My Soulmate

My Soulmate
Pengabdian


__ADS_3

Kini matahari mulai menenggelamkan diri, suasana bumi mulai memasuki waktu istirahat dengan damai. Suara jangkrik nyaring mengisi rumah sederhana Saidah yang tengah sibuk bersama Dania menyiapkan makan malam sembari menunggu Zaid pulang yang katanya sedang mengantar anak Pak RT sakit karena usus buntu akut dan membutuhkan operasi untuk mengangkatnya.


Suara kumandang adzan magrib mengema, rumah Saidah memiliki jarak tidak terlalu jauh dengan masjid sehingga suara itu terdengar jelas di telinga keduanya. Saidah menghentikan aktivitas memasaknya yang sudah selesai, tinggal ditata di meja dan di piring dan tentunya Dania ikut terlibat meski Saidha sudah melarang supaya Dania memilih istirahat karena luka kakinya belum sembuh sepenuhnya bahkan tubuh Dania juga masih banyak luka lebam dan luka darah segar.


"Neng, adzan magrib sudah berkumandang. Ayo kita sholat maghrib dulu," kata Saidah dan mendapatkan anggukan dari Dania.


Dua wanita menjalankan shalat maghrib bersama selama kurang lebih lima belas menit dan tak lupa diiringi dengan tasbih untuk menyempurnakan ibadahnya. Setelah selesai, Dania menyalimi punggung tangan wanita itu dengan penuh takzim sedangkan Saidah membalas itu dengan senyuman dan doa yang tulus sebagaimana doa sang ibu untuk anaknya.


"Bu, boleh aku bertanya?" tanya Dania setelah selesai melipat mukena.


"Boleh," jawab Saidah menatap tulus Dania.


"Apa kampung ini ada sekolah?"


"Ada, cuman terbatas Neng. Kenapa memangnya?"


"Kebetulan aku seorang guru di yayasan dan aku tidak mungkin kembali lagi ke sana untuk beberapa minggu kedepan. Jadi, bolehkan aku mengabdi diri di sini sebagai guru?" tanya Dania menatap Saidah penuh ketulusan dan pengharapan.


"Sebelumnya, ibu boleh bertanya?"


"Kenapa, Bu?"


"Kenapa kamu tidak ingin pulang?" Pertanyaan itu membuat Dania bungkam, baginya itu sudah seperti aib bagi dirinya dan keluarga.


"Aku ... telah melakukan kesalahan besar yang tak mungkin orang tua memaafkan aku," lirih Dania meremas gamis milik Saidah.


Saidah mengerti, ia menarik tubuh Dania agar duduk di sisi ranjang supaya Dania bisa bercerita lebih leluasa dna tenang. Seolah-olah Saidah sedang meringankan beban Zaid, ah Saidah adalah seorang ibu yang begitu sempurna bagi Zaid. "Ceritakanlah! Kesalahan apa yang kamu lakukan?"


"Aku ... ditiduri oleh lelaki berhidung belang, namun ... saat aku sadar ternyata orang itu adalah teman satu kampusku dia bernama Alvin. Dia terobsesi denganku karena aku menolak cintanya, aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya tapi ada seorang yang begitu mencintai Alvin. Maka dari itu, dia bekat melakukan hubungan terlarang denganku di saat aku tidak sadar diri kala itu aku sedang reuni dan meminum sesuatu."


"Aku minum itu seketika tubuhku berubah menjadi gerah aku tidak tahu kalau minuman itu mengandung alkohol, padahal waktu itu aku memesan jus jeruk kesukaanku. Namun, siapa sangka minuman itu ternyta mengandung itu," lirih Kinan menceritakan satu demi satu kata yang tersusun indah dibenaknya dengan mata yang berembun belum lagi dengan rasa sakit.


"Kala itu, aku tidak ingat apapun ... aku serius aku tidak ingat apapun, saat aku terbangun dari tidurku kepalaku rasanya mau pecah dan aku terkejut dengan apa yang terjadi atas apa yang menimpaku. Itulah, alasanku ingin pergi dari keluarga aku sudah menceritakannya, tapi ... keluargaku menuduhku karena ada sebuah rekaman, entah siapa yang mengirimnya," sambung Dania semakin menunduk.


Saidah mendengar itu seketika terbelak tak percaya. "Aku takut, aku ingin menjelaskan semuanya kepada ummah dan abah ... tapi, mereka tidak bisa mendengarkanku! Aku adalah korban, Bu! Aku korban bukan pelaku!" Isak Dania membuat bahunya bergetar hebat.


Saidah segera menarik tubuh itu agar masuk kedalam dekapannya. Membiarkan Dania meluapkan segala emosi sakitnya, ia mengerti perasaan Dania. Dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa dia adalah wanita yang menjaga marwahnya. "Menangislah ...."


