My Soulmate

My Soulmate
Sekali Berondong Tetap Berondong


__ADS_3

Seorang pria terduduk diruang keluarga sedang mendengarkan ceramah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibunya sendiri.


Yanti Wijaya sedang menceramahi putranya karena putranya itu telah melakukan hal yang sudah membuatnya malu sebagai Ibunya.


"Frans, Mami ga pernah mengajarkan kamu untuk kurang ajar sama wanita, tapi kenapa kamu membuat malu Mami?" Yanti sudah menahan emosinya sejak kemarin malam dan ia baru dapat menegur putranya itu saat ini. Karena tadi malam Frans pulang larut malam.


"Maksud Mami apa Mam?" Frans bingung karena baru saja ia bangun tidur dan langsung diseret oleh Maminya duduk diruang tengah.


"Jangan pura-pura tidak tahu kamu Frans–." Yanti menatap tajam kearah putranya itu.


"Apa perempuan itu beneran mengadu sama Ibunya terus Ibunya juga ngadu ke Mami?" Batin Frans membalas tatapan Maminya itu.


"Nggak ada yang mengadu sama Mami?" ucap Yanti tegas.


"Gila, Mami bisa baca pikiran gue? Mami Cenayang ya Mam?" Ingin sekali Frans bertanya begitu tapi diurungkannya. Frans bergidik ngeri melihat langsung kepada sang Ibu lalu mengusap-usap tangannya yang mulai merinding.


"Mami ini udah kayak dukun aja deh Mam bisa menerawang pikiran orang." sahut Frans pelan.


"Kamu pikir Mami ga tau apa yang ada di otak kamu ini?" Yanti menoyor kepala putranya itu, Frans hanya mengendus kesal karena kepalanya ditoyor Maminya.


"Mami ga nyangka kamu tega membiarkan Dara membayar makanannya sendiri."


"Tuh kan perempuan itu beneran ngadu ke Ibunya." Frans menatap tajam sang Mami seolah menginginkan jawaban dari Yanti yang juga menatapnya.


"Mami udah bilang ga ada yang mengadu ke Mami." Frans kembali terkejut karena Maminya sepertinya bisa membaca pikiran.


"Waaahhh beneran yah Mami bisa baca pikiran? Kok jadi serem gini gue liat emak gue?"


"Mami itu menyuruh Nico mengikuti kamu dan Nico yang memberitahukan semuanya."


"Haaa lega rasanya, gue kirain emak gue cenayang beneran. Iiih, ga kebayang deh gue."


"Ingat ya Frans–, Mami cuma mau Dara yang jadi menantu Mami."


"What?? No Mam. No–."


"Adara itu gadis baik dan Mami suka sama dia. Kalau selain Dara Mami ga bisa terima, dan kalau kamu masih menolak kamu siap-siap aja Mami coret nama kamu dari daftar warisan." Ancam Yanti dan berhasil membuat Frans melotot kaget.


"Mam Plisss, jangan lakukan itu Mam. Hiks."


"Mam ga bisa gitu dong Mam–. Itu sama aja Mami menjajah Frans dengan memaksa kehendak Mami sendiri. Frans juga punya gadis pilihan Frans sendiri Mam–" Yanti terkejut mendengar kalau putranya itu memiliki gadis pilihannya sendiri. Karena selama ini yang ia tahu putranya itu sama sekali tidak memiliki wanita didekatnya. Teman saja tidak punya apalagi pacar. Pikirannya.


"Oke, Mami kasih waktu 3 hari. Dalam waktu 3 hari ini kamu harus membawa wanita itu ke rumah ini, kenalkan sama Mami dan Papi." tantang Yanti.


"3 hari Mam?" Frans bingung. "Bagaimana caranya gue bawa Jenny kemari? Ketemu aja gue belum. Apa nanti kalau gue sudah ketemuan sama dia, dia mau gue ajak main kerumah? Tapi kalau gue tolak permintaan Mami, ntar gue dipaksa lagi nikah sama gadis itu. Aaarrrrgggghhh–."


