My Soulmate

My Soulmate
Senja Jingga


__ADS_3

Waktu tak pernah memandang kapan lukisan jingga datang, atau gugusan bintang menampak di langit malam bersama sepinya purnama sunyi. Waktu tak pernah memandang demikian, bahkan terus berlanjut tak peduli seberapa lamanya seorang bahagia, menderita, nestapa, merindu, bahkan nelangsa dalam hidupnya. Toh, semua itu punya lawannya masing-masing di waktu yang tak peduli kapan datangnya. Begitulah roda kehidupan bumi berputar mengikuti alur sekranionya Tuhan sang maha perencana terindah.


Kota Jakarta yang katanya memiliki jumlah populasi paling tinggi, kini akan merehatkan apa yang dipijak oleh jutaan manusia. Langit Jakarta seketika berubah menjadi sunyi, saat lukisan jingga menghipnotis para pecinta sinar senja. Bersamaan dengan itu pula, kediaman Prambudi yang memiliki rumah berlantai dua membuat Kinan merasakan sedikit udara kedamaian. Iya, senja datang bersamaan dengan suasana sunyi.


Fahad baru saja keluar membersihkan diri, kini tubuhnya sudah lengkap mengenakan kaus berwarna putih dengan celana traning kalau kata orang kampung itu namanya gaya santai yang terbilang cukup mahal. Karena, memiliki elegan yang mempesona. Tatapan Fahad seketika terhipnotis oleh Kinan yang masih berdiri menikmati langit jingga yang mempesona dengan hembusan angin sore sehingga suasana itu sangat tenang.


Berjalan menghampiri Kinan, memeluk pinggang ramping dari belakang menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Kinan menghirup aroma khas seperti bayi. Perlakuan itu membuat Kinan merinding sekaligus terkejut.


"Kenapa, hem?" Kinan mencoba membuka suara, tapi Fahad tidak meresponnya malah menenggelamkan wajahnya kedalam cekuk leher miliknya.


"Apa kamu begitu menyukainya? Kata Alsaki kamu sangat antusias jika senja menampakan warnanya, memang apa artinya senja bagimu?" tanya Fahad sembari meletakkan dagunya di pundak Kinan sedangkan tangannya masih memeluk pinggang ramping Kinan.


Kinan bukannya menjawab malah membalikkan badan, sehingga kedua insan saling berhadapan bahkan melempar pandang. Kinan tersenyum dan menyipitkan mata seakan berpikir untuk menjawab pertanyaan Fahad tentang arti senja menurutnya.


Ratusan orang selalu menganggap senja adalah keluar biasaan karena lukisan jingga yang bersatu dengan warna merah adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan, tapi ribuan penulis menganggap senja memiliki makna sesuai apa yang dirasakannya. Bisa dikatakan bahwa senja bermakna pamit, bertemu, bahkan bisa dimaknai kedamaian karena warnanya. Tapi, senja sendiri memiliki arti seakan menciptakan suasana romantis. Senja tidak bisa diartikan sembarangan, dalam bahasa sanskerta senja diartikan Swastamita yang katanya memiliki makna persis seperti seorang dewi pembawa kedamaian bahkan kehangatan.


"Bagiku senja adalah aksara berjuta makna. Sebab aku adalah metafora yang fana, senja akan selalu datang mengukir asa yang terasa hampa sementara aku hanyalah manusia yang akan menjadi debu. Itulah arti senja untukku."


Kinan tersenyum, tangan yang tadinya hanya memegang pinggang kini mengalungkannya ke leher Fahad. Senyum indah dengan sederet gigi rapih tak pernah lepas dari yang namanya manis, tatapan tulus Kinan menghipnotis pandangan Fahad yang masih betah memandangi dirinya. "Kalau boleh tahu, apa kamu menyukai senja juga?"


Fahad menggeleng dan tersenyum. "Tidak, dulu aku menyukai hujan ketimbang senja. Sebab, senja selalu saja pergi tanpa pamit. Tapi, pamit itu mengingatkanku untuk pergi dengan cara yang indah."


