
Semua mata saat ini selalu tertuju padanya semenjak sang Ketos Alvin mengikrarkan bahwa dirinya dan Kalycha sudah resmi pacaran. Ada yang mendukung dan banyak juga yang mencibirnya. Seperti Jenny yang pernah menjadi sahabatnya itu.
"Vin, emang bener lo udah jadian sama Icha?" pertanyaan itu datangnya dari Jenny. Sahabat Kalycha yang paling sakit hati padanya, bahkan sampai saat ini mereka belum saling tegur. Meskipun Kalycha sudah mencoba untuk minta maaf padanya namun Jenny tetap tidak ingin berteman dengan Kalycha lagi.
Saat jam istirahat, mereka berlima sedang duduk di kantin. Alvin, Boby, Frans, Jenny dan Amanda. Setelah Kalycha memilih jurusan IPS mereka jadi sering kumpul berlima saja.
"Lo ga percayaan banget sih Jen." ucap Alvin
Jenny yang awalnya memang suka pada Alvin merasa tidak senang mendengar mereka pacaran.
"Bukannya Icha anti pacaran ya?" Amanda ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Sebaiknya kalian cabut deh slogan kalian itu." sahut Frans. "Kita jadi ga bisa pacaran gara-gara slogan kalian. Lagian gengs Wacana kan udah bubar." Frans yang tidak terima dengan slogan mereka itu membuatnya sulit untuk menyatakan cintanya pada Jenny.
"Sembarang, siapa bilang Wacana bubar?" Amanda kesal karena seenaknya saja Frans mengatakan kalau group yang mereka bentuk itu dikatakan bubar.
"Emang bener udah bubar, ngapain kita pertahanin kalau satu dari kita udah ga disini bareng kita." ucap Jenny dan disaat yang bersamaan Kalycha datang bersama Aditya.
Kalycha mendengar ucapan Jenny namun dia hanya memilih diam.
"Gue kangen tahu main bareng kalian." Batin Kalycha.
"Nih dia orang yang buat kita bubar." ucap Jenny ketus dan Kalycha masih tetap diam.
Dirinya memilih duduk bersama Aditya. Namun sebelum ia menduduki bangkunya tiba-tiba tangannya ditarik oleh Alvin.
"Kamu pacarku sekarang jadi makan bareng aku. Dan aku paling ga suka kalau kamu dekat-dekat dengan cowok lain." ucap Alvin sambil melirik Adit dengan sinis.
"Hei, dia ga merasa kalau kalian udah jadian jadi sebaiknya lo lepasin tangan Kaly sekarang." Aditya menarik tangan Kalycha yang satunya. Aditya merasa tidak senang pada Alvin yang seenaknya saja mengatakan kalau mereka pacaran.
"Kaly? Dia memanggil Icha Kaly? Apa itu panggilan istimewa buat Icha? Apa dia juga menyukai Icha?" Batin Alvin
"Siapa bilang?" tanya Alvin ketus lalu menarik Kalycha untuk lebih mendekatinya.
Aditya melihat Kalycha meringis kesakitan saat tangannya ditarik paksa oleh Alvin.
"Sebaiknya Lo lepasin tangan Lo sebelum Lo gue buat malu karena ikrar palsu lo yang bilang Kaly itu pacar lo. Asal lo tahu dia itu ga merasa kalau kalian udah jadian." bisik Adit ditelinga Alvin dan Kalycha masih bisa mendengarnya.
"Sial, seterbuka itu Lo Cha sama cowok brengsek ini?" geram Alvin dalam hati.
Perlahan Alvin melepaskan genggaman tangan dipergelangan tangan Kalycha.
"Cha–." lirih Alvin menatap Kalycha dengan tatapan penuh harap kalau Kalycha akan membelanya.
"Maafin gue Vin." Kalycha hanya bisa menundukkan kepalanya.
Alvin menggebrak meja yang didepannya lalu pergi meninggalkan mereka. Dirinya kesal karena Kalycha sudah berubah tidak seperti Kalycha yang dikenalnya dulu. Alvin merindukan saat-saat dimana mereka sering berdebat dan menjahili satu dan yang lainnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan Alvin dan Icha? Kenapa Alvin pede banget bilang kalau mereka jadian dan apa ini? Yang ku lihat hanya penolakan dari Icha. Kasihan banget si Alvin." Batin Jenny yang semakin kesal saja melihat Kalycha.
"Tangan kamu ga apa-apa?" tanya Adit, ia khawatir kalau tangan Kalycha terkilir karena tadi ia melihat Alvin menarik tangannya begitu kuat.
