
Kalycha sudah kembali ke kamar perawatannya. Seperti yang diminta Nayla, Kalycha pun memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum ia makan.
"Mas, Icha pengen Sate Kambing Mas." ucapnya saat Haidar membantunya untuk berjalan ke kamar mandi.
"Ini masih pagi Cha, mana ada orang jualan sate pagi-pagi begini." ucap Haidar.
"Sayang, kamu ga usah pikirkan itu. Papa yang akan usahakan bagaimana pun caranya harus mendapatkan sate kambing itu sekarang biar cucu dan menantu Mama senang." ucap Yetti yang ternyata sudah datang bersama dengan Abas.
Sementara Abas yang mendengar ucapan istrinya membulatkan matanya sambil memijat dahinya karena ia setuju dengan Haidar mana mungkin ada yang berjualan sate dipagi hari.
Tapi melihat tatapan istrinya yang seperti ingin menerkamnya akhirnya ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Dimas, cari sate kambing sekarang juga bawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda secepatnya paling lama 30 menit?" perintahnya pada Dimas.
Dimas yang juga Asisten Haidar lah yang menjadi sasaran Abas. "Gila mau dicari dimana sate kambing pagi-pagi begini?'" batin Dimas tapi karena itu adalah perintah yang tak terbantahkan akhirnya ia pun mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari sate kambing bagaimana pun caranya.
Sementara Nayla menatap Pram dengan tatapan tajam. Pram bingung dengan tatapan istrinya itu tapi masih pura-pura tidak melihatnya.
"Mas ga peka banget sih? Tadi Icha minta dibeliin sate kambing Mas–." gerutu Nayla.
"Apa? Sate Kambing?" Pram terkejut kenapa tiba-tiba Kalycha meminta dibelikan sate kambing sementara setahunya Kalycha saja belum pernah memakannya.
"Iya tadi Icha bilang pengen makan sate kambing Mas, Haidar ga bisa beliin karena sekarang Haidar sedang menemani Icha mandi." sambung Nayla sambil menatap kesal padanya.
"Kenapa tiba-tiba Icha minta dibeliin sate kambing? Sama seperti Lona mau melahirkan Icha dulu." Batin Pram hanya tersenyum saat mengingat almarhum istrinya dulu.
"Mana ada yang jual sate kambing pagi-pagi begini Reva?" ucap Pram lembut.
"Itu Pak Abas sudah mengerahkan anak buahnya untuk cari sate kambing, masa mas mau kalah sih sama Pak Abas? Mas kan Daddynya Icha, sementara Pak Abas yang bukan siapa-siapanya Icha saja rela berkorban untuk mencarikan Icha sate Kambing. Kok ini Mas yang Daddy kandungnya malah diam saja." Nayla sengaja memanas-manasi suaminya itu tentu saja ucapannya itu tidak didengar oleh yang lain.
"Roy, kamu tolong carikan sate kambing sekarang juga." Perintah Pram yang melihat Roy baru saja datang.
"Apa-apaan nih si Bos? Baru juga datang udah langsung ditodong sama perintah begitu." gerutu Roy dalam hati.
"Baik Tuan." ucap Roy dengan terpaksa.
Helsa melihat suaminya yang baru saja datang tapi sudah pergi lagi sebelum bertemu dengannya, membuatnya merasa kesal. Ia tak tahu kalau suaminya itu baru saja mendapatkan perintah dari atasannya.
Satu Jam Berlalu
Orang-orang yang dimintai untuk membelikan sate kambing pun tak kunjung tiba. Hanya melaporkan bahwa mereka belum mendapatkan permintaan Tuannya itu dan masih terus mencari.
"Sayang, kamu makan ini dulu saja yah. Tadi bunda udah masakin opor ayam kesukaan kamu." Nayla membujuk Kalycha untuk makan supaya saat melahirkan nanti ia tidak kehabisan tenaga.
"Mas suapin yah–." Haidar meminta piring yang ditangan ibu mertuanya itu dan mulai menyuapi Kalycha.
"Tapi Icha pengennya sate kambing Mas–." rengeknya sambil menahan sakit karena perutnya kembali tegang.
"Iya sayang, tapi makan ini dulu ya untuk ganjel perut kamu Sayang. Kasihan dedeknya yang sedang berjuang didalam cari jalan keluarnya tapi kehabisan tenaga karena Mommynya ga mau makan." Bujuk Haidar. "Nanti kalau satenya datang kamu kan bisa makan lagi Sayang."
Akhirnya Kalycha pun mau menerima suapan dari suaminya itu. Ternyata masakan Bundanya tetap the best untuknya. Sehingga tanpa disadarinya makanan yang ditangan Haidar sudah habis ludes dimakannya.