"Oh, jadi kamu menyukai hujan?" tanya Kinan dan mendapatkan anggukan darinya. "Lalu apa artinya hujan dalam hidupmu?"


Fahad menci*um kening Kinan dalam seakan melupakan pertanyaan Kinan. Menci*um kedua matanya, sehingga Kinan memejamkan mata seakan membiarkan Fahad melakukan sesukanya. Entah sejak kapan Kinan merasakan itu seperti candu baginya, dulu Kinan pernah berkata bahwa tidak akan mencintai Fahad nyatanya semua itu omong kosong.


Fahad yang tadinya hanya menci*um kening dan kedua mata Kinan kini beralih, menci*um bibir ranum Kinan. Tingkah itu membuat Kinan terhanyut dalam ci*uman yang diberikan oleh Fahad, bahkan sampai dirinya tidak bisa lepas begitu saja. Senja yang tadinya hanya dipandangi saja kini senja malah memandangi dua insan yang mengacangi lukisan indahnya. Sore itu menjadi saksi, atas tumbuhnya benih dalam ikatan kehalalan, bahkan senja pun menjadi saksinya atas tingkah dua insan itu.


*******************************


Sinar purnama menghilangkan jejak senja, senja yang tadinya betah melukis cakrawala biru mempesona kini beralih menjadi langit yang penuh dengan bintang-bintang seakan tidak ingin membiarkan sang purnama menyendiri di tengah sunyinya malam gelap gulita. Seakan-akan purnama akan menyendiri nyatanya tidak, rembulan malam tetap saja ditemani oleh para penghuni luar angkasa selain bintang seperti awan putih yang menemani gelapnya langit.

__ADS_1


Kediaman Prambudi selalu saja ramai tak pernah menciptakan hening, suasana itu menjadi hangat padahal di luar sana suasana malam itu terasa dingin. Tapi, obrolan keluarga Prambudi melupakan dinginnya malam dengan berbincang.


Para keluarga sibuk menonton si Doel yang katanya selalu populer bahkan pemainnya selalu dijadika striker karena kelucuan dan realita dengan kehidupan, sementara Barakka sibuk menguntak antik gawainya sampai Fahad yang melihat itu menggelengkan kepala, seakan kebiasaan adiknya memang tak luput dari mengecek ponsel hanya untuk urusan gabut.


"Kalau mau pake handphone yang bener! Bukan malah untak-antik enggak jelas," cibir Fahad dengan senyum miring kepada Barakka.


"Emang Abang tau apa, hah?" sinis Barakka tak mau kalah.


"Apakah kalian enggak pernah akur?" tanya Kinan mencoba bergabung kedalam percakapan kakak beradik itu yang dari tadi saat makan malam bahkan sarapan Fahad tak pernah berhenti menjahili Barakka.


"Selalu!" kompak Fahad dan Barakka.


Maryam dan Hasan yang mendengar kekompakan itu memalingkan muka, seakan menghilangkan mulut yang hendak lepas kendali. Dua anak kesayangan yang umurnya jauh beda tak pernah luput dari namanya saling mencibir bahkan mengejek, kecuali jika kelewatas batas maka sudah mendapatkan hukuman darinya.


Kinan memutar bola matanya malas. 'Nah,'kan engga akur!' batinnya sebal.


"Aku serius, Kak Kinan. Kami selalu akur kecuali kalau membual barulah enggak akur, soalnya percuma membual juga kalau tanggapannya 'oh' doang. Tapi, Bang Fahad selalu saja engga pernah berhenti menjahili aku, Kak," jelas Barakka.


"Emang bener,'kan? Buktinya, Abang tadi ganggu aku pas lagi untak-antik hengpon," cibir Barakka.


"Abang cuman nanya engga pake jahil, asal ngomong aja. Toh awak engga pernah jahil kepada adik-adik abang sendiri."


Dua lelaki terus berdebat, membuat Kinan, Hasan, dan Maryam menarik nafas panjang. Omongan dari mereka hanyalah omong kosong engga ada gunanya, sampai akhirnya tiba-tiba dikejutkan dengan suara ...


