
Usai sudah Alsaki pulang ke rumah untuk menyiapkan segala keperluan tugas. Seragam berwarna hijau, dipandukan dengan warna coklat seperti seragam tentara pun sudah Alsaki kenakan. Ada hati yang tak rela pergi meninggalkan wanita yang baru saja dihalalkan beberapa jam yang lalu, seketika membuat cairan bening tak kuasa menahan bendungan air yang penuh.
Hafsah yang sudah sadar saat adzan ashar tiba dan tidak menemukan Alsaki hingga waktu isya berkumandang. Keduanya dipertemukan saat waktu memberikan satu jam untuk kedua insan yang terikat dalam perjanjian akad.
Hafsah tak mengubris perkataan Alsaki, entah kenapa bibirnya terasa sulit untuk digerakan bahkan tenggorokannya pun sulit untuk mengeluarkan suara indahnya. Sehingga sebagai penggantinya, Hafsah melirik Alsaki dan menatap lelaki yang mempersuntingnya.
"Haaah, maafkan aku. Aku dapat telefon dari komandan, bahwa semua itu dipercepat. Jadi, aku tak menyangka kira aku akan pergi besok pagi nyatanya malam sekarang."
"Kalau boleh jujur, aku ingin mengatakan bahwa hatiku belum siap menerima semuanya. Kalau bisa, aku ingin menghilangkan rasa trauma itu bersamamu bukan dengan yang lain."
Alsaki yang tadinya duduk di sofa kamar, kini berjalan menghampiri Hafsah yang sedang duduk di kasur dengan wajah menunduk menahan air mata. Ia mendudukan pantatnya di sebelah Hafsah dan tersenyum pilu, hatinya begitu sakit bahkan lebih sakit untuk menerima semuanya. "Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu."
Lagi dan lagi Hafsah tak menjawab pertanyaan itu, kedua jarinya saling meremas satu sama lain. Jantung yang sellau menompa supaya keadaan diri selalu stabil seketika berhenti berdetak. "Terima kasih."
Alsaki kemudian menganggam tangan Hafsah yang setiap kali disentuh ileh lawan jenis selalu dingin, kini suhu tangan Hafsah sangat berbeda. Mencium punggung tangan Hafsah dengan penuh cinta dan pengharapan dari sang istri, seolah-olah Hafsah akan memberikan doa untuknya. Benar lah, istri mana yang tak mau mendoakan suami ketika rumah tangganya ingin penuh dengan keberkahan.
Kunci keharmonisan keluarga bagi Alsaki dan Hafsah adalah saling mendoakan dan berkomitmen untuk hal yang baik. Permasalahan diselesaikan hingga akar-akarnya adalah kunci hubungan rumah tangga selain urusan ranjang yang hanya bermodalkan cinta sementara tanggung jawabnya diabaikan.
Alsaki yang tadinya mencium punggung tangan Hafsah kini tangannya beralih ke perut Hafsah, mengelus-elusnya dengan kasih sayang bahkan Alsaki tak malu memiliki anak yang bukan darah dagingnya. Bagi Alsaki, tidak ada anak haram hanya karena anak itu hasil zi*na melainkan yang menjadikan haram itu hubungannya bukan anaknya.
Sebab semua anak itu terlahir dalam keadaan fitrah dan suci, orang tua si anaklah yang menjadikan anak tersebut seperti demikian. Maka dari itu, anak yang dikandung oleh Hafsah itu Alsaki menganggapnya sebagai anak bahkan Alskai tak segan memberikan doa yabg terbaik untuk anak-anaknya. Meskipun Alsaki tahu siapa ayah dari anak itu, bagi Alsaki lelaki itu tidak akan bertanggung jawab memberikan yang layak untuk anak itu.
"Hei, Nak. Ayah akan pergi bertugas diperbatasan Kalimantan. Kamu di dalam sana jangan bikin ibumu sakit, teruslah hibur dia, Nak."
"Kenapa kamu menerimanya?" Hafsah mencoba memberanikan diri bertanya demikian, pasalnya Hafsah membenci dengan kehadiran benih yang kini benih itu tumbuh menjadi janin.
Mendengar itu, Alsaki seketika menatap mata Hafsah dengan tatapan sulit ditebak bahkan tatapan itu mengartikan makna yang mendalam seakan-akan tak peduli atas masa itu. "Haruskah aku mengulang kembali perkataanku? Aku menerima dia sebagai anakku meski tidak sedarah denganku, bagiku anak tetaplah anak yang memiliki hak yang sama dengan orang dewasa. Aku tak peduli dengan masa itu sehingga membuatmu mengandung, bagiku masa itu hanyalah angin yang sedang lewat. Jadi, walaupun dia berbeda denganku nantinya aku tetaplah aku yang akan menjadi ayah untuknya."