"Kenapa? Apa besok saja? atau malam ini?" Yanti kembali mendesak Frans putranya.


"Ja-jangan Mam. Oke 3 hari. Tapi setelah itu Mami jangan jodoh-jodohin Frans lagi ya Mam." pinta Frans lirih.


"Tergantung–." ucap Yanti dengan seringai liciknya.


"Yaa, kok gitu sih Mam–." Frans merasa percuma saja kalau ia membawa Jenny bertemu Ibunya karena Ibunya sudah menetapkan pilihannya.


"Tergantung bagaimana dia bersikap nanti." lanjut Yanti.


"Siapa sih wanita yang sudah menjerat hati anakku ini?" Batin Yanti.


"Tapi setidaknya Mami ga akan keluarkan aku dari daftar pewaris keluarga ini dong ya Mam–." Frans sangat takut jika namanya dicoret dari daftar pewaris.


"Bawa aja dulu wanitamu itu kerumah ini."


Frans pun langsung menyusun rencana untuk menemui Jenny di alamat yang tertera di kartu namanya yang diberikan Haidar kemarin padanya.


...☘️☘️☘️☘️...


Mansion Keluarga Bramasta


Semua pekerja yang ada dikediaman keluarga Bramasta itu sedang sibuk membuat persiapan pesta Anniversary Pram dan Nayla yang ke 6 tahun. Sebagian keluarga sudah hadir disana untuk membantu persiapan pesta Anniversary itu. Tak terkecuali dengan Gea dan suaminya. Gilang adik laki-laki Nayla dan istrinya Farah juga sudah hadir disana turut membantu persiapan disana.


Sebelumnya Nayla hanya ingin menggelar acara syukuran saja dengan mengundang anak-anak Panti asuhan tapi Pram juga ingin mengundang para kolega bisnisnya.


Sehingga acara syukuran dengan anak-anak Panti Asuhan sudah dilakukan siang tadi dan acara malam dilanjutkan dengan beberapa tamu undangan rekan-rekan bisnis suaminya.


Sementara Kalycha baru saja selesai mandi. Dirinya tidak dapat membantu saat acara siang tadi bersama anak-anak Panti Asuhan karena dirinya sibuk bekerja, begitu juga dengan Haidar.

__ADS_1


"Sayang cepetan nanti kita terlambat loh." Haidar sudah selesai dan rapi dengan setelan formalnya.


"Ay–, aku gemukkan yah?" sambil melihat dirinya dicermin memutar ke kanan dan ke kiri.


"Enggak kok–." sahut Haidar tanpa melihat istrinya.


"Mas itu belum lihat tapi udah ngejawab aja." Kalycha kesal karena ia melihat suaminya itu tidak ada melihat kearahnya.


"Aku ga perlu liat Sayang. Mas kan udah biasa gendong kamu." Kalycha tersenyum malu. Teringat kembali dalam pikirannya saat bercinta dengan suaminya itu.


"Tapi kayaknya kok gaunnya sempit banget ya Ay–. Nih udah ga bisa dikancing sampe keatas Ay–." Kalycha masih berusaha menarik resleting gaunnya yang dibelakang.


"Itu sih bukan BB kamu yang naik Yang–, tapi dada kamu yang tambah montok." ucap Haidar sambil menenggelamkan kepalanya didada istrinya itu.


"Geli Ay–."


"Udah ganti aja gaunnya kalau kamunya ga nyaman."


Haidar berjalan menuju lemari dan memilih salah satu gaun yang akan dipakai istrinya itu.


"Pakai yang ini saja." Haidar menyerahkan gaun pilihannya pada Kalycha. "Buruan ganti, ga enak kalau kita telat. Soalnya tadi siang kita juga ga ada bantu Bunda sama Daddy."


"Iya ay–."


Kalycha pun segera mengganti gaunnya. Setelah selesai mereka langsung berangkat menuju Mansion orangtuanya.


