
9 Bulan Kemudian
Keluarga besar Bramasta, Yudistira dan Prakasa saat ini sedang merasakan bahagia atas kehamilan Kalycha. Setelah perpisahan Haidar dan Kalycha selama 5 tahun, akhirnya mereka akan dikaruniai seorang anak.
Usia kandungan Kalycha saat ini sudah mendekati tafsiran persalinan. Semua persiapan sudah Kalycha siapkan mulai dari perlengkapan tidur, pakaian, perlengkapan mandi semua sudah siap hanya tinggal menunggu bayi mungil itu lahir.
Kalycha dibantu oleh Nayla, Halimah dan Yetti untuk melengkapi semua kebutuhan bayinya. Tak luput Oma Milah juga banyak membelikan perlengkapan bayi untuk cicit pertamanya itu.
Kalycha dan Haidar sudah menyiapkan kamar khusus untuk bayi mereka tapi Kalycha ingin bayinya nanti tetap berada dikamarnya sampai usianya 5 tahun dan itu juga yang mengundang perdebatan diantara calon orangtua itu.
"Yang–, apa ga kelamaan kalau nanti anak kita tidur bareng sama kita sampe usia 5 tahun?" Haidar merasa tidak terima dengan keinginan istrinya itu.
"Ya enggak dong mas–, lagian kasihan anak kita kalau tidur sendirian." sahut Kalycha sambil memilih-milih bedong, popok dan baju-baju bayinya. Ia sudah harus menyiapkannya karena jika tiba waktunya melahirkan ia tidak repot lagi untuk mencari-cari perlengkapannya.
"Tapi nanti kita kan bisa cari pengasuhnya sayang. Biar pengasuhnya aja yang tidur bareng baby kita." Keposesifan Haidar mulai terlihat setelah kehamilan Kalycha memasuki usia sembilan bulan. Dirinya takut kalau Kalycha akan lebih perhatian pada anaknya dibandingkan dengan dirinya. Haidar yang dulu selalu mengejek Ayahnya kini termakan ucapannya sendiri. Haidar bahkan sekarang lebih posesif dibandingkan dengan Deon Ayahnya.
"Aku ga mau ya mas, kalau anak kita nanti waktunya lebih banyak sama pengasuhnya dari pada sama kita orangtuanya. Kalau mas tetap bersikeras mau anak kita tidur dikamarnya, ya udah aku aja yang tidur disana bareng anak kita nanti."
Mendengar ucapan Kalycha yang tak terbantahkan lagi membuat Haidar mau tidak mau harus mengalah. Dirinya pun turun dari atas tempat tidur mendekati Kalycha yang masih sibuk memilah-milah perlengkapan bayinya.
"Yang, udah siap belum? Dari tadi beberes pakean si dedek kok ga kelar-kelar sih." Haidar memeluk Kalycha dari belakang sambil mencium bahu dan leher jenjang Kalycha. Dari sini saja Haidar sudah bisa merasakan kalau perhatian Kalycha sudah terbagi dengan anaknya yang belum lahir.
"Maass– geli tahu." Kalycha menjauhkan kepala Haidar dari bahunya. Tapi tangan Haidar sudah bergerilya dibagian dada Kalycha membuat tubuh Kalycha mengeliat seperti cacing.
"Maaass aaaah." Kalycha masih tetap protes tapi juga mendesah menikmati permainan suaminya itu. "Mas, tunggu dulu, ini bentar lagi selesai Mas."
Haidar yang nafsunya sudah memuncak tidak memperdulikan lagi omongan Kalycha. Dengan buru-buru Kalycha menyiapkan semua perlengkapan bayinya itu.
"Awas mas–." Kalycha menepis tangan Haidar lalu berdiri dan menyimpan tas bayi yang berisi perlengkapan bayinya kedalam lemari.
"Sayaaang–." Haidar merasa frustasi karena Kalycha terus menghindarinya. Si Juniornya sudah sangat tegang ingin segera memasuki sarangnya dan menjenguk bayi hasil kerja kerasnya.
"Tunggu dulu Mas, aku mau nyimpen ini dulu. Nanti kalau udah waktunya mas jangan lupa ambil disini tasnya ya." Kalycha membuka lemari bagian bawah dan meletakkan tas itu disana.
"Iya sayang." Haidar kembali mendekati Kalycha dan menghujani kembali leher Kalycha dengan ciumannya. "Sekarang si Juni mau minta jatah yang–." Haidar memeluk Kalycha sambil terus bermain ditempat favoritnya itu.
