
Acara yang dinanti-nanti karyawan perusahaan Liemasta Group itu pun tiba. Semua pada sibuk mendaftarkan dirinya untuk ikut lomba. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Kalycha merengek ingin mengikuti games tersebut. Sementara Haidar merasa tidak enak karena ia bukan lagi bagian dari perusahaan itu meskipun perusahaan itu adalah perusahaan mertuanya sendiri dan dia juga pernah menjadi bagian dari perusahaan itu.
"Mas kita ikut yah–!"
"Ga usahlah Yang–, kita nonton aja." bujuk Haidar.
"Aku pengen ikutan Mas, kayaknya seru main di taman rahasia Mas."
"Pesertanya harus empat orang Sayang ga mungkin ngajakin Daddy sama Bunda." Haidar sengaja menyebut mertuanya itu supaya istrinya itu menyerah dan tidak ikut dalam acara itu. Iapun menatap kearah mertuanya yang sedang menikmati sarapan bersama mereka, seolah Haidar meminta bantuan supaya istrinya berhenti merengek minta ikutan main games.
"Kenapa kalian ga ajak Roy dan Helsa saja?" usul Pram ketika melihat Roy dan Helsa berjalan kearah mereka.
"Boleh juga tuh Dad–." Kalycha langsung berdiri dengan semangat dan berjalan mendekati Roy dan Helsa, sementara Haidar yang berdiri dibelakang Kalycha menyilang-nyilangkan tangannya kepada Roy dan Helsa meminta mereka untuk tidak menyetujui keinginan istrinya itu.
"Kak, kita ikutan main gamesnya ya." ajakan itu yang seharusnya Kalycha katakan tapi ternyata Helsa yang mengatakan lebih dulu. Haidar pun auto tepok jidat.
"Telat Lo, adek Lo udah ngajakin gue duluan. Gue juga udah nolak dengan alasan ga ada pasangan. Eeh, dia malah minta ngajakin Lo sama bini Lo–!" seru Roy yang baru bergabung dengan mereka lalu menundukkan kepalanya seperti minta ijin untuk bergabung sarapan bersama mereka.
Akhirnya kedua wanita itu pun berhasil membawa pasangannya ikut bermain di games diacara Family Gathering itu.
Semua pasangan sudah berkumpul dan sudah mendapatkan nomor peserta.
Pasangan untuk kelompok Haidar mendapatkan nomor urut 4 dan ada 16 kelompok yang ikut serta. Awalnya yang mendaftar 15 kelompok karena Kelompok Haidar ikut maka keseluruhan kelompok menjadi 16 kelompok.
Peserta lain banyak yang menggunjingkan mereka pasalnya mereka notabenenya adalah anak dan menantu pemilik perusahaan itu kenapa mereka harus ikutan dalam acara itu. Apalagi kalau seandainya nanti mereka pemenangnya pastilah mereka akan beranggapan kalau Perusahaan itu tak rela memberikan reward untuk karyawannya berlibur ke Bali.
Nayla sedang menemani putra kembarnya ketoilet, disanalah ia mendengar ada yang bergibah tentang anak dan menantunya itu.
"Kenapa sih mereka pakai ikutan segala, kayak mereka kekurangan duit aja untuk beli tiket sendiri liburan ke Bali." kata wanita yang bertubuh tinggi dan berisi itu sambil memakai lipstiknya.
"Atau perusahaan kali yang ga rela kalau kita yang jadi pemenangnya." sahut yang satu lagi.
"Bisa jadi–." yang lain ikut menimpali.
"Jadi kurang semangat nih mau ikutan–." ucap si wanita yang sudah selesai menambah lipstiknya.
"Optimis aja dulu, siapa tahu mereka bukan pemenangnya. Yang penting kita semangat untuk mengalahkan lawan-lawan kita!" seru yang satu lagi.
Ternyata mereka itu satu tim. Mereka tak sadar Nayla mendengar semua percakapan mereka, karena saat itu Nayla berada didekat pintu keluar sedang merapikan pakaian putranya. Nayla segera mengajak putranya keluar tak ingin para karyawan itu tau kalau dia mendengar semua pembicaraan mereka.
Lalu Nayla mengatakan pada suaminya tentang apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu tenang saja sayang, kalau mereka sampai menang mereka akan di diskualifikasi." ucap Pram.
