
Pertemanan yang baik tampaknya adalah hal yang patut untuk dihargai. Namun seringkali bagi beberapa dari kita, dari waktu ke waktu muncul ketegangan antara menjadi teman yang baik atau teman yang hanya memanfaatkan kebaikan kita saja.
Pertemanan juga tampaknya mengharuskan kita untuk peduli terhadap kesejahteraan teman kita. Bukan hanya mengharapkan yang terbaik bagi mereka, tapi kita pun juga menginginkan yang terbaik untuk kita sendiri.
Seperti Kalycha yang sangat sulit terbuka pada temannya dulu, membuatnya harus mengambil keputusan yang akhirnya membuatnya menyesal. Namun ia mencoba untuk ikhlas menerima keputusannya untuk pindah kelas dan mencintai apa yang sudah menjadi pilihannya.
Namun lagi-lagi orang lain memanfaatkan kebaikannya, sehingga menjerumuskan dia ke pergaulan yang salah.
Haidar sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengusut tuntas masalah Kalycha dan teman-temannya. Ia ingin memberikan titik jera pada teman-teman Kalycha itu, supaya tidak ada lagi anak lain yang menjadi korban keisengan mereka.
"Tolong Pak, jangan laporkan kami ke polisi." Windy akhirnya memohon kepada Haidar.
"Katakan dari mana kau dapat obat itu?" Haidar menatapnya tajam seperti sedang mengintimidasinya.
"Saya mendapatkannya dari teman saya yang bernama Indra Pak."
Akibat Windy yang keceplosan, akhirnya mau tidak mau dirinya terpaksa mengakui kejahatannya itu. Haidar emosi ia mencengkram dagu Windy.
"Apa laki-laki yang bernama Indra itu, dia juga ada Bar itu?"
"Iya dia ada disana, tolong lepaskan Windy Pak." Deby merasa kasihan melihat Windy yang kesakitan akibat cengkraman tangan Haidar di dagunya.
"Dia pria yang memberikan Wiski pada Icha Pak. Kami mengaku kami salah Pak. Tolong maafkan kami dan jangan laporkan kami kepada polisi." Desi pun turut mengakui kesalahannya.
"Laporkan saja Pak, mereka pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya." Mimi kembali ke otak polosnya. Dirinya kesal dengan ketiga temannya itu.
"Mimi–, kok lo tega sih. Emang lo pikir lo bisa lolos dari masalah ini? Begitu? Lo salah Mi, Lo juga ikut andil disana walaupun lo ga tahu apa yang udah kita lakuin sama Icha." Deby sangat emosi mendengar ucapan polos dari sahabatnya itu. Ia kesal karena Mini seolah mencuci tangan dari masalah itu.
"Tapi gue ga ikut-ikutan buat Icha mabuk dan minum obat itu. Semua itu kalian yang merencanakan sendiri." Mimi masih membela dirinya.
"Tapi kalau kita sampai dilaporkan ke polisi lo juga kena karena kita masih dibawah umur kenapa kita main ke Bar dan Lala juga kena karena dia bekerja di Bar itu. Apa lo paham sekarang?" Bentak Windy. Ia kesal pada Mimi yang merasa tidak bersalah. Sementara Haidar dan semua Bodyguardnya hanya menyaksikan pertengkaran mereka.
"Sudah-sudah, kalian tetap akan dihukum." Suara tegas dari Haidar menghentikan pertengkaran diantara mereka.
"Roy–." panggilnya kepada orang kepercayaannya itu.
"Iya Tuan."
"Serahkan video itu kepada kepala sekolah dan suruh kepala sekolah memanggil orangtua merek masing-masing."
"JANGAN." ucap mereka bersamaan. Tapi teriakan mereka itu tak dapat mengubah keputusan Haidar.
"Antar mereka pulang kerumah mereka masing-masing." perintahnya kepada para Bodyguard yang berada diruangan itu.
"Tolong Tuan, jangan lakukan itu." Lala kembali memohon kepada Haidar ia memegang tangan Haidar tapi Haidar langsung menepisnya. "Beasiswa ku bisa dicabut nanti Tuan. Tolong Tuan maafkan kami."
