
Matahari terbit diufuk timur dengan indahnya. Sinarannya yang terasa hangat menembus kaca jendela kamar Kalycha menyentuh kulitnya yang lembut.
Perlahan ia membuka matanya melihat ke sekitarnya. Seperti ada yang berbeda dari kamar itu namun terasa tidak asing baginya. Setelah kesadarannya penuh barulah ia menyadari kalau tadi malam ia merengek minta diantar ke rumah Eninnya.
Ia mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan suaminya. Airmatanya kembali menetes. Kalycha sedih dalam pikirannya Haidar telah pergi ke kantor tanpa membangunkannya, tanpa kecupan selamat pagi seperti yang biasa suaminya itu lakukan.
"Kenapa sih aku jadi cengeng begini?" Ia bermonolog pada dirinya sendiri. "Mas Hai juga jahat, pergi ga bangunin aku dulu. Aaaaa...Aaa...." Kalycha menangis seperti anak kecil.
Pintu kamar terbuka dan dilihatnya Haidar masuk dengan nampan ditangannya. Tapi tangisnya bukan berhenti malah semakin kencang.
"Kamu kenapa sayang?" Haidar buru-buru meletakkan nampan yang berisi bubur dan air putih didatas meja lalu mendekati Kalycha. Ia heran mendengar Kalycha menangis lagi.
"Kenapa Ayang ga bangunin aku? Aa..a..a... Icha kirain Mas udah pergi ninggalin aku." Rengeknya masih terus menangis.
"Udah dong nangisnya, dari tadi malam nangis mulu, Ga capek apa?" Haidar menghapus airmata Kalycha. "Mas itu dari dapur, tadi Enin udah siapin sarapan buat kamu Yang, Enin nanya kamu dimana, Mas bilang kamu masih tidur tadi mas mau bangunin kamu tapi dilarang sama Enin. Terus Mas disuruh bawa sarapan kamu ke kamar." tutur Haidar sambil menghapus air mata Kalycha yang masih terus mengalir.
Mendengar penjelasan Haidar perlahan Kalycha berhenti menangis.
"Suapin Ay–." pintanya manja.
"Kamu bersih-bersih dulu gih. Cuci muka terus sikat gigi baru makan."
"Gendong–." Rengeknya manja.
"Manja bener sih bininya Haidar ini." ucap Haidar sambil menoel hidung Kalycha. "Ya udah ayo naik." Haidar lalu memunggungi Kalycha dan mengarahkan tangannya kebelakang bersiap menggendongnya.
"Gendong depan Ay–." rengeknya lagi.
"Bisa encok nih pinggang." Batin Haidar tapi ia tidak menolak. Direntangkan tangannya, dengan senyum bahagia Kalycha bangun dan mengalungkan tangannya dileher Haidar lalu melingkarkan kakinya dipinggang suaminya itu.
Haidar menggendong Kalycha kekamar mandi kemudian menemani istrinya itu sikat gigi dan cuci muka.
"Yang, mau pipis ya?" tanya Haidar ketika melihat Kalycha ingin membuka celananya.
"Ya iyalah Ay–, masa mau makan." wajahnya tiba-tiba berubah jadi jutek.
"Tahan, tunggu sebentar Yang." Haidar langsung mencari alat yang sudah dibelikan oleh Dara.
Sebangun dari tidurnya ia langsung meminta tolong pada Dara untuk membelikan alat tes kehamilan. Haidar sangat penasaran apakah benar istrinya itu sedang hamil.
"Nih Yang, kamu tes yah." Haidar memberikan tespek itu kepada Kalycha. "Tahu kan Yang cara pakenya?" tanya Haidar dengan tatapan yang penuh penasaran.
"Ga tahu Ay–." ucap Kalycha manja sengaja menggoda suaminya, mana mungkin dia tidak tahu cara pakai alat itu, sementara jika ada pasien yang datang dengan keluhan yang dicurigai hamil ia menyuruh pasien itu melakukan pemeriksaan tes kehamilan ke Laboratorium.
"Kamu kan dokter Yang, masa ga tahu cara pakenya sih?" Haidar bengong, ingin bertanya pada Dara atau Enin sangat malu rasanya. Sedangkan Kalycha berusaha menahan tawanya. "Bentar ya Yang–." Haidar keluar dari kamar mandi lalu mengambil HPnya dan mulai menggoogling cara menggunakan alat tersebut.