Suasana sudah mulai ramai dihadiri oleh keluarga terdekat, namun para tamu undangan belum ada yang datang karena acara akan dimulai tepat jam 8 malam.


"Cie pengantin baru, baru nongol–." ejek Helsa yang lebih dulu hadir disana bersama Ibu dan Ayahnya.


"Berisik tahu dek–." sahut Haidar.


"Icha–." Seseorang memanggil Kalycha dari belakang lalu ia menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


"Om Gilang, apa kabar?" tanya Kalycha ketika melihat Gilang yang memanggilnya.


"Om sehat. Maaf ya waktu Pernikahanmu kemarin Om ga bisa dateng. Soalnya Om ga bisa cuti. Lagian Tante kamu juga baru melahirkan jadi belum boleh kemana-mana. Ini juga mungkin hanya bisa sebentar saja nanti. Ga enak sama Teteh, nanti pasti ngerasa kalau aku tuh sengaja ngejauh setelah menikah."


"Iya Om ga apa-apa. Lagian Bunda ga mungkin lah mikir kayak gitu Om." sergah Kalycha.


"Hmmm, kamu ga tahu aja kalau Bunda mu itu ngambek, susah ngebujuknya Cha–. Nggak tahu deh gimana Kak Pram ngebujuk teteh kalau teteh ngambek." Gilang memang sangat tahu perangai Kakaknya itu ketika sudah merajuk. Nayla bisa mendiamkan seseorang sampai seminggu lamanya bahkan lebih.


"Makasih Om."


"Farah sini–." Gilang memanggil istrinya. "Tante kamu baru kasih Asi sama si dedek." ucapnya sambil tersenyum melihat istrinya yang menghampiri mereka dengan menggendong baby Gheysha.


"Duuuh lucunya–." Kalycha langsung menggendong baby Gheysha dari tangan Farah.


Kalycha sangat gemes dengan baby Gheysha yang lucu dan imut. Belum lama ia menggendongnya tiba-tiba–


Prrooottppppoooopppootttt


"Hahaha–." Semua orang tertawa ketika mendengar baby Gheysha kentut.


"Bucuknya dek–." ucap Kalycha tertawa sambil mencium pipi baby Gheysha yang ternyata baby Gheysha sedang Pup.


"Bakalan cepet nyusul nih." ucap Gea yang tiba-tiba datang menghampiri anak dan menantunya dan juga Kalycha cucunya.


"Maksudnya Enin apa?" tanya Kalycha bingung.


"Maksud Enin, kamu bakalan cepet nyusul dapat momongan." sahut Nayla yang juga datang bersama Gea ibunya.


"Amin–." semua orang yang mendengar mengaminkannya. Sementara Kalycha hanya tersenyum malu.


"Sini biar Tante ganti popoknya dulu." Farah pun mengambil baby Gheysha dari gendongan Kalycha.


"Happy Anniversary ya Bun–." Kalycha memeluk dan mencium kedua pipi Nayla.


"Makasih ya sayang–. Kadonya mana?" Nayla menengadahkan tangannya.


"Dih Bunda masih ngarepin kado. Emang Daddy ga kasih kado apa sama Bunda?"


"Ngasih–, tapi Bunda kan mau kado juga dari anak Bunda."


"Ntar ya Bun, Icha belum siapin karena Icha sibuk Bun–."

__ADS_1


"Bohong Bun, Icha udah siapin kok Bun." Haidar memotong pembicaraan istri dan mertuanya itu, Kalycha hampir marah saat Haidar mengatakan kalau ia berbohong. "Nih, Icha udah beli kado khusus buat Bunda." Haidar memberikan sebuah kotak berukuran kecil. Kalycha menatap bingung pada suaminya tapi ia masih tersenyum menutupi rasa bingungnya itu.


"Apa ini Cha?"


"Dibuka aja Bun–." jawab Haidar sambil merangkul bahu Kalycha.


Nayla membuka kotak pemberian Haidar itu dan Nayla terlihat begitu bahagia saat melihat isinya adalah jam tangan yang sudah lama di incarnya.


