
Dengan kecepatan penuh Haidar melajukan mobilnya. Membelah keramaian jalanan Ibukota yang sangat terkenal dengan kemacetannya. Hanya butuh waktu 45 menit baginya untuk menembus perjalanan dari rumahnya ke rumah kediaman keluarga Bramasta yang tak lain adalah mertuanya, karena saat itu jalanan sedang lenggang.
Mang Asep security yang sedang berjaga di mansion Bramasta itu pun kaget saat melihat Haidar, ketika Haidar membunyikan klakson mobilnya memintanya untuk membukakan pagar mansion keluarga Bramasta itu.
"Tu-Tuan Haidar, ini beneran Tuan Haidar?" suara Mang Asep bergetar saat Haidar sudah berdiri didepannya.
"Mang, Icha ada Mang?" Haidar bertanya kepada Mang Asep tanpa menjawab pernyataan Mang Asep sebelumnya. Dirinya merasa mansion mertuanya itu terlalu sepi,
"Non Icha sedang dalam perjalanan ke Bandara Tuan. Kalau Tuan Pram dan Nyonya ikut mengantarkan Non Icha. Katanya Nona Icha akan menetap di Singapura Tuan." Mang Asep memberitahukan kalau Nona mudanya itu akan pergi dan tidak tahu kapan kembali lagi. Sepertinya ada kecemasan diraut wajah Mang Asep saat melihat Haidar yang tidak terkejut sama sekali.
"Bandara mana Mang?" Tapi Haidar tidak tahu kalau Kalycha akan pergi di hari yang sama saat ia kembali ke orangtuanya.
"Soekarno Hatta Tuan." jawab Mang Asep cepat.
"Udah lama perginya Mang?"
"Sudah 30 menit yang lalu Tuan."
"Makasih ya Mang–."
Tanpa menunggu jawaban Mang Asep, Haidar langsung masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Jalanan Ibukota saat itu sudah mulai ramai karena bertepatan dengan jam makan siang. Haidar terjebak macet selama 25 menit, sehingga memakai waktu 1.45 menit untuknya sampai ke bandara seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam bila jalanan tidak macet.
"Cha, tunggu aku Cha."
Haidar terus menghubungi Kalycha tapi Kalycha tidak juga mengangkat ponselnya. Entah sudah berapa kali dia terus menelpon Kalycha. Bahkan ia juga mengirim pesan WhatsApp pada istrinya itu tapi Kalycha belum juga membaca pesannya.
"Cha, plis angkat telponnya Cha–."
"Cha, ini aku Haidar, tolong angkat telponnya."
"Cha jangan tinggalin aku Cha aku mohon."
"Sayang, Mas Hai mu udah pulang, aku mohon jangan pergi Cha."
__ADS_1
Banyak lagi pesan yang dikirimkan Haidar tapi tak satupun yang dibaca Kalycha.
Haidar tidak hanya menelpon Kalycha ia juga menelpon mantan atasannya itu. Sebelumnya Haidar sudah meminta nomor ponsel Pram dari Roy sahabatnya dulu yang sekarang menggantikan posisinya sebagai asisten Pram.
Awalnya Roy tidak percaya kalau itu benar-benar Haidar tapi setelah mendengar penjelasan dari Haidar Roy baru percaya kalau pria yang meneleponnya itu benar-benar sahabatnya.
Setelah memarkirkan mobilnya Haidar langsung berlari menuju tempat keberangkatan luar negeri. Haidar mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dirindukannya itu. Haidar mencari disetiap tempat dan pandangannya terhenti saat melihat Pram sedang duduk bersama dengan Nayla dan kedua putra kembarnya.
"Dad–." Pram menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Haidar, ini benar-benar kamu?" Pram dan Nayla sangat terkejut melihat Haidar yang berdiri didepannya.
"Iya Dad, maafkan Haidar Dad, Bun. Haidar baru bisa pulang sekarang." Haidar mencium punggung tangan kedua mertuanya itu bergantian.
"Bagaimana bisa kamu ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Haidar?" Pram masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ceritanya panjang Dad, nanti Haidar akan jelaskan semuanya Dad."
"Syukurlah kamu masih hidup dan baik-baik saja" Pram memeluk menantunya itu, Nayla pun meneteskan airmata bahagianya dan tak henti-hentinya mereka mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan Haidar dari kecelakaan maut yang menimpa menantunya itu.
"Tapi Icha mana Dad?" Haidar melihat ke sekitarnya tapi tidak menemukan sosok istri yang dirinduinya.
"Dari tadi dia tidak mengangkat telponnya Bun–, aku udah coba hubungi tapi ga diangkat."
"Maaf Bunda, tadi Malvin main HP Sischa telus Malvin pencet tombol silent, abis HP Sischa belisik bunyi telus, Ini HP Sischa masih sama Malvin." ucap anak tampan yang belum bisa menyebut huruf R itu.
"Makanya, jangan main HP terus–." balas sang kembarannya Malven.
Perbedaan Malvin dan Malven, kalau Malvin belum bisa menyebut huruf R sementara Malven sudah sangat lancar bicaranya.
"Kamu juga sama, main HP Daddy telus–." ucap Malvin yang tak mau kalah dan disalahkan.
