My Soulmate

My Soulmate
Yang–, Yuk!!!


__ADS_3

Kalycha masih menatap tajam pada Anita yang baru pergi meninggalkan meja mereka.


Semua orang sedang mendengarkan kata sambutan dari COE Perusahaan itu.


"Assalamualaikum wr.wb." Pram membuka salam dengan para tamu yang hadir. Lalu disambut "Waalaikumsalam wr.wb."


"Disini tak banyak yang akan saya sampaikan, saya cuma ingin mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan sekalian dan panitia pelaksana acara ini tanpa kalian Acara ini mungkin tidak akan terlaksana. Acara Family Gathering ini sudah menjadi rutinitas Perusahaan setiap tahunnya, kali ini kita melaksanakannya bertepatan di hari Kasih Sayang atau Valentine day besok. Kasih sayang kita pada keluarga atau pada orang yang kita cintai tentulah bukan hanya berlangsung satu hari itu saja atau besok saja. Kita mencintai keluarga kita setiap harinya sepanjang usia kita bahkan kita juga harus mencintai pekerjaan kita supaya dalam menjalaninya kita lebih ikhlas dan ridho dan rezeki kita pun dilancarkan."


"Amin–." disambut semua orang.


"Dan malam ini mungkin hanya malam hiburan biasa malam bebas dan nanti susunan acaranya lebih tepatnya akan di sampaikan oleh Roy atau pun Helsa."


Saat menyebut nama Helsa semua orang penasaran siapakah gerangan pemilik nama itu. Karena setahu mereka tak ada Karyawan yang bernama Helsa bekerja di Perusahaan itu.


"Dan untuk tidak memperpanjang waktu dengan menyebut Bismillahirrahmanirrahim maka Acara Family Gathering Perusahaan Liemasta Group resmi saya buka. Tuk..tuk..tuk.."


Sambutan tepuk tangan dari semua hadirin yang hadir malam itu memeriahkan acara itu.


"Terimakasih kami ucapan kepada Tuan Pramudja yang telah bersedia untuk membuka acara ini. Baiklah seperti yang Tuan Pramudja sampaikan tadi, susunan Acara Family Gathering ini akan disampaikan oleh Roy dan juga Helsa, mereka ini pasangan calon pengantin bukan ya?"Goda sang MC yang bernama Indra yang tak lain adalah sahabat Roy.


Wajah Helsa memanas, sementara Roy tersenyum saat dirinya disebut pasangan calon pengantin.


"Mari kita sambut pasangan Roy dan Helsa, mereka yang akan membacakan susunan acara untuk besok!" Indra selalu melebih-lebihkan ucapannya, sengaja untuk membuat para tamu terhibur.


Roy mengulurkan tangannya dan disambut oleh Helsa. Roy sangat tampan dengan setelan jas resmi begitu pula dengan Helsa yang saat anggun dengan gaun berwarna dusty. Roy mengalungkan tangan Helsa dilengannya. Mereka tak kalah dengan pasangan-pasangan yang akan membacakan nominasi penghargaan di acara-acara bergensi ditelevisi.


Semua mata memandang kearah mereka yang membuat mereka penasaran bukanlah pada Roy yang sering mereka temui dikantor melainkan pada gadis yang berdiri disamping Roy itu.


"Sialan lo Ndra–," Roy berbisik sambil meninju pelan perut sahabatnya itu.


"Aku dianiaya pemirsa–. Tolong aku!!" lirih Indra pura-pura kesakitan lalu menyerahkan mikrofon pada Roy.


"Jangan percaya sama yang di omongin Indra barusan. Tapi didoain aja biar cepat terlaksana." ucap Roy dengan datar. Semua orang langsung menyoraki Roy. Ada yang meng-Aminkan, ada juga yang tidak senang terutama kaum pria yang menatap kagum pada sosok wanita yang disampingnya itu. Apalagi Edwin yang sudah sangat tertarik dengan Helsa.