"Kak, aku pulang dulu yah dari pulang operasi tadi belum istirahat. Sekalian aku mau ganti baju dulu." ucap Helsa dan dibalas anggukan oleh Kalycha.
"Tapi Kak Helsa balik lagi kan? Aku takut Mas Hai bingung nanti Kak–."
"Kok kesannya kamu nyepelein suamimu sih sayang–." protes Haidar.
"Kenyataannya kan begitu Mas–, Mas kalau disuruh baca-baca buku tentang kehamilan Mas selalu ga punya waktu."
"Iya Maaf, karena Mas memang sibuk. Tapi Mas janji akan selalu ada untukmu Sayang." Kalycha tidak mau berdebat lagi dan memilih untuk diam.
"Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Haidar karena dari tadi belum melihat adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
"Naik taksi aja Kak–." jawab Helsa cepat.
"Kamu ga bawa mobil?"
"Tadi subuh diantar Mas Roy. Tapi ga tahu dia pergi kemana." Helsa yang tak tahu kalau suaminya itu mendapat perintah dari Pram atasannya dan itu membuatnya kesal karena ia sudah merasa lelah ingin istirahat. Toh proses lahiran Kalycha juga masih beberapa jam lagi sehingga masih sempat untuknya istirahat sebentar.
"Ya udah kamu bawa mobil Kakak saja." Haidar menyerahkan kunci mobilnya pada Helsa.
"Terus nanti Kakak gimana?" Helsa merasa tak enak kalau harus membawa pulang mobil Haidar bukan karena segan pada Kakaknya sendiri tapi karena suaminya yang tidak mengijinkannya untuknya menyetir sendiri.
__ADS_1
"Udah ga apa-apa, pake aja. Lagian Kakak kan ga kemana-mana, Kakak akan terus jagain Icha dan ponakan kamu disini."
Helsa pun tak dapat menolak lagi keinginan Kakaknya itu. Dan ia pun segera pergi dari ruangan Kalycha dan kembali ke apartemennya.
5 Jam Berlalu
Sakit diperut Kalycha sudah semakin sering dan saat ini Kalycha sudah dipindahkan keruangan bersalin. Hanya Haidar dan Halimah yang menemaninya. Sebenarnya Kalycha ingin Nayla yang mendampinginya tapi berhubung karena Bundanya itu sedang hamil muda akhirnya dan takut jadi ikut kontraksi jadi Kalycha ditemani oleh mertuanya.
"Bu sakit Bu–. Icha udah ga tahan Bu." rengek Kalycha pada Halimah.
"Sabar ya sayang sebentar lagi. Kamu pasti kuat." Halimah memegang tangan kiri Kalycha sambil mengusap-usap pinggangnya.
"Apa kita operasi saja sayang?" usul Haidar. Sejak awal ia sudah meminta Kalycha untuk operasi saja tapi Kalycha bersikeras ingin melahirkan secara normal.
"Tanggung kalau operasi sekarang Dar, Icha sudah pembukaan 8, dan kontraksinya juga bagus. Mungkin sejam lagi Icha sudah melahirkan.
"Aaaakkh, Bu kayaknya ketuban Icha merembes lagi Bu." ucap Kalycha dan benar saja air yang keluar dari miliknya itu sudah merembes sampai ke lantai.
Bidan Ayu segera mendekati Kalycha dan melihat ternyata sudah terlihat rambut dipintu lahirnya.
"Dokter sepertinya sudah pembukaan lengkap dok–." ucap Ayu lalu segera memakai APDnya kembali begitu juga dengan dokter Widia yang berjalan keluar dari ruangan istirahatnya.
"Wah, sepertinya ia ya. Ini rambutnya sudah kelihatan. Ibunya semangat ya, kalau sakit tarik nafas dulu. Kalau saya suruh ngejan baru ngejan ya Bu–." ucap dokter Widia.
"Ayo kakinya angkat kesini Bu–." ucap Ayu sambil membantu Kalycha mengangkat kakinya pada alat penyangga Kaki Bed Genokologi itu.
"Bu, perhatikan saya yah. Kalau sakitnya datang Ibu tarik nafas yang dalam terus hembuskan sambil mengejan tanpa mengeluarkan suara ya Bu. Jangan lupa kepalanya diangkat keatas, Ibu lihat pusat Ibu dan rangkul kedua paha Ibu." jelas Ayu. "Ayo latihan dulu, saya mau lihat Ibu benar ga ngejannya." Ayu membantu Kalycha untuk merangkul pahanya.
"Ayo Bu, sekarang ini posisinya lagi sakit kan?" ucap dokter Widia.
"Eeeerrrrggghhh." Kalycha mengejan dengan suaranya yang setengah berteriak.