"Tapi kasihan Helsa Mas, kayaknya dia ngarep banget bisa menang. Kalau Icha, aku tahu dia itu hanya ingin bermain bukan karena hadiahnya."
"Justru karena itu, kelemahan tim mereka ada pada Icha, kamu tenang aja, kalau pun mereka menang. Hadiahnya tetap diberikan untuk karyawan yang pemenang kedua setelah mereka."
Pram memanggil salah satu panitia lomba dan mengatakan kalau kelompok putrinya itu sampai menang maka mereka harus mencari alasan atau kesalahan untuk mendiskualifikasi kelompok itu. Awalnya panitia itu bingung namun setelah Pram menjelaskan alasannya maka panitia itupun menyanggupinya.
Panita penyelenggara membacakan aturan mainnya.
"Terimakasih kepada semua kelompok, dan masing-masing ketua kelompok silahkan memakai gelang ini dilengannya." Panita pun menunjukkan sebuah gelang yang akan dipakai oleh ketua tim.
"Ambil sana Roy, Lo aja yang jadi ketua tim. Karena yang bekerja diperusahaan ini kan Lo–!"
"Iya Kak–." sahut Helsa dan Kalycha bersamaan.
Roy pun mengambil gelang ketua tim kepada panitia dan memakainya.
"Baiklah disini saya akan jelaskan aturan permainannya." ucap Yanto panitia pelaksana lomba. "Masing-masing tim harus mencari petunjuk yang tersembunyi disetiap tempat. Petunjuk berupa pita merah dan didalamnya ada sebuah perintah dan peserta harus mengikuti perintah yang ada didalamnya."
"Dan setiap perintah yang dilakukan peserta harus difoto sebagai bukti. Kemudian ikuti petunjuknya sampai kalian beruntung menemukan bintang. Dan siapa yang lebih cepat menemukan bintang maka dialah pemenangnya."
"Tentu saja permainan ini dimulai dari Taman labirin semakin kalian cepat menemukan pintu keluarnya, semakin cepat pula kalian menuju kemenangan."
__ADS_1
"Ingat waktu yang diberikan untuk menyelesaikan misi ini hanya 2 jam dan sebelum makan siang kita sudah harus berkumpul kembali disini."
"Apa ada pertanyaan?" tanya Yanto dan semua berseru "Tidaaakkk–."
"Baiklah jika tidak ada pertanyaan maka permainan ini segera kita mulai." sambung Yanto. "Bagaimana panitia tim penilai sudah ready?"
"Sudah–." sahut Panitia yang ditunjuk sebagai juri.
"Peserta sudah siap?"
"Siaaaap–!!!!" seru semua peserta lomba.
"Baiklah kita mulai ya. Satu...Dua...Tiga... Go!!!" Seru Yanto.
Semua peserta sudah bergerak cepat untuk memasuki taman rahasia itu. Begitu juga dengan Kalycha dan Helsa yang ikut berlari bersama peserta lomba yang lain. Hilang deh image mereka sebagai dokter. Berbeda dengan Haidar dan Roy, mereka tertinggal dibelakang dan berjalan dengan santai.
"Kak buruan–." teriak Helsa.
"Mas ayo cepetan, udah kayak cewek aja deh jalannya lembek gitu." ejek Kalycha.
Tapi tetap aja keduanya berjalan santai.
"Lo masih ingatkan jalan rahasia menuju pintu keluar?" tanya Haidar pada Roy.
Taman labirin itu bukanlah hal baru lagi buat Haidar, Roy dan Stephen karena saat-saat masa kuliah dulu mereka sering bermain ditaman itu bersama pacar mereka.
"Ingetlah, kalau belum diganti bentuknya. Soalnya itukan udah lama banget." sahut Roy sambil terus berjalan mendekati Helsa dan Kalycha.
"Mas cepetan, kok malah ngobrol sih?" wajah istrinya itu terlihat sangat cantik kalau lagi cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong Yang, nanti mas khilaf jadi pengen makan kamu disini." bisik Haidar dan "Aauuuwww, sakit sayang–." Kalycha menghadiahkan sebuah capitan dipinggangnya.