"Aku juga hubungi HP Daddy tapi Daddy ga angkat." ucap Haidar.
"Hahaha, kamu baru dengar sendiri kan, kalau HPnya di pake Malven. Maaf ya–, Daddy ga tahu kalau kamu nelpon Daddy tadi." Lalu Pram mengambil ponselnya dari tangan putranya lalu melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Pram memberikan kembali ponselnya pada Malven supaya anaknya itu tidak rewel dan lari sana lari sini.
__ADS_1
"Bundaaa, HP aku keting–." terdengar suara wanita yang sangat dirindukannya itu datang dari arah belakangnya. Haidar langsung membalikkan tubuhnya. Kalycha sangat terkejut ucapannya dan langkahnya terhenti saat melihat Haidar berdiri memandang kearahnya.
"Aaah lagi-lagi aku berhalusinasi–, Kenapa aku selalu melihat bayangan Mas Hai?" Kalycha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memukul-mukul kepalanya pelan. Manahan kembali gejolak yang ada dihatinya. Kemudian berjalan melewati Haidar lalu mendekati Nayla.
"Bun, HP aku ketinggalan, syukurlah Bunda sama Daddy belum balik." Kalycha mengatur nafasnya, karena baru saja ia berlari keluar untuk melihat apakah orangtuanya masih ada atau tidak. "Nih bocah kalau main HP sampe lupa waktu." Kalycha menjitak pelan kepala adiknya itu. Membuat Malvin menangis, lalu Nayla membujuk Malvin dan memberikan ponselnya sebagai gantunya. Pram dan Nayla merasa heran kenapa Kalycha tidak menyapa suaminya yang saat itu berdiri tepat dibelakangnya.
"Bun–, Dad, Icha masuk yah." Kalycha pamit dan kembali mencium punggung tangan mereka bergantian. Tapi anehnya Pram dan Nayla hanya terdiam mulut mereka seperti terkunci tak mengerti dengan sikap putrinya yang mengabaikan keberadaan Haidar. "Kalian jaga Daddy dan Bunda baik-baik yah." pesannya pada kedua adik kembarnya itu. Lalu Kalycha membalikkan tubuhnya dan berdiri tepat dihadapan Haidar. Ia menatap netra Haidar yang juga menatapnya. Nayla menangkap seperti ada yang aneh dari pandangan putrinya itu.
"Kenapa sekarang dia seperti nyata? Kenapa bayangannya terus saja mengikutiku? Dan senyumnya itu, kenapa dia tersenyum seperti mengejekku? Mas pergilah, aku ga mau berhalusinasi lagi. Hus... Sanaa."
"Mungkin Icha mengira kalau dia sedang berhalusinasi Mas." bisik Nayla pada suaminya dan Pram pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Kalycha menunduk lalu melangkahkan kakinya sengaja menabrakkan tubuhnya kepada Haidar yang ia kira adalah bayangan halusinasinya.
"Aauww." Kalycha memegang kepalanya yang sakit saat terkena dada bidang Haidar.
"Kenapa kepala ku sakit?" gumam Kalycha pelan tapi Haidar, Nayla dan Pram masih dapat mendengarnya dengan jelas. Lalu Kalycha mendongakkan kepalanya, melihat Haidar yang hanya tersenyum.
"Kenap kamu lucu sekali sayang?" Batin Haidar.
"Kenapa dia terus saja tersenyum?" ucapan Kalycha terdengar pelan seperti menggumam membuat Nayla dan Pram pun tersenyum menahan tawanya.
"Siapa yang tersenyum sayang?" Nayla sadar kalau putrinya itu pasti mengira kalau dia sedang berhalusinasi lalu sengaja menggoda putrinya itu.
"Bunda, sepertinya penyakit lamaku kembali lagi Bun, sekarang aku lihat Mas Hai tersenyum melihatku Bun, terus senyumannya itu kayak ngejek gitu Bun. Tapi–." Kalycha tidak meneruskan ucapannya. "Tapi kenapa kepalaku sakit ya pas nubruk bayangannya? Kalau aku berhalusinasi, masa bayangannya ga kabur sih malah masih berdiri disini?" Kalycha masih belum menyadari kalau yang dilihatnya itu bukanlah halusinasinya.
"Tapi kenapa sayang?" Nayla kembali menggoda Kalycha sementara Pram hanya diam mengikuti alur yang dimainkan istrinya itu.
"Kepala Icha kok sakit ya Bun, terus bayangan Mas Hai ga pergi-pergi Bun, padahal Icha udah usir dari tadi Bun." Kalycha mendekati Haidar lalu menusuk pipi Haidar dengan jari telunjuknya.
"Tuh kan Bun, pipinya terasa kenyal ditangan Icha Bun. Kok bayangan Mas Hai kayak jadi nyata gini sih Bun?" gerutu Kalycha tapi matanya kembali berkaca-kaca. Ia sangat takut kalau dirinya kembali berhalusinasi lagi.
"Aku bukan bayangan tapi aku beneran Mas Hai kamu." Haidar langsung memeluk tubuh Kalycha istrinya.
Sekian dulu ya Gaes 🤗
__ADS_1
Hmmm dikit ya 🤔
Jangan lupa Boom Like dan Votenya biar Akoh semangat Upnya 😍