My Soulmate

My Soulmate
Cetak Gol


__ADS_3

Semenjak kepulangan mertuanya, Kalycha banyak diam dan murung. Mereka pulang sesudah selesai bersantap makan malam bersama. Haidar mendekati istrinya yang kini duduk bersandar ditempat tidur.


"Kamu kenapa?" Haidar duduk disebelah istrinya itu.


"Icha ga apa-apa." Dibibir dia mengatakan tidak apa-apa tapi sikap dan gerakan tubuhnya seolah-olah ada yang dikhawatirkannya.


"Terus kenapa mukanya ditekuk begitu?"


"Icha ga apa-apa Mas–." sahutnya ketus. Lalu berbaring dan memunggungi Haidar.


"Sebenarnya dia ini kenapa sih? Dari tadi mukanya murung terus, ditanya jawabnya ga apa-apa." Batin Haidar


"Kalau aku cerita dengannya apa dia mau dengar ya?" Batin Kalycha


"Tangan kamu gimana udah sembuh?" Haidar mengalihkan pembicaraan mereka supaya Kalycha tidak lagi murung tapi mau bagaimana lagi emang dasar bocah ya pikirannya masih labil dan tidak fokus.


Kalycha membalikkan tubuhnya menghadap pada Haidar.


"Udah mendingan. Tadi Icha udah coba pake nulis udah ga begitu sakit lagi. Hari senin nanti udah bisa sekolah lagi." Kalycha menunjukkan tangannya dan menggerakkan jari-jarinya pada Haidar. Ya begitulah cara Haidar merubah mood istrinya itu.


"Mas–" Kalycha menatap netra suaminya itu.


"Kenapa?"


"Ga apa-apa, ga jadi." Kalycha ragu apakah ini akan berhasil bila dirinya berkata sejujurnya, tapi kalau belum dicoba bagaimana dia akan tahu tanggapan dari suaminya itu.


"Kenapa ga jadi? Kamu ini aneh dari tadi melamun sekarang mau ngomong pake acara ditunda segala."


"Mas–, Apa Icha masih bisa mengejar mimpi Icha?"


"Emang kamu punya mimpi apa?"


"Mimpi itu hanya kiasannya Mas, dari dulu Icha bercita-cita pengen jadi dokter, apa Icha masih bisa meraih mimpi Icha jadi seorang dokter?"


Haidar menautkan kedua alisnya. "Sebesar itu mimpinya? Bagaimana mungkin akan mewujudkannya? Apa karena Ayah tadi memuji Elsa makanya dia terlihat murung dari tadi. Ditambah lagi sekarang posisinya adalah wanita yang sudah menikah? Maafkan aku Cha, aku ga tahu tentang cita-cita mu itu."


"Sekarang kamu selesaikan dulu sekolahmu. Masalah cita-citamu yang ingin jadi dokter, nanti kita pikirkan setelah kamu lulus SMA." Haidar tidak ingin memberikan harapan palsu kepada istrinya itu. Kalycha pun menganggukkan kepalanya.


"Oya hari senin nanti aku ada kerjaan keluar kota selama seminggu, kamu mau tinggal disini apa dirumah Ibu?"


"Aku mau dirumah Daddy, boleh ga?" Sudah pasti Kalycha akan memilih tinggal dirumah orangtuanya, selain dia juga sudah rindu dengan Daddynya dia juga rindu dengan suasana rumah dan kamarnya.

__ADS_1


"Ya udah, besok selepas belanja perabotan rumah. Kita langsung pulang kerumah Daddy. Nanti aku berangkatnya dari sana aja." Haidar merebahkan tubuhnya disamping Kalycha.


"Iya mas." sahutnya tersenyum senang karena Haidar mengijinkannya untuk pulang kerumah orangtuanya.


"Sini–." Haidar merentangkan tangannya bermaksud ingin memeluk istrinya. Dalam hati dia pasti akan merindukan istrinya itu dalam seminggu kedepan.


"Enggak ahk gerah." tolak Kalycha sambil memunggungi Haidar lagi. Itu hanya alasan Kalycha saja, dirinya masih takut kalau-kalau suaminya itu akan meminta haknya.


"Gerah dari mana? ACnya aja udah yang paling rendah suhunya." Tapi wajar bagi Kalycha suhu 16 °C itu sudah biasa baginya bahkan lebih rendah dari itu pun dia sudah biasa. Berhubung dia besar di negara Jerman yang memang memiliki empat musim.


"Kesini ga? Kalau ga mau aku minta jatah nih sekarang." Andalan Haidar memang hanya itu, manakut-nakuti istri kecilnya.


"Iiih ancemannya itu mulu. Males banget dengernya." gerutu Kalycha tapi dirinya tetap mendekat kearah suaminya. Meletakkan kepalanya di lengan berotot milik suaminya itu.


