My Soulmate

My Soulmate
Mau Lagi?


__ADS_3

Tak terasa bel pulang pun tiba, para siswa yang menghabiskan waktunya selama kurang lebih delapan jam akhirnya berbondong-bondong keluar dari kelas menuju tempat parkir untuk membawa kendaraan masing-masing. Kinan melihat Barakka seketika dengan langkab cepat menghampirinya.


"Hei!" sapa Kinan menepuk keras Barakka.


"Anj—."


"Engga sopan banget kau," potong Kinan.


"Eh, Kak Kinan kirain siapa. Maklumin refleks makanya jadi kaget dan otomatis mengeluarkan kata umpatan," kekeh Barakka tanpa dosa.


Kinan menggeleng dan tersenyum. "Aku pulang bareng kamu boleh?"


"Bukannya mau sama bang Fahad?"


"Enggak, boleh yah?"


"Boleh sih, tapi apa sudah bilang ke bang Fahadnya kalau Kakak pulang bareng Barakka?"


"Belum," jawab Kinan.


Barakka menepuk jidatnya. "Mending kasih tau dulu, Kak!"


"Oke deh," pasrah Kinan segera merongoh rok untuk mengambil benda pipih dan menuliskan sesuatu kepada kontak bernama 'My Math' yang berarti Matematika ku. Kinan sengaja menamakan Fahad dengan sebutan itu, karena sesuai karakternya Fahad adalah guru matematika yang cerdas.


Setelah terkirim dan tidak mendapatkan tanda baca biru hanya tanda baca abu-abu, menandakan bahwa Fahad sepertinya sedang sibuk mana lagi ujian sekolah untuk kelas 12 tinggal menghitung hari saja yang tinggal berapa minggu lagi.


"Gimana?" tanya Barakka setelah sampai parkiran dan mulai memasukkan helm ke kepalanya tak lupa juga menguncinya.


Kinan menggeleng. "Belum ada balasan mungkin dia sibuk."


"Kalau begitu, boleh minjem hp Kakak?"


"Buat apa?" tanya Kinan menyerit.


"Minjem saja, mau nelepon bang Fahad kalau pesan lama lagian aku sudah lapar," protes Barakka sedikit dan mendapatkan jawaban dari Kinan. Ia segera menekan nama 'My Math' itu dan menekan tombol ikun berbentuk telepon.


"Bang! Aku balik sama Kak Kinan."


"......."


"Halah lama! Aku sudah lapar, jadi aku balik bareng Kak Kinan."


"........"


"Baiklah, aku cabut Bang!"


"......."


"Iya," kata Fahad dan menyerahkan ponselnya kepada Kinan tanpa mematika telepon.


"Kenapa?" heran Kinan.


"Enggak tau, jawab aja!" kata Barakka.


Kinan segera mengambil handphone miliknya dan menekan tombol merah, malas berbicara dengannya setelah kecewa melihat apa yang diperbuat oleh Fahad beberapa jam yang lalu. Hal itu membuat Barakka menyerit heran. "Kenapa?"


"Ngak! Buruan, aku capek," keluh Kinan dan mendapatkan anggukan dari Barakka.


Barakka segera meninggalkan sekolah tanpa memperdulikan tatapan siswa yang tak banyak, karena Barakka adalah seorang most wanted sehingga banyak dari mereka mengenalnya bahkan kakak tingkat pun sama, tapi Barakka bodo amat dengan semuanya lagian yang memberikan wajah tampan bukan keinginan dirinya melainkan Penciptanya.


•••••••••••••••••••••


Tak terasa waktu sore pun tiba, Fahad sudah sampai rumah tepat saat adzan ashar tiba. Dua insan itu melaksanakan shalat asar berrjamaah, semenjak kejadian itu Kinan masih kesal atas tingkah suaminya. Bagaimana tidak? Istri macam apa jika cemburu kepada suaminya, meski harus sadar akan status bahwa dirinya hanyalah murid tapi apa salahnya jika cemburu.


"Sayang?" panggil Fahad semenjak sampai rumah sikap Kinan begitu asing untuk Fahad terima, seolah-olah pikirannya tergiang-giang bahwa Kinan masih marah.

__ADS_1


Kinan tidak menoleh, tatapannya fokus mengerjakaj tugas yang diberikan oleh guru yang mengajar di kelas 12 IPS itu. Bahkan ketika sampai rumah, Fahad baru saja datang Kinan tidak menyapa maupun berbicara. Tatapan dinginnya masih tertampak, seolah-olah rasa kesal, kecewa, dan marah menjadi satu.


"Ayolah, jangan abaikan itu. Aku sudah bilang itu hanya salah paham, dia main nyosor," ujar Fahad dengan tatapan menghiba.


Kinan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan berat, ia menghentikan aktifitas olah raga jati jemarinya dan berdiri menghampiri Fahad yang masih berdiri dari balik bangku belajar yang ia duduki. Menatap lekat pandangan Fahad yang meran, sehingga keningnya menyerit heran.


