
...💗💗💗...
Ada adegan 21++
Disarankan yang belum menikah di Skip aja yach.
Berabeh ntar ga punya tempat pelampiasan 🤭
(Maafkan Author yang otaknya sedikit sengklek ini)
Haidar melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dirinya pun permisi kepada Pram untuk beristirahat karena besok pesawatnya akan berangkat jam 7 pagi.
"Dad, Haidar istirahat dulu ya." ucapnya lalu dibalas anggukan kepala oleh Pram yang tengah asyik menonton siaran langsung sepakbola.
Haidar membuka pintu kamar Kalycha yang kini menjadi kamar mereka bersama saat menginap dirumah mertuanya itu. Haidar mendapati Kalycha yang sedang belajar. Sebelumnya Adit mengirim tugas sekolah mereka via email setiap hari.
Haidar tak menghiraukan istrinya itu, dirinya lebih memilih untuk mandi karena sudah seharian berada diluar rumah membuat tubuhnya lengket oleh keringat.
Melihat Haidar sudah masuk ke dalam kamar mandi dirinya pun berinisiatif untuk menyiapkan baju suaminya. Dibukanya koper milik suaminya itu dan memilih piyama dan celana boxer untuk dipakai suaminya lalu meletakkannya diatas tempat tidur.
Haidar keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja. Jantung Kalycha berdebar kencang dirinya belum terbiasa melihat pemandangan indah tubuh suaminya itu. Lalu Kalycha memilih masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya. Sebenarnya Kalycha sengaja menghindar untuk mengamankan mata sucinya dari pemandangan yang membuat darahnya berdesir setiap melihatnya.
Haidar ingin membuka kopernya tapi diurungkannya saat dirinya melihat bajunya sudah disiapkan oleh Kalycha.
"Manis juga, rupanya dia sudah mulai perhatian sama suami."
Kalycha keluar dari kamar mandi, dilihatnya Haidar sudah berpakaian lengkap. Ia tersenyum karena suaminya itu memakai pakaian yang sudah disiapkannya tadi.
Haidar memilih duduk bersandar ditempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Mas masih marah sama Icha?" Kalycha mendekati Haidar dan duduk disebelahnya. Tapi Haidar masih diam dan cuek, masih sibuk dengan benda pipih ditangannya.
"Jelaslah aku marah. Siapa juga yang ga marah kalau lihat istrinya dicium cowok lain."
"Mas–." panggilnya sambil menekan-nekan lengan Haidar dengan jari telunjuknya.
"Sayang–." Darahnya berdesir saat Kalycha memanggilnya sayang.
"Iya Sayang." sahut Haidar dalam hati.
"Maafin aku, tadi aku juga ga tahu kalau Alvin mau menciumku. Kalau aku tahu ga mungkin aku biarkan dia menciumku." lirihnya. Airmatanya sudah membasahi pipinya.
"Aku udah maafin, tapi plis jangan diulangi lagi." Haidar ingin mengatakan itu tapi bibirnya masih tertutup rapat. Dirinya hanya melirik Kalycha yang menangis menundukkan kepalanya.
"Sayang–." Haidar masih pura-pura sibuk dengan ponselnya tidak menghiraukan panggilan Kalycha.
Haidar meletakkan benda pipih itu di nakas yang ada disebelah kirinya. Lalu membaringkan tubuhnya dan memunggungi Kalycha.
"Emang enak di kasih punggung?" Haidar membalas karena Kalycha pernah memunggunginya.
"Mas Haidar masih marah, aku harus gimana? Apa aku peluk aja biar ga ngambek lagi. Cowok tapi kok ambekan gini ya?"
__ADS_1
Kalycha pun berbaring disamping Haidar dan menatap punggung suaminya itu.
"Mas, Sayang–." Kalycha kembali menekan-nekan punggung Haidar dengan jari telunjuknya.
"Plis jangan lakuin itu. Aku udah maafin kamu. Kalau kamu memanggilku mesra begitu aku takut khilaf ga bisa mengontrol diriku." Lidahnya seperti kelu tak mampu mengucapkan apa yang ada dalam hatinya.
Kalycha merapatkan tubuhnya ke punggung Haidar dan memeluknya dari belakang.
"Lepas sayang, aku tajut khilaf. Kalau kamu ga lepas juga jangan salahkan aku kalau aku khilaf."
"Sayang maafin aku, aku janji ga akan mengulanginya lagi." Kalycha mulai terisak sampai sesenggukan dan itu membuat Haidar merasa bersalah. Lalu langsung membalikkan badannya dan memeluk istri kecilnya itu. Bukannya berhenti menangis, tangisan Kalycha malah semakin pecah setelah dipeluk oleh suaminya itu.
"Maafin Icha Mas, Icha benar-benar ga tahu kalau Alvin akan menciumku tadi." Haidar semakin memeluknya erat dan terus mencium puncak kepala istrinya itu.
"Mas udah maafin kamu, udah jangan nangis lagi." Kalycha menganggukkan kepalanya dalam pelukan Haidar.
"Mas juga jangan diamin Icha dong. Icha takut kalau mas marah."
"Hahaha, ternyata kamu takut juga ya. Maafin aku ya. Aku ga sengaja buat kamu takut."
"Mana sini, mas akan hapus jejaknya." Lalu Haidar mencium pipi Kalycha yang dicium Alvin tadi. "Kamu ga boleh ingat-ingat pria yang udah menciummu tadi." Kalycha hanya menganggukkan kepalanya.
Haidar melonggarkan pelukannya. Dirinya sangat gemas melihat wajah sendu istrinya itu. Haidar langsung ******* bibir Kalycha menciumnya dengan lembut dan penuh gairah.
Lama kelamaan ciumannya semakin bergairah tak ada penolakan lagi dari Kalycha istrinya.
