My Soulmate

My Soulmate
Dua Atma saling mendoakan


__ADS_3

Usai Kinan melewati masa kritis, kini Kinan dipindahkan keruang rawat inap VIP. Satu persatu keluarga mengunjungi Kinan yang terbaring lemah diranjang rumah sakit. Dua selang infus yang berbeda warna, satu cairan infus biasa dan satu lagi darah yang didonorkan. Belum lagi dengan beberapa alat medis lainnya yang menempel di tubuh Kinan, suara jantung masih terdengar jelas di layar berbentuk persegi yang menunjukan garis demi garis menandakan bahwa jantungnya sudah kembali normal.


Fahad lebih memilih diam di kursi tunggu, dirinya berniat bertemu setelah keluarganya. Seolah-olah ingin menghabiskan waktunya berdua, sampai Fahad lupa ada janji. Sehingga mau tidak mau Fahad memilih membatalkan dan melupakan janji, karena masih ada waktu sebelum ujian sekolah yang dikhususkan untuk siswa kelas 12 semua jurusan.


"Nak, apa kamu tidak ingin menjenguk Kinan?" tanya Ibha memecahkan hening setelah keluar dari ruang di mana Kinan berada.


Fahad menoleh sekilas dan tersenyum kepada Ibha sekaligus mertua. "Aku akan menjenguknya setelah mereka, Ayah."


"Baiklah, tolong jaga Kinan. Sepertinya ayah akan pulang lebih dulu bersama ibu, karena ada pekerjaan yang tidak boleh ditunda. Jadi, ayah serahkan Kinan kepadamu," tutur Ibha.


"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan menjaga Kinan." Jiwa tenang Fahad berhasil merompak pondakan pikiran negatif yang selalu membuatnya kehilangan akal sehat karena lebih banyak merenungi takdir yang menimpa istrinya. Seolah-olah tidak ingin Kinan merasa tersakiti bahkan menderita.


"Terima kasih, Nak. Jangan lupa kabarkan jika Kinan sudah sadar," sambungnya lagi.


Fahad hanya tersenyum dan mengangguk, entah kenapa perasaan Fahad begitu bimbang. Ia segera menggeleng-gelengkan kepala, membuang fikiran buruk yang menganggu ketenangan jiwa dan hati.


Harsa baru saja keluar dari ruangan di mana Kinan berada, ia meninggalkan Maryam dan Hasan yang masih betah menatap iba putri bungsunya. Harsa memandangi dua lelaki yang terpaut beda usianya, sudut bibirnya ditarik sehingga membentuk senyum manis. Ia berjalan menghampiri Fahad yang duduk berhadapan dengan Ibha dan mendudukan pantatnya di sebelah Fahad. Tangan yang selalu menjadi saksi pertumbuhan dan perkembangan dua anak yang sudah melepaskan statusnya, kini mengelus lembut pundak Fahad.


Fahad yang menyadari keberadaan sang mertua hanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan gusar, entah kenapa perasaan Fahad masih di selimuti rasa ketakutan besar. Padahal jiwa tenangnya telah berhasil mengalahkan jiwa yang memberontak untuk mengeluarkan energi negatif.


"Nak, ibu titipkan Kinan kepadamu. Sayangilah dia, cintailah dia, dan berikan ketulusanmu kepadanya. Sebab, ibu tidak bisa menjadi seorang wanita yang baik untuknya, karena dulu Kinan selalu ibu tinggal pergi keluar kota. Sehingga dia membutuhkan kasih dan sayang itu, jika aku mengingatnya aku merasa banyak dosa padanya. Karena, Kinan tumbuh dan besar lewat asuhan Alsaki," jelas Harsa menatap sendu Fahad.


"Ibu benar-benar merasa berdosa, bahkan ibu tidka pernah membebaskan dia untuk hidup bebas seperti temannya yang lain. Sehingga, Kinan lebih banyak memendam semua perasaan yang terus menumpuk. Aku takut, Kinan suatu saat nanti dia membenciku."


"Melihat dia terbaring lemah, itu adalah penglihatan pertama ibu melihat dia terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sebab, ibu tidak pernah melihat Kinan melemah. Dia selalu tertawa ceria dan pandai menyembunyikan luka kepedihan. Maka dari itu, ibu memaksa dia dengan cara menjodohkannya denganmu supaya dia bisa menghilangkan beban."


"Ibu, sungguh menyesal, Nak. Jadi, maukah kamu menjaga dan melindunginya? Bahkan memberikan cinta, kasih, dan sayang untuknya? Jangan biarkan dia memendam penderitaan yang selama ini ia pikul, ibu tidak sanggup melihatnya. Sebab, saat ibu melihat dia terbaring di sana ... ibu, melihat cahaya ketenangan dalam hatinya. Bahkan dari raut wajah yang sendu, membuat ibu malu."


