan neng Kinan itu bukan seperti yang kita pikirkan,'kan? Soalnya kalau ada maling seharusnya maling itu langsung ambil barang yang ada di depannya bukan ke atas?"
"Nah itu, kirain saya doang yang mikir itu, Mbok. Musibah itu sepertinya bukan biasa kayak semacam suruhan," tutur Bi Marni setuju dengan perkataan Bi Ijah.
"Iya sih, ko perasaan saya enggak karuan lagi yah? Neng Kinan itu baik orangnya harus mendapatkan perlakuan buruk juga. Padahal jelas neng Kinan itu tidak punya salah apa-apa apalagi dengan den Fahad," geleng Bi Ijah.
"Semoga saja kedepannya Allah melindungi neng Kinan sama den Fahad," kata Bi Marni turut merasakan kegundahan hatinya perihal kejadian satu minggu yang lalu.
"Aamiin ...," jawab Bi Ijah.
••••••••••••••••••••••••••
Sementara itu, di kamar dua sejoli yang sudah dibersihkan dari darah yang tergeletak segar di lantai oleh Fahad semenjak kedua orang tua Kinan menginap di sana. Fahad memilih pulang untuk membawa baju ganti, saat memasuki kamar pribadinya ada dua pembantu sedang membersihkan darah segar yang masih bersimbah di lantai. Sehingga, mau tidak mau Fahad memilih terjun untuk membersihkannya.
__ADS_1
Darah yang tidak terlalu sedikit membuat Fahad merasakan rasa sakit, seolah-olah gagal melindungi Kinan. Tapi, Fahad mengambil hikmah di setiap kejadian itu, harapannya adalah akan membawa kemanapun Kinan pergi bahkan itu hanya di rumah.
Tubuh lelah itu tidak terusik sampai Fahad membaringkannya di atas kasur tidur dan menutupnya dengan selimut hingga sebatas pinggang. Tak lupa, Fahad menyalakan AC dengan suhu yang normal. Takut nantinya Kinan merasa kedinginan, apalagi suasana rumah sakit yang banyak menempelkan alat pedingin ruangan.
Wajah cantik itu tidak berubah meski sedang dalam keadaan pucat pasi, tangan kanan Fahad menyibak rambut yang menghalangi tidur istirahatnya Kinan. Iya, Fahad membuka jilbab Kinan setelah dibaringkan. Bibirnya terus menggambarkan senyuman, sepulas itukah Kinan tidur sehingga dipindahkan, dibaringkan, hingga dilepas jilbabnya tidak terusik sama sekali.
"Aku berjanji, setiap menit bahkan detik aku akan menemanimu kemanapun pergi. Bahkan di rumah sendiri," cakap Fahad mengelus pipi mulus Kinan dan segera bangkit dari aktivitas menjongkoknya untuk menyama ratakan tinggi badan.
Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air shower dingin membasahi seluruh tubuh polos Fahad yang tengah menahan hasrat amarah yang memuncak. Keyakinan dalang dibalik musibah Kinan terus tergiang-giang, dua orang preman yang sudah dijebloskan kedalam penjara itu sudah pasti suruhan seseorang untuk mencelakai sang istri yang tak tahu letak kesalahannya bahkan letak dendam yang terpendam. Sebab, beberapa hari yang lalu Fahad datang ke kantor polisi di mana dua preman mendapatkan hukuman bui bersama Barakka. Mengintegorasi hingga membaca gerak gerik membuat Fahad hapal betul, bahwa diri mereka sedang berada dalam kendalian sang dalang.
Otak Fahad mencerna, jika maling masuk kedalam rumah sudah pasti akan mengincar barang yang berharga apalagi di depan rumah ada berbagai macam benda mahal bahkan ketika memasuki kamar pun si maling takkan melakukan hal lebih kepada si korban asalkan si korban tak sadarkan diri sudah lebih cukup untuk memborong berbagai macam benda yang berharga.
Tapi, perbuatan dua preman itu tidak masuk akal bahkan berbeda dengan yang lain. Itulah pemikiran Fahad saat ini tentang maling masuk kedalam rumah. Berbicara dengan dua preman yang belum lama diintegorasi oleh polisi pun tidak ada pembicaraan yang mengarah pada dalang, hanya diam dan diam.
Tangan Fahad menari-nari bersama sampo yang melekat di rambut hitamnya, sesekalinya menjambak seakan ingin mengingat sesuatu memori kesalahan fatal dirinya, nyatanya tidak ada satu pun memori itu terbesit di pikirannya. Selama kurang lebih sepuluh menit beradu dengan air guyuran shower dan badan diras sudah bersih. Ia mengambil handuk yang tertata rapih di gantungan khusus, melilitkannya dipinggang sehingga tampaklah tubuh bagian atasnya.
"Astagfirullah setan!" teriak Fahad setelah membuka pintu kamar mandi.
"Astagfirullah!" teriak Kinan tak kalah kagetnya, pasalnya Kinan sudah tidak tahan ingin buang air karena pintu kamar mandi terkunci maka tidak ada cara lain selain berdiri diambang pintu tutup itu.
•••••••••••••••••••••
"Ummah, Babah?!" teriak Barakka memasuki kediaman Fahad setelah mendapat pesan bahwa kedua orang tuanya datang untuk menyambut kedatangan Kinan.
"Ummmahmu ada di dapur," sapa Ibha baru saja keluar dari kamar tamu.
Barakka menunduk dan mengulurkan tangannya untuk menyalimi punggung tangan lelaki paruh baya yang merupakan mertua dari sang kakak. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ibha.
"Kabar aku baik, Om," jawab Barakka ramah.
"Alhamdulillah, syukurlah."
Barakka tersenyum dan mengangguk. "Iya, Om. Kalau begitu, aku ke dapur dulu yah." Dan mendapatkan anggukan dari Ibha.
Di dapur ada empat orang wanita sibuk dengan peralatannya masing-masing, siaoa lagi kalau bukan Maryam, Harsa, Bi Ijah, dan Bi Marni. Empat orang itu menjalankan perannya untuk membuat masak makanan siang sekalian makan malam. Sedangkan Hasan entah di mana sehingga membuat wajah Barakka celingak-celinguk tak karuan.
"Ummah," panggil Barakka.
Maryam mendengar itu seketika menoleh mencari sumber suara yang begitu dirindukan, belum genap dua bulan ditinggal oleh sang anak suara Barakka semakin hari semakin baik dan bagus belum lagi dengan suara khas seperti anak memanggil sang ibu. Netra Maryam menangkap Barakka yang tengah berdiri di pintu yabg terhubung dengan dapur, lelaki berpakaian kesehariannya begitu mempesona.
"Oh, kamu baru datang rupanya," jawab Maryam menghampiri sang empu.
Tengguk yang tak gatal adalah kebiasaan Barakka untuk menjawab anggukan dari sang ibu, tak lupa ia menyalimi punggung tangan yang menjadi saksi atas pemberian kasih sayang yang diberikan dengan cara yang tulus sehingga karakter Barakka terbentuk sempurna sebagai seorang lelaki yang bermoral.
"Duduklah," titah Maryam menuntun tubuh tinggi sang anak agar duduk di bangku makan. Barakka hanya menurut saja.
"Babah di mana?"
"Babahmu ada di belakang, ada apa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan untuknya, tapi kak Fahad juga harus ikut terlibat kedalamnya. Karena ini sangat berhubungan dengan masa lalu yang terjadi lagi di saat seperti ini," jawab Barakka serius.
__ADS_1