"Tapi, apa kamu tau? Aku membencinya dengan kehadiran dia!" Isak Hafsah mengenggam erat tangan Alsaki yang satunya.
"Kenapa kamu harus membenci? Apa kamu tidak percaya dengan perkataanku bahwa aku menerima masa lalumu?"
"Bukan seperti itu ...."
"Lalu apa? Apakah aku harus membenci anak yang tak berdosa juga? Haruskan aku membencinya? Tidak Hafsah aku tidak bisa, bagiku anak itu fitrah hanya saja jalan yang dilaluinya membawa takdir untuk kita, entah apa itu. Jadi, berhentilah menyalahkan semuanya termasuk anak yang dikandung olehmu, kalau bisa kamu ingin anak itu adalah darah dagingku maka aku akan melakukannya setelah anak itu lahir, bagaimana?" jelas Alsaki tanpa sadar kalimat terakhirnya mengandung sumber candaan untuk Hafsah.
Hafsah yang belum sadar dengan ucapan terakhir Alsaki, seketika benaknya mencerna perkataan itu seolah-olah perkataan Alsaki ada benarnya. Bahwa anak itu tidak salah apalagi dirinya, jadi untuk apa menaruh dendam pada yang tidak bersalah.
__ADS_1
"Benar katamu."
Alsaki mengulum senyumnya, kala mendengar penuturan Hafsah barusan seolah-olah tak menyadari akhir kalimat yang mengandung bahan candaan sehingga mendengarnya membuat Alsaki gemas dengan tingkah Hafsah seperti anak polos yang kehilangan selera humor. "Kamu ini benar-benar mengemaskan!"
"Kenapa memangnya?"
"Apa kamu tidak menyadari kalimat terakhir yang dilontarkan oleh aku, huh?" tanya Alsaki memicingkan matanya seakan mencerna tatapan Hafsah, takutnya Hafsah berbohong.
"Tidak, lagian perkataan kamu ada benarnya. Katamu, anak itu fitrah hanya saja jalan yang dilaluinya membawa takdir untuk kita. Apa ada yang kurang?" tanya Hafsah polos.
Alsaki seketika terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Benar!"
"Hhmmm ...," dehem Hafsah memalingkan mukanya ke arah jendela yang ditutup dengan gorden.
"Sudahlah jangan cemberut gitu, apa tidak mau menampilkan senyum manismu untukku? Waktuku tidak banyak, tersisa 15 menit lagi." Bangkut Alsaki dari ranjang yang didudukinya dan beralih pada cermin untuk mengaca takut wajah tampannya tercoreng sesuatu.
"Entah kenapa aku merasa waktu sangat kejam, aku baru saja menjadi istrimu beberapa jam yang lalu sekarang harus menjaga jarak beristilah LDR. Kayaknya waktu tidak berpihak padaku, sehingga mempercepat bunyi sekonnya. Maka dari itu, jika waktu bisa bicara aku ingin memarahinya kenapa tega sekali memisahkan aku dengan sosok lelaki yang memaksaku untuk melupakan masa itu demi aku agar kembali lagi mengukir senyum."
"Bahkan jika bisa, aku ingin menjambak waktu bahkan mencoba memundurkannya. Karena, hatiku belum siap melepaskanmu untuk pergi bertugas. Aku ingin kamu yang menemani terapi psikologiku, karena melihatmu dan menatapmu sudah membuatku merasakan degup jantungku berhenti dan pikiran burukku terlupakan di saat suara bisikan terus mengema dengan suara indahmu aku tersadar."
"Jika bisa, aku ingin lebih lama denganmu," celoteh Hafsah panjang lebar dengan tatapannya mengarah pada Alsaki yang tengah bercermin.
Hafsah menunduk menyembunyikan segala ekspresi dan emosi yang menguasai dirinya sembari menerima uluran tangan Alsaki dan bangkit dari duduknya. Sehingga keduanya berdiri, tubuhnya saling berhadapan. Suara jantung terus berdegup kencang, bahkan suara nafas pun memanjakan indera pendengaran kedua insan.
"Bolehkan aku menci*ummu untuk keterakhir kalinya di situ," tanya Alsaki sembari menunjuk bi*bir ranum Hafsah.
Mendengar itu, wajah Hafsah seketika berubah bak kepiting rebus kala netranya bertemu mata indah Alsaki yang sedikit sipit. Bibir Hafsah bungkam tak bersuara, hanya anggukan kecil kepala pertanda mengizinkan Alsaki suaminya melakukan hal itu. 'Semoga dengan itu aku melupakan si breng*sek!' batin Hafsah.
Alsaki tersenyum sembari menampilkan sederet gigi bersihnya, kedua tangannya memegang mesra pinggang Hafsah seketika berubah dan pindah posisi menjadi ke punggung Hafsah sehingga Hafsah terdorong sedikit. Jarak keduanya seperti perangko, tidak ada jarak yang menjauhi keduanya.