Dddrrrttt ....


Bunyi notifikasi masuk kedalam gawai milik Barakka, para keluarga juga melihat notifikasi yang masuk. Tampilan seorang wanita berjilbab seketika membuat satu keluarga heboh, bahkan nama wanita itu saja dikasih emoticon love. Hal itu membuat Barakka memandangi semuanya, karena layar itu terlalu cerah sampai tampilannya saja kelihatan.


'Bodoh! Kenapa gue engga matiin tuh cahaya navigasi?' batin Barakka dengan wajah sedikit berubah.


"Kenapa engga angkat saja, tuh ayang kamu nelepon," sindir Fahad.

__ADS_1


"Sini, biar ummah yang jawab!" Maryam berdiri tangan kanannya diulurkan untuk mengambil gawai yang dipegang oleh Barakka.


Menelan salvina dengan susah, diberikannya gawai miliknya dengan rasa takut.


"Kenapa tanganmu bergetar, apa takut?"


"Eh, enggak boleh gitu," ujar Kinan kepada Fahad.


"Emang bener, Sayang! Tangan dia bergetar tuh."


"Intinya engga boleh gitu!" bela Kinan melotot kepada Fahad membuat Fahad terdiam menarik nafas panjang.


Maryam segera mengambil gawai milik Barakka dan menekan tombol berwarna hijau. Setelah telefon itu tersambung, terdengarlah suara wanita seperti orang manja. Hal itu membuat Maryam sinis kepada putra bungsunya dan memelototinya.


"Ini ibundanya Barakka, nak jika bisa tolong akhiri hubungannya!" jelas Maryam dan mematikan telepon itu, lalu beralih kepada Barakka dengan ekspresi ketakutan. "Akhiri hubunganmu dengannya, jika tidak ummah tidak akan memberimu uang jajan bahkan handphonemu ummah sita selama satu bulan!"


"Iya, Ummah aku akan akhiri hubungan dengannya. Tolong kembalikan gawaiku," ujar Barakka melemas.


Maryam tidak langsung memberikan gawai itu justru masih melototi Barakka. "Ingat, Abangmu akan mengawasimu!"


"Nah,'ka!" ejek Fahad sembari membuat dua jari kemudian ditunjukan dua jari itu kepada dua bola mata Barakka, yang kemudian mendapatkan balasan menelan salvina darinya. "Pokonya ingat aja! Sudah ah, aku mau tidur," sambungnya sembali menoleh kepada Kinan.


Kinan mengangguk. "Ayok!"


"Ingat, jangan dulu macam-macam! Kinan masih sekolah!" teriak Maryam saat dua insan mulai menghilang dari pandangannya dan hanya mendapati acungan jempol dari Fahad.


Sesampainya di kamar, seperti biasa kamar Fahad terbilang cukup luas bahkan luar kamar terdapat balkon di mana balkon itu berisi tempat duduk untuk dua orang dan tanaman bunga sebagai perindah suasana. Kinan membaringkan bobot di atas kasur berukuran king size, entah kenapa setiap berada di kamar Kinan selalu bahagia bahkan lebih bahagia daripada bergaul.


Melihat Kinan seperti baru saja menemukan mainannya, membuat Fahad menggelengkan kepala dan ikut menjatuhkan bobotnya. Dua insan saling menghadapkan tubuhnya, mata Kinan yang tak tahan kantuk seketika terpaksa harus melihat Fahad seakan memastikan bahwa dirinya ingin segera memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi.


Fahad terkekeh melihat ekspresi Kinan, ia segera mengambil tubuh Kinan untuk ia dekap. Mengecup kening dengan kasih sayang, bahkan melantunkan shalawat seakan mengusir aura negatif yang ada pada jiwa Kinan. Perlahan-lahan, Kinan memejamkan mata dengan posisi wajahnya disembunyikan kedalam dada bidang Fahad dan memeluk pinggang Fahad.

__ADS_1


"Selamat tidur, Istriku," bisik Fahad dan mendapatkan senyum tipis dari Kinan.


__ADS_2