"Seminggu nanti ga liat aku, apa kamu ga kangen?" Haidar menatap lekat pada netra Kalycha.


"Enggak lah. Cinta juga enggak gimana bisa kangen–." Kalycha benar, belum ada cinta diantara mereka. Mungkin hanya Haidar yang saat ini berharap penuh padanya agar istrinya itu juga mencintainya. Karena dihati Haidar saat ini sudah ditanamkannya hanya ada nama Kalycha istrinya itu.


Haidar kesal mendengar jawaban Kalycha tapi dirinya tetap memeluk istrinya itu dengan erat sampai akhirnya mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan.


...➰➰➰...


"Mas kita cicil aja ga? Ini mahal-mahal loh mas perabotannya." Entah sejak kapan Kalycha belajar memanajemen keuangan rumah tangganya. Gaji suaminya saja dia tidak tahu berapa besarnya. Karena yang dia tahu posisi suaminya itu hanya asisten Daddynya yang pastinya gajinya pasti sama dengan karyawan-karyawan lain seperti Bodyguard atau security.


"Kenapa harus dicicil? Kamu pikir suamimu ini ga mampu untuk beli ini semua?" Haidar menyombongkan dirinya.


"Emang gaji mas berapa sih perbulannya?"


"Nanti kamu juga tahu sendiri. Kalau membeli satu tas branded buat kamu masih sangguplah."


"Syukurnya mas punya istri yang ga terlalu suka sama benda-benda seperti itu."


"Itu sih karena kamunya aja yang masih sekolah coba kamu jadi wanita sosialita pasti bakalan butuh banyak uang untuk belanja keperluan kamu."


Haidar memang sangat bersyukur mendapatkan istri seperti Kalycha yang memang tidak terlalu suka shopping, dulu sama Mommynya dia diajarkan untuk berhemat dan rajin menabung. Kalau butuh sesuatu dia selalu minta Daddynya yang belikan. Kalau seperti baju dan kebutuhan lainnya dia lebih suka berbelanja dengan Mommynya dan tidak memilih barang yang harus bermerk.


Meskipun Daddynya tergolong orang yang sukses dan memiliki banyak uang tapi Kalycha tidak pernah boros dan Haidar tahu itu. Bila pengeluaran Kalycha membengkak itu karena dia biasa mentraktir teman-temannya.


"Jadi mas mau Icha jadi wanita sosialita?"


"Enggak dong, aku maunya jadi kamu apa adanya aja."

__ADS_1


...❇️❇️❇️...


Bandara Internasional Soekarno Hatta


Dari mulai keluar Mansion mertuanya itu sampai akhirnya tiba di Bandara Haidar tidak berhenti tersenyum. Roy yang menatapnya pun merasa heran.


"Anda kenapa Tuan? Dari tadi saya perhatikan sepertinya Tuan sedang bahagia sekali hari ini."


"Semprol manggil gue biasa aja. Kayak gue Tuan besar aja lo panggil Tuan. Lagian kita juga bukan dikantor." Haidar sudah merasa nyaman bekerja dengan Roy, yang dulu adalah anak buah Jack. Jadi dia membiarkan Roy memanggilnya layaknya seorang teman.


"Tapi tetap saja posisi anda itu Tuan muda sekarang–." Roy tersenyum sambil menyunggingkan sudut bibirnya.


"Lo ngejek gue?"


"Buat apa saya mengejek anda Tuan. Posisi anda itu adalah jackpot untuk anda Tuan."


"Sialan lo Roy–."


"Tapi kenapa anda mau menikahi Nona Kalycha Tuan. Sementara yang saya tahu Tuan itu cinta mati sama mantan pacar anda?"


"Formal banget sih lo Roy?"


Antara Roy dan Haidar tidak ada rahasia lagi. Haidar memang selalu bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada Roy mulai dari pekerjaannya sampai pada kisah percintaannya.


Roy tahu kalau Haidar begitu mencintai Inez mantan pacarnya yang dulu meninggalkannya demi pria lain yang jauh lebih mapan darinya karena waktu Itu Haidar belum sesukses sekarang ini. Sejak itu Haidar kesulitan move on dari mantannya itu.


Kemudian Haidar menceritakan pada Roy alasannya mau menikah dengan Kalycha. Dan Roy pun terkejut mendengar penuturan dari atasan dan sekaligus sahabatnya itu.


"Jadi–, itu alasan lo senyum-senyum dari tadi?" Roy sudah bicara seperti biasa.


"Kalau itu rahasia."


"Halaah, bilang aja lo udah berhasil cetak gol di gawang lo, iya kan?."


Dan keduanya pun tertawa.


Benarkah Haidar udah berhasil Cetak Gol???🤔


Njut besok lagi ya 🤗


Jangan Lupa Like nya yach 😍

__ADS_1


__ADS_2