
Tepat 8 hari kepergian Haidar ke Palembang dan sudah 5 hari tak ada kabar sama sekali dari suaminya itu. Selama itu pula Kalycha seperti ketakutan. Dirinya ingin tetap berpikir positif tapi tak bisa. Pikiran-pikiran buruk tentang suaminya itu selalu menghantui pikirannya. Pasalnya sudah 3 hari berturut-turut ia memimpikan Haidar pergi meninggalkannya selamanya.
"Hei, melamun aja." Alvin yang sedari tadi memperhatikan Kalycha hanya mengaduk-aduk bakso yang ada dihadapannya tanpa memakannya sedikitpun menyadarkan Kalycha dari lamunannya.
"Apaan sih Vin, ngagetin aja." Kalycha cemberut lalu memalingkan wajahnya tak ingin menatap pria yang ada didepannya itu.
"Kamu mikirin apa sih Cha? Dari tadi murung terus."
Setelah kepulangannya dari rumah Kalycha, Alvin jadi lebih sering dan tak gencar untuk mendekati Kalycha, meskipun kadang dia sering dongkol dibuat Adit yang sudah seperti Bodyguardnya Kalycha saja.
"Ga mikirin apa-apa." Kalycha berdiri lalu membayar makanan yang tidak sempat dimakannya itu.
"Gue duluan ya." Alvin ingin mencegah Kalycha pergi tapi langkahnya terhenti saat melihat orang yang dikenal dan dihormatinya itu mendekati Kalycha.
Kalycha berjalan meninggalkan kantin sekolah namun ia heran melihat sosok wanita dengan perutnya yang sudah membesar yang sedikit kesulitan berjalan menghampirinya.
"Bunda, ngapain kesini?" Kalycha melihat Nayla dengan perut buncitnya datang tergesa-gesa untuk menemuinya.
"Kita kerumah sakit sekarang." Nayla memegang tangan Kalycha tanpa menjawab pertanyaan Sebelumnya dari putrinya itu.
"Ada apa Bun? Apa perut Bunda sakit?" Kalycha memegang perut buncit Bundanya. Nayla menggelengkan kepalanya tapi Kalycha heran melihat wajah Nayla sembab seperti habis menangis.
"Sayang, kita kerumah sakit ya. Haidar ada dirumah sakit sekarang."
Deg.
"Apa Bun? Mas Hai dirumah sakit? Mas Hai sakit apa Bun?" Nayla menganggukkan kepalanya. Airmatanya kembali meleleh tapi ia segera menghapusnya tak ingin Kalycha khawatir akan dirinya.
"Kamu ambil tas kamu ya sayang, Bunda sudah permisikan kamu sama Kepala Sekolah untuk pulang cepat hari ini." Sambil berjalan menuju kelas Kalycha.
"Tapi Mas Hai sakit apa Bun?" Lagi-lagi Nayla tidak mampu menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
"Cepatlah, Haidar sudah menunggumu."
Dengan rasa penasaran dan perasaan yang tidak karuan Kalycha mengikuti Bundanya itu. Nayla sudah tidak bisa jalan cepat karena perut buncitnya membuatnya sulit untuk berjalan cepat.
Dengan kecepatan penuh pak Anto melajukan mobilnya segera membawa kedua wanita yang beda generasi itu kerumah sakit.
Perasaan Kalycha berkecamuk dan langkahnya terhenti saat membaca tulisan yang ada diatas pintu ruangan itu.
Sesampainya dirumah sakit Kalycha merasa heran mengapa bundanya tidak membawanya ke ruang rawatan suaminya melainkan ke ruang jenazah.
__ADS_1
"Bun, kenapa kita kesini Bun?" Nayla tidak menjawabnya, airmata Kalycha menetes perasaan takut kembali menghantuinya.
"Bukalah sayang, Haidar ada didalam." Nayla menangis tak dapat lagi ia menahan airmatanya itu.
Kalycha masih belum mengerti dengan maksud ucapan Ibu sambungnya itu. Dengan tangan yang gemetar Kalycha membuka pintu ruangan itu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat semua keluarga dari suaminya sudah berada disana dengan isak tangis yang menderu ruangan itu.
"Kenapa Ibu, Ayah dan Kak Elsa menangis? Siapa yang mereka tangisi? Siapa yang terbaring disana?"
