
Sudah 4 hari Kalycha ijin tidak masuk sekolah karena sakit. Alvin berniat untuk menjenguk Kalycha kerumahnya. Dia tidak sengaja tidak mengajak teman-temannya karena pastinya tidak akan ada yang mau untuk menjenguk Kalycha. Entah kapan Jenny akan memaafkannya sementara Amanda dan yang lainnya sudah biasa saja tidak lagi menaruh marah dan dendam pada Kalycha.
Alvin belum tahu kalau Kalycha sudah tidak tinggal dirumah orangtuanya lagi. Dirinya ingin menjenguk Kalycha karena ia baru mengetahui kalau ternyata tangan Kalycha sakit karena ulahnya.
Flashback On
Bell istirahat berbunyi itu adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa. Adit berjalan ke kantin sekolah dan seperti biasa dirinya melihat geng yang selalu berlima itu sudah lebih dulu duduk disana. Siapa lagi kalau bukan Alvin, Boby, Frans, Jenny dan Amanda.
"Lo temen sebangkunya Icha kan?" tanya Amanda pada Adit yang melewati tempat dimana mereka duduk.
"Iya, kenapa emangnya?" sahut Adit tanpa melihat kearah Amanda yang bertanya kepadanya lalu duduk dibangku yang di ada didepan mereka. Adit memang kurang suka dengan teman-teman Kalycha itu. Pasalnya mereka selalu menunjukkan sikap tidak baik sebagai teman Kalycha, yang terlihat dimatanya, mereka hanya seperti musuh Kalycha saja.
"Ga sopan banget sih nih cowok, ditanya malah buang muka begitu." Batin Amanda.
"Dari kemarin gue ga liat Icha, dia kemana?" Amanda tetap bersikap sebaik mungkin meskipun Adit tidak melihat kearahnya.
"Dia sakit–." Masih dengan posisi yang sama tidak melihat Amanda sedikit pun. Tapi dia masih tetap menjawab pertanyaan dari Amanda.
"Sakit apa?" Alvin yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka tiba-tiba nimbrung saat mendengar Kalycha sakit.
Mendengar suara pria yang tidak begitu disukainya itu bertanya, Adit pun menatap sinis padanya, membuat Alvin yang bertanya pun merasa geram.
"Lo pake nanya lagi Kaly sakit apa? Apa lo ga nyadar kalau tangannya terkilir pas lo narik tangannya kenceng?" suara Adit meninggi satu oktaf.
"Apa? Tangan Icha terkilir karena gue? Jadi kerena itu dia pulang cepat waktu itu." Alvin kaget mendengar kalau Kalycha sakit karenanya. Tapi dia tidak ingin menunjukkan rasa bersalahnya itu pada pria yang dianggapnya sebagai rivalnya itu.
"Udah inget lo sekarang?" Adit yang kesal pun langsung meninggalkan mereka. Niatnya ingin makan di kantin pun diurungkannya. Selera makannya hilang seketika melihat sekelompok manusia yang sangat dibencinya itu.
Flashback off
"Eh ada Alvin, ada apa Vin tumben kamu datang kerumah Ibu?" Nayla yang merasa heran akan kedatangan Alvin, tapi Nayla tetap bersikap ramah pada mantan muridnya itu.
"Iya Bu, saya mau bertemu dengan Icha. Apa Icha nya ada Bu?"
"Waduh, kok aku bisa lupa ya? Kalau Alvin pasti datang karena ingin bertemu dengan Icha bukan denganku. Dasar masih muda udah pelupa. Lagian buat apa juga Alvin ingin bertemu denganku? Aku kan bukan gurunya lagi."
__ADS_1
Setenang mungkin Nayla menjawab pertanyaan Alvin. "Icha? Tadi barusan pergi dengan Omanya. Apa kamu tidak sempat bertemunya didepan?" Nayla terpaksa berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan kalau putrinya itu sudah menikah dan tinggal dirumah suaminya.
"Lama ga Bu kira-kira pulangnya?" Alvin tampak kecewa dan Nayla dapat melihat itu dengan jelas.
"Hmmm–, sepertinya begitu karena Icha menemani Omanya shopping."
"Bukannya Icha sakit Bu? Kok malah pergi shopping?"
"Yang sakit kan tangannya bukan mata dan kakinya." Nayla tersenyum, untungnya dia sudah tahu dari suaminya kalau tangan Kalycha yang sakit. Kalau tidak pastilah Alvin akan mengetahui kalau dirinya sedang berbohong.
"Ya udah deh Bu, kalau begitu Alvin permisi dulu ya Bu–." Alvin pun pamit undur diri.
"Kok buru-buru, ga mau makan dulu?"
"Enggak deh Bu, makasih." Alvin berjalan ke tempat duduk Nayla kemudian mencium punggung tangan mantan gurunya itu.
"Kamu hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebutan."
"Iya Bu." Alvin menganggukkan kepalanya kepada Nayla. Suaranya tidak terdengar begitu jelas karena Alvin sudah mengenakan helm di kepalanya..
...💗💗💗...