"Makasih ya sayang–." Nayla memeluk Kalycha.


"I-iya Bun–." Kalycha sangat gugup karena ia masih bingung.


Seorang MC yang membawakan acara pun meminta mereka untuk menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Nayla berjalan untuk bergabung bersama suami dan kedua putranya.


"Maaf Yang–, itu aku suruh Roy yang beliin. Ga enak kalau kita datang dengan tangan kosong." bisik Haidar lalu mencium puncak kepala istrinya itu.


"Makasih ya Ay, aku beneran ga kepikiran beli kado buat Bunda. Aku sibuk banget soalnya." ucapnya lalu ikut bergabung bersama Nayla dan juga Daddynya.


Acara pun dimulai, semua bernyanyi dan bertepuk tangan berharap pasangan suami-istri itu selalu bahagia hingga maut memisahkan. Kebahagiaan yang dirasakan pasangan suami-istri itu juga turut dirasakan oleh semua tamu undangan yang hadir.


"Dara–." sapa wanita paruh baya yang tak lain adalah Yanti.


Yanti dan suaminya Fredrick Fabian juga hadir sebagai rekan bisnis Pram.


"Tante Yanti–."


"Mana Ibu kamu?" tanya Yanti yang belum melihat sahabatnya itu.


Sementara dibelakang mereka berdiri seorang pria dengan wajah yang ketar-ketir melihat perbincangan kedua wanita yang beda generasi itu.


"Bukannya ini rumah Icha ya? Ngapain nih cewek ada disini?" Batin Frans


"Ada disana lagi nemenin teteh Nayla, Tante." Dara menunjuk kearah Nayla yang sedang berdiri ditengah-tengah keluarga.


"What? Teteh? Jadi dia adik Bu Nayla?" Semakin panas saja yang dirasakan pria itu sementara suhu ruangan itu cukup dingin dengan udara AC yang memenuhi ruangan itu.


"Udah ketemu sama anak Tante kan?" Yanti menarik tangan Frans untuk berdiri disampingnya.


"Oh, dia anak Tante?" Dara pura-pura terkejut saat melihat Frans.


"Iya, kamu udah ketemu kan?"


"Udah Tante." Udah kalipun sampe enek liat mukanya. Batin Dara.


"Tante harap kalian bisa akur dan temenan dengan baik yah."


Dara hanya tersenyum, dan tanpa mereka sadari sepasang mata sudah melihat interaksi mereka sejak awal mereka ngobrol.


"Beib–, kamu disini rupanya? Udah dari tadi loh aku cariin." pria itu langsung merangkul bahu Dara. "Permisi Tante–." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Cowok itu–! Kayaknya gue pernah liat cowok itu, tapi dimana ya?" Batin Frans. Ia tampak tak senang ketika pria itu tiba-tiba datang dan membawa Dara pergi dari hadapannya.


"Kamu apa-apaan sih? Main rangkul-rangkul aja. Ga enak tahu Dit dilihatin orang."


"Kenapa? Apa kamu malu kalau orang-orang tahu kalau aku ini pacar kamu?" tanya Adit si pria yang sudah naik darah ketika melihatnya ngobrol bersama wanita paruh baya yang berusaha menjodohkan anaknya pada Dara kekasihnya.


"Bukan gitu ih–"


"Terus kenapa?


"Nggak sopan aja berondong–."


"Kamu kok manggil aku gitu sih? Kita ini seumuran–. INGAT SEUMURAN" bisik Adit sambil menahan amarahnya.


"Sekali berondong tetap berondong."


"Terserah kamu lah–, yang penting berondong-berondong gini, bisa buat kamu Jatuh Cinta."


"Ge eR–." cibir Dara.


"Cup."


Sebuah kecupan mendarat dibibir wanita itu.


"Astaghfirullahaladzim Adeeekkkk–." teriakan Gea mengejutkan pasangan muda itu.

__ADS_1


Jeng Jeng Jeng 🙄


Tinggalkan Jejakmu ya Say 😍


__ADS_2