__ADS_1
"Seharusnya sebelum kamu bertindak pikirkan dulu apa akibatnya. Belajarlah bertanggung jawab atas perbuatan dan kesalahan mu itu." ucap Haidar tegas.
Haidar pergi meninggalkan mereka, lalu para Bodyguard Haidar itu mengantarkan mereka pulang kerumah mereka masing-masing.
Roy melaporkan tindakan mereka kepada kepala sekolah sesuai dengan instruksi Haidar. Atas perbuatan mereka Windy, Deby dan Desi mendapatkan hukuman skorsing selama seminggu sedangkan Mimi dan Lala mendapatkan hukuman skorsing selama 3 hari. Karena Haidar masih ada rasa perikemanusiaan maka dirinya meminta pihak sekolah untuk tidak menghentikan beasiswa Lala.
Kembali ke Masa Sekarang
Kalycha tidak tahu soal hukuman yang didapatkan oleh teman-temannya itu. Lala memang masih merasa bersalah padanya. Tapi dirinya mencoba sebisa mungkin untuk tidak lagi terlibat dengan Kalycha baik dalam urusan sekolah maupun urusan pribadi.
Tapi dia mendapat tugas kelompok yang bertepatan satu tim dengan Kalycha. Mau tidak mau dia harus menerimanya. Tapi Lala menolak untuk mengerjakan tugas kelompok itu dirumahnya. Dirinya tidak mau menjadi bahan ejekan teman-temannya jika tahu kondisi keadaan rumahnya yang kecil.
Lala selalu menghindari Kalycha tapi Kalycha sudah tidak perduli lagi saat ini dirinya hanya fokus pada tujuannya saja yaitu menyelesaikan sekolahnya dengan tenang tanpa ada satupun yang tahu statusnya saat ini.
Mereka sudah hampir menyelesaikan tugas kelompoknya. Akhirnya mereka memilih menyelesaikannya dirumah Adit.
"Kaly nanti gue anter pulang ya." Aditya melihat Kalycha mulai tampak gelisah.
"Ga usah Dit, makasih. Gue nanti dijemput kok." Kalycha menolak secara halus tawaran Adit.
"Ga ngerepotin apa? Biar bareng gue aja. Rumah kita searah kayaknya." Dion pun menawarkan dirinya untuk mengantar Kalycha pulang.
"Gimana nih. Om Hai juga ga mau kalau aku diantar temanku. Apalagi sekarang pasti Om Hai udah dijalan." Batin Kalycha.
"Kenapa mereka cuma menawarkan Icha doang? Kenapa ga bertanya samaku juga?" Batin Lala.
"Ya udah deh kalau gitu. Ntar biar Lala gue yang anterin." ucap Dion setuju.
"Ga usah Dion, katanya rumah Lo searahnya sama Icha. Gue ga apa-apa kok pulang sendiri." Lala menolak tawaran Dion. Bukan karena dia tidak mau diantar sama Dion tapi karena Kalycha yang menyuruh Dion mengantarnya pulang membuatnya merasa muak dengan rasa sok keperdulian Kalycha kepadanya.
"Ga apa-apa La, lagian ini udah sore. Nanti lo bisa kemalaman sampe rumah Lo." Dion benar-benar tulus ingin mengantar Lala.
"Baiklah. Terimakasih ya." Lala tak dapat lagi menolak tawaran Dion itu. Sementara Adit terus saja memandangi Kalycha yang sibuk menyelesaikan tugas mereka.
"Ga salah kalau dia dapat juara umum. Apa pun pelajarannya dia dapat menguasai dengan cepat dan menyelesaikannya dengan cepat pula." Adit mengagumi kepintaran Kalycha dalam hati.