"Bi*bir kamu bekas guru murahan itu, jadi sini aku ingin menghapusnya!"


Entah setan macam apa, Kinan sekarang sudah berani menginginkan sesuatu kepada suaminya. Sementara Fahad yang mendengar itu seolah-olah menajamkan telinganya seakan takut salah dengar pun menyipitkan matanya.


"Aku bilang, bi*bir kamu bekas orang lain! Jadi, sini aku ingin memghapusnya sampai tuntas!"


"Emang bisa?"


"Iya bisa lah. Sekarang kamu duduk, terus aku duduk dipangkuan kamu," titah Kinan mendorong pelan tubuh Fahad sehingga ketika Fahad terduduk di ranjang mendapatkan respon satu alisnya terangkat.


Setelah itu, Kinan dengan kondisi jantung yang terus berdengup kencang pun duduk dengan tubuhnya menghadap Fahad sehingga tatapan keduanya bertemu. Suara nafas pun terdengar, Fahad membiarkan istrinya meluapkan semua rasa kecewanya sehingga ia membiarkan Kinan melakukan sesukanya.


Saat Kinan akan memulai aksinya ...


Cup!


Fahad terkejut sehingga matanya terbelak sempurna atas apa yang dilakukan oleh Kinan, rupanya Kinan merasa cemburu sekaligus kecewa sehingga rasa itu diluapkan melalui ciu*man beraninya. Kinan memperdalam tautan beraninya sehingga tautan itu perlahan menjadi lum*atan, Fahad tidak membalas itu meski ingin tapi karena mengerti akhirnya membiarkan Kinan melakukan semuanya.


Cukup lama, sampai Kinan mengakhiri semuanya dengan cara mengigit lebih keras sampai Fahad meringis.


"Aaassswww," ringis Fahad segera menjauhkan wajah Kinan darinya dengan mendorong kening Kinan yang merah padam.


Kinan yang merasa kepalanya didorong oleh Fahad menampilkan wajah polosnya tanpa dosa, meskipun jantungnya tak karuan akibat keinginannya sendiri dengan cara berani. "Kenapa?"


"Kenapa kamu mengigitku, itu sakit, Sayang," jawa Fahad melongo saat mengetahui tingkah istrinya itu.


"Kan aku sudah bilang aku ingin menghapusnya, jadi aku mengigitmu. Apa aku salah atau mau lagi?"


"Oh mau lagi? Sini aku gigit lebih lagi," sahut Kinan dengan senyum sumrigahnya.


"Tapi jangan sampai kau gigit juga, apa kamu tidak kasihan jika suamimu bi*birnya terus berdarah?" protes Fahad sedikit kesal.


"Engga, lagian apa salahnya. Aku kan istrimu."


"Iya sih, kalau mau lagi minimal kasih sentuhan sayang gitu. Bukan malah gigit, kalau gigit terus ditanya sama yang ada di sekolah gimana jawabnya."


"Yah tinggal bilang, tersengat lebah gitu!"


Fahad yang mendengar itu seketika tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Kinan, ia segera membalas ucapan itu dengan cara mengelitik perutnya hingga terjatuh. Sehingga tubuh Kinan berada di bawah kukungan Fahad dengan jari jemarinya sibuk mengelitik perut rata Kinan.


"Haha .. haa ... haha ... hentikan!"


"Siapa yang bilang begitu, jadi rasakan!" protes Fahad tak terima.


"Haha ... haha ... tolong ... hentikan, hentikan," kata Kinan dengan nada memohon dan akhirnya Fahad menghentikannya dan segera menyambar tubuh sang istri dengan cara mendekapnya.


Kinan yang merasakan tingkah Fahad memeluknya dari samping seketika membalas pelukan itu dengan cara memegang pinggang Fahad, tangannya juga mengelus pipi mulus Fahad.


"Aku ingin kamu cepat lulus," lirih Fahad.


"Sabar dulu yah, kamu harus berpuasa selama enam bulan," kata Kinan dengan nada mengejek.


"Apa kamu mengejekku?"


"Tidak, aku tidak mengejekmu. Ini kenyataan, aku lulus enam bulan lagi jadi kamu harus sabar menunggunya."


Fahad kemudian menggambarkan bibirnya menjadi senyum, menci*um kening Kinan dengan kasih sayang. "Baiklah, aku akan menunggumu."


"Bolehkan aku bertanya?"

__ADS_1


"Kenapa?"


•••••••••••••••••••••••••••••••••


Sementara itu di tempat gelap, seorang wanita bersama beberapa lelaki mengelilingi bak seorang babu nurut pada majikannya tengah mendengarkan sesuatu yang membuatnya menurut.


"Bisakah kalian awasi lelaki ini dan juga wanita ini?" tanya wanita itu sembari melempar foto dua insan.