Kalycha dan Haidar pindah kerumah barunya. Karena hari ini adalah hari weekend makan Halimah, Deon dan Helsa ikut membantu pengantin baru itu pindah kerumahnya. Sebenarnya Halimah merasa berat tinggal terpisah dari putra satu-satunya itu. Tapi mau bagaimana lagi dirinya juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya.
"Wah besar juga rumah Kakak, kalah dengan rumah kita ya Bu." celoteh si bungsu Helsa yang menatap kagum pada rumah baru Kakaknya itu.
"Sesuai-lah sek, gaji Kakak kamu kan besar? Apa kabarnya dengan gaji Ayah yang hanya seorang guru ini." Deon tampak merendahkan dirinya tapi dia juga bangga dengan kesuksesan yang diraih oleh putranya itu.
"Makanya dek–, kamu kuliah yang bener. Nanti kalau udah jadi dokter jangan lupa bangunkan rumah untuk bapak dan ibu yang lebih gede dari ini." ucapnya sambil mengusap kepala putrinya itu.
"Idih maunya." sahut Helsa menaikkan sudut bibirnya.
"Kalau Ibu udah cukup bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang ini. Selama ini meskipun gaji Ayah kecil tapi bisa menyekolahkan kamu dan Kakak kamu. Ya meskipun sekarang biaya kuliah kamu lebih banyak dibantu oleh kakak kamu. Punya rumah besar juga untuk apa dek? Toh ujung-ujungnya nanti bakalan tinggal berdua saja sama Ayah." Halimah memegang lembut pipi Helsa putrinya. "Kamu juga nanti akan meninggalkan Ibu dan Ayah kalau kamu sudah menikah nanti." mata Halimah tampak berkaca-kaca tidak menyangka kalau kedua anaknya itu sudah tumbuh dewasa.
Helsa memeluk Halimah. "Ibu–, Adek ga akan ninggalin Ibu, meskipun nanti adek sudah menikah. Adek tetap akan tinggal bareng Ibu dan Ayah."
__ADS_1
"Adeeekkkk, menjauh dari Ibu." Deon pria si pencemburu pun menarik tangan putrinya itu dari tubuh istrinya.
"Tuh udah lihat kan, Ayah itu aneh. Masa sama anaknya sendiri cemburu." bisik Haidar pada Kalycha Istrinya. Melihatnya Kalycha hanya bisa tersenyum. Dirinya sangat senang menjadi bagian keluarga yang harmonis itu.
"Ayah iiih, Elsa masih mau peluk Ibu." Helsa tidak mau melepaskan pelukannya.
"Ayah udah dong, ga malu apa diliat menantu kita. Sama anak sendiri juga cemburunya ga ketulungan."
"Icha–." lirihnya pada Kalycha sambil merentangkan tangannya, meminta pembelaan dari menantunya itu. Dengan cepat Haidar langsung memeluk Kalycha membuat Deon tambah kesal karena tidak satupun anaknya yang berpihak kepadanya. "Terus Ayah peluk siapa?"
"Tuh tembok masih nganggur." jawab Halimah ketus lalu masuk kedalam rumah.
"Masih kosong rumahnya Kak?" tanya Halimah yang memasuki ruang tamu rumah itu.
"Sengaja Bu, Haidar pengen istri Haidar yang pilih semua isi perabotan rumah." Haidar yang masih memeluk Kalycha dan tidak henti-hentinya mencium puncak kepala istrinya itu.
"Udah dong Kak, jangan mesra-mesraan didepan aku. Jiwa jombloku berontak nih jadinya. Mesra-mesraannya ntar malem aja nunggu kita pulang." Helsa yang dari tadi melihat keromantisan Kakaknya itu membuatnya sangat iri.
"Makanya cepetan cari cowok. Jomblo kok bangga–." Haidar menjulurkan lidahnya mengejek Helsa adiknya.
"Kamar kamu dimana Kak?" tanya Halimah yang sengaja melerai perdebatan adik kakak itu.
"Haidar pilih dibawah aja Bu, diatas buat ruang kerja sama olahraga aja. Ga tahu Icha mau ga buat ruangan Karaoke?" Haidar tahu kalau istrinya itu hobi bernyanyi dan dia sudah membuat ruangan khusus untuk istrinya itu.
"Icha ga pinter nyanyi mas."
"Nyanyi itu ga butuh pinter Kak, biar suara jelek yang penting happy. Kan dirumah sendiri ga ada yang dengar juga. Tapi boleh ya Kak, Elsa sering-sering main kesini. Mayan bisa karaokean gratis. Hehe." Helsa cengengesan sendiri.
"Huuu– maunya." Haidar menonyor pelan kepala adiknya itu.
"Kakak ga boleh toyar toyor kepala adek. Ini calon dokter loh. Ingat calon dokter–, kamu sembarangan toyor aja harta karun Ayah." Deon mengusap kelapa Helsa yang ditoyor Haidar.
Mereka tidak menyadari kalau Kalycha meneteskan airmatanya saat Deon mengatakan kalau Helsa calon dokter. Setiap mendengar kata dokter, membuat Kalycha kembali teringat akan cita-citanya yang hanya tinggal mimpi itu.
Double Up karena kemarin Author pura-pura Lupa 🤭
__ADS_1
Jangan Lupa kasih Jempolnya ya 😍
Klik Love nya juga yach 😊 En Tengkayu 😍