"Sabar Mas–. Aaahhkk." Kalycha kaget karena Haidar sudah menggendongnya dan membawanya ketempat tidur.
"Mas aku berat ga sih?" tanya Kalycha saat Haidar sudah berhasil membaringkannya ditempat tidur.
"Mas akan tetap kuat menggendong kamu, seberapa gendut pun kamu, Cha–." ucap Haidar lalu kembali menciumi wajah Kalycha. Haidar tak sadar kalau kata-katanya barusan sudah menyinggung hati Kalycha.
"Mas tunggu dulu." Kalycha menahan wajah Haidar yang ingin menciumnya lagi. "Tadi mas bilang aku gendut ya?" Kalycha merasa tidak suka ketika Haidar menyebutnya gendut.
"Shiitt–, kok aku bisa lupa ya kalau istriku ini paling sensi banget di bilang gendut." Batin Haidar.
"Enggak sayang, kamu itu semok." jawabnya cepat sebelum istrinya itu benar-benar ngambek.
"Mas bohong tadi mas bilang Icha gendut." Tapi terlambat Kalycha sudah benar-benar ngambek. Kalycha memiringkan badannya, tidak ingin suaminya itu menciumnya lagi.
"Sayang mas cuma salah nyebut. Lagian kalau kamu gendut mas juga tetap sayang dan cinta sama kamu yang–." Darah Kalycha berdesir mendengar ucapan Haidar yang terdengar tulus saat dia mengatakan tetap cinta dan sayang bagaimanapun fisiknya.
__ADS_1
"Hmmm harus tetap dipuji biar si Juni ga gagal dapetin jatah."
"Yang–, biarpun gendut kamu masih tetep cantik, ga kalah lah sama model-model artis korea papan atas." Kalycha tersenyum geli tapi Haidar tentu saja tidak bisa melihatnya karena posisinya yang membelakangi Haidar. Kalycha tahu kalau Haidar berbohong tapi hatinya juga senang mendengar usaha Haidar untuk membujuknya.
"Harus sebut orang Korea biar cepat balik moodnya."
"Gombal–."
"Mas serius sayang–." Wajah Kalycha sudah kembali tersenyum dibalikkannya tubuhnya menghadap pada suaminya. Tak dipungkiri dirinya juga menginginkan sentuhan-sentuhan suaminya itu.
Haidar pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung dilum*tnya bibir Kalycha. Ia harus memberi makan si Juni, karena ia tidak tahu kapan dirinya akan mulai puasa. Dan dokter juga menganjurkan untuk terus bergelut dengan istrinya itu supaya mempermudah saat bayinya akan mencari jalan lahirnya nanti.
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Setelah memasuki usia kandungan 9 bulan, Kalycha dan Haidar memang memilih untuk tinggal dirumah keluarga Bramasta. Supaya ada yang memantau Kalycha setiap saat, karena Kalycha juga sudah mulai cuti bekerja. Sebenarnya Haidar ingin Kalycha berhenti bekerja tapi istrinya itu sangat keras kepala dan tetap ingin bekerja. Katanya takut dia bosan kalau dirumah terus. Dengan bekerja dia punya kesibukan dan dirinya yang memilih profesinya sebagai dokter dan mau tidak mau dia harus mengabdikan diri dan menyalurkan ilmu yang dimilikinya untuk membantu dan menolong orang yang sedang sakit.
"Ada apa sayang?" tanya Haidar yang melihat Kalycha berdiri sambil tangan kanannya memegang tembok dan tangan kirinya menopang perutnya.
"Perut aku sakit Mas–." lirihnya dengan nafas yang sedikit berat.
"Ya sudah kita ketempat tidur dulu." Haidar bermaksud untuk memapah Kalycha, tapi langsung ditolak Kalycha.
"Bentar Mas, lagi sakit." Kalycha meringis kesakitan. Ia terus menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Begitulah yang selalu disarankannya kepada pasiennya yang akan melahirkan.
"Sakit banget ya Yang?" Kalycha tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya. Haidar tidak tega melihat raut wajah Kalycha yang kesakitan. Seandainya sakitnya itu bisa dipindahkan padanya maka dengan senang hati ia akan menerimanya.
"Apa udah waktunya Yang? Kita ke Rumah Sakit sekarang ya?" ajak Haidar karena dia sangat khawatir dengan Kalycha.
"Seperti begitu Mas, tapi–." Kalycha langsung tersenyum membuat Haidar merasa bingung melihat Kalycha sepertinya sudah baik-baik saja.