"Makanya jangan pikiran mesum aja yang ada dipikirin kamu ini Mas–." Kalycha mengacak-acak rambut Haidar lalu merapikannya kembali.
"Sakit loh yang–, pasti biru nih, liat!" Haidar menaikkan kaosnya memperlihatkan bekas cubitan Kalycha.
"Malu tahu mas–." dengan cepat Kalycha langsung menurunkan kembali kaos suaminya itu.
"Sabar napa dek–." sahut Haidar.
"Kak, awasnya kalau nanti sampe kita kalah aku tuntut kakak buat bayarin tiket aku liburan ke Bali." Ancam Helsa.
"Ga usah main sekarang aja kakak bayar yah–!" ajak Haidar dengan semangat karena dia sangat malas untuk bermain.
"Aaauuuww–, aauww. Sakit sayang–." Kalycha kembali mencubit pinggang suaminya yang sebelahnya lagi. Haidar kembali menghapus pinggangnya yang dicubit Kalycha.
"Aku ga butuh rewardnya aku pengen main." Kalycha sangat antusias ingin bermain di taman rahasia itu karena ia belum pernah sama sekali ikut acara seperti itu.
"Aku mau main dan mau rewardnya juga. Pokoknya awas kalau kita kalah aku ga akan maafin Kak Haidar sama Kak Roy." ancam Helsa lagi.
"Loh kok bawa-bawa aku sih Sa?" protes Roy karena sedari tadi dia diam saja.
"Pokoknya aku ga mau kalah."
"Kamu dokter tapi kok serasa pengemis gitu sih dek? Malu Kakak jadinya. Dokter tapi kere–!" ejek Haidar.
"Enak aja bilang aku kere, duit aku tuh aku tabung buat modal aku nikah nanti–." seru Helsa, tanpa sadar Roy tersenyum mendengarnya.
"Cieee, yang mau kawin–, eh salah nikah!" goda Haidar sambil menyenggol bahu Helsa. "Kenapa kamu yang pusing mikirin biaya nikah dek? Biar si kunyuk ini aja yang mikir, ngapain kamu?" Haidar menyikut pinggang sahabatnya itu.
"Aku ga minta apa-apa yah sama adek Lo, kalau itu inisiatif dia sendiri aku bisa apa? Dan ga mungkin juga kan gue minta biayanya patungan." sahut Roy membela diri.
"Lagian belum tentu juga kan gue nikahnya sama Kak Roy–!" balas Helsa.
Roy yang sudah sempat senang kini bagai terhempas kepermukaan bumi yang paling dasar.
"Udah ahk, yang lain udah jauh kita masih disini-sini aja." gerutu Helsa.
__ADS_1
"Udah, Lo tenang aja. Adek gue itu tipe orang yang susah buat jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh cinta dia mah langsung klepek-klepek. Kalau Lo jual mahal dikit aja dia pasti keder." bisik Haidar tapi masih bisa didengar Helsa.
"Sebenarnya Elsa ini adek Kakak bukan sih? Kok malah belain Kak Roy bukan belain aku?" gerutu Helsa.
"Lo memang adek gue, tapi Roy sahabat gue."
"Auk ah gelap." Helsa membuang muka.
"Ayo kita lomba, siapa yang duluan bisa keluar dari sini." tantang Haidar.
"Oke, yang menang dapet mobil lamborghini terbaru!" sambut Roy balas menantang.
Helsa langsung melotot begitu mendengar hadiah dari taruhan mereka. Gimana tidak terkejut taruhan mereka lebih besar dari pada hadiah Perusahaan. Harga satu mobil itu bukan lagi bernilai jutaan tapi sudah Milyaran.
"Oke siapa takut." sahut Haidar.
"Deal–." Roy mengulurkan tangannya.
"Deal!!" disambut Haidar.
"Ok kita mulai sekarang. Go–." Haidar langsung menarik tangan Kalycha. "Ayo sayang–." Lalu berjalan mendahului Roy dan Helsa adiknya.
