My Soulmate

My Soulmate
Terimakasih My Soulmate


__ADS_3

Sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah baru, hidup Haidar memang nyaris sempurna. Tapi disaat kesempurnaan itu melengkapi hidupnya, siapa yang menyangka jika kehidupannya akhirnya kian berubah lantaran sang istri masih berbaring ditempat tidurnya sambil berjuang untuk hidup kembali.


Haidar tak henti-hentinya menunggu Kalycha disana. Semua orang memintanya untuk beristirahat tapi ia tetap tak ingin meninggalkan istrinya itu walaupun hanya sedetik saja. Dirinya ingin ketika Kalycha sadar dan membuka matanya, Haidar lah orang pertama yang ditemui Kalycha.


"Cha, Sayang jangan tinggalkan aku dan anak kita Sayang–." suara Haidar kembali terdengar lirih ditelinga Kalycha. Dan disaat yang bersamaan airmata Kalycha mengalir disudut matanya dan membasahi pipinya.


"Sayang, kamu dengar aku? Bangunlah Cha, Mas kangen sayang–." lirih Haidar saat melihat airmata Kalycha yang menetes. Dan itu bukanlah pertama kali untuk Haidar melihat Kalycha meneteskan airmatanya.


Sebelumnya ia sudah pernah melihat Kalycha menangis dan mengira bahwa Kalycha sudah sadar. Dengan cepat ia memanggil perawat dan dokter yang berjaga untuk segera memeriksa keadaan istrinya. Tapi ternyata istrinya belum juga sadar. Dokter mengatakan itu adalah reaksi yang wajar saat pasien mendengar apa yang kita ucapkan.


Karena sudah pernah kecewa akhirnya Haidar tidak lagi memanggil dokter bila Kalycha mengeluarkan airmatanya. Ia hanya menunggu dan menghapusnya kembali.


Sudah dua hari Kalycha tidak sadarkan diri, donor darah yang dilakukan sudah berhasil menaikkan kadar Hemoglobin darahnya. Tapi yang membuat para dokter merasa heran adalah penyebab Kalycha belum juga sadarkan diri. Semua dokter yang merawat Kalycha dan termasuk juga Helsa adik iparnya sedang mencari apa yang menjadi penyebab belum sadarnya Kalycha.


Seorang dokter datang keruangan perawatan Kalycha, ia membawa seorang bayi yang menangis dengan kencang.


"Pak, sepertinya bayi anda merindukan kalian dia menangis terus dari tadi Pak. Silahkan Bapak menggendongnya sebentar saja supaya bayinya berhenti menangis. Kasihan bayi yang lainnya terganggu karena tangisan bayi bapak yang tidak mau berhenti menangis." jelas dokter Widia.


Widia melihat Haidar ragu untuk menggendong bayinya. Bayi laki-laki yang belum sempat ia lihat karena Haidar terus mendampingi Kalycha.


"Nenek dan Kakeknya sudah berusaha membujuknya dan menimangnya supaya bayi bapak berhenti menangis. Tapi sepertinya bayi Bapak merindukan kedua orangtuanya." jelas Widia lagi.


Deg.


Hati Haidar merasa tercubit karena sejak putranya itu lahir ia belum pernah melihatnya kecuali saat bayinya berada diatas dada istrinya. Saat dokter melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini).


Haidar mengulurkan tangannya menerima putranya yang belum sempat ia beri nama. Dengan tangan yang gemetar dan terasa kaku Ia menggendong bayi mungil itu.


"Anak Ayah, maafkan Ayah ya nak. Ayah belum sempat menggendongmu karena Ayah harus menjaga Mommy kamu sayang." Dan terang saja bayi mereka pun langsung terdiam ketika merasakan pelukan tubuh Haidar yang hangat. Haidar terus mencium wajah putranya. Ia merasa bersalah karena mengabaikan putranya itu. Tapi Haidar yakin kalau putranya tak kehilangan kasih sayang dari para Nenek dan Kakeknya.


"Ma-maas–." Haidar mendengar suara yang begitu dirindukannya begitu lemah dan hampir tak terdengar. Ia langsung melihat Kalycha yang sudah membuka matanya.


Ternyata yang mengusik Kalycha adalah tangisan bayinya. Naluri keibuannya serasa memanggilnya untuk sadar kembali. Karena Kalycha tidak ingin nasib anaknya sama dengan dirinya yang ditinggal Ibunya.