"Ibu, sangat menyesal, Nak ...."


Mendengar suara yang terasa sangat sakit dan pilu, Fahad merasakan sesuatu yang menghantam pundaknya bahkan perasaannya seperti terhimpit oleh batu yabg cukup besar. Belum lagi dengan ratusan belati menancap jiwa tenangnya. Ucapan Harsa membuat Fahad tak bisa berkata-kata, sebab perasaan bimbang itu terus menerus menghantui dirinya.

__ADS_1


Harsa menunduk, meremas gamis yang ia pakai. Pikirannya terus tergiang-giang tentang Kinan yang tumbuh dengan kurang kasih sayang, dan hanya mendapatkan cinta dari Alsaki. Cairan bening luluh dengan derasnya, rasa sakit melihat anak bungsunya begitu menyesakan dada. "Fahad, maaf jika perkataanku terdengar seperti memaksa agar kamu mencintainya. Tapi, jika tidak jangan dipaksakan. Kembalikan saja dia kepada kami, biarkan kami yang menjaganya."


"Tidak, tolong jangan katakan seperti itu. Aku akan menjadi suami yang baik untuknya, aku tidak bisa berjanji karena aku akan membuktikannya bahwa aku tulus mencintainya," ujar Fahad tersenyum sembari mengenggam erat tangan Harsa.


Ibha yang melihat kelekatan sang istri dengan menantu hanya bisa menunduk, sebab apa yang dikatakan oleh Garsa ada benarnya. Kinan tumbuh dan berkembang bukan lewat cinta darinya melainkan Alsaki, sehingga membuatnya jarang sekali menunjukan kesedihan.


"Terima kasih, Nak. Ibu serahkan Kinan kepadamu, ibu merasa bersyukur dan beruntung memiliki menantu sepertimu."


"Terima kasih kembali juga Ibu, terima kasih sudah melahirkan Kinan untukku. Aku akan menjaganya," sahut Fahad.


Harsa hanya tersenyum dan bernafas lega, sesekali ia menyingkirkan air mata dengan satu tangannya untuk menyembunyikan luka. "Oh iya, aku harus pergi menemui klien penting. Apa kamu tidak masalah ibu meninggalkanmu?"


"Tidak apa-apa, aku akan menjaganya sebab Kinan adalah tanggung jawabku," jelas Fahad tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu ibu sama ayah izin pamit, Nak." Harsa berdiri begitupun dengan Ibha, bahkan Fahad ikut berdiri untuk menyalimi punggung tangan dua orang tua yang merupakan mertuanya.


Fahad memandangi punggung dua orang yang perlahan mulai menjauh dan tak tampak, rasa bersalah masih menghantui jiwa tenang Fahad. Tetapi, Fahad mencoba sebisa mungkin untuk menghilangkan perasaan yang berbentuk negatif. Di mana perasaan itu menganggu manusia untuk melangkah ke arah yang lebih baik.


"Nak, berhentilah merasa bersalah. Temuilah istrimu, ummah dan abah akan pergi mengecek yayasan pesantren kakekmu," jelas Maryam menepuk pundak Fahad yang memiliki postur tinggi sekitar 189 cm.


Hasan hanya tersenyum menatap putra semata wayangnya, ia menarik tubuh tinggi dan atletis iti dan memasukannya kedalam dekapan sang ayah yang tingginya sekitar 180 cm. Menepuk lembut punggung Fahad, seakan menenangkan putranya. Rasa rindu mendengar isak tangis Fahad pertama kali lahir membuat Hasan ingin kembali mengulang masa polos Fahad yang ketika menangis karena kesakitan lalu menenangkannya lewat lantunan shalawat indah.


"Babah tahu kamu merasakan kesakitan teramat luar biasa, tapi jangan terus terlarut dalam itu. Jangan jadikan rasa takitmu karena kamu bersalah, sebab rasa itu akan berakhir menjadi pembenci dan melupakan Tuhan. Maka dari itu, pergilah temui istrimu, dia pasti merindukan suaramu, Nak," kata Hasan setelah merelai pelukan dengan Fahad.


Mendengar itu, Fahad tersenyum tipis. Matanya memandangi wajah kedua orang tua seakan mengharapkan doa tulus yanh selalu mereka lantunkan di setiap sepertiga malam. "Terima kasih, Ummah dan Babah."


"Iya, Nak. Ummah sama Babah izin dulu yah," kata Maryam.


Fahad segera menyalimi dua tangan paruh baya dan mencium telapak tangannya. "Iya, hati-hati."


