
Menit terus berlalu, kini sang surya menampilkan cahaya ceria. Bumi yang tadinya hanya diisi dengan heningnya malam, kini bumi mulai berputar mengikuti rotasi sistem tata surya kini bumi menunjukan keterangan ultraviolet yang bagus untuk kesehatan kulit.
Sinar matahari masuk melalui celah jendela yang tertutup gorden, membangunkan seorang wanita yang masih terlelap dalam tidur lelahnya. Kelopak mata mulai membuka, iris mata mencari-cari di sudut kamar. Iya, Dania sekarang sudah berada di kamar Saidah, wanita paruh baya yang menolong dirinya tanpa sepengetahuan apa yang terjadi padanya.
Ia segera bangkit dari pembaringan yang beralaskan kasur tipis, tubuhnya begitu sakit dan perih. Ia melihat dirinya terlebih dahulu dari bagian tangan, luka-luka kecil berbalutkan zat iodin melekat sempurna di kulit bagian luarnya belum lagi dengan pergelangan kaki berbalutkan kain kasa. Melihat dirinya sedang berada, Dania memutar otaknya untuk mengingat apa yang terjadi. Malam itu ....
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Dania ketakutan kala mendapati lelaki yang terobsesi dengannya.
"Hahaha ... lo pikir lo bisa kabur dari gue?" ejek lelaki melangkah maju.
Satu demi satu langkah lelaki itu terus maju hingga akhirnya Dania berada disandaran pohon, bibir itu seketika berbentuk miring dan tatapan elang bak singa kelaparan itu mengunci pengerakan Dania. "Gue sudah membayarmu lebih dari apapun, tapi lo tidak mau menyerahkan kembali diri lo, padahal beberapa hari yang lalu lo menyerahkan diri lo kepada gue!"
"Apa maksudmu?" Suara nafas Dania begitu terasa hingga tenggorokannya merasa kering dan terhimpit kala telinga tajamnya mendengar apa yang dibicarakan dan bohong jika Dania tidak paham apa yang dibicarakan oleh lelaki itu.
"Halah enggak usah pura-pura tidak tahu! Bawa dia!" perintah lelaki itu dengan lantang kepada dua pengawal dan dua pengawal itu segera menarik tangan Dania dan Dania terus memberontak.
Setelah Dania di bawa kedalam mobil, lelaki itu menancapkan gasnya menuju tujuan entah kemana. Perjalanan saat itu mulai menyepi hanya lampu jalan yang menemani setiap kendaraan untuk lewat. Dania terus memberontak dari dua preman berbadan kekar.
"Lepaskan aku!" teriak Dania.
"Berisik banget lo, padahal kalau mendes*ah suara lo paling indah," kata lelaki itu tersenyum sinis.
"Gue punya alasan kenapa gue tidak bisa lepasin lo, karena cinta gue bertepuk sebelah tangan! Sewaktu gue menginjak sekolah menengah atas gue rela ngelakuin apapun demi loe bahkan sampai mempertaruhkan nyawa gue pas gue lagi melawan preman yang hendak mencelakai lo, tapi lo tidak pernah membalas kebaikan gue. Meskipun lo selalu bilang terima kasih bagi gue kata itu tidak cukup!"
"Hingga suatu hari, gue dapat kabar bahwa lo akan menikah dengan seorang anak dari kiyai dan lo nerima dia dengan hati yang yang yang T U L U S padahal kenal saja tidak, sedangkan gue? Iya gue Alvin teman satu sekolah lo dan satu kampus kenal jauh dengan lo."
"Karena lo enggak membalas cinta gue, gue jadi gini! Maafkan gue Dania, gue lakuin ini karena gue ingin lo membalas kebaikan gue dengan cara menerima cinta gue, lo mati gue akan ikut mati!" tekan lelaki itu bernama Alvin.
"Kurang aj*ar! Kamu itu bukan cinta namanya melainkan obsesi!" teriak Dania.
"Berisik!" bentak Alvin.
Mobil yang dikemudi oleh Alvin samoai juga dengan tujuan, sebuah bangunan tua tampak jelas di penglihatan empat orang. Dania terus memberontak agar cengkraman dua preman itu lepas, akan tetapi sayangnya dua preman berbadan kekar itu tidak sedikitpun terusik dengan sikap Dania yang terus memberontak.
Akhirnya Dania menyerah, tapi ia tidak kehabisan akal. Kata-kata dari kakaknya yang tak lain adalah Fahad seketika menghipnotis Dania agar bisa keluar dari cengkraman kuat preman.
"Kalau preman itu megang lengan terus preman itu ada dua, kamu harus ambil tangan yang memegang lengan kamu lalu gigit dia dan satu lagi tendang alat vi*talnya karena itu kelemahannya. Setelah itu gunakan kesempatannya untuk lari," bisik Fahad membuat Dania dengan beraninya melakukan hal demikian.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Fahad, dua preman itu meringis kesakitan. Alvin yang mendengar itu sontak terkejut dan nafsunya dipenuhi dengan amarah karena Dania berhasil kabur dari cengkraman kuat dua preman yang merupakan pengawalnya berkat bisikan dari Fahad yang tergiang-giang.