"Aku ingin kembali ke sana, tapi aku takut ... aku takut ummah dan abah kembali lagi membentakku, aku takut ...." lirih Dania mengeratkan pelukan Saidah.


"Baiklah ibu mengerti perasaanmu," ucap Saidah mengelus pundak Dania dengan kasih sayang. "Menurut ibu, dua orang tua kamu bukan membentakmu melainkan kecewa dan takut. Maka dari itu, orang tuamu melakukan itu kepadamu. Tapi, percayalah mereka sedang mencarimu."


Dania tidak menjawab bahkan tidak mengubris perkataan Saidah, hatinya sudah hancur berkeping dan sulit untuk ditata kembali meski sudah ratusan kali menempelnya dengan berbagai rasa hati itu tidak bisa kembali ke semula. "Oh iya, Nak. Ibu akan memikirkan kembali izinmu untuk mengabdi sebagai guru di sini." Perkataan itu mendapatkan anggukan kecil dari Dania.


Sementara dari balik itu, Zaid tak sengaja mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu seketika merasakan sesak yang menghambat proses pernafasannya. 'Sungguh betapa beratnya ujianmu, Dania. Tapi, percayalah sebentar lagi kamu bahagia. Jadi, jangan khawatir aku akan membantumu dan maafkan aku jika aku ikut campur dalam urusanmu,' batin Zaid segera pergi dan masuk kedalam kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang digunakan oleh Dania.


.


.


.


Setelah dirasa cukup puas mengeluarkan semua beban yang ditanggung oleh Dania, kini dua wanita itu berkumpul di ruang keluarga setelah menikmati makan malamnya bersama Zaid. Sinar rembulan itu menemani malamnya sang surya, bersamaan dengan itu gemintang cakrawala tak mau kalah menampilkan keindahan ciptaan Tuhan. Karena, tidak ada waktu yang ingin dilontarkan akhirnya Saidah memilih merehatkan badan sekalian melaksanakan shalat isya. Kini di ruang itu hanya dua insan yang terbenam dalam pikiran masing-masing.


"Hem ...," dehem Zaid mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Dania menatap Zaid dengan kening bertaut. "Kenapa?"


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?"


"Ah, untuk sekarang alhamdulillah sudah mendingan, Dok. Hanya saja, pergelangan kaki masih sakit kalau bergerak," jawab Dania.


"Boleh aku mengeceknya?" Mendengar itu Dania ragu.


"Tenang ko, aku hanya mengecek saja tidak lebih takut nanti ada luka infeksi," jujur Zaid.


"Baiklah," terima Dania.


Zaid menarik kedua sudutnya sehingga membentuk sebuah lengkungan manis. Ia mengangkat pantatnya dan berjalan ke tempat Dania duduk dan menjongkokan diri untuk mengecek kaki Dania yang dimaksud olehnya. "Aku akan melepaskan perbannya."


"Hem ...," jawab Kinan.


Zaid segera membuka kain perban yang melilit pergelangan kaki Dania, tampaklah luka masih berdarah segar ditambah lagi dengan kulit yang terkelupas sehingga kukit itu menampilkan darah bercampur warna. Dania hanya menahan bibirnya agar tidak meringis seiring terbukanya kain perban yang melilit.


"Lukamu masih basah, aku akan mengobatinya. Tunggu yah," kata Zaid bangkit segera mengambil kotak P3K yang selalu siap siaga di tempat yang mudah dijangkau dan terlihat.


Ia menyiapkan cairan terlebih dahulu sebagai pembersih luka. Cairan Natrium Cloride atau juga serina disebut Saline selalu ada di dalam kotak itu seketika Zaid langsung membukanya dan menuangkan kedalam kapas setelah mencuci tangan takut nanti ada bakteri masuk. Ia mulai menjalankan aksinya yakni membersihkan luka secara perlahan.


"Aaassww!" ringis Dania meremas gamis milik Saidah untuk menahan sakit.


"Tahan yah," kata Zaid dengan tatapannya fokus mengobati luka sehibgga kapas yang ia campurkan dengan cairan itu berubah menjadi merah darah.


"Itu sangat perih dan sakit, Dok!" keluh Dania seperti anak kecil.


"Tahan yah, satu kali lagi aku akan memberikan cairan iodin."


"Iodin? Obat merah?"


"Jangan, Dok!" tolak Dania tegas.


"Lho kenapa? Kan biar cepat kering tuh lukanya," heran Zaid.


"Pokoknya jangan, Dok! Cairan itu paling saya benci, Dok, selain bagus untuk penyembuhan rasa perihnya terus berlangsung sampai berdenyut tuh lukanya," jelas Dania seperti anak kecil menginginkan mainan.


