My Soulmate

My Soulmate
R A H A S I A


__ADS_3

Semua sudah berkumpul dimeja makan, pasangan pengantin itu sedang berencana untuk berkunjung ke apartemen Abas dan Yetti Ibu angkat Haidar.


"Bu, Adek kok belum turun. Apa dia ga pulang semalam?" tanya Deon sambil menerima sepiring nasi goreng dari tangan istrinya.


"Pulang kok Yah, tadi malam Ibu dengar dia pulang. Tapi ga tahu kenapa dia belum turun mungkin ga ada jadwal operasi kali Yah." Halimah memang sempat mendengar putrinya itu pulang karena tadi malam Helsa membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Nih orangnya udah nongol, panjang umur kamu dek–." ucap Halimah saat melihat putrinya itu baru datang bergabung sarapan dengan mereka. "Tapi kenapa kamu pakai kacamata riben gitu? Kayak diluar aja." Halimah heran melihat putrinya itu memakai kacamata hitam.


"Helsa sakit mata Bu, takut yang lain ketularan." sahutnya berbohong. Halimah dan yang lainnya itu tahu kalau Helsa sedang berbohong tapi mereka tak menghiraukannya.


"Bu, Yah nanti Haidar sama Icha mau kerumah Papa dan Mama ya, mungkin nginep lah semalam. Karena ga enak kalau cuma datang sebentar doang." jelas Haidar.


"Iya." jawab Halimah dan Deon bersamaan.


"Terus kapan kalian akan pergi honeymoonnya?"


"Mungkin lusa Bu, karena Haidar mau selesaiin kerjaan Haidar dulu sebelum berangkat."


"Ya udah. Kamu atur aja mana baiknya. Jangan terlalu dipaksakan bekerja sampai larut malam. Ingat sekarang kamu udah punya tanggung jawab yang lain."


"Iya Bu."


"Kak Helsa kenapa ga dimakan makanannya?" Kalycha memperhatikan Helsa hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya.


"Hah, Iya. Bu, Yah Helsa berangkat dulu ya, ada jadwal operasi pagi ini." Helsa berdiri ingin menghindari keluarganya. Pikirannya saat itu sedang kacau. Tubuhnya saja yang berada ditempat itu sedangkan jiwanya entah pergi kemana.


"Selesaikan dulu sarapanmu." tegas Haidar, Helsa pun tak berani melangkah. Ia kembali duduk dan menyantap sarapannya. Bukan karena masakan Ibunya itu yang tidak enak tapi karena perasaannya yang kacau membuat semua yang dimakannya terasa hambar.


Setelah menyelesaikan sarapannya ia pun pamit untuk berangkat bekerja kepada kedua orangtuanya sementara Haidar dan Kalycha sudah lebih dulu berangkat mengunjungi Orangtuanya yang lain.


Helsa tidak benar-benar ada jadwal operasi, saat itu dirinya hanya ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang tentunya akan sulit untuk di jawabnya.


Dirinya termenung sendirian diruangannya. Setelah meminta tolong pada salah satu asisten perawat yang selalu mendampinginya untuk membelikannya telur rebus yang masih hangat untuk mengompres matanya yang bengkak.


"Dokter ada masalah?" tanya dokter Wandi sahabatnya yang ternyata diam-diam menyukainya.


"Eh Lo Wan, pake nyelonong aja." Helsa kaget melihat Wandi sudah duduk didepannya.


"Aku udah ketok pintunya tapi lo kagak ngejawab jadi gue langsung masuk aja." Memang seperti itu kenyataan sudah beberapa kali Wandi mengetuk pintu ruangannya sebelum masuk tapi karena tidak mendengar jawaban dari Helsa akhirnya ia memutuskan untuk masuk.


"Ngapain lo disini? Ga ada jadwal operasi Lo?" tanya Helsa kepada sahabatnya yang adalah dokter spesialis kandungan itu.


"Kalau gue ada jadwal operasi pasti gue udah ngajak lo lah–. BTW Lo lagi ada masalah apa? Muka lo kusut banget dari tadi. Pas visit pasien juga lo ga fokus gitu."


"Kagak ada–." sahutnya malas. Wandi sebenarnya bisa menebak apa yang terjadi pada Helsa karena Wandi adalah sahabat Helsa sekaligus tempat curhatnya. Helsa bukan tipe cewek yang suka curhat ke teman ceweknya. Menurutnya curhat ke cewek itu sama aja membeberkan aibnya sendiri yang pastinya curhatannya itu ga akan lama bisa bertahan disatu tempat atau disatu orang. Pasti tak lama akan berpindah juga ketelinga orang lain. Berbeda dengan kalau dirinya curhat ke cowok, karena cowok cenderung berpikir secara logika bukan perasaan seperti kebanyakan cewek. Makanya kalau curhat ke cewek si cewek suka baper.