Cup!
Alsaki menci*um bi*bir Hafsah dengan sangat pelan, ia juga merasakan badan Hafsah bergetar seolah-olah trauma itu masih ada. Sehingga, Alsaki menghentikannya untuk sementara dan berbisik tepat di telingan Hafsah. "Ini aku suamimu, aku merasakan apa yang kamu rasa. Jika itu menyakitkan maafkan aku."
Mendengar bisikan itu seketika Hafsah membuka kedua matanya setelah memejamkan seakan mencoba melupakan masa itu, sehingga netra keduanya saling melempar pandang dan Hafsah mengangguk. "Aku baik-baik saja."
Alsaki tersenyum dan kembali lagi melanjutkan aksinya, menci*um bibir Hafsah dengan sangat lembut hingga detik demi detik keduanya terhanyut dalam permainan. Sehingga ci*uman itu perlahan menjadi lum*atan bahkan Hafsah membuka mulutnya membiarkan Alsaki yang melakukan semuanya, tapi Hafsah tidak mau kalah sehingga dirinya berani membalas perbuatan Alsaki dengan cara mengimbangi.
__ADS_1
Setelah keduanya cukup puas dan melepaskan tautannya, suara nafas masih terasa. Hafsah mencari udara oksigen yang hampir sesak akibat permainan Alsaki. Sedangkan, Alsaki tersenyum jari jempolnya mengelap bi*bir Hafsah dan kembali lagi berbisik. "Terima kasih, setelah anak kita lahir aku ingin melakukan itu."
"Sudah ah! Cepat berangkat tuh waktunya dua menit lagi," jelas Hafsah bukan maksud apa melainkan untuk menyembunyikan rasa gugupnya akibat mendengar ucapan Alsaki.
"Baiklah, ayo turun. Aku harus pamit kepada mereka," kata Alsaki segera mengenggam tangan Hafsah untuk keluar dari kamar.
Di ruang tamu, ada 7 orang asyik berbincang hangat bahkan Alsaki juga melihat Kinan terus tertawa bersamaan dengan keharmonisan keluarga. Suara kehangatan seketika memanjakan Alsaki untuk tetap di rumah dan meninggalkan tugas yang merupakan tanggung jawabnya, akan tetapi ikrar tidak bisa diingkari kecuali dalam kondisi darurat.
"Oh, mereka baru saja turun," kata Kinan saat menyadari dua insan yang baru saja terikat dalam kehalalan turun dari kamar Hafsah. Tak lupa juga Kinan tatapannya teralihkan pada pemandangan menakjubkan, yakni keduanya mengenggam erat satu sama lain, membuat Kinan tersenyum seolah-olah doa dan harapan untuk Hafsah seperti sudah didengar.
"Wah, pengantin baru!" ledek Fahad dan terkekeh.
"Sudah sudah jangan bercanda mulu, lihat tuh sudah pukul 9 pas!" Harsa mengingatkan kepada keluarganya terutama Alsaki, bukan maksud mengusir atau semacamnya melainkan Alsaki harus berangkat dan harus tiba ditujuan sebelum diberangkatkan ke tujuan sebenarnya.
"Baiklah, pertama-tama aku ingin mengucapkan mohon maaf dan terima kasih. Cukup sekian," kata Alsaki singkat padat dan jelas yang penting mereka tahu maksudnya.
"Semangat, Kak!"
"Semangat, weii!"
"Semangat!"
"Hati-hati dan pulanglah dengan selamat!"
Mendengar berbagai macam ucapan dari mereka, Alsaki membalas perkataan mereka dengan senyum yang terus mengukir wajahnya. Ada rasa sedih, senang, kecewa, dan haru menjadi satu sehingga suasana itu bisa dibilang berada di empat emosi yang sama. Hafsah memperat gengamannya seolah-olah tidak ingin itu terjadi, Alsaki yang merasakan itu memberi kode dengan lirikan mata dan tersenyum.
"Oh iya, aku harus segera berangkat," kata Alsaki segera menyalimi tangan paruh baya, Fatimah, Budi, Harsa, dan Ibha. Tak lupa juga dengan kakak dan adik-adiknya. Terakhir Hafsah menyalimi punggung tangan Alsaki, kemudian Alsaki menci*um kening Hafsah.
"Hati-hati dan pulanglah dengan selamat, aku akan menunggumu," ucap Hafsah.
Alsaki tersenyum dan segera keluar lalu diikuti oleh dua keluarga besarnya, ia segera menaiki mobil hitam miliknya dan menyalakan mesin. Tak lupa juga, Alsaki menurunkan jendela mobil supaya kelihatan setelah itu ia melajukan mobilnya sembari menekan tombol klakson pertanda dirinya akan segera berangkat.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, terutama memberikan kritik dan saran.
Semoga kamu tetap bahagia
__ADS_1
•••••○○○•••••