"Baiklah," kata Hasan segera pergi meninggalkan Fahad seorang diri.

__ADS_1


Setelah punggung orang tua Fahad mulai menjauh dan menghilang, Fahad segera masuk kedalam ruang rawat inap yang merupakan tempat Kinan menjalani masa pengobatannya setelah melewati masa kritis. Saat pandangan Fahad bertemu dengan tubuh lemah yang berbalutkan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya dan dua lengan Kinan.


Berjalan dengan tatapan kosong Fahad terus mengarah pada Kinan yang melemah itu, dua atma seolah hanya bertemu dalam keadaan tak sadar. Kini tubuh Fahad sudah tepat berhadapan dengan daksa lemah Kinan, tangannya kanannya meraih tangan Kinan yang dibalut dengan selang infus. Pikirannya tergiang-giang wajah ceria Kinan, wajah indah dan mempesona yang selalu membuat Fahad candu. Kini, ekspresi itu berubah menjadi Kinan yang betah dengan tidur panjangnya.


Untung saja di sisi ranjang ada bangku, sehingga Fahad bisa mendudukan dirinya di atas bangku itu sesekali tangannya mengenggam erat tangan Kinan yang terasa sedikit dingin. Mata yang selalu Fahad tahan untuk tidak menangis, kini lelaki dingin itu luluh. Air matanya disembunyikan di balik tangan lemah Kinan.


"Sayang, bangunlah ku mohon. Apa kamu tidak ingin pergi ke dermaga untuk melihat senja? Jika iya, ayo bangun aku akan mengajakmu ke sana hingga kamu puas memandanginya."


"Aku merasa suami tak becus, aku tak menjagamu sesuai dengan tanggung jawabku. Aku benar-benar ketakutan, saat aku mendapatkan kabar dari Barakka aku terkejut mendengarnya, bahkan perasaanku begitu takut. Aku takut, aku benar-benar takut, Sayang."


"Semenjak kamu di bawa ke rumah ini, dokter memberitahukan tentangmu. Jiwaku rapuh dan runtuh, aku tidak bisa apa-apa aku hanya bisa memasrahkan semuanya pada Allah. Tapi, apa kamu tahu dibalik itu aku menyesal sungguh."


"Sayang, ayolah bangun ...," lirih Fahad mencium tangan Kinan setelah puas berbincang dengan istri kuatnya itu.


Fahad mengelus lembut pipi bersih dan mulus Kinan, ia mengambil nafas dalam dan memghembuskannya keluar. Sesekali mengusap wajahnya dengan satu tangan, dirinya tidak mengerti ke arah jalan yang sebenarnya. Rasa takut masih ada, bahkan rasa marah pun sama. Tapi, Fahad tidak ingin gegabah mengambil tindakan fokus dia hanyalah Kinan agar wanita itu kembali sadar.


"Aku benci dengan perasaan bimbang ini, Sayang. Dalam hatiku ada rasa takut, marah, kecewa, dan gelisah. Aku binggung dengar arah ini, melihatmu aku ingin lebih sedikit melupakan perasaan buruk itu. Apa kamu tahu, setiap kali aku memandang mu perasaan bergejolakku seketika berubah menjadi cinta yang tulus, aku mencintaimu seperti aku pertama kali melihatmu."


"Oh iya, aku punya kata-kata indah untukmu. Maukah kamu mendengarnya?" tanya Fahad dengan tangannya terus mengenggam erat dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu seperti padmi bagaikan ratna dan indah seperti kartika candra," jawab Fahad tersenyum kecil dan geli.


Setelah Fahad puas mengeluarkan segala isi hati, entah kenapa Fahad merasakan sedikit ketenangan kala tangan dingin Kinan perlahan mulai ke arah normal. Ia melirik alat medis berbentuk kotak yang menampilkan bunyi detak jantung yang menandakan bahwa Kinan masih dalam keadaan normal. Dua insan itu terhanyut dalam aliran darah yang sama, saat Fahad menyentuh dan mengenggam tangan Kinan ia merasakan dua atma yang saling mendoakan.


Dua atma itu terus melemparkan komunikasi, merkipun raga tak mendengarnya. Ia membiarkan aliran darah dan bunyi detak jantung untuk menemani keheningan yang tercipta. "Setelah kamu sadar, aku berjanji akan mengajakmu ke dermaga untuk melihat swastamita jingga." sambung Fahad menunduk dan kembali tersenyum seolah-olah akan ada keajaiban indah.


•••••○○○•••••


Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari kita semua penuh dengan bahagia🤗❤


•••••○○○•••••

__ADS_1


__ADS_2