Perlahan tangan Haidar menyingkap baju tidur yang digunakan Kalycha hingga kepinggangnya. Menyentuh pahanya dengan lembut kemudian bermain dan merem*s gundukan bukit kembar istrinya itu.
"Aahhh–."
Mendengar desahan dari Kalycha, membuat Haidar semakin bersemangat. Tapi saat dirinya ingin membuka baju tidur Kalycha tiba-tiba tangan Kalycha menahannya.
"Udah ya mas, Icha ga tahan pengen pipis." Haidar tersenyum ingin tertawa rasanya mendengar ucapan istrinya itu.
"Boleh ya, mas minta hak mas sekarang?" Belum sempat Kalycha menjawab Haidar sudah kembali ******* bibir Kalycha.
Haidar berhasil membuka baju istrinya dan melemparkannya kelantai menyisakan pakaian dalamnya saja. Kemudian Haidar melakukan hal yang sama menyisakan boxer yang dipilihkan Kalycha tadi.
Haidar mencium kening Kalycha, lalu berpindah ke matanya, pipinya, bibirnya lalu leher jenjangnya dan setiap inci dari bagian tubuh istrinya itu tak luput dari ciuman san sentuhannya.
Darah Kalycha berdesir setiap mendapatkan sentuhan dan ciuman dari suaminya itu. Perlahan Haidar membuka kain penutup gundukan bukit kembar milik istrinya itu. Dengan cepat Kalycha menutupnya dengan kedua tangannya.
"Lepas sayang." pinta Haidar lembut.
"Aku malu mas." Haidar memegang tangan Kalycha dan perlahan membukanya dengan lembut dan tereksposlah bagian yang berusaha dirinya tutupi dengan tangannya.
"Buat apa malu? Aku juga sudah pernah melihatnya."
Setelah puas bermain dengan bukit kembar istrinya itu. Kini Haidar membuka penutup bagian inti Kalycha.
"Mas, Icha takut–."
__ADS_1
"Aku akan melakukannya dengan lembut sayang."
Haidar membuka lebar kedua kaki Kalycha dan mulai melakukan penyatuannya. Agak sedikit kesulitan untuk Haidar menembusnya. Haidar juga melihat istrinya itu meringis kesakitan. Percobaan awalnya gagal, Haidar membiarkan Kalycha untuk mengambil nafas lalu mencium bibirnya kembali untuk membuatnya merasa rileks.Dengan sekali hentakan Haidar berhasil menembus bagian inti istrinya itu.
"Oouuhhh sakit mas." Kalycha meringis kesakitan ada linangan air mata disudut matanya.
"Maaf ya sayang." Haidar kembali mencium puncak kepala istrinya.
Haidar kembali melakukannya secara perlahan tidak ingin menyakiti wanita yang sudah menjadi miliknya seutuhnya. Kalycha mulai menikmati setiap perlakuan lembut dari Haidar. Dirinya tersenyum sambil meringis melihat wajah Haidar yang penuh nafsu dengan keringat yang bercucuran dari wajah dan bagian tubuhnya yang lain.
Kalycha mulai membalas tatapan dari pria tampan yang kini adalah suaminya itu. Belum pernah dia merasakan hal itu sebelumnya. Kenikmatan yang seolah-olah menghantarkannya sampai ke surga.
"Makasih ya sayang." Dengan nafas yang masih amburadul Haidar menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Kalycha. Lalu mencium keningnya.
"Kesucianku benarkah udah direnggut suamiku? Aku ga dosa lagi kan sama suamiku? Aku udah memenuhi kewajibanku sebagai istrinya kan? Dari tadi dia memanggilku sayang terus apa dia benar-benar sudah mencintaiku?"
Banyak pertanyaan yang ada dalam kepala Kalycha. Karena terlalu lelah akhirnya mereka pun tertidur lelap setelah melakukan olahraga malam yang tidak pernah mereka rencanakan.
*
*
*
*
*
Kalycha terbangun, ia melihat suaminya masih terlelap pulas. Kalycha melirik jam dinding yang ada dikamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul jam empat pagi.
"Dia pria yang dulu aku kagumi, Pria yang dulu hampir saja kehilangan pekerjaan karena kebodohanku. Aah, siapa yang sangka dia sekarang jadi suamiku. Sebelum dia bangun Sebaiknya aku mandi dulu." Kalycha bermonolog pada dirinya sendiri bernostalgia dengan ingatannya yang dulu.
Perlahan tangannya mengangkat tangan Haidar yang melingkar dipinggangnya. Tapi belum berhasil memindahkannya Haidar kembali memeluknya.
"Mau kemana?"
"Mau mandi mas, ini udah jam 4, mas juga harus siap-siap kan mau berangkat ke Palembang."
Kalycha ingin beranjak dari tempat tidurnya tapi dengan cepat Haidar menariknya dan langsung mencium bibirnya. Kalycha pun membalas ciuman suaminya. Kalycha merasakan ada bagian yang menegang dari bagian bawah suaminya itu.
"Jangan lakukan itu lagi Mas. Hentikan mas.–." Dalam hati Kalycha menolak tapi gerakan tubuhnya berbeda seolah menuntut untuk mengulang aktivitas mereka tadi malam.
"Mas udah ya. Ini aku masih sakit."
"Sekali lagi ya sayang, seminggu nanti mas kan puasa, atau kamu mau ikut mas ke Palembang?"
"Aku kan harus sekolah mas."
"Makanya kasih mas jatah sekali lagi yah." Mau tidak mau Kalycha pun kembali melayani keinginan suaminya itu.
Segitu dulu ya part haredangnya 🤭
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kopi untuk nanti malam Author begadang 🤗 🙏
Selamat menanti berbuka puasa 😍