"Kurang aj*ar! Kejar dia!" teriak Alvin dan dua preman yang kesakitan itu segera mengejar Dania yang entah sudah berapa jauh, sedangkan Alvin ikut berlari dari belakang.
Langkah kaki terus maju tanpa menoleh kebelakang dan memperhatikan di depan, saat berada di jembatan yang menjurang yang dalamnya tak seberapa dari bawah ada sebuah desa. Dania kemudian memilih melewati jalan itu tanpa menoleh, turun dengan hati-hati dan hatinya terus menerus menyebut nama sang Pencipta. Dari rasa itu, tib-tiba Dania tersandung batu yang bentuknya sedang dan terjatuh hingga tubuhnya terguling-guling sampai bawah. Saat itulah, Dania mulai tak sadarkan duri dan keberadaan tiga pemuda itu entah bagaimana.
"Aaasswww!" ringis Dania saat hendak bangkit dari kasur dan langkahnya keluar dari kamar dengan sangat tertatih-tatih akibat pergelangan kaki seperti mengalami keseleo. Matanya memeriksa sudut ruangan, rumah itu sangat sederhana dan rapih bahkan enak dipandang.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya dengan jilbab jadulnya keluar dari ruangan berpintukan gorden, Saidah terkejut melihat wanita malam yang dibantu olehnya berdiri di depan pintu. "Astagfirullah, sudah sadar Neng?" tanya Saidah menghampiri Dania da menuntunya agar duduk di bangku yang usianya sudah memakan puluhan tahun.
__ADS_1
Dania tersenyum dan menunduk saat sang ibu menuntunya agar duduk di bangku itu. "Alhamdulillah, aku sudah sadar, Bu."
Saidah tersenyum mendengar itu. "Tunggu di sini, ibu ambilkan dulu minum sekalian tungguin Zaid agar memeriksamu."
"Terima kasih," kata Dania dan memandangi punggung wanita itu mulai menghilang dan memasuki ruangan yang tak lain adalah dapur.
Selang beberapa menit kemudian, terdengar ucapan salam dari luar dan pintu terbuka menampilkan seorang lelaki berbadan tegap dengan tangannya membawa kantong berisi peralatan medis. "Assalamualaikum," ucap Zaid memasuki rumah sederhana dan terkejut melihat Dania duduk manis.
"Waalaikumsalam," jawab Saidah sembari menyimpan gelas dan teko berisi air untuk Dania.
"Oh, Mbak sudah sadar?" tanya Zaid.
Dania mengangguk dan tersenyum tanpa memandangi Zaid. "Dia sudah sadar belum lama, periksa dia, Nak."
"Baiklah," terima Zaid dan duduk di sebelah Dania. "Izinkan saya memeriksa keadaan Mbak," sambungnya.
Dania tidak menjawab, keningnya bertaut kala mendengar 'memeriksa' seketika pikirannya tertuju pada keburukan, iya Alvin menyentuh tubuh Dania dengan dalih memeriksa kala itu Dania mengalami deman, akan tetapi perbuatan Alvin justru melewati batas.
"Tenang Mbak, saya tenaga medis," kata Zaid.
"Tidak," jawab Dania cepat dan menjauh dari tempat duduk Zaid.
Zaid yang mengerti arah gerak-gerik Dania seketika memakluminya, ia yakin wanita itu pasti memiliki trauma besar yang menimpa diri Dania sebab sewaktu Zaid memeriksa tubuh Dania ada banyak bekas menji*jikan menempel sempurna di leher Dania dan Zaid berpikir bahwa wanita itu seperti melakukan dosa. Nyatanya, saat melihat gerak-gerik itu membuatnya yakin bahwa Dania adalah korban.
Saidah menyerit heran melihat tingkah Dania yang menolak diperiksa oleh anaknya, seketika mengode dengan memaju dan memundurkan wajahnya, dan mendapatkan jawaban gelengan dan senyuman dari Zaid.
"Kalau begitu, jangan segan untuk mengatakan jika ada bagian yang sakit. Saya akan memberikan obat antibiotik, nanti diminum yah Mbak setelah makan siang," jelas Zaid bangkit dari duduknya menuju kamar sendiri. "Bu, aku mandi dulu."
Dania yang merasakan sentuhan hangat seperti seorang ibu, seketika air matanya terjatuh dari pelupuk mata. Bayangan Maryam wanita hebat yang sering dijadikan teladan tergiang-giang dibenaknya, belum lagi dengan pelukan hangat kala Dania tertimpa musibah Maryam selalu berlari kearahnya untuk menenangkan dirinya.
Saidah merasakan punggung wanita itu bergetar hebat ia mengerti. "Menangislah, Nak sampai rasa sesakmu berkurang." Ia mengambil tubuh Dania untuk masuk kedalam dekapannya.