"Bisa, Nyonya!" terima lelaki hidung belang dengan semangatnya.


"Jika keduanya memiliki suatu hubungan, maka culik saja wanita itu. Sisanya terserah kalian mau diapakan dia," ucap wanita itu dengan senyum misteriusnya.


"Baik, Nyonya," ucap salah satu lelaki dengan tato bergambar harimau.


"Bagus, jika rencananya berhasil ku beri uang lima kali lipat," ujarnya.


"Baik, Nyonya," ucapnya segera menjalankan aksinya.


Sementara dari balik rencana itu, ada satu orang lelaki dengan postur badan yang atlentis. Ia segera menelepon salah satu temannya untuk memberitahukan aksi itu supaya mendapatkan penurutan darinya.


"Siap, gue tunggu aksinya," jawab lelaki itu dari balik sebrang telepon dan menatap wanita itu dengan senyum kemenangan.


•••••••••••••••••••••••••


Sinar bulan menampakkan cahayanya, bumi yang tadinya terus diisi dengan segala berbagai aktifitas. Kini bumi mulai sunyi memberikan nuasa hening yang damai, udara kesegaran dari suasana malam menghipnotis para kaum introvert untuk segera mengisi daya baterai yang lemah. Kinan sudah selesai melaksanakan sembahyangnya, bahkan sudah selesai jua dengan tugas yang bergulat dengan fikiran yang beraneka ragam. Bahkan alphabet terus tersusun menjadi bentuk frasa, sehingga selain Kinan terkenal dengan kejeniusan memberikan pendapat ia juga jenius dalam bidang sesuatu yang meyenangkan semacam paham meski hanya satu kali penjelasan.


Sebuah tangan melilit di pinggang ramping Kinan, sontak Kinan refleks terkejut dan memcium aroma yang tak familier. Iya, Fahad memeluk Kinan dari arah belakang memberikan kehangatan yang dilsalurkan melalui batin yang terus memberontak ingin segera keluar dan menuntaskannya.


"Apa kamu sehabis lulus kamu ingin melanjutkan studimu?" tanya Fahad sembari menyembunyikan wajahnya dibalik cekuk leher dan memciumnya.


Kinan yang merasakan itu seketika bulu kuduknya merinding dan mencoba menetralkan suasana jantung yang hampir meledak. "Entahlah."


"Katanya mau jadi hukum?"


"Iya sih, tapi,'kan nanti ribet, Sayang."


"Ko jadi ribet sih?"


"Lagian kalau sudah punya anak, maka otomatis aku harus fokus ke pekerjaan aku sampai aku mengabaikan anakku."


"Kan, kita bisa nyewa baby sister?"


Kinan menggeleng cepat. "No! Aku tidak mau menyewa baby sister, aku ingin anakku langsung mendapatkan kasih sayang dari aku bukan dari orang lain. Toh, seorang anak butuh kelekatan dari orang tuanya bukan dari orang lain," omel Kinan panjang lebar.


"Kalau begitu, kita bisa menunda anak," kata Fahad seketika oraknya mulai travelling karena ucapannya otomatis keluar dengan sendirinya.


"Tidak, kalau menunda anak sampai aku lulus kuliah berarti kamu sudah tua," cibir Kinan mengigit bibir bawahnya supaya tidak ketawa.


Fahad menggeleng mendengar suara Kinan yang terbilang mengejeknya, tapi dirinya bodo amat dengan semuanya yang penting istrinya bahagia. "Baiklah, kalau begitu aku ikut mau mu saja. Karena yang mengandung itu kamu sedangkan aku cuman nitip doang."


Kinan tak mengubris perkataan Fahad, mulutnya terbuka lebar udara masuk menyerang seluruh tubuhnya. "Tidur yuk!"


"Boleh," terima Fahad.


Kinan kemudian membalikkan badannya sehingga keduanya saling berhadapan, tatapan keduanya terus terlempar, senyum manis terukir di wajah Kinan hingga mengalungkan kedua tangannya di leher Fahad. Fahad mengerti dengan itu bahkan sudah menjadi kebiasaan setiap kali hendak tidur. "Mau lagi?" tawar Fahad.


"Tidak, gendong aku," jawab Kinan dengan mata yang tak kuasa menahan kantuk yang terus menyerang.


"Baiklah, aku akan mengendong mu." Fahad segera mengangkat tubuh Kinan itu seperti monyet mengendong anaknya, dan membaringkannya di kasur. Ia tak lupa memberikan selimut kepadanya supaya tidak kedinginan dan mengecup kening Kinan sebagai tanda ucapan selamat malam. Kina membalas itu dengan cara mendekap dan menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang Fahad.


•••••~~~•••••


Terima kassih yang sudah membaca, khususnya yang memberikan kritik dan saran yang membangun🤗❤


Seemoga harimu penuh dengan bahagia❤❤

__ADS_1


__ADS_2