Sementara sang gadis yang sedang jadi Primadona malam itu terkejut dan langsung melirik pada Roy, lalu melemparkan senyumnya pada semua yang memandang kepada mereka.


"Terimakasih buat kesempatan yang diberikan untuk kami berdua. Disini yang penasaran siapa bidadari yang berdiri disampingku ini ditahan aja yah rasa penasarannya. Dipandang boleh, disentuh? Jangan coba-coba nanti taringnya keluar. Haha–." Roy tertawa sendiri dan penonton pun ada juga yang mertawakan tingkah konyol Roy.


"Udah seperti kayak stand up komedi aja sih Kak Roy. Awas aja yah ntar ku balas sampe Kakak klepek-klepek."


"Intermeso ya kawan-kawan jangan diambil hati tapi masukkan ke jantung aja. Aahk, sakit tapi ga berdarah." Roy memegang dadanya sambil mencondongkan badannya kebelakang. Helsa baru tahu kalau Roy itu ternyata memiliki humor yang tinggi.


"Ternyata si Babang bisa ngelawak juga."


Riuh tepuk tangan dan gelak tawa menghiasi acara malam itu.


"Neng sariawan atau bau mulut?" goda Roy dan dibalas senyuman tipis dari Helsa.


"Selamat malam semuanya? Udah puas dong dari tadi dengar gelak tawa dari si Babang tamvan?" Helsa bertanya pada tamu yang melihat kearah mereka sambil mengarahkan mikrofonnya kepada penonton.


"Apa belum?" Helsa menjawab pertanyaannya sendiri.


"Mau dihibur lagi?" lagi-lagi Helsa melakukan hal yang sama.


"Oke nanti akan dihibur lagi sama Babang tamvannya ya, sekarang kita kenalan dulu mau ga?"


"Maaauuuuu–." teriakan suara-suara pria jomblo.


"Kok gitu sih dek? Ngapain pake kenalan?"


"Apa mau? Mau kenalan sama aku atau sama si Babang tamvannya?" Helsa kembali mengarahkan mikrofonnya kearah penonton.


"Kamuuu...." suara paling keras datangnya ya dari pria-pria jomblo pastinya.


"Oke, perkenalkan nama saya Helsa Isaura Yudistira, saya bukanlah karyawan di perusahaan ini. Tapi saya disini karena undangan dari pemilik perusahaan ini." Segan rasanya bila Helsa menyebut nama Tuan Pram atau memanggilnya sebagai Om makanya dia lebih memilih bahasa amannya saja.


"Udah segitu aja perkenalannya ya, kita lanjutkan ke susunan acara besok." Helsa melihat Roy hanya tersenyum manis.


"Ternyata bisa juga dia tampil didepan umum tanpa rasa grogi." Batin Roy.


"Statusnya dong mbak Helsa–." teriakan suara yang paling keras datang dari Edwin dan di sambut oleh pria-pria jomblo lainnya.


"Iya mbak statusnya apa?"

__ADS_1


"Serangan balik dimulai." Helsa menatap Roy dengan seringai liciknya.


"Apa status?"


"Iyaaaa–." udah kayak konser keliling aja. pikir Elsa saat mendengar teriakan dari bawah panggung.


"Saya masih single, lebih tepatnya Jomblo–." Helsa melirik kearah Roy yang mulai memaksakan senyumnya dan menahan rasa kesalnya.


"Syukurin–, emang enak aku kerjain?" Helsa tersenyum penuh kemenangan.


"Saya belum ada ikatan apapun dengan seseorang dan kata orang sebelum ijab kabul di ucapkan saya belum milik siapa-siapa."


"Huuuu–. Mantap!!!" Riuh tepuk tangan dari pria-pria jomblo yang ada diacara itu.


"Percaya ga sih kalau dia masih jomblo?" kini Roy yang bertanya.


"Percaya–"


"Enggak–."