"Ayaaannngggg–." teriak Kalycha dari kamar mandi mengejutkan Haidar sehingga membuat ponselnya lolos terjatuh dari tangannya.
Entah bagaimana nasib Handphonenya, ia segera berlari ke kamar mandi menemui Kalycha.
"Kenapa Yang?" tanya Haidar penasaran, ia melihat Kalycha kembali bercucuran airmata.
Tanpa menjawab pertanyaan Haidar, Kalycha memberikan hasil tespeknya.
__ADS_1
"Apa ini Yang?" Haidar tampak bingung melihat alat itu, dirinya belum sempat membaca artikel tentang tes kehamilan itu. "Dua garis, maksudnya apa Yang?"
"Uluuh, uluuhhh– lugu pisan suami aku ini. Kerjain juga nih." Kalycha menghapus airmatanya sendiri. Rasa bahagianya akan lengkap dengan mengerjai suaminya.
"Mas harus tanggung jawab Mas–." ucap Kalycha ketus, sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
"Tanggung jawab apa Yang?" Haidar bingung, ia mengikuti Kalycha yang duduk ditepi tempat tidur lalu duduk disampingnya. "Yang, ini maksudnya apa?" Masih penasaran dengan apa yang ditangannya itu.
Kalycha menangkup wajah suaminya.
Cup.
Kalycha mencium bibir Haidar, sementara Haidar semakin bingung dengan perlakuan istrinya. Tadi baru saja menangis sekarang terlihat sangat bahagia.
"Mas harus tanggung jawab sama aku dan calon baby kita Mas–." Kalycha meraih tangan Haidar lalu meletakkannya diperutnya yang masih rata.
Haidar terperangah ia tak percaya dengan apa yang baru dikatakan istrinya itu.
"Maksud kamu Yang?"
"Iya Mas–, sebentar lagi Mas akan jadi Ayah. Garis dua itu menandakan aku hamil mas." jelas Kalycha. Haidar langsung memeluk erat tubuh kecil istrinya itu.
"Terimakasih ya Yang, Terimakasih." Haidar tak henti-hentinya menghujani ciuman diwajah dan perut Kalycha. "Terimakasih karena kamu mau mengandung anakku Yang–."
"Anak kita Mas–." Ralat Kalycha.
"Iya anak kita Yang–." Haidar lalu mendekatkan telinganya ke perut Kalycha. "Kesayangan Papa, baik-baik disana ya Sayang." ucapnya lalu mencium perut Kalycha yang masih rata.
"Kok Papa sih Mas? Aku tuh maunya dipanggil Ayah-Bunda Mas–." protes Kalycha tidak terima dengan panggilan yang disebut Haidar.
"Tapi Icha maunya dipanggil Bunda, kalau Mas ga mau ya udah panggil Mommy sama Daddy aja."
"Ya udah, kamu dipanggil Mommy, aku dipanggil Papa."
"Iiiih, masa kita ga kompakan sih Mas?"
"Lah Bunda Nayla kamu panggil Bunda bukan Mommy padahal pasangan Daddy kan Mommy?"
"Aa...aaa...aaa..." Kalycha kembali menangis.
"Kenapa lagi Yang–?"
"Aku jadi kangen Mommy Mas–."
"Ya udah, nanti kalau memungkinkan kita terbang ke Jerman untuk Ziarah ke makam Mommy yah." bujuk Haidar.
"Bener ya Mas–."
"Iya Sayang." Haidar memeluk Kalycha dengan eratnya.
"Aaaaaa, aku senang sekali Yang–." Haidar tiba-tiba teriak membuat Kalycha terkejut.
"Kenapa sih Mas?"
__ADS_1
Haidar beranjak dari tempat duduknya tanpa menjawab pertanyaan Kalycha. "Enin, Abah, Anty–." teriaknya sambil berlari keluar kamar. "Icha hamil–." terdengar sayu ditelinga Kalycha karena Haidar sudah berada diluar kamarnya. Kalycha hanya tersenyum melihat kegirangan suaminya itu.
Dan tak berapa lama Gea, Bagas dan Dara datang ke kamar Kalycha bersama dengan Haidar.
