
Fahad yang masih terjaga, pandangannya masih memandang betah wajah Kinan yang tertidur. Bersih, indah, dan mempesona berhasil membuat Fahad terhipnotis. Ia enggan melepaskan genggaman tangan, bahkan tak pernah bosan meluncurkan ciuman ke punggung tangan Kinan dengan harapan dan doa.
Entah sudah berapa lama, Fahad tidak pernah menganti posisinya kecuali saat kumandang adzan dzuhur setelah itu kembali lagi ke tempat asalnya hingga kumandang ashar pun mengema. "Sudah ashar saja, aku shalat dulu yah, Sayang." Fahad beranjank dari tempat duduknya, ia pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sore.
Kurang lebih lima belas menit, kini waktu menunjukan pukul 16.30 sore. Fahad sengaja menunaikan ibadah setelah 15 menit adzan dan menunggu iqomah, suasana rumah sakit perlahan mulai hening. Fahad yang menginap di lantai atas sontak melihat pemandangan swastamita, seolah-olah sinar jingga merindukan sang pemilik yang tengah terbaring lemah untuk memberikan kejutan.
Langit kita Jakarta sejak itu hanya menampilkan cakrawala biru, kini telah berganti dengan sinar jingga yang indah. Fahad masih setia mengenggam tangan Kinan yang masih melemah dan mengecupnya dengan kasih sayang. "Sayang, apa kamu tidak ingin bangun? Itu lho, langit kesukaan kamu yang berwarna jingga itu datang. Sayang banget, aku menikmatinya sendirian."
"Bukankah kamu selalu bilang, senja itu seperti memori bersejarah. Karena tidak selamanya senja menampakkan diri, jadi sore ini dia datang dan menitipkan salam untukmu lewat aku," lirih Fahad terkekeh geli.
"Sayang, apa kamu tahu? Berkatmu aku menyesal mengartikan cinta yang salah makna, kini aku mengerti arti yang sesungguhnya. Aku ingin mencintaimu seperti senja dan menjadi pelipur lara di tengah ujian yang melanda."
"Ayo dong bangun, nanti senjanya hilang," sambungnya lagi dan lagi dengan mencium punggung tangan Kinan yang bagiannya tidak terselang dengan infus.
Satu sekon ...
Satu detik ...
Satu menit ...
Sebuah pergerakan indah menari-nari dalam genggaman Fahad, Fahad yang merasakan itu seketika terkejut. Ia segera menekan tombol untuk memanggil pihak runah sakit, bahwa Kinan sudah mulai sadar meskipun matanya masih terpejam sedangkan pergerakan jari tangannya seketika berubah mengenggam erat tangan Fahad, yang kini diiringi dengan gerakan lemah mata.
Perlahan-lahan mata indah Kinan terbuka sempurna, hal pertama yang dilihat adalah langit-langit putih rumah sakit. Bahkan Kinan juga merasakan berbagai alat medis melekat di tubuhnya. Lima menit setelah Kinan mencoba menyadarkan diri, kini dokter berpakaian syari dipandukan dengan jas berwarna putih datang bersama satu orang perawat.
Fahad memilih berdiri dengan tangannya mengenggam erat Kinan, Dokter wanita mulai memeriksa kondisi Kinan pasca melewati masa kritis akibat sayatan pisau yang sedikut dalam sehingga lengannya mendapatkan luka jahit dan perut yang tertusuk hingga kehabisan banyak darah. "Pasien Kinan sudah kembali normal, tolong jangan membuatnya stres dan hibur dia," kata Dokter dan tersenyum.
"Baik, Dok. Terima kasih," kata Fahad.
"Sama-sama, izin pamit keluar," sambungnya dan segera beranjak keluar setelah dirasa cukup memeriksa keadaan pasien yang satunya itu.
Setelah punggung wanita berjas putih sudah tidak terlihat, Fahad membalikkan badannya sehingga tubuhnya berhadapan dengan tubuh Kinan yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Kamu sudah sadar."
.
.
.