Kalycha melangkah mendekati mereka, tak terdengar lagi olehnya saat teriakan Halimah yang memanggil namanya. Halimah berlari memeluk tubuhnya dan mengucapkan kata sabar untuknya. Seperti mayat hidup Kalycha terus melangkah mendekati jenazah yang terbaring di tempat tidur itu dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Lalu Helsa dan Ayah mertuanya ikut memeluknya.
"Sabar ya sayang." hanya kata-kata itu yang mampu Halimah ucapkan untuk menguatkan menantunya itu.
"Ibu, Ayah, Kak Helsa kenapa menangis? Dan kenapa kalian disini? Kata Bunda Mas Hai sakit terus kenapa kalian semua disini bukannya di kamar Mas Hai." seperti orang yang kehilangan akal Kalycha tidak ingin mempercayai apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
"Sayang, kamu harus sabar dan ikhlas ya nak. Haidar sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Kamu harus kuat dan tawakal ya nak." Halimah kembaki memeluk dan mengusap punggung menantunya itu.
"Bohong–, Ibu bohong kan? Mas Hai baik-baik saja Bu, mas Hai janji akan pulang cepat Bu." Kalycha mendorong tubuh Halimah dari pelukannya. Lalu menatap kearah Bundanya. "Bunda, Ibu mertuaku bohong kan Bun?"
Tak sanggup rasanya Nayla melihat kesedihan putrinya itu. Nayla hanya menggelengkan kepalanya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Bunda katakan kalau mertua Icha bohong Bunda." Kalycha mengguncang bahu Nayla.
"Ibu mertua kamu tidak bohong sayang. Yang terbaring disana itu adalah Haidar suami kamu. Dia meninggal dunia dua hari yang lalu sayang. Jenazahnya baru ditemukan pagi tadi dan langsung diterbangkan ke Jakarta. Mobil yang ditumpangi Haidar saat akan pulang ke Jakarta mengalami kecelakaan sayang. Mobil mereka jatuh ke sungai. Supir dan Haidar tidak bisa selamat sayang. Supir mereka ditemukan sore hari setelah kecelakaan itu terjadi. Karena arus sungai disana sangat deras sehingga membawa Haidar jauh dari tempat kecelakaan itu dan baru bisa ditemukan pagi tadi. Hanya Roy asisten Haidar yang selamat dan sekarang sedang dirawat. Daddy kamu sedang berada disana untuk menanyakan bagaimana kejadiannya sampai mereka bisa kecelakaan. Kamu sabar ya sayang. Ini cobaan buat kita dan kamu harus iklhas sayang."
Pram yang baru saja kembali dari ruangan Roy dirawat mendengar teriakan Kalycha putrinya membuatnya langsung berlari memasuki ruangan itu.
"Icha–, Icha kamu tenanglah sayang." Pram memeluk Kalycha yang terus saja histeris.
"Daddy katakan kalau semua itu bohong Dad. Ga mungkin mas Hai ninggalin Icha. Dad tolong bilang ke Icha kalau ini cuma mimpi kan Dad–."
"Sayang, kamu harus iklhas ya. Haidar sudah tenang disana. Kamu harus kuat ya sayang." Pram menangis tak dapat melihat rapuhnya putrinya saat itu.
Kalycha tiba-tiba terdiam lalu menghapus airmatanya dia berjalan menuju jenazah yang terbaring disana. Perlahan ia membuka kain putih yang menutupi tubuh jenazah yang mereka yakini adalah jenazah Haidar.
"Wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi sayang karena sudah dua hari Haidar baru ditemukan."
"Kenapa kalian bisa yakin kalau ini adalah jenazah mas Haidar? Sementara ini tidak ada bukti kalau ini benar-benar mas Haidar." tanya Kalycha dengar suara yang dibuatnya setegar mungkin.
"Mereka menemukan ini ditubuh Haidar." Pram menyerahkan tas Haidar pada Kalycha.
Kalycha menerima dan membuka tas sandang suaminya itu. Dilihatnya dompet, Handphone dan beberapa barang lainnya yang memang benar adalah milik suaminya.
__ADS_1
Kalycha kembali membuka kain putih itu hingga lutut jenazah itu ia ingin memastikan apakah jenazah itu memakai cincin kawin mereka.