"Kak cepetan nanti Kakak kalah loh. Kak Haidar udah jauh." Helsa heran kenapa Roy masih saja santai sambil mengikat tali sepatunya. "Kak Ayo cepetan." Helsa sangat khawatir kalau kekasihnya itu akan kalah dari kakaknya. "Kakak gila ya, taruhan sampe segitunya. Kalau kakak kalah gimana? Kan sayang duitnya Kak?" Helsa mulai ketar-ketir mengingat harga fantastis dari sebuah mobil sport itu. Sementara Roy hanya tersenyum senang melihat kekhawatiran kekasihnya itu.
"Kamu tenang aja, mereka ga akan menang." ucap Roy penuh percaya diri.
"Kakak PD banget sih–, darimana kakak tahu kalau Kak Haidar ga bakalan menang?" Helsa masih saja kesal melihat Roy yang berjalan santai.
"Katanya mau nikahin aku? Taruhannya segitunya banget, terus nanti gimana biaya pestanya? Emang duitnya Kak Roy sebanyak apa sih?"
"Kalau Kakak menang kita nikah ya?" ajak Roy serius.
"Iya kalau kakak menang? Kalau enggak?"
"Percaya sama Kakak!" Helsa masih terlihat ragu.
"Oke gini aja, kalau Kakak menang, kamu cium Kakak ya?" tantang Roy.
"Oke, tapi kalau kakak sampe kalah aku ga mau nikah sama Kakak." Helsa cemberut tapi pastinya omongannya tentang ga mau nikah dengan Roy itu tidaklah serius karena hatinya sudah benar-benar terjerat oleh pria itu.
"Itu artinya kalau Kakak menang kamu mau nikah sama Kakak?" Roy penasaran.
"Pastiin aja dulu kalau kakak bisa menang dari Kak Haidar."
"Oke, ayok kita kalahkan mereka." Roy meraih tangan Helsa dan menggenggamnya. Mereka berlari mencari jalan keluar taman rahasia itu.
Helsa hanya mengikuti Roy, tangannya tak pernah lepas dari genggaman pria itu. Ia berharap kalau Roy benar-benar bisa mengalahkan Kakaknya itu.
Hanya butuh waktu 10 menit mereka sudah sampai dijalan keluar dan selain itu Roy juga sudah mendapatkan petunjuk dari tantangan games itu.
"Kak yakin ini jalan keluarnya?" tanya Helsa takut kalau Roy salah jalan karena ia melihat tidak ada orang disekitarnya.
"Ini pita merah petunjuknya. Orang-orang pasti belum ada yang sampai kesini." Roy menggoyang-goyangkan sebuah petunjuk yang ditangannya.
Lima menit menunggu akhirnya Haidar sampai bersama Kalycha. Haidar pun terkejut melihat Roy dan Helsa sudah sampai di pintu keluar taman itu.
"Gue pemenangnya dan ingat janji Lo, mobil sport lamborghini terbaru." ucap Roy pada sahabatnya, lalu Roy mengedipkan satu matanya pada Helsa. Gadis itu tertunduk malu. "Ingat janjimu, cium aku nanti!" bisik Roy, wajah Helsa merona seketika.
"Shiiittt–." umpat Haidar. "Kok Lo bisa sih sampai duluan? Padahal tadi Lo kan jauh ketinggalan dibelakang kita?" tanya Haidar penasaran.
"Ya bisalah–, karena Lo masih ngikuti jalan rahasia yang lama kan?" tanya Roy dan dibalas anggukan kepala dari Haidar.
"Emang ada jalan lain lagi? Kita kan yang nemuin jalan keluar itu bareng-bareng sama Inez dan Sarah mantan lo dulu." Haidar tak sadar kalau dia keceplosan menyebut nama yang paling dibenci Kalycha.
"Lo ga tahu kan, kalau gue juga nemuin jalan baru lagi bareng Sarah dulu. Lo kagak ikutan waktu itu, karena Lo patah hati waktu itu. Jadi waktu itu gue pergi bareng Sarah dan Stephen sama pacarnya."
Kedua pria itu pun bernostalgia dengan ingatannya bersama mantan-mantan pacarnya. Tidak mereka sadari kalau kedua wanita yang berdiri didekat mereka itu sedang menatap tajam pada mereka.
__ADS_1
"Reunian sana sama MANTAN–." ucap Kalycha dan Helsa bersamaan lalu pergi meninggalkan kedua pria itu.
Lebih 2000 kata ya gaes, Semoga bisa menghibur kalian karena kemarin ga Update 😍