'Ada kata yang sulit terucap
Ada bibir yang enggan bicara
Ada rasa yang enggan tuk diam
Ada rindu yang terus menguar
Semua itu karena kamu
Karena kamu yang kurindu
Karena kamu yang kucinta
Karena kamu rasa itu ada
Kau tahu,
Senja seperti kamu
Tak pernah bisa tergapai dengan jemariku
__ADS_1
Tak bisa teraih oleh jutaan rindu
Terkadang,
Aku ingin seperti angin
Membawa pulang kenangan
Yang membawa sejuta asa
Aku ingin menjadi sejuta cahaya
Yang bisa membiaskan keindahanmu
Yang menjingga di langit sore
Yang bersinar layaknya senja
Tentu saja tak bisa
Aku adalah aku
Yang hanya punya kenangan biasa
Yang kebetulan ada kamu di dalamnya
Puisi berjudul: Jingga bersamamu, Karya Siti Nurlaela'
Suara seorang membicarakan baitan puisi senja dengan sangat indah, Fahad sengaja mencari sajak untuk mengisi waktu yang akan dihabiskan bersama Kinan di bawah naungan cakrawala jingga. Tatapan Kinan begitu sendu, kala melihat pemandangan indah itu perlahan mulai menghilang seiring berjalannya sajak puitis.
Setelah dirasa cukup puas memandangi senja dalam keadaan terbaring lemah, tatapannya mengarah pada jendela rumah sakit yang menampilkan langit sore yang kini mulai menghilang bak pamit tanpa mengatakan sepatah kata yang nantinya entah datang atau tidak. Ia melirik Fahad yang masih betah mengenggam jari jemari lentik Kinan sembari mematikan handphone yang digunakan untuk mendengarkan orang membaca puisi senja.
Kening Kinan tertaut, mencerna perkataan Fahad barusan. "Kenapa?"
"Maafkan aku, kamu kenapa bisa seperti ini?"
"Apa Barakka belum menceritakannya? Soalnya, waktu kejadian aku melihat Barakka bertarung melawan dua preman meskipun pandanganku buram dan tak jelas karena kepalaku rasanya hampir pecah."
"Dia menceritakannya, hanya saja aku ingin langsung dengar darimu."
"Haruskah aku menceritakannya? Padahal sudah berlalu," goda Kinan.
Mendengar Kinan seperti sedang menggoda, lantas Fahad mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Anggap saja seperti itu."
"Sebenarnya aku tidak tahu kalau aku bakalan ketimpa musibah seberat ini, soalnya waktu itu aku habis melaksanakan shalat dhuha kemudian perutku terasa keroncongan dan ingin makan cemilan. Pas aku buka pintu kamar aku terkejut dengan kedatangan dua orang preman."
"Apa kamu tidak mendengar semacam ketuk pintu?"
"Ya Allah, Pak! Mana ada seorang maling mengetuk pintu korban, kalau mengetuk pintu nanti kecyduk kalau mereka mau maling barang." Tepuk Kinan pada jidat, bisa-bisanya guru sekaligus suaminya berpikir seperti itu.
Fahad manggut-manggut paham. "Iya sih."
"Oh iya, jangan khawatirin aku aku tidak apa-apa," sahut Kinan tersenyum tenang.
"Baik dari mana, kamu hampir sekarat lho bahkan kehabisan banyak darah. Sekarang dokter sudah memberikan transfusi darah sebanyak 3 kantong, awalnya dokter membutuhkan 5 kantong. Sekarang sudah cukup, karena kamu pandai beristirahat dan kamu sudah menghabiskan tiga kantong dan itu yang terakhir," jelas Fahad mengomel pasalnya jiwa kepanikannya belum kunjung mereda.
"Oh, jadi ceritanya Bapak protes?"
"Bukan protes, Sayang. Aku panik, bahkan lebih panik semenjak Barakka memberitahukan itu, aku panik setengah mati bahkan jiwaku dirundung rasa bersalah. Aku bersalah tidak bisa menjaga istri dengan baik," jelas Fahad mencium tangan Kinan yang masih dibalut dengan selang infus.
__ADS_1
"Kok jadi ngomong gitu?"
"Kan buktinya kamu terbaring lemah di rumah sakit."
"Ya Allah, aku tidak apa-apa aslinya. Lihat tuh aku sudah sadar, jadi jangan khawatir aku ini kuat lho," tutur Kinan sembari memberikan senyum kepada Fahad.
Fahad hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya keluar, seiringan dengan seperti itu seketikan otak Fahad teringat perkataan Barakka. "Aku dengar dari Barakka, preman itu hampir melakukan sesuatu?"