"Jalan yuk, biar mengurangi penghuni RSJ." ejek Wandi.


"Sialan Lo." Helsa berdiri sambil membuka snelli-nya.


"Eeh, ngapain lo pake main buka-bukaan disini?" Wandi kembali menggoda sahabatnya itu.


"Katanya mau jalan? Ga mungkinkan gue jalan pake sneli?"


Wandi hanya tertawa ringan, dirinya senang menggoda Helsa. Dia tidak suka bila melihat sahabatnya itu kebanyakan diam. Karena notabenenya Helsa itu adalah gadis yang periang. Lama dia melihat Helsa banyak termenung itu saat-saat Helsa baru kehilangan Kakaknya tapi setelah dua tahun ia kembali seperti Helsa yang sebelumnya meskipun kadang dia mau menangis sendiri bila tiba-tiba teringat kepada Haidar.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Wandi mengajak Helsa ke sebuah cafe yang ada disalah satu mall. Biasanya mereka suka nongkrong disana bila saat suntuk. Karena tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja.


Waktu itu sudah menjelang sore dan pengunjungnya juga sudah lumayan rame. Saat memasuki cafe itu pandangan Helsa beradu pada pria yang sedang bernyanyi di panggung mini yang ada dicafe itu.


Suara merdunya banyak dikagumi oleh kaum hawa, terlihat dari beberapa pengunjung yang duduk didekat panggung mini itu bersorak histeris saat pria itu menyanyikan lagu romantis seakan mengira kalau pria itu sedang menyanyikan lagu itu untuknya.


Helsa pun tak kala terpana dibuatnya. Dirinya memilih duduk menghadap ke pria itu supaya bisa menikmati lagu yang dinyanyikannya.


...Semenjak ada dirimu...


...Dunia terasa indahnya...


...Semenjak kau ada disini...


...Ku mampu melupakannya...


Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan Andity itu mampu membuat wanita yang duduk didepannya itu berdiri dan menghampiri pria itu. Dan tanpa disadarinya airmata Helsa menetes dan segera dirinya menghapus airmatanya tak mau Wandi melihatnya menangis. Tapi terlambat Wandi sudah melihat itu dan ia juga tahu siapa pria yang sedang bernyanyi itu.


Pria itu adalah Roy, Wandi lupa kalau Roy juga sudah sering nongkrong dicafe itu bersama Helsa.


"Apa Lo mau kita pindah tempat aja?" tanya Wandi tapi Helsa hanya menggelengkan kepalanya.


Suara riuh tepuk tangan dari beberapa pengunjung terdengar ketika Roy selesai bernyanyi.


"Satu lagu lagi Plis–." terdengar permintaan manja dari wanita yang berdiri disampingnya itu.


Roy menyanggupinya dan wanita itu pun turun dari atas panggung.


Lalu mata Roy beralih menatap Helsa yang duduk disudut ruangan itu bersama Wandi. Roy tahu kalau Wandi adalah sahabat Helsa dan dia juga tahu kalau laki-laki itu menyukai Helsa.


Kadang Roy juga merasa minder bila berada diantara mereka karena mantan kekasihnya itu dengan Wandi sama-sama seorang dokter, bahkan mereka sudah dokter spesialis. Meskipun pendidikan Roy juga sudah tamat S2 tapi dia masih saja minder.


Roy mengambil salah satu gitar akustik dan mulai memetik senarnya. Roy menyanyikan lagu kekasih yang tak dianggap.


...Aku mentari...


...Aku pelangi...


...Tak memberi warna hidupmu...


...Aku sang bulan...


...Tak menerangi malammu...


...Akulah bintang...


...Yang hilang ditelan kegelapan...


...Selalu itu yang kau ucapkan padaku...


...Sebagai kekasih yang tak dianggap...


...Aku hanya bisa mencoba mengalah...


...Menahan setiap amarah...


...Sebagai kekasih yang tak dianggap...


...Aku hanya bisa mencoba bertahan...


...Ku yakin kau kan berubah...


Selama bernyanyi pandangannya tak pernah lepas dari Helsa, wanita yang sudah begitu melukai hatinya.


Suara tepuk tangan kembali memenuhi ruangan cafe itu. Banyak yang kagum akan merdunya suara Roy. Ada juga yang langsung jatuh cinta padanya tapi malu kalau nantinya perasaannya itu tak bersambut.


"Aku ga pernah menganggap mu begitu Kak."