"Sayang, kamu sudah bangun." Haidar langsung mencium kening Kalycha. Ingin rasanya ia langsung memeluk istrinya itu tapi saat ini dia sedang menggendong anaknya. "Baby kita sangat merindukanmu sayang." Haidar memperlihatkan putranya yang berada dalam gendongannya.


"Bu Kalycha sudah sadar? Sebentar ya Pak biar saya periksa dulu." Widia segera memeriksa keadaan Kalycha dan segera meminta perawat untuk melakukan beberapa tes Laboratorium.


"Mas–." Kalycha ingin kembali berbicara tapi Haidar meletakkan jari telunjuknya dibibir istrinya itu setelah dokter Widia melepaskan sungkup oksigen dari mulutnya.


"Jangan banyak bicara dulu." Lalu Haidar memberikan bayinya kepada perawat yang datang bersama dokter Widia. "Sus, tolong jaga bayi saya sebentar." pintanya.


Perawat itu pun menerima bayinya. Lalu keluar membawa bayinya kembali keruangan bayi.


"Ibu Kalycha sebentar lagi sudah bisa dipindahkan keruangan perawatan biasa. Selamat ya Pak istrinya sudah berhasil melewati masa komanya." ucap dokter Widia tulus pada Haidar. "Selamat ya Bu Icha, sekarang sudah menjadi Ibu. Dan Ibu harus semangat untuk pulih kembali. Kasihan suaminya, selama Ibu koma ga pernah beranjak sedikitpun dari sisi Ibu. Bayi Ibu juga sudah menunggu untuk diberi ASI oleh Ibunya."


"Terimakasih dok–." lirih Kalycha.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, Bu–." dokter Widia pun meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Terimakasih Sayang–, terimakasih sudah berjuang untuk mas dan juga bayi kita. Terimakasih karena sudah kembali." Haidar menghujani wajah Kalycha dengan ciuman.


"Maafkan aku Mas, aku sudah membuat Mas menunggu lama dengan perasaan khawatir." lirihnya pelan.


"Ga apa-apa Sayang, yang penting sekarang kamu sudah sadar dan sudah bersama Mas disini." Haidar tersenyum sambil menyeka airmatanya yang kembali menetes.


"Apa benar kata dokter Widia? Kalau Mas, ga pernah ninggalin aku disini?" Haidar menganggukkan kepalanya sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Terimakasih ya Mas, dan maafkan aku–." lirih Kalycha lagi. "Maafkan aku yang sudah melupakan Mas, maafkan aku yang sempat ga bisa mengingat siapa Mas dan anak kita. Maafkan aku Mas–, dan terimakasih karena Mas dengan setia sudah menungguku. Kamu memang Belahan Jiwaku yang dipilihkan Tuhan untukku. Terimakasih My Soulmate."

__ADS_1


"Kamu ga perlu berterimakasih ataupun minta maat sama Mas, itu sudah menjadi kewajiban Mas untuk menjaga kamu sayang." ucap Haidar sambil mencium punggung tangan Kalycha.


Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Kalycha dipindahkan keruangan perawatan biasa. Kembali ke kamar VIP yang sudah disiapkan Haidar sebelum Kalycha jatuh koma.


Kalycha melihat semua keluarganya sudah berkumpul disana. Setelah dipindahkan ketempat tidurnya dari atas brankar yang mendorongnya keruangan itu, mata Kalycha untuk pertama kalinya hanya tertuju kepada Daddynya. Airmatanya menetas saat mengingat bagaimana ia bertemu dengan Mommynya di alam bawa sadarnya.


"Daddy–." Kalycha merentangkan tangannya memanggil sosok Ayah yang begitu dirindukannya. Pram sangat heran melihat tingkah putrinya itu tapi ia pun melangkahkan kakinya mendekati Kalycha dan memeluknya.


"Daddy–, Aaaa... aaaa." Kalycha menangis sejadi-jadinya. Ia teringat betapa kesepiannya Mommynya disana.


Pram bingung dengan sikap Kalycha. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah putrinya itu.


"Kamu kenapa sayang?" diusapnya wajah dan rambut Kalycha.