"Jari tangan dan bagian tubuh lainnya sudah membusuk sayang, sehingga mereka tidak bisa menemukan yang kamu cari. Daddy tahu kamu tidak percaya dengan semua ini. Tapi hasil pemeriksaan dari dokter forensik sudah memastikan kalau ini adalah jenazah Haidar. Ini hasilnya." Pram menyerahkan amplop coklat yang berukuran besar itu kepada Kalycha lalu Kalycha langsung membuka dan membaca isinya yang menyatakan kalau itu benar identitas dari korban yang tak lain adalah suaminya.
Pram memeluk bahu Kalycha. "Sayang, kamu harus kuat dan iklhas ya sayang supaya kita bisa mengebumikannya dengan cepat."
Kalycha terduduk dilantai ruangan itu. Tiba-tiba saja lututnya tak mampu menopang berat tubuhnya. Dirinya hanya diam saja, Pram kembali membantunya untuk berdiri. Tak berapa lama petugas dari rumah sakit datang dan menutup kembali jenazah Haidar.
Pram sudah mengurus semua administrasi rumah sakit dan ambulance sudah siap untuk membawa jenazah Haidar ke pemakaman.
"Kak, bukan hanya Kakak yang kehilangan Kak Haidar, tapi kita semua yang ada disini kehilangan Kak Haidar. Kakak tolong iklhas Kak Haidar ya." Helsa yang selalu mendampingi Kalycha. Ia tahu betapa hancurnya perasaan Kakak Iparnya itu. Di usianya yang masih sangat muda bahkan bisa dikatakan belia tapi sudah menyandang status janda.
Kalycha hanya diam, tak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya. Ribuan kata sabar dan iklhas tak bisa mewakili perasaannya saat itu.
"Kenapa Tuhan begitu jahat padaku, dulu dia mengambil Mommy dariku disaat aku benar-benar membutuhkannya. Dan sekarang Tuhan juga mengambil suamiku disaat aku sudah membuka hatiku untuknya. Kenapa hanya rasa sakit yang kau tinggalkan untukku mas? Apa yang harus kulakukan setelah ini? Kau juga sudah mengambil satu-satunya kesucian yang ku miliki dan disaat aku sudah menyerahkan semuanya kenapa kau tinggalkan aku. Kenapa?"
Berat rasanya meninggalkan makam Haidar, Kalycha belum juga mau beranjak dari tempatnya berdiri sementara sebagian dari mereka yang ikut mengantarkan jenazah Haidar ketempat peristirahatannya yang terakhir sudah pada berpulangan meninggalkan pemakaman itu.
"Sayang mari kita pulang." ajak Nayla tapi Kalycha hanya diam. Begitu juga dengan yang lain mereka berusaha mengajak Kalycha untuk pulang tapi dirinya seperti terpaku ditempatnya berdiri.
"Ijinkan Icha untuk tinggal sebentar disini Dad." ucapnya dengan pandangan lurus ke makam suaminya itu tanpa melihat kearah mereka yang sangat mengkhawatirkannya.
"Tapi sayang ini sudah hampir gelap."
"Dad, Icha janji akan pulang. Sebentar saja. Icha masih pengen disini sebentar saja."
"Ya sudah kalau begitu Daddy akan menemanimu."
"Ga Dad, Icha pengen sendiri. Nanti Icha pulang sama Pak Anto saja."
Pram tahu bagaimana perasaan putrinya itu hanya bisa menuruti keinginan putrinya itu.
"Jangan lama-lama ya sayang, kita akan menggelar acara tahlilan dirumah mertua kamu sayang."
Kalycha hanya menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati semua orang meninggalkan Kalycha sendirian di pemakaman itu.
Kalycha berdoa untuk suaminya meminta kepada sang pencipta untuk menempatkan suaminya itu disurgaNya.
Kalycha berjalan mendekati gundukan tanah yang masih basah itu. Ia berbaring dan memeluk tanah tempat suaminya itu dimakamkan.
"Kita dipertemukan sudah lama, tapi aku baru mengenalmu. Baru ku coba membuka hatiku untuk mencintaimu. Pernikahan kita belum genap sebulan mas tapi mas sudah meninggalkan aku. Hah–, ternyata ucapanku di dengar Tuhan mas. Sekarang aku Janda. Maafkan aku mas, aku ga pernah bersikap baik padamu. Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku nanti mas? Kenapa mas pergi sendirian? Bawalah aku bersamamu mas."
__ADS_1
Sumpah Author mewek nulis ceritanya 😭
Jangan lupa Like dan Kasih Bunga untuk Haidar ya 😔