"Salah Ibu, tadi saya bilang tanpa suara yah. Caranya udah bener tapi tanpa suara ya Bu, buat ya diam-diam kan Bu, biar ga kedengeran sama orang, masa pas mau melahirkan suaranya keras dan terdengar seperti itu?" goda Ayu. Halimah tersenyum mendengar ucapan Bidan Ayu.
"Ayo sayang Kamu pasti bisa." Haidar mencium kening Kalycha dan mengusap keringat Kalycha.
"Bentar Mas, Icha capek." lirih Kalycha dengan nafas yang terengah-engah.
"Boleh, tapi ga boleh lama-lama ya Bu, kasihan bayinya yang udah pengen keluar." ucap dokter Widia.
"Iya pinter, terus Bu. Ayo nafasnya jangan putus-putus." Suara Bidan Ayu terus menyemangati Kalycha. "Iya pinter, dorong lagi dikit lagi Bu."
"Haaah." Kalycha menghembuskan nafasnya kasar, ia merasa lelah dan ingin istirahat sebentar lalu mengambil nafasnya.
Saat mengejan nafasnya seperti ingin terpisah dari nyawanya, wajahnya terasa panas. Matanya seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Bu, ini sebentar lagi loh ayo Bu tanggung nih nanti kepala anaknya jadi panjang Bu." ucap Bidan Ayu.
"Ayo Sayang kamu pasti bisa." Haidar terus menyemangati Kalycha tak henti-hentinya ia mencium puncak kepalanya Kalycha.
Kalycha kembali menarik nafasnya ia bertekad kali ini harus bisa. Ditariknya nafasnya dalam-dalam lalu dikeluarkannya dengan tenaga yang kuat sambil mendorong anaknya untuk keluar dari rahimnya. Airmatanya menetes dengan sendirinya, ia terus berusaha mengembuskan nafasnya tanpa memotong-motongnya.
"Pinter Bu, terus dikit lagi–." ucap Bidan Ayu.
"Dikit lagi sayang, si dedek udah keluar kepalanya sayang." suara Haidar yerdengar sangat senang tapi airmatanya juga terus mengucur deras.
"Ooeee... Oeee... Oeee..." tangisan bayi itu memenuhi ruangan bersalin itu.
"Alhamdulillah–." ucap semua yang berada didalam ruangan itu.
Kalycha bernafas lega, Haidar langsung menghujani wajahnya dengan ciuman. Semua keluarganya yang menunggu diluar ruangan persalinan juga bernafas lega dan mengucap syukur setelah mendengar tangisan bayi itu.
"Terimakasih Sayang. Terimakasih sudah berjuang untuk anak kita." bisik Haidar ditelinga Kalycha. Dan Kalycha hanya tersenyum.
Dengan cepat dokter Widia mengangkat bayinya keatas dada Kalycha agar bayi yang baru lahir itu mencari sumber makanannya sendiri.
Ini dinamakan dengan istilah IMD (Inisiasi menyusui dini). Inisiasi menyusui dini adalah proses untuk memberikan ASI segera setelah bayi dilahirkan yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu 30 menit sampai 1 jam pasca persalinan.
Proses ini awal yang tepat bagi Ibu dan bayi untuk memulai ASI Eksklusif atau sebelum memulai proses menyusui yang sesungguhnya.
Inisiasi menyusui dini tidak hanya memudahkan proses menyusui ASI, tapi juga menjadi momen ‘perkenalan’ yang dapat memperkuat ikatan antara Ibu dan bayi.
Ini karena saat melakukan proses tersebut, ada sentuhan langsung antara Ibu dan bayi atau yang biasa kita dengar skin to skin contact.
__ADS_1
Setelah bayi mungil itu berhasil mendapatkan sumber makanannya ia pun segera dibersihkan.
"Selamat ya Bu Pak, bayinya Laki-laki." ucap dokter Widia.
"Terimakasih dok–." jawab Kalycha dan Haidar bersamaan.
Halimah memantau Bidan Ayu saat membersihkan tubuh bayi mereka sementara Haidar terus mendampingi Kalycha disampingnya.
"Sekarang kita keluarkan plasentanya ya Bu." Kalycha mengangguk pelan.
"Mas aku ngantuk–." ucap Kalycha karena matanya terasa berat sekali, tubuhnya terasa remuk setelah perjuangan panjangnya.
"Ibu, jangan tidur dulu. Buka matanya Bu–." ucap Bidan Tina yang juga ikut mendampingi dokter Widia. Ia menepuk-nepuk bahu Kalycha untuk membuka matanya tapi Kalycha masih malas untuk membuka matanya. Ia sangat ngantuk dan lelah setelah berjam-jam menahan sakit.
"Sayang, jangan tidur dulu sayang?" Haidar mengusap lembut pipi Kalycha.