"Tapi apa Yang?"
"Sakitnya udah hilang Mas, mungkin cuma his palsu aja." Haidar mengerutkan keningnya pasalnya dirinya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"His palsu?" Haidar bingung dengan istilah yang hanya diketahui oleh istrinya dan para medis tentunya.
"Itu loh Mas, menurut istilah kedokteran, mulas atau his palsu itu sebenarnya kontraksi pada otot rahim. Tapi kontraksi ini tidak menyebabkan pembukaan pada mulut rahim, sehingga janin yang ada di dalam kandungan belum dapat keluar, begitu." jelas Kalycha, tapi Haidar hanya mengangguk-angguk saja, entah mengerti atau tidak yang dijelaskan Kalycha.
"Ya udah kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau mau ke kamar mandi lagi, panggil mas aja." ucap Haidar sambil memapah Kalycha kembali ke tempat tidur. Ia tahu semenjak memasuki usia kandungan trimester ketiga Kalycha semakin sering buang air kecil.
__ADS_1
"Iya Mas–." Kalycha pun memilih untuk kembali istirahat. "Mas mau kemana?" tanya Kalycha yang melihat Haidar berjalan kearah pintu keluar kamar.
"Sebentar Mas haus, mau ambil minum dulu."
Haidar keluar dari kamarnya langsung menuju dapur. Saat ini kamar mereka berada dilantai bawah karena Kalycha sangat kesulitan menaiki tangga dan lagi pula anjuran dokter juga supaya Kalycha tidak terlalu capek, bisa mengakibatkan kram perut atau kontraksi dini.
Setelah kembali ke kamar Haidar terkejut melihat Kalycha yang terduduk sambil menangis.
"Kamu kenapa Sayang?" Haidar menghampiri Kalycha.
"Mas, sepertinya air ketuban aku udah pecah mas?"
"Air ketuban?" Haidar memang kurang mengerti tentang hal yang begituan. Sudah bolak-balik Kalycha meminta Haidar untuk mempelajari tentang kehamilan dan melahirkan tapi tetap saja dia menolak, bukan menolak tapi tepatnya karena dia sangat sibuk sehingga tidak sempat membaca tentang Kehamilan dan proses melahirkan.
"Panggilin Bunda aja deh Mas–." pinta Kalycha yang masih terus menangis.
"Iya Sayang, tapi kamu juga harus tenang dulu. Kasihan dedeknya kalau kamu nangis terus."
Haidar pun langsung memanggil Ibu mertuanya yang bertepatan ada di kamar yang dekat dengan kamar mereka.
Tak berapa lama Nayla datang dengan wajah yang masih ngantuk. Tapi rasa kantuknya hilang seketika begitu melihat Kalycha menangis dan kesakitan.
"Sayang kamu kenapa? Apa sudah waktunya?" tanya Nayla sambil mengusap-usap punggung dan pinggang Kalycha.
"Sepertinya iya Bun, air ketuban Icha udah merembes Bun. " Kalycha merengek seperti anak kecil. "Icha takut Bun–."
"Huss, ga boleh ngomong begitu sayang. Ingat sebentar lagi kamu akan bertemu dengan anakmu. Kamu harus semangat ga boleh menangis begini. Nanti bayi kamu ikutan stress kalau kamu stress sayang. Jadi tetap semangat dan berdoa ya. Sekarang kita kerumah sakit."
Kalycha pun seketika menghentikan tangisannya dan menuruti semua perintah Nayla.
"Dar, kamu bawa perlengkapan bayi dan pakaian gantinya Icha nanti. Bunda bangunin Daddy dulu dan minta sama Bi Nani untuk jagain si Kembar dulu."
"Iya Bun."
Nayla bergegas keluar dari kamar Kalycha dan membangunkan suaminya.
"Mas Sakiiiit–."
"Aaauuuw iya sakit sayang–." Sahut Haidar yang juga kesakitan saat Kalycha mencengkram lengannya.
"Sakit Mas–."
"Sabar ya sayang, nanti kita minta dokter untuk ngilangin sakitnya." jawab Haidar dengan polosnya karena dirinya tidak tahu kalau saat mau melahirkan rasa sakitlah yang dicari bukan obat penghilang rasa sakit.
Maaf ya baru sempat Update 🙏
Author pura-pura Amnesia selama hampir seminggu ini 😄
Semoga para Readers masih bersedia memberi Like, Komen dan Votenya ya.
Terimakasih 🙏
__ADS_1