"Sayang selamat ya." Gea langsung mencium pipi Kalycha lalu memeluknya.
"Cucu Abah, bentar lagi Abah dapat cicit." Bagas duduk disamping Kalycha mengelus lembut rambut Kalycha dan mencium puncak kepala Kalycha.
"Doain ya Bah biar Icha dan calon baby kami sehat terus." sahut Haidar.
"Pasti–." sahut Bagas singkat.
"Minggir atuh Abah." Dara menggeser Bagas dari tempat duduknya. "Gantian atuh, ini cucu pertama aku Bah." ejek Dara sambil menjulurkan lidahnya lalu mengelus perut Kalycha yang masih rata. "Sehat-sehat didalam ya Cuk–."
"Iiih, Anty. Ngomongnya kok kayak nenek Kabayan sih?" Kalycha merasa seram karena Dara menirukan suara nenek Kabayan seperti di serial film anak Upin-Ipin itu.
"Hahaha." semua orang pun tertawa senang melihat tingkah konyol Dara dan mereka juga bahagia untuk kehamilan Kalycha.
"Jangan lupa segera kabari Bunda kamu Sayang." ucap Gea. "Kamu juga Dar, jangan lupa kabari Orangtua kamu.
"Iya Enin." Saat mendengar ucapan Gea, Haidar baru teringat dengan ponselnya yang terletak diatas lantai dekat nakas.
Haidar memungut ponselnya dan dilihatnya layar ponselnya itu telah retak seribu. Haidar mengerutkan dahinya. Kalycha merasa heran melihat ekspresi raut wajah suaminya itu.
"Mas kenapa?"
"Ponselnya mati Yang–." Haidar menunjukkan ponselnya yang sudah pecah.
"Kok bisa hancur gitu Mas?"
"Tadi kamu pas teriak dari kamar mandi mas kaget terus HPnya jatoh." lirih Haidar, karena itu adalah ponsel kesayangannya. Banyak tersimpan kenangan foto-foto Kalycha didalamnya saat dulu ia belum mengingat siapa Kalycha sebenarnya ia selalu meminta orang untuk mengikuti Kalycha dan memfoto kegiatan Kalycha dan tentu saja Kalycha tidak tahu itu.
"Katanya kaya, taruhan lamborghini aja sanggup masa beli ponsel yang harga puluhan juta aja ga sanggup?" ejek Dara. Ia tahu cerita kekalahan Haidar itu tentu saja dari Kalycha keponakannya.
"Bukan masalah harganya Anty–, didalam ini banyak kenangannya." lirih Haidar.
"Kenangan siapa Mas? Yang itu apa Jenny?" Sorot mata Kalycha sudah berubah menjadi berapi-api.
"Yaaa, salah lagi gue. Kenapa sih Icha curigaan mulu bawaannya."
"Kamu Yang–, siapa lagi? Di dalem ini tuh banyak foto-foto kamu."
"Terpaksa deh jujur."
"Foto aku? Emang kapan kita foto-foto bareng selain foto nikah sama honeymoon?" Kalycha menatap Haidar penuh curiga.
"Yaelah, ga percayaan banget sih Yang–, Ya udah nanti aku minta Dimas bawa ke counter servis HP. Mudah-mudahan aja bisa diperbaiki." Kalycha mulai tenang.
"Udah jangan curigaan mulu sama suami, ga baik sayang. Ibu hamil itu ga boleh stress harus banyak bersabar, jangan mudah marah apalagi banyak pikiran. Ibu hamil itu harus bahagia sayang. Tenangkan pikiran kamu. Kalau ada masalah diselesaikan baik-baik. Kamu juga Haidar harus tetap jaga perasaan istri kamu, Kamu yang harus lebih banyak bersabar karena Ibu hamil itu biasanya aneh-aneh kemauannya. Moodnya suka berubah-ubah jadi tugas kamu harus buat Icha bahagia terus semua kemauannya selagi itu baik kamu harus turuti yah." Gea memberikan sedikit pengertian untuk pasangan muda itu.
"Iya Enin." sahut Haidar dan Kalycha bersamaan.
"Sini HP kamu biar Mas telpon Bunda sama Ibu dulu." Kalycha pun menyerahkan ponselnya pada Haidar.
__ADS_1
Like dan Vote yah 🙏**😍**