Semakin hari dirinya semakin tertarik pada gadis sebangkunya itu. Lala melihat Adit tersenyum saat memandangi Kalycha. Dirinya pun ikut kesal karena sebenarnya Lala sudah lama tertarik pada Aditya bahkan saat mereka masih duduk di kelas 10. Tapi Lala sadar diri, karena ia merasa tidak pantas untuk menyukai Adit yang tergolong anak orang kaya itu. Dirinya merasa minder akan status sosialnya yang notabenenya hanyalah anak dari pekerja buruh harian.
Handphone Kalycha berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk.
"Aku sudah di depan rumah teman kamu." Isi pesan WhatsApp dari Haidar
"Sebentar ya Om, bentar lagi Icha selesai." Balas Kalycha.
"Bukannya dia bilang akan belajar kelompok dirumah temanya yang bernama Lala? Tidak mungkin Rumah Lala sebagus ini. Kalau Lala anak orang kaya lalu buat apa dia harus bekerja di Bar?" Batin Haidar.
__ADS_1
Aditya terus menatap kearah Kalycha. Setelah menyelesaikan tugas kelompoknya Kalycha pun sedikit menjelaskan kepada teman-teman supaya saat guru bertanya hasil tugas mereka nanti mereka dapat menjawabnya.
Kalycha tidak meragukan kepintaran Lala, yang dirinya ragukan adalah Adit dan Dion. Setelah keduanya mengerti Icha pun langsung permisi untuk pulang.
"Dit, gue pulang dulu ya. Gue udah dijemput."
"Oya? Siapa? Kok ga lo suruh nunggu didalem aja."
"Iya baru sampe kok."
"Ya udah sekalian aja kita juga pamit balik Bro, salam buat Mama kamu ya. Bilang makasih atas jamuannya masakannya enak." Dion memuji masakan Mamanya Adit.
Sebelum mengerjakan tugasnya mereka dijamu makan siang oleh Mamanya Adit.
Sebelumnya Adit sudah memberitahu pada Mamanya bahwa teman-temannya akan datang untuk mengerjakan tugas kelompok bersama dirumahnya.
"Iya bilang makasih ya Dit, sama Mama kamu." ucap Kalycha dan Lala bersamaan.
"Oke." Adit menyatukan jari jempol dan telunjuknya.
Dion, Lala dan Kalycha keluar dari rumah Adit. Dan Adit pun mengantar teman-temannya itu sampai didepan Rumahnya.
Haidar melihat Kalycha yang selalu tersenyum kepada teman-temannya itu.
"Sebenarnya ini rumah siapa? Kenapa Bocah ini harus berbohong padaku." Batin Haidar.
Haidar keluar dari mobilnya dan menghampiri Kalycha.
"Sudah selesai belajarnya?" Suara Haidar mengejutkan Kalycha. Dan bukan hanya Kalycha, Lala juga terkejut melihat Haidar ada disana.
"Su-sudah–." Kalycha terlihat gugup.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia selalu saja ada untuk Icha. Apa hubungan mereka?" Batin Lala
"Siapa Cha? Supir Lo?" tanya Adit penasaran. Adit melihat tatapan tajam dari netra Haidar membuatnya merasa tidak nyaman.
"Om Hai, kenapa sih harus turun dari mobil segala. Aku harus jawab apa sama Adit?"
"Kakak aku Dit."
"Apa Kakak? Dia mengakui mu hanya sebagai Kakaknya Haidar? Kasihan sekali kamu. Apa dia ga mau bilang kalau kamu adalah tunangannya? Atau calon suaminya." Sisi Devil Haidar.
"Heh, Syaiton jelas dong Icha ga mau mengakuinya sebagai tunangan atau calon suaminya. Dia kan ga mau teman-teman tahu kalau dia sudah bertunangan apalagi mengakui Haidar sebagai calon suaminya. Dia itu masih sekolah, ingat itu. Jangan kamu buat dia tambah marah dan kesal padamu Haidar." Sisi Angel Haidar
"Benar kata si Angel. Thanks Bro–." Batin Haidar.
__ADS_1
"Bra Bro Bra Bro, gue ini cewek tau ga? Udah jelas nama gue Angel masih aja dipanggil Bro." Si Angel Protes.
Jangan Lupa Like Like dan Like 😍