"Aku ga apa-apa kok." ucap Kalycha berbohong karena ia sangat kesakitan saat tangan kanannya yang ditarik kuat oleh Alvin.
Aditya menyadari kalau tangan Kalycha tidak baik-baik saja. Terlihat saat Kalycha kesulitan menulis saat pelajaran kembali berlangsung. Tapi tetap saja Kalycha bandel dan memaksakan dirinya untuk menulis. Padahal Aditya sudah melarangnya.
"Kaly tangan Lo sakit, jangan dipaksa untuk nulis. Sini buku Lo biar gue yang nyalin ntar dirumah." Aditya menarik buku Kalycha tapi Kalycha tetap bersikeras menolak tawaran Aditya.
"Gue ga apa-apa Dit."
"Kenapa sih lo keras kepala banget. Gue tahu tangan Lo sakit, sebaiknya sekarang kita ke UKS periksa tangan lo."
__ADS_1
"Ga usah Dit–."
"Pak–, saya ijin bawa Kaly ke UKS Pak, sepertinya tangannya terkilir Pak." Adit mengangkat tangannya untuk permisi kepada Pak Faris yang sedang mengajar.
Faris berjalan kearah tempat duduk mereka dan melihat tangan Kalycha memang terlihat sedikit bengkak.
"Pergilah–, dan sebaiknya kamu telpon orangtuamu untuk menjemputmu. Tangan kamu ini harus diperiksakan langsung ke dokter. Kalau di UKS mungkin hanya bisa dibalut dengan elastis perban saja. Pergilah sebelum bengkaknya tambah parah."
"Terimakasih Pak."
"Apa mau bapak yang telpon Orang–?" belum selesai Faris berkata Kalycha sudah memotongnya.
"Tidak usah Pak, biar Icha sendiri saja yang telpon."
Lalu Kalycha permisi keluar dari kelasnya.
"Telpon Daddy atau Kak Haidar ya?"
Kalycha berjalan keluar kelas menuju ruang UKS.
"Telpon Daddy aja deh, kangen juga udah dua hari ga ketemu Daddy."
Kalycha mengambil ponselnya dari saku roknya.
"Hallo Dad–."
"Iya sayang ada apa? Tumben telpon dijam segini? Bukannya ini jam belajar?"
"Iya Dad, sebenarnya Icha sudah diperbolehkan pulang Dad, tangan Icha sakit dan Pak guru minta supaya tangan Icha periksa ke dokter, Dad."
"Apa? Tangan kamu sakit? Kenapa sayang? Kenapa tangan kamu bisa sakit? Apa kamu jatuh?" Serentetan pertanyaan Pram yang khawatir pada putrinya itu membuat Kalycha bingung untuk menjawabnya.
"Iya Dad, tadi Icha jatuh dan tangan Icha kebentur tembok. Kayaknya terkilir Dad." Kalycha terpaksa berbohong karena tidak mungkin ia mengatakan kalau tangannya ditarik-tarik oleh temannya sendiri.
"Ya sudah kamu tunggu ya. Nanti Daddy jemput."
Kalycha menutup panggilan teleponnya. Dan setelah sampai di ruang UKS, Kalycha langsung bertemu guru yang piket diruang itu. Tapi saat dilihat oleh gurunya tangannya tidak perlu diperban hanya saja Kalycha dimintanya untuk segera ke dokter.
Setelah menunggu hampir satu jam tiba-tiba ada panggilan dari pos security.
"PANGGILAN KEPADA SISWA YANG BERNAMA KALYCHA LIXUI BRAMASTA BAHWA JEMPUTANNYA SUDAH DATANG. TERIMAKASIH." pengumuman dari ruangan security.
"Kok tumben Daddy pake pengumuman begitu? Biasanya juga telpon Icha langsung."
Dan beberapa siswa bertanya-tanya kenapa Kalycha sudah dijemput pulang sementara jam pelajaran masih berlangsung.
Kalycha bergegas keluar dari ruang UKS berjalan menuju tempat parkiran.
Buugghhh.
"Auw." Kalycha memegang tangannya yang sakit.
"Cha Lo ga apa-apa Cha?" tanya Alvin. "Sorry gue ga sengaja Cha. Gue buru-buru, kenapa Lo mau pulang Cha?"
Kalycha langsung menyembunyikan tangan kanannya kebelakang.