Kalycha tak menjawab pertanyaan Pram, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mommy begitu kesepian Dad, ternyata Mommy belum rela dengan Dad yang menikah lagi dengan Bunda. Mommy cemburu kenapa Dad harus menikah dengan cinta pertama Daddy karena selama ini Mommy begitu cemburu dengan Daddy yang tidak pernah bisa mencintai Mommy seperti Daddy mencintai Bunda. Tapi sekarang Mommy sudah ikhlas Dad, sekarang Mommy sudah bahagia karena Daddy dan aku bahagia disini. Jangan pernah sia-sia Bunda seperti dulu Daddy pernah menyia-nyiakan Mommy. Icha tahu kalau sebenarnya Daddy juga mencintai Mommy tapi Daddy ga pernah tunjukin perasaan Daddy yang sebenarnya kepada Mommy." Kalycha kembali memeluk Pram dengan erat.


Bukan hanya Pram tapi semua orang yang berada diruangan itu juga merasa heran dengan Kalycha yang tiba-tiba memeluk Pram. Haidar sudah sangat cemburu meskipun Pram adalah Daddy kandung Kalycha sendiri, ia tidak rela bila ada pria lain yang memeluknya begitu lama. Tapi ia menahan cemburunya itu karena ia tahu kalau istrinyalah yang memeluk Pram begitu lama.


"Sayang–." Pram yang merasa heran kembali menatap wajah putrinya itu.


"Icha, kangen Mommy Dad–."


Deg.


Pram tiba-tiba terdiam dan terbujur kaku.


"Icha mohon setelah umur anak Icha usianya 3 bulan kita berangkat ke Jerman Dad. Icha pengen nyekar di makam Mommy." mendengar pemintaan putrinya Pram pun kembali memeluk Kalycha. Ia tak menyangka kalau permintaan Kalycha adalah menemui makam istrinya. Pram juga sadar bahwa sudah 3 tahun ia tidak pernah lagi datang ke makam istrinya terkahir kali ia datang saat si kembar berusia satu tahun. Ia membawa Nayla dan kedua putranya kesana. Mengenalkan putranya kepada istrinya.


"Iya sayang, maafkan Daddy yang hampir melupakan Mommy kamu." hanya itu yang dapat terucap dari bibir Pramudja.


Semua yang menatap mereka kembali tersenyum dan bergantian mengucapkan selamat kepada Kalycha dan Haidar.


"Bu–." Icha memanggil Halimah ibu mertuanya. Lalu Halimah memeluk menantu sekaligus putri bungsunya itu karena Halimah menganggap Kalycha sebagai putrinya bukan sebagai menantunya.


"Itu sudah menjadi tugas dan kewajibannya sayang. Dia sudah memilih kamu untuk menjadi istrinya dan dia harus menjadi pelindung untuk keluarga kalian. Kamu ga perlu berterimakasih begitu sama Ibu. Justru Ibu yang sangat berterimakasih padamu karena kamu sudah memberi gelar baru untuk Ibu, sekarang ibu sudah menjadi Enin. Terimakasih ya sayang kamu sudah memberikan Ibu dan Ayah cucu yang manis dan cakep. Terimakasih karena kamu mau terus berjuang untuk bangun dari komamu. Terimakasih karena sudah mendampingi putra Ibu satu-satunya." Halimah mencium kening Kalycha.


"Dar, siapa nama baby boy ini?" tanya Deon yang sibuk menggendong bayi mereka dan berebut dengan Pram dan juga Abas.


Haidar baru teringat kalau dia belum menyiapkan nama untuk putranya karena saat Kalycha hamil, Haidar dan Kalycha tidak mengetahui jenis kelamin anak mereka.


"Bayanaka Arsya Anaz." ucap Haidar dan semua langsung menatap Ayah baru itu.


"Mas sudah menyiapkan namanya?" tanya Kalycha.


"Belum, tapi itu terlintas begitu saja. Artinya kebahagiaan yang luar biasa." ucap Haidar.


"Kenapa nama belakangnya Anaz bukan Yudistira?" Protes Deon sang Ayah.


"Biar adil, Haidar pake nama tengah Haidar aja. Biar Ayah sama Papa ga saling cemburu."


"Saling cemburu?" Deon dan Abas saling menatap lalu mengerutkan dahinya.