Kedua jawaban yang berbeda itu datang dari dari kubu yang berbeda pula. Teriakan percaya tentu saja datangnya dari para jomblo yang haus akan cinta. Kalau jawaban Enggak itu datangnya dari orang-orang yang mendukung Roy dengan Helsa.


"Yang bilang Enggak saya kasih 100 ribu." Roy mengeluarkan uang pecahan seratus dari sakunya. Tentu saja barisan emak-emak yang langsung berlari naik ke panggung.


"Si Babang pake sogokan ternyata yah." balas Helsa.


"Beli duku ke pasar buah.


Hei cintaku, kapan kita nikah?" Tiba-tiba saja Roy berpantun menggoda gadis pujaannya. Semakin ramai saja acara malam itu, penonton pun bersemangat dibuatnya. Tidak ada yang meninggalkan acara malam itu mereka terlihat sangat terhibur melihat keduanya.


"Pergi ke pasar beli celana, jangan lupa beli duku.


Hei kamu yang disana, jangan lupa nikahin aku." Entah kenapa Helsa menunjuk kearah Edwin, membuat pria itu jadi salah tingkah dan kembali optimis untuk mengejarnya. Edwin berjalan kearah panggung dan langsung naik mendekati Helsa.


Sementara Helsa bingung melihat Edwin tiba-tiba naik ke panggung. Dia hanya asal menunjuk saja. Ia tak tau kalau Edwin duduk diarah yang ditunjuknya.


"Mati gue, kenapa dia malah naik?" Helsa jadi bingung dibuat ulahnya sendiri.


Edwin memegang tangan Helsa kemudian berlutut didepannya. "Ikan sepat ikan gabus.


"Huuuuuu–." terdengar sorakan dukungan dari teman-teman Edwin.


Sementara Roy mulai panas dan mengepalkan tangannya.


"Hahaha, semakin seru ternyata yah." Indra yang sadar dengan perubahan raut wajah sahabatnya itu langsung mengambil alih acara untuk menghindari terjadinya perang ketiga hanya karena perebutan seorang gadis. "Ketiganya berpantun sungguh luar biasa. Jadi pengen ikutan."


Disela-sela ucapan Indra, Helsa melepaskan tangannya dari genggaman Edwin.


"Istri mana istri–." teriak Indra yang memanggil istrinya.


Yang terpanggil pun melambaikan tangannya.


"Ada gurita lagi berenang,


berenangnya di dekat batu.


Kau kucinta kau kusayang,


selamanya disetiap waktu." Indra pun berpantun untuk istrinya untuk mencairkan suasanya yang mulai menegang. "I love you Istriku–." sambungnya lagi.


"I love you more suamiku–." disambut teriakan dari istri Indra.


"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, mari kita dengarkan susunan acara untuk besok, kepada saudari Helsa kami persilahkan." Indra tahu kalau sahabatnya itu seperti kehilangan mood untuk berbicara sehingga ia menyerahkan kepada Helsa untuk membacakan susunan acara yang akan mereka adakan besok.


"Terimakasih untuk Akang Indra–." Helsa berusaha untuk mengembalikan suasana keceriaan yang semula.


"Babang tamvan sini dong deket Adek–." rayu Helsa pada Roy yang hanya diam. Roy mendekati Helsa dengan tatapan dinginnya.


"Yaelah, si Babang marah kayaknya. Perlu dicairin nih suasana hati. Bentar ya embeib-kuh nanti dedek gombalin lagi deh."


"Terimakasih sudah memberikan saya kesempatan untuk membacakan susunan acara untuk besok." Mode on Formal.


"Suatu kehormatan buat saya karena sudah di undang dalam acara ini yang mana disini saya bukanlah karyawan diperusahaan ini tapi saya diberi kesempatan untuk menyumbangkan ide-ide saya dalam kegiatan ini. Sebenarnya ini hasil kerja kerasnya Kak Roy dan tim pelaksana kegiatan ini beserta dengan para panita. Tapi karena kesempatan ini diberikan kepada saya maka saya ucapkan Terimakasih banyak atas undangannya."