"Tidak akan, aku tetesin satu tetes saja yah! Biar cepat sembuh tuh lukanya," sahut Zaid.


"Tidak mau, Dok!" tegas Dania. "Cepat tutup lagi, perih banget."


Pertama kalinya Zaid mendapatkan pasien keras kepala hanya perkara tidak mau diberi obat iodin hanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya gusar. Pikiran jahil seketika terbesit dalam benaknya, ia menatap Dania dengan tatapan menakutkan dan panik. "Mbak, apa Mbak takut cicak?"


"Apa cicak?"


"Iya, cicak!"


"Di mana?"


"Itu Mbak di bahu sebelah kiri Mbak," jelas Zaid pura-pura takut. "Besar lagi!"


Tubuh Dania seketika tegang dan menatap sendu wajah Zaid yang ketakutan. "Singkirkan ...," lirihnya.


"Aku akan menyingkirkannya, asalkan Mbak mau nerima tetesan iodin," ujar Zaid mengancam. "Kalau tidak mau biarkan saja cicaknya menempel sampai pagi!"

__ADS_1


"Baik-baik, aku mau dikasih iodin," pasrah Dania.


Zaid menggambarkan senyumannya, ia segera meneteskan cairan iodin itu ke luka yang telah dibersihkan entah berapa tetes dan menutupnya kembali dengan kain kasa. Setelah selesai ia membereskan peralatannya sesekali melirik wajah tegang Dania yang ketakutan akibat ulahnya.


"Nah sudah selesai!"


"Cepat singkirkan cicaknya!"


"Apa cicak? Tidak ada toh!"


"Bohong, tadi Dokter bilang di bahu kiri aku," protes Dania.


"Hahaha ... maafkan aku, aku hanya mengerjaimu Mbak biar dikasih iodin!" ledek Zaid membuat Dania terbelak tak percaya.


"Nah,'kan enggak sakit," kata Zaid segera pergi kekamar untuk menyimpan kembali peralatan P3Knya dan berniat akan kembali lagi.


Setelah selesai menyimpan kotak itu, Zaid tersenyum melihat Dania seperti orang merajuk. Ia mendudukan pantatnya dan pikirannya mulai bertanya ke inti pembicaraan karena Zaid tidak suka bertele-tele jika menyangkut sesuatu.


"Kenapa Mbak bisa terjatuh dari jurang?" tanya Zaid.


"Bisa ngak sih jangan manggil aku dengan sebutan mbak, aku belum tua," jawab Dania ketus.


"Hehe .. maaf, pokoknya jawab dulu pertanyaan aku."


"Aku dikejar oleh pria hidung belang bersama dua preman," jawab Dania jujur.


Mendengar itu, Zaid sedikit terkejut dna mencoba bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa. "Kenapa?"


Dania menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sedikit gusar. Ia menceritakan semua kronologis yang terjadi pada dirinya tidak ada satupun yang terlewati dalam penuturan kata, Zaid yang mendengar itu seketika perasaannya tak karuan seolah-olah ada yang menghasutnya untuk ikut campur dalam urusan itu bahkan Zaid pun terhipnotis akan kecantikan wajah Dania saat sedang bercerita.


"Kira-kira seperti itu, Dok," ujar Dania menunduk.


"Ya Allah, aku sebagai lelaki sangat malu jika para adam melakukan kejahatan," kata Zaid.


Dania menarik kedua sudut bibirnya menjadi sebuah lengkungan. "Tidak apa-apa, toh mereka yang melakukannya Dokter,'kan tidak terlibat."


Zaid menganggukan kepalanya kecil. "Boleh aku bertanya satu lagi?"


"Apa itu, Dok?"


"Sewaktu pulang, aku tak sengaja mendengarkan obrolan kamu dengan ibu. Kamu bilang kamu ingin mengabdi diri di sini sebagai guru, apa itu benar?"


"Dokter ngintip yah?" tanya balik Dania.


"Tidak, aku tak sengaja mendengarkan saja. Lagian yang aku tangkap suaranya itu pas kamu bilang bahwa kamu ingin mengabdikan diri di sini sebagai guru," jelas Zaid.


"Iya benar," jawab Dania.


"Tapi, sebelumnya apa kamu tahu jika —."


"Aku tahu, maka dari itu aku ingin mengabdikan diriku di sini sebagai guru tak peduli apa yang akan aku terima. Asalkan anak yang aku didik tumbuh menjadi insan yang bertaqwa dan bermoral," potong Dania cepat.


Zaid yang mendengar itu hanya menggaruk tenguknya yang tak gatal dan kembali lagi menatap Dania dengan senyum yang terus ada.


•••••○○○•••••

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari kita selalu dikelilingi dengan orang baik🤗❤


•••••○○○•••••


__ADS_2