"Iya, untunglah Barakka datang tepat waktu. Sehingga, si preman itu tidak menyentuh kulitku meski hanya satu helai rambut. Oh iya, bagaimana keadaan bi Ijah dan bi Marni?" tanya Kinan.
"Syukurlah, beliau baik-baik saja," jawab Fahad. "Kamu itu malah mikir orang lain, bujan mikirin diri sendiri. Jelas kamu terluka sana sini, sedangkan beliau hanya pingsan akibat terkena pukulan ditenguknya."
Kinan menarik nafas dan membuangnya dengan gusar, tangan tadinya selalu digenggam oleh Fahad kini Kinan lepaskan. Meraih pipi mulus Fahad, dan mengusap mata Fahad yang tampak sedikit sembab seperti sudah menangis berjam-jam. Bibir ranum Kinan tak pernah berhenti tersenyum, hatinya merasakan perih bahkan lebuh perih dari apapun. Jiwa yang selalu meminta dimanjakan, kini ingin memanjakan Fahad sebagaimana mestinya.
"Sepertinya matamu habis menangis ...."
"Itu karena aku mengkhawatirkanmu, aku suamimu jadi wajar aku mengkhawatirkanmu."
"Sekarang jangan menangis, aku tidak apa-apa," papar Kinan.
Fahad mengangguk dan tersenyum, ia mengambil tangan Kinan yang masih betah mengelus pipi mulusnya. Kini Fahad memilih menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangan Kinan, bodo amat dengan bau alkohol medis yang katanya steril.
"Oh iya, katanya orang tua kita bakalan kesini?"
"Iya, ibu dan ayah akan kesini nanti malam sedangkan ummah dan abah katanya besok pagi," jelas Fahad.
Kening Kinan menyerit heran. "Lho? Ibu dan ayah kesini malam? Apa itu menganggu?"
"Tidak, katanya kalau besok tidak bisa ke sini. Besok mereka harus menghadiri acara meeting dengan petinggi perusahaan untuk membicarakan bisnis," jawab Fahad.
Mendengar itu entah kenapa perasaan Kinan begitu teriris, rasa yang selalu dirasa semenjak berumur balita. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, senja indah tadinya menemani rasa sendu kini cakrawala mulai memasuki waktu gelap. 'Bahkan setelah aku menikah pun, ibu dan ayah tidak pernah memberiku perhatian. Kalian selalu disibukkan dengan berbagai aktivitas, sampai melupakan janji yang dulu aku inginkan,' batin Kinan menjerit.
'Aku ingin membagi bebanku, aku ingin berceloteh ria bersamamu waktu itu. Tapi, kalian malah mengabaikanku dan mementingkan tugas sampai tak pernah memberiku perhatian dan nasihat. Seandainya waktu diputar kembali, aku tidak ingin merasakan seberapa indahnya dunia jika kalian lebih mementingkan itu.'
'Tapi, Tuhan sangat adil untukku. Dia mempertenukan aku dengan sosok lelaki yang hebat, berkat pilihanmu aku merasakan bebanku berkurang meski hanya sebesar biji dzarrah. Aku beruntung,' batin Kinan lagi dan lagi menyedihkan.
Fahad yang memperhatikan itu seakan tahu apa yang dipendam oleh sang istri, mengingat percakapannya dengan sang mertua tentu saja Fahad merasakan kasihan. Kinan yang begitu malang, hanya mendapatkan kasih sayang lewat Alsaki. 'Aku mengerti batinmu, perasaanmu, dan semuanya,' batin Fahad.
"Kinan, apa yang terjadi? Apa ada yang sakit?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu membelakangiku?"
"A-aku hanya merindukan ibu dan ayah," jawab Kinan terbata-bata.
"Benarkah itu? Tapi, dari gerak gerikmu seperti ada sesuatu yang disembunyikan," tutur Fahad.
"Tidak, ko," jawab Kinan cepat dan mengalihkan pandangannya ke Fahad sehingga tatapan keduanya bertemu.
"Aku mengerti maksudmu."
"Terima kasih," ucap Kinan.
'Si ******* itu belum mati juga,' batin seorang berpakaian serba hitam dan segera pergi setelah menyaksikan adegan panas.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari yang kita lewati selalu bahagia❤❤
__ADS_1
•••••○○○•••••