"Nanti kalau Haidar pakai nama Yudistira, papa Abas cemburu karna Haidar ga pake nama Prakasa. Begitu juga sebaliknya. Jadi biar adil Haidar pakai nama tengah Haidar saja." jelasnya dan semua orang tertawa dan mengangguk setuju pada pemikiran Haidar.


"Tapi Icha ga suka nama tengah Mas Hai." Tiba-tiba saja Kalycha cemberut dan membuat Halimah bingung.


"Memangnya kenapa dengan nama tengah Haidar sayang?" tanya Halimah pada Ibu baru itu.


"Nama itu panggilan sayang mantannya Mas Hai Bu–, Icha ga suka."

__ADS_1


"Hahahaha–. Ternyata istri mas ini masih aja cemburu. Itu sudah jadi masa lalu Mas sayang. Sekarang direncana masa depan mas hanya ada kamu dan anak-anak kita nanti." tutur Haidar lalu memeluk Kalycha.


"Sebaiknya Kakak jangan egois. Pikirkan lagi untuk menambah momongan. Golongan darah Kak Icha itu sangat langka jadi sebelum merencanakan kehamilan Kak Icha yang berikutnya, Kakak harus menyiapkan banyak darah dulu." jelas Helsa dan Haidar mengangguk setuju.


"Lagian aku juga belum mau hamil lagi Kak. Naka juga umurnya baru berapa hari, ini udah ngomongin hamil lagi." gerutu Kalycha.


"Naka?" semua mengucap nama itu serentak.


"Iya, panggilannya Naka aja, biar keren." ucap Icha sambil tersenyum.


"Baby Naka sepertinya suka dengan panggilannya." ucap Abas yang sekarang baru mendapat giliran untuk menggendong cucunya. Dan mereka pun kembali tersenyum bahagia.


"Oeekk.... Oeeekkk..." suara tangisan baby Naka memecahnya cerita keseriusan obrolan mereka.


"Sayang sepertinya baby Naka laper." ucap Yetti lalu memberikan bayi mungil itu kembali kepangkuan Ibunya.


Mereka para pria pun keluar dari ruangan Kalycha karena Kalycha akan menyusui bayinya.


Setelah selesai memberi bayinya ASI tiba-tiba saja.


Protoototooot...tot..tot..tot... bayi mungil itu kentut.


"Mas, kayaknya Naka Pup. Mas ganti popoknya ya. Icha masih susah gerak mas." ucap Kalycha sambil menyerahkan putranya kepada suaminya.


Haidar pun menerima putranya dengan perasaan geli.


"Helsaaaaaaa.... bantuin Kakak ganti popok baby Naka." teriak Haidar karena saat itu Helsa berada diluar ruangan Kalycha.


Mendengar teriakan Haidar, baby Naka pun menangis karena terkejut.


"Oeeekkk Oekk.. ooeeekkk..."


"Apaan sih Kak teriak-teriak?" tanya Helsa yang juga sama terkejutnya mendengar teriakan Haidar.


"Bantuin Kakak, gantiin popoknya Naka." lirihnya.


"Gue kerjain juga nih kak Haidar." Helsa tahu kalau Kakaknya itu sangat jijik dengan kotoran.


"Belajar dong kak. Jangan buatnya aja pandai tapi ngurus anaknya ga pandai." omel Helsa.


"Nih, mulut udah ga berfilter lagi ya? Mentang-mentang udah nikah." Haidar mencomot mulut Helsa.


"Issh tangan kakak bau tahu Kak. Bau pup nya Naka." Helsa kesal tapi Haidar malah tertawa.


Niatnya mau mengerjai Haidar pun terlupakan. Sekarang dia membantu Haidar dan mengajari Kakaknya itu cara membersihkan bayi saat BAB dan cara mengganti popoknya. Meskipun Helsa belum memiliki anak tapi dia sudah sering melakukannya.


Kini kebahagiaan keluarga mereka sudah lengkap dengan kehadiran putra mereka.


...TAMAT...


Terimakasih Author ucapkan untuk para pembaca yang tetap setia menunggu updatenya My Soulmate.


Maaf belakangan ini Author kurang sehat.


Mungkin untuk Update Extra partnya agak slow motion ya 😍😍


Terimakasih buat semua dukungan kalian.


Sampai jumpa dilain kesempatan.

__ADS_1


Jangan lupa pantengin Novel Author yang lainnya ya.


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2