__ADS_1


"Untuk acara besok, ada beberapa perlombaan yang akan kita adakan, dan perlombaan ini di bagi menjadi 2 bagian yaitu yang pertama untuk kategori anak-anak yang mana anak-anak bapak dan ibu bisa mengikuti lomba tersebut. Besok pendaftarannya dibuka dan langsung mendaftar dengan panitianya. Panita lomba juga sudah di bagi menjadi 2 tim."


"Dan tim kedua adalah tim keluarga yang terdiri dari 4 orang. Bisa pasangan suami istri bisa juga sesama teman. intinya peserta terdiri dari 4 orang dewasa. Dan tantangannya besok akan diberi tahu oleh panitia. Maka dari sekarang teman-teman semua sudah boleh menentukan tim masing-masing."


"Bila ada yang kurang jelas bisa ditanyakan langsung kepada panitia pelaksana lomba. Dan ini semua ada rewardnya loh. Hadiah utamanya 4 tiket liburan ke Bali selama 3 hari."


"Reward pemenang lomba untuk kategori anak–." Helsa menjeda ucapannya lalu tangannya menyikut pinggang Roy dan menatap mata Roy tajam karena dari tadi Roy hanya diam saja.


"Ini acara gue pribadi atau acara perusahaan sih? Dia yang buat acara kenapa jadi gue yang sibuk."


Roy pun mengerti maksud dari Helsa.


"Reward untuk kategori anak yaitu beasiswa sampai si anak lulus sekolah. Contohnya, untuk Kategori anak SD maka anak itu akan mendapatkan beasiswa sampai si anak lulus SD. yang SMP dan SMA juga seperti itu. kalau ada anak-anaknya yang sudah SMA." sambung Roy karena kebanyakan dari karyawan itu anak-anak nya masih dalam jenjang pendidikan SD dan SMP.


"Demikian yang dapat kami sampaikan jika masih ada yang kurang mengerti bisa ditanyakan langsung kepada panitia penyelenggara. Dan jika ada silap dan tutur kata yang salah atau tidak berkenan kami mohon dimaafkan. Dan Terimakasih." Helsa melambaikan tangannya kepada semua penonton dan tamu undangan.


"Mau kemana?" Roy menarik tangan Helsa yang bersiap turun dari panggung.


Roy mengedipkan mata pada sahabatnya itu. Indra pun tahu apa yang di inginkan Roy. Karena sebelumnya Roy sudah mengatakan pada Indra kalau dirinya ingin berduet dengan Helsa kekasihnya.


Denting piano pun terdengar. Helsa menatap Roy yang menggenggam tangannya.


"Kita duet nyanyi dulu ya dek, sebelum duet ditempat tidur." bisik Roy.


Blusshh.


Wajah Helsa merona seketika.


Helsa pun tersentuh dengan pilihan lagu Roy. Dapat Roy rasakan tangannya mulai berkeringat dingin.


Roy mulai bernyanyi–


...Tiba saatnya kita saling bicara...


...Tentang perasaan yang kian menyiksa...


...Tentang rindu yang menggebu...


...Tentang cinta yang tak terungkap...


Di sambut oleh Helsa–


...Sudah terlalu lama kita berdiam...


...Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam...


...Memenuhi mimpi-mimpi malam kita...


Roy dan Helsa bernyanyi bersama–


...Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah...


...Perasaanmu, rindumu, seluruh cintamua...


...Dan kini hanya ada aku dan dirimu...


...Sesaat di keabadian...


...Jika sang waktu kita hentikan...


...Dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan...


...Meleburkan semua batas...


...Antara kau dan aku, kita...


"Ay, aku juga pengen duet kayak Kak Roy dan Kak Helsa Ay–." rengek Kalycha.


"Kita duet diranjang aja, Yang–, Yuk!!!" ajak Haidar.


Vote Yuuk!!!


Kasih Author Kado Yuuuk!!! 😍

__ADS_1


Hari ini Author B'day 🤭


__ADS_2