Sementara Zaid mengintip dari kamar pribadinya dan tersenyum, akan tetapi jiwanya kepo jadi dia tak segan menempelkan benda yang sering digunakan oleh seorang dokter untuk memeriksa jantung pasien berwarna hitam sesuai dengan seleranya.
Setelah dirasa cukup puas, Dania mengakhiri isak tangisnya sembari menghapus air mata dengan kedua tangannya. Ia menampilkan senyum manisnya kepada Saidah. "Maaf, Bu."
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti," kata Saidah mengelus puncuk kepala Dania.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu mengisi kekosongan keluarga Saidah setelah Dania puas meluaokan segala emosi melalui pelukan hangat seorang ibu. Saidah segera beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu, tampaklah lelaki berusia sekitar lima puluh tahunan dengan wajah panik yang tak lain adalah ketua RT.
"Lho, Pak RT? Ada apa?" tanya Saidah.
__ADS_1
"Bu, tolong anak saya ... beliau kesakitan," panik Pak RT.
"Astagfirullah, tunggu sebentar yah saya panggilkan dulu Zaid," kata Saidah segera masuk kembali kedalam memanggil Zaid.
Zaid yang belum sempat menutup mata sudah mendapatkan kembali panggilan dari sang ibu, sementara Dania menautkan kedua alisnya kala melihat ekspresi Saidah seperti panik.
"Zaid!"
"Kenapa, Bu?" tanya Zaid keluar dari kamar.
"Itu anak pak RT, cepat tolong dia," jawabnya.
"Astagfirullah, baiklah Zaid segera ke sana," ujarnya kembali lagi masuk kedalam untuk membawa tas yang berisi pelengkapan.
Sementara Dania hanya diam menyaksikan interaksi ibu satu anak, entah kenapa perasaan Dania begitu tenang kala melihat Zaid keluar dengan penuh rasa tanggung jawab yanh tinggi dan ekspresi menunjukan ketenangannya. Ia memandangi punggung dua orang yang mulai menghilang satunya. Kini, Saidah membalikkan badan usai mengantarkan Zaid.
"Ada apa, Bu?" tanya Dania.
"Seperti biasa, Nak. Ada yang sakit, makanya Zaid pergi untuk mengeceknya," jawab Saidah.
Dania memincingkan mata untuk mencerna setiap perkataan Saidah. "Mengecek?"
"Benar, Zaid adalah seorang dokter di kampung ini satu-satunya, Nak."
"Masya Allah, berarti dia anak Ibu?"
"Iya dong anak ibu, anak siapa lagi," kekeh Saidah.
"Masya Allah, hebat sekali," puji Dania tersenyum. "Apa memang di kampung ini tidak ada tempat semacam klinik?" tanya Dania hati-hati.
"Tidak ada, Nak. Di kampung ini dokternya cuman satu Zaid doang," jelas Saidah.
"Kenapa?"
"Karena kampung ini terbatas dengan ekonomi, Nak. Jadi, kalau ada warga sakit pasti Zaid yang memeriksanya meski mendapatkan upah di bawah minimum dan berbeda seperti dokter lain yang bekerja di rumah sakit."
"Kenapa dia mau kerja di sini, Bu?"
"Beliau tidak bisa meninggalkan ibu. Padahal ibu sudah bilang pergi saja, nanti kalau libur kerja bisa jenguk ibu. Tapi, Zaid kekeh tidak mau maka dari itu dia mengabdikan dirinya sebagai dokter untuk bekerja di kampung ini dengan ikhlas, dan tentunya minta izin terlebih dahulu dari pihak rumah sakit yang Zaid abdikan. Beliau mengingatkan ibu, waktu pertama kali dia bekerja di sini dan mendapati pasien leukmia Zaid menyuruhnya agar pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang baik, tapi keluarganya menolak tidak ada uang untuk membayar pengobatannya."
"Akhirnya, mau tidak mau Zaid yang membawanya ke rumah sakit dan dia yang membayar semuanya. Dia yang bertanggung jawab atas pasiennya itu, tanpa meminta yang lain. Dia memiliki surat izin dari rumah sakit untuk bekerja di sana, jadi Zaid hanya akan bekerja di sana jika ada warga yang membutuhkan penanganan darurat," lanjut Saidah menunduk.
"Ibu, jadi tidak bisa apa-apa lagi selain mendoakan semoga Allah menggantikan rezeki yang Zaid keluarkan dengan lebih supaya beliau bisa membantu kembali orang lain," sambung Saidah lagi dengan mata berembun.
Mendengar cerita itu entah kenapa jiwa empati Dania meronta-ronta ingin keluar dari raganya untuk menolong Zaid. Cerita itu sungguh menyentuh hatinya, sampai tak terasa mata yang tadinya melihat dengan jelas kini mulai berembun. Ia dengan sigapnya menghapus sebelum ketahuan Saidah.
•••••○○○•••••
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari yang kita lalui berakhir bahagia🤗❤
•••••○○○•••••