"Gue ga apa-apa. Gue duluan ya. Udah ditunggu soalnya." Kalycha tidak ingin Alvin merasa bersalah karena sudah membuat tangan Kalycha terkilir, langsung pergi meninggalkan Alvin.
Alvin hanya bisa memandang punggung Kalycha yang berjalan menjauh darinya kearah parkiran sekolah.
"Loh, itukan mobil Kak Haidar, kenapa dia yang jemput bukan Daddy? Perasaan tadi aku nelpon Daddy deh, bukan nelpon dia." Kalycha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Kalycha membuka pintu mobil dan duduk disebelah Haidar.
"Kenapa Kakak yang jemput?"
"Sudah berapa kali aku bilang, aku itu cuma punya seorang adik." bentak Haidar dan membuat Kalycha yang baru selesai memasang seatbelt-nya kaget setengah mati. Pasalnya dirinya belum pernah melihat Haidar semarah itu padanya. Haidar lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Maaf, aku lupa. Kenapa sih untuk hal sepele itu saja harus diributkan?" Kalycha pun kesal melihat Haidar yang selalu marah kalau dirinya salah memanggilnya.
Haidar tidak menghiraukan ucapan Kalycha ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak aku takut jangan ngebut." lagi-lagi Kalycha salah memanggil suaminya itu. Membuat Haidar semakin menekan gas mobilnya.
"SAYAAAANG, AKU TAKUT!!!" teriak Kalycha lalu Haidar melambatkan laju mobilnya dan menepikannya ditaman kota.
Haidar memukul stir mobilnya lalu keluar dan berjalan kearah taman kemudian duduk dibangku yang berada di taman itu.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tampak marah sekali."
Kalycha pun ikut turun dari mobil dan mendekati Haidar yang sedang duduk sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kamu kenapa? Datang-datang marah ga jelas begitu? Aku kan hanya salah memanggilmu saja. Tapi kenapa kamu semarah itu? Apa salahku?" Kalycha meninggikan suaranya dia pun terbawa emosi karena saat itu dia juga menahan sakit ditangannya.
"Apa? kamu pikir aku marah hanya karena kamu salah memanggil ku? Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah melakukan kesalahan lain?" ucap Haidar yang tak kalah tinggi suaranya dengan Kalycha.
Ditaman itu hanya ada mereka berdua karena itu adalah hari kerja jadi masih sepi. Biasanya akan ramai bila sore hari.
"Kesalahan lain? Emangnya aku buat salah apa?"
"Aku salah apa? Bilang aja biar aku tahu. Kalau kamu ga kasih tahu bagaimana aku bisa tahu kalau aku salah–." Tak ada lagi kata sayang yang diucapkan Kalycha pada suaminya itu.
"Kenapa kamu menelpon Daddy bukan aku? Apa kamu sengaja ingin mempermalukan aku? Apa kamu mau Daddymu beranggapan kalau aku ini suami yang tidak bertanggung jawab, begitu?"
"Ya Tuhan, Apa salahnya aku menelpon Daddy ku, kenapa dia sampai semarah itu?"
"Emang apa salahnya?" bentak Kalycha
"Apa kamu bilang? Apa salahnya? JELAS SALAH, sekarang kamu itu ISTRIKU seharusnya kalau terjadi apa-apa denganmu, kamu harus memberitahu SUAMIMU lebih dulu bukan Daddy–."
"Aku tahu kamu itu masih BOCAH tapi mulailah belajar untuk bersikap menjadi seorang istri." Haidar menekan setiap kalimat yang membuatnya emosi.
Airmata Kalycha pun tak bisa lagi dibendungnya. Dirinya tak tahu kalau keputusannya untuk menelpon Daddynya itu ternyata salah.
"Maaf kalau aku SALAH."
"Maaf karena terpaksa buat kamu harus nikahi SEORANG BOCAH."
"Maaf kalau aku memang ga pantes untuk jadi ISTRIMU."
"Sebelum kamu menyesal terlalu jauh sebaiknya kamu CERAIKAN AKU."
Kalycha sengaja menekan setiap kata-katanya yang telah membuatnya sakit hati. Lalu berjalan meninggalkan Haidar. Baru beberapa langkah ia berjalan tangan kanannya kembali ditarik oleh Haidar.
"Kau mau kemana?"
"Auww Sakit–." Kalycha meringis saat Haidar menggenggam tangannya erat.
Haidar baru menyadari kalau tangan istrinya itu bengkak. "Tangan kamu kenapa?"
Like Monday My Receh 😍
Jangan Lupa VOTE yach 😊
__ADS_1
Tengkayu 😍