"Bentar Mas, aku ngantuk banget. Aku capek Mas." lirihnya.
"Iya sayang, tapi kamu harus buka mata dulu sampai dokter selesai menyelesaikan pekerjaannya sayang."
Kalycha perlahan membuka matanya. Ia tersenyum melihat suaminya yang begitu setia menemaninya. Karena kebanyakan pasien yang dilihatnya begitu anak mereka lahir semua perhatian suami dan keluarganya akan berpindah kepada anak mereka yang baru lahir dan membiarkan istri mereka sendirian bersama dokter dan bidan-bidan yang menolongnya.
Tapi berbeda dengan Haidar ia tetap mendampingi Kalycha disisinya. Genggaman tangannya yang tak pernah lepas dari tangan Kalycha. Ciuman yang bertubi-tubi menghujani wajahnya.
"Bu, plasentanya sudah keluarnya. Sekarang tinggal proses menjahit robekannya ya Bu." ucap dokter Widia. "Ibu boleh menggigit kain kalau sakit ya Bu."
"Iya dok–." ucap Kalycha pelan tapi dokter Widia masih dapat mendengarnya.
Kalycha hanya meringis pelan saat mendapat tusukan-tusukan jarum hecting itu. Ia merasa lebih sakit saat menahan kontraksi dari pada saat di hecting.
"Sakit ya Bu? Sabar ya ini tinggal dua jahitan lagi." ucap dokter Widia lagi. Kalycha mengangguk pelan.
"Mas, aku ngantuk banget, Aku boleh tidur ya." lirih Kalycha pelan.
"Bu, buka matanya, ini tinggal sebentar lagi Bu." ucap Bidan Tina sambil menggunting benang jahitan yang ditangan dokter Widia.
Tapi Kalycha tetap tidak menghiraukan ucapan bidan Tina.
"Sayang buka matanya dulu." Haidar mengelus lembut rambut Kalycha lalu mencium keningnya. Tapi Haidar merasa ada yang aneh dari istrinya itu. Tiba-tiba saja wajah Kalycha berubah sangat pucat dan dingin.
"Pendarahan–." ucap Widia spontan. "Tolong telepon petugas Bank darah. Ini darahnya mengalir terus. Dan juga petugas Laboratorium untuk cek HBnya (Hemoglobin)" perintahnya kepada Bidan Santi.
"Dok, ada apa? Kenapa dengan istri saya dok?" Haidar kalut ia melihat darah yang begitu banyak mengalir dari rahim istrinya.
"Sebaiknya Bapak tunggu diluar dulu ya Pak. Supaya memudahkan kami untuk menolong istri Bapak." pinta dokter Widia.
"Tapi dok–." belum selesai Haidar mengucapkan kalimatnya dokter Widia sudah memotongnya.
"Tolong kerjasamanya Pak!" lirih dokter Widia seperti memohon.
Dengan berat hati Haidar melepaskan tangan Kalycha dari genggamannya.
"Tolong selamatkan istri saya dok." Haidar memohon dengan deraian airmata. Pikirannya kacau, bagaimana mungkin Kalycha bisa sampai pendarahan dimana letak kesalahannya. Tadi Kalycha sudaj tersenyum padanya ia hanya ingin tidur sebentar saja. Kenapa bisa sampai pendarahan.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin Pak." Haidar melangkahkan keluar dari ruangan itu.
"Cepat pasang infusnya kanan kiri. Pasang transfusi set. Pasang oksigen." perintah Widia pada Bidan-bidan yang membantunya. Haidar masih dapat mendengarnya dengan jelas kalau dokter Widia berusaha menolong istrinya.
"Baik dok–."
"Bagaimana dengan darahnya? Apa sudah datang?" tanya dokter Widia. Ia sibuk meng-USG rahim Kalycha.
"Dok, golongan darah pasien AB Rhesus Negatif dok. Dan untuk stock darah itu kita tidak punya dok? Karena itu adalah golongan darah yang sangat langka dok." jawab petugas Bank darah yang sudah berada diruangan itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh ini? Kenapa tidak ku pastikan dulu golongan darahnya sebelum aku menolong persalinannya. Bagaimana mungkin dia memiliki golongan darah yang langka?" Batin Widia, ia sangat menyesali tindakannya ia tidak tahu kalau Kalycha adalah anak blasteran dan golongan darahnya mengikuti Ilona Mommynya.
Widia berusaha tetap tenang mencari sumber pendarahan Kalycha.
"Ayo Wid, kamu pasti bisa." Widia menyemangati dirinya sendiri.
2200 lebih kata. Semoga Kalian terhibur 😊
Kalau Kalian juga mau menghibur Author gampang kok.
__ADS_1
Tinggalkan aja jejak Kalian dan jangan Lupa komen yach 😍