
Waktu subuh biasanya orang-orang sudah bangun untuk beribadah terlebih dahulu lalu bersiap-siap menyelesaikan pekerjaan lainnya seperti ibu rumah tangga yang menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Suami yang mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja begitu juga anak-anak yang bersiap-siap untuk berangkat kesekolah tapi subuh kali ini berbeda dengan hari-hari subuh sebelumnya dikeluarga Bramasta itu.
Subuh kali ini mereka dihebohkan dengan berita akan kelahiran anak pertama Kalycha. Bukan hanya Keluarga Bramasta tapi juga keluarga Yudistira dan Prakasa mereka sudah ditelpon oleh Haidar dan mengabari kabar berita akan kelahiran cucu mereka. Semua Keluarganya heboh dibuat Haidar.
Mereka saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana tempat Kalycha biasa memeriksakan kandungannya.
"Mas sakit–." Kalycha meringis kesakitan begitu juga dengan Haidar yang tak luput menjadi sasaran cengkraman Kalycha. Kadang Kalycha mencengkram lengannya kadang juga pahanya membuatnya mau tidak mau harus menahan rasa sakitnya.
"Aaauuu Sakit Yang–." Kali ini Kalycha menjambak rambut Haidar, entah sudah berapa banyak rambutnya rontok dan berada digenggaman Kalycha.
Sesekali Pram melirik dari kaca spion mobilnya dalam hati ia menertawakan Haidar karena dulu ia tidak pernah mengalami hal itu karena Nayla istrinya melahirkan melalui proses sesar hanya saja ia teringat akan Ilona Mommy Kalycha, saat ingin melahirkan Kalycha dulu Ilona juga mengalami sakit yang sama dan ia juga seperti Haidar sekarang menjadi sasaran kemarahan istrinya dengan mencengkram dan menjambak rambutnya.
"Lona sebentar lagi cucu pertama kita akan lahir. Kau dampingilah putri kita, berikan dia semangat." Batin Pram ketika mereka sudah sampai dirumah sakit.
"Sakit Mas–." lirih Kalycha lagi.
"Sabar ya sayang, kamu harus tetap semangat." Nayla yang berada disamping kirinya membelai lembut rambutnya.
"Kak–." Helsa membuka pintu kamar Kalycha. Ia baru saja selesai melakukan operasi cyto pada pasiennya. Halimah menghubunginya dan memintanya untuk melihat keadaan Kalycha.
"Helsa–, kamu kok ada disini?" tanya Haidar bingung karena seingatnya jarak rumahnya dengan rumah sakit sedikit jauh. Karena saat ini Helsa sudah tinggal dirumah Roy suaminya. (Kisah Roy dan Helsa nanti Author kasih bonus di extra part ya 🤗)
"Tolong kamu dampingi Icha dulu ya, saya mau nelpon kerumah dulu mastiin si kembar ga rewel dirumah." ucap Nayla pada Helsa dan dibalas anggukan kepala dari Helsa.
"Helsa ada operasi Kak–." sahutnya lalu mendekati Kalycha. "Kak Icha semangat ya." ucapnya memberi semangat pada Kalycha kakak iparnya.
"Sakit Kak Helsa." rengek Kalycha dan Helsa hanya tersenyum.
"Kak Icha harus semangat, ingat loh bentar lagi Kak Icha akan bertemu sama jagoan Kakak."
"Kok jagoan Sa?" tanya Haidar karena sampai saat ini mereka sengaja masih menyembunyikan jenis kelamin bayinya karena mereka ingin mendapat surprise saja. Sementara Helsa memang sudah tahu dan dokter Widia, dokter kandungan yang menangani Kalycha karena Haidar tidak ingin Kalycha diperiksa oleh dokter Wandi sebingga dia meminta Helsa untuk mengganti dokter kandungan Kalycha menjadi dokter wanita.
"Iya kan nantinya bayi Kakak yang akan menjadi jagoan yang penyemangat Kak Icha." Helsa harus mencari alasan yang tepat supaya Haidar tidak merasa Helsa sudah mencuranginya.
"Sakit Maaas–."
"Helsa coba kamu kasih obat penghilang rasa sakit. Kamu kan juga dokter Sa?" Haidar merasa tidak tega melihat Kalycha yang tetus saja meringis kesakitan.