__ADS_1


Roy turun dari panggung lalu duduk diantara pria-pria yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Mungkin mereka adalah teman-teman kantornya. Begitulah pemikiran Helsa. Ingin rasanya gadis itu menghampirinya. Tapi begitu di mantapkannya hatinya dan melangkah kearah Roy duduk tiba-tiba saja wanita yang tadi naik keatas panggung menemuinya itu sudah lebih dulu menghampirinya.


"Hai tampan, boleh kenalan?" tanya Wanita yang berpakaian seksi itu sambil mengulurkan tangannya.


Langkah Helsa langsung terhenti, tanpa sengaja Roy juga melihat kehadirannya tapi Helsa langsung memutar balik tubuhnya dan pergi ke toilet yang berada di cafe itu.


Lama Helsa berada didalam toilet itu, ia menumpahkan airmatanya, manahan tangisnya dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya agar orang lain tidak mendengarnya menangis.


Roy menunggui wanita itu didepan pintu kamar mandi.


Setelah puas menangis Helsa mencuci mukanya agar terlihat lebih segar. Tapi tetap tidak bisa menutupi kalau dirinya baru saja menangis. Karena Helsa memiliki mata yang sensitif bila sedikit saja dia menangis matanya langsung merah dan bengkak.


Helsa melihat Roy berdiri didepan pintu toilet cewek itu. Mereka terpaku sejenak tapi tak satupun dari mereka yang menyapa duluan. Seperti canggung atau enggan.


"Wan, kita balik yuk–." Wandi pun hanya bisa mengikuti keinginan wanita itu tanpa bertanya sebabnya.


💗


💗


💗


💗


Ditempat lain sepasang pengantin baru itu sedang bercengkrama dengan Abas dan Mama Yetti.


"Sayang, kalian mau honeymoon kemana?" tanya Yetti pada menantunya.


"Belum tau Ma, ada yang bisa Mama recommended tempatnya Ma?"


"Kamu gimana sih sayang, masa Mama yang harus cari tempatnya. Emang kamu ga punya impian pengen liburan kemana gitu?"


Sementara kedua anak menantu itu sedang asyik ngobrol membahas tempat yang akan dituju saat honeymoon nanti. Haidar dan Abas sibuk mendiskusikan pekerjaan mereka di ruangan kerja Abas.


"Ga ada Ma, Icha itu dulu udah sering diajak Daddy liburan keluar negeri. Icha juga kan lahir di Jerman Ma, jadi sebagian negara di Eropa itu udah Icha jalani."


"Kalau gitu ke afrika sayang." usul Yetti. "Addis Ababa ibukota negara Ethiopia disana menyimpan potensi alam yang bisa dinikmati dengan menawarkan ragam pilihan suasana dan pemandangan."


"Hmmm kalau tidak ke Kota Lilongwe-Malawi disana banyak tempat-tempat romantis juga katanya." ucap Yetti dengan sangat antusias.


"Hmmm Katanya ya Ma? Mama belum pernah kesana Ma?"


"Hehe, belum sayang. Papa mana punya waktu buat ngajak Mama jalan-jalan." sindirnya ketika melihat suaminya itu sudah keluar dari ruangan kerja suaminya


"Ngobrolin apa nih? Kok sepertinya bawa-bawa nama Papa?" Abas duduk disamping Yetti lalu Haidar juga duduk disamping istrinya.


"Tadi Mama tanya Icha mau honeymoon kemana, tapi dia bingung katanya ga tahu tempat yang asyik untuk bulan madu."


"Terus mama bilang kenapa ga ke benua Afrika aja." sambungnya lagi. "Kalau kamu pengennya kemana Dar?" Yetti beralih bertanya kepada putranya.


"Kalau Haidar pengennya nginep dihotel aja Ma, selama seminggu." ucapnya enteng.


"Issh Mas Hai apaan sih." Kalycha menggerutu sambil mencubit paha suaminya.


Pasangan paruh baya itupun tertawa melihat kejujuran anaknya itu.


"Haidar udah beli tiketnya kok Ma. Jadi Mama sama Papa ga usah khawatir, Haidar pasti akan membahagiakan istri Haidar."


"Kemana?" tanya Kalycha dan Yetti bersamaan. Lalu keduanya pun tertawa karena merasa sangat kepo dengan rencana Haidar.


"R A H A S I A" ucap Haidar sambil mengeja satu persatu huruf Rahasia.


Dan seketika ia pun mendapat pukulan bantal dari kedua wanita itu.


Author khilaf hari ini double Up 🤭


Semoga Readers juga Khilaf ngasih Coffee-nya double 😍

__ADS_1


__ADS_2