"Kak Icha tarik nafas, terus keluarkan, ditiup-tiup aja Kak setiap sakitnya datang."
"Kamu Kakak minta cari obat penghilang rasa sakitnya Sa, bukan malah menyuruh Icha untuk menahan sakitnya." Haidar sedikit meninggikan suaranya. Airmatanya hampir saja tumpah melihat Kalycha yang sangat kesakitan.
"Kak, orang yang mau melahirkan itu memang rasa sakitnya yang dicari. Karena itu proses bayinya mencari jalan lahirnya.
"Ee, ada Bu Icha ya? Sudah sering sakitnya?" Sapa dokter Widia yang masuk keruangan Kalycha. Kalycha hanya menganggukkan kepalanya.
Sejak awal Kalycha memang sudah langsung masuk ke kamar VIP seperti permintaan Haidar sebelumnya. Dan kebetulan Rumah Sakit itu menyediakan ruangan bersalin khusus untuk pasien VIP.
"Maaf ya saya datang agak terlambat karena baru saja operasi sesar bareng dokter Helsa."
"Dok bagaimana keadaan istri dan bayi saya dok. Kenapa dia kesakitan terus dok? Tolong dokter cari cara untuk menghilangkan rasa sakitnya dok–." pinta Haidar.
Dokter Widia tersenyum mendengar permintaan Haidar.
__ADS_1
"Sabar ya Pak, sekarang istrinya kita periksa dulu." ucapnya lalu meminta Bidan yang mendampinginya untuk membawa Kalycha keruangan pemeriksaan. "Dokter Helsa mau ikut?" tanya Widia yang melihat Helsa diam saja.
"Hmm sebaiknya Kakak saya saja dok–." ucap Helsa cepat. Ia merasa ngilu melihat Kalycha meringis kesakitan. Ia menahan dirinya agar tidak terlihat takut didepan Kalycha dan Haidar. Biasanya kalau dengan pasien Helsa biasa saja tapi karena Kalycha orang yang dikenalnya bahkan kakak iparnya membuatnya sedikit takut.
"Kak, temenin Icha, Mas Hai kurang paham nanti apa yang dijelasin dokter Kak." pinta Kalycha dan mau tidak mau Helsa pun menurutinya.
Bidan Ayu itu yang tertera di papan nama wanita yang membantu dokter Widia, ia membantu Kalycha berjalan menuju ruang periksa.
"Bu, sebaiknya ****** ******** dibuka dulu ya supaya nanti dokter mudah untuk melakukan pemeriksaannya. Pakai kain sarung aja ya Bu." ucap Bidan Ayu dengan ramah dan sopan.
Haidar bingung ia lupa dimana ia meletakkan perlengkapan bayinya karena semua keperluan istri dan bayinya berada ditas yang sama.
"Mas–, kok diam aja ambilin tasnya." ucap Kalycha saat melihat Haidar yang bengong.
"Iya sebentar Mas ambilkan. Sa, kamu dampingi Icha bentar." Haidar menyerahkan tangan Icha pada Helsa. Setelah tangan Kalycha diambil alih oleh Helsa, Haidar langsung kembali ke kamar Kalycha dan mengambil perlengkapan bayinya.
"Ini tasnya Bu–" ucap Haidar sambil menyerahkan tasnya pada Ayu.
"Kakak apa-apaan sih, sini aku yang ambil. Masa langsung main serahin gitu." protes Helsa.
Haidar bingung karena ini adalah pengalaman pertamanya mendampingi wanita hamil yang ingin melahirkan. Helsa memberikan kain sarung pada Kalycha.
"Dampingi sana Kak Icha ganti kain sarungnya."
Haidar menuntun Kalycha berjalan ke toilet dan membantu Kalycha berganti.
"Biar mas aja yang buka kamu ga usah menunduk begitu." Haidar mengangkat daster Kalycha dan membuka kain penutup pintu miliknya itu.
"Sa-sayang– da.darah..!!" Haidar gugup wajahnya begitu pucat saat melihat lendir darah pada CD Kalycha. Tapi ia menguatkan tekadnya ia harus mendampingi Kalycha, ia tak boleh pingsan.
"Mas–, kamu ga apa-apa? Muka mas pucet banget loh."
"Mas ga apa-apa Sayang. Kamu semangat yah. Mas akan terus bersamamu, kalau kamu ga kuat bilang sama Mas supaya kamu operasi saja sayang."
"Aku pengennya melahirkan normal Mas, aku ingin menjadi wanita seutuhnya. Bisa merasakan mengandung dan melahirkan. Kalau operasi itu sama saja seperti tidak melahirkan Mas. Selagi anak kita baik-baik saja dan tidak ada indikasi yang mengharuskan aku untuk operasi maka aku ingin melahirkan secara normal saja Mas." jelas Kalycha, dan Haidar hanya bisa mendukung keputusan istrinya itu.
"Lagi pula pemulihannya lebih cepat dibandingkan dengan operasi Mas–." lanjutnya lagi.
"Ya udah kalau itu yang sudah menjadi keputusanmu, tapi kalau pun kamu memilih untuk operasi Mas tetap mendukungmu sayang." Haidar memeluk dan mencium kening Kalycha lalu mencium bibir istrinya seperti memberi kekuatan kepada Kalycha.
Haidar menuntun Kalycha mendekati Bidan Ayu.
"Silahkan berbaring disini ya Bu–." ucap Ayu sambil membantu Kalycha untuk berbaring.
"Pelan-pelan Bu bidan–." ucap Haidar dan hanya dibalas senyuman oleh Ayu.
"Kain sarungnya diangkat ya Bu, pantatnya diletakkan posisinya pas didekat lubang tempat tidurnya ya. Supaya memudahkan dokter untuk memeriksanya." Ayu membantu Kalycha untuk sedikit turun kebawah meletakkan posisinya seperti yang di perintahkan Ayu.
"Dibuka kakinya ya Bu–." ucap Bidan Ayu lagi.
"Mas aku malu." lirih Kalycha.
"Tidak perlu malu, kita semua perempuan disini Bu, atau mau suaminya disuruh keluar karena hanya suami Ibu yang laki-laki disini." ucap dokter Widia berseloroh.
__ADS_1
"Jangan dok–, saya mau suami saya tetap disini."
"Ya sudah, Ibunya koperatif yah, dokter juga kan? Tentunya sudah tahu proses melahirkan itu seperti apa ya Bu–." ucap Widia lagi. Kalycha tak heran kalau dokter Widia juga tahu profesinya.
"Aaauuu Masss sakit." Kalycha kembali mencengkram tangan Haidar dengan kuat. Kalau saja Kalycha tidak rajin memotong kukunya tentulah tangannya sudah banyak bekas luka cengkraman tangan Kalycha.
"Iya sayang, sabar ya." Hanya kata sabar yang dapat Haidar ucapkan karena ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Ibu ayo tarik nafasnya. Kalau sakitnya datang tarik nafas ya lalu buang perlahan. Jangan mengejan dulu ya Bu, takut nanti kepala anaknya jadi kaput atau memanjang." tutur Bidan Ayu.
"Jika sudah tidak sakit lagi kakinya dibuka ya Bu biar saya periksa pembukaan sudah berapa." ucap dokter Widia.
"Pembukaan? Maksudnya apa dok?" tanya Haidar bingung sementara dokter Widia hanya membalasnya dengan senyuman.
"Sabar ya pak saya periksa dulu istrinya sudah pembukaan berapa." Haidar mengangguk kecil.
"Sekarang tarik nafasnya ya Bu, saya mulai masukkan jari saya–." ucap dokter Widia lalu Kalycha mengikuti apa yang dianjurkan dokter Widia.
"Sakit dok–." lirih Kalycha saat Widia memasukkan jarinya kebagian intinya itu.
"Iya sabar ya. Tarik nafas–, buang–." Setelah selesai memastikan pembukaan Kalycha dokter Widia membuka sarung tangannya lalu membuangnya ketempat sampah.
"Ini kontraksinya bagus dan sudah pembukaan 4 ya Pak."
"Nah, Pembukaan itu adalah proses membukanya leher rahim atau serviks per sentimeter (cm) sebagai jalur lahir bayi saat persalinan atau melahirkan."
"Proses pembukaan persalinan biasa dihitung dengan angka 1-10 artinya pembukaan 1 itu kira-kira serviks atau leher rahim terbuka melebar 1 cm meter dan saat ini Ibu Kalycha sudah memasuki pembukaan 4 yang artinya pembukaan serviks untuk lahiran kira-kira sudah selebar 4 cm."
"Pembukaan 4 bisa dikatakan sebagai tanda persalinan paling pertama muncul. Selama masa ini, ibu Kalycha akan kerap merasakan kontraksi rahim yang mulai rutin."
"Dan kita tunggu sampai pembukaan lengkap ya Pak, pembukaan lengkap itu yaitu pembukaan 10 dimana bayinya sudah siap untuk dilahirkan. Kalau kontraksinya bagus mungkin 6 atau 8 jam lagi Bapak dan Ibu sudah bisa bertemu dengan anak Bapak dan Ibu." jelas Widia.
"Selama itu dok? Jadi istri saya akan mengalami sakit selama itu." wajah Haidar sudah mulai pucat. Tak sanggup rasanya bila melihat istrinya kesakitan. Melihatnya kesakitan sebentar saja sudah membuatnya ikut merasa sakit apalagi kalau sampai menunggu 6 atau 8 jam lagi.
"Ia Pak, karena ini anak pertama makanya prosesnya selama itu. Kalau ini anak kedua atau ketiga mungkin prosesnya tidak akan selama ini pak. Dan ini normal untuk wanita yang ingin melahirkan normal." jelas Widia lagi.
"Sayang kamu Operasi saja ya Sayang? Mas ga tega liat kamu kesakitan begini?" Haidar membujuk Kalycha supaya tidak mengikuti proses yang menyakitkan itu.
"Kak, didukung dong Kak Icha yang pengen lahir normal kenapa malah di minta operasi?" Protes Helsa.
"Diam kamu? Kamu tahu apa? Kamu juga belum pernah kan merasakan sakitnya melahirkan?" bentak Haidar, airmatanya sudah mulai menetes melihat Kalycha yang kembali menahan sakitnya.
"Itu wajar Dar–." ucap Halimah yang kini sudah bergabung dengan mereka setelah mendapatkan ijin dari Ayu untuk masuk ke dalam ruang periksa menantunya. "Dulu Ibu juga mengalaminya saat melahirkan kamu, rasa sakit yang harus dicari nak. Tapi begitu Ibu melihat kamu lahir rasa sakit itu hilang seketika saat Ibu mendengar tangisanmu." ucap Halimah menenangkan Haidar.
"Kamu yang kuat ya Nak, sabar dan berdoa. Kamu harus ingat bagaimana perjuanganmu yang membawanya kemana-mana selama sembilan bulan. Rasa lelahmu, sebentar lagi akan terbayar Sayang. Kamu harus semangat ya sayang. Istighfar dan berdoa semoga Tuhan memberikan kamu kekuatan dan tenaga saat melahirkan nanti." Halimah mengelus lembut rambut Kalycha dan mencium kening menantunya itu.
"Bu, maafin Icha ya kalau Icha ada salah sama Ibu." Kalycha merasa seperti banyak salah kepada Ibu mertuanya itu.
"Kamu ga perlu minta maaf sayang. Kamu itu menantu dan juga anak Ibu. Sekarang kamu harus ingat, kamu harus semangat karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan cucu Ibu."
"Sayang kamu makan dulu ya." Nayla masuk kedalam ruangan periksa Kalycha. "Tadi dokter Widia minta kamu supaya makan dulu dan kalau bisa kamu mandi dulu biar seger. Kan masih lama lagi sayang. Menunggu 6 atau 8 jam." Kalycha menganggukkan kepalanya pelan.
"Dar, kamu bantu bawa Kalycha kembali keruangan." ujar Nayla.
__ADS_1
"Sebaiknya dipantau terus ya Bu, kalau pun mandi tolong ditemani jangan dibiarkan sendirian Ibunya. Soalnya kontraksinya bagus siapa tahu proses pembukaannya lebih cepat dari yang diperkirakan." ucap Bidan Ayu.
"Baik Bu Bidan